
****
Seorang wanita cantik memporak porandakan seisi kamar, ia marah dan kecewa karena sudah di acuhkan. Bahkan di campakkan seolah ia hanya angin.
"Aku akan buat kamu jatuh hati padaku" ucapnya menahan amarah
****
Di Rumah Sakit
Bagas berjalan santai menyusuri lorong Rumah Sakit, ia tidak sabar bertemu dengan kekasih nya. Bahkan ia tidak peduli dengan masalah kantor, yang ia pedulikan hanya wanita yang di cintai nya.
"Assalamualaikum" salam nya ketika masuk ke dalam ruangan Mela, terlihat Arum dan Andi, serta Davin yang bercanda ria dengan Melati. Melihat keluarga yang penuh kehangatan ini, rasanya ia iri.
"Wa'alaikumsalam" sahut mereka bersamaan
"Haii" sapa nya pada Davin, namun Davin malah acuh dan berdiri dari duduk nya. Bagas mengerutkan kening melihat sikap Davin, namun ia tak mau berpikir aneh". Sedangkan Melati dan kedua orang tua nya sangat menyayangkan sikap Davin yang tak di sangka nya. Ya, Davin sudah tahu siapa yang menyebabkan Kakak nya sakit bahkan menangis setiap malam.
Davin duduk termenung di kursi luar ruangan, disusul kedua orang tua nya.
"Davin, ga boleh gitu nak" ucap Arum sang Bunda
"Davin marah sama Kak Bagas, dia yang sudah buat kakak Davin sakit" mendengar ucapan anaknya , tak segan-segan Andi memberi nya petuah. Ia tak mau anak -anak nya mempunyai dendam pada siapapun.
****
Seorang dokter masuk ke dalam kamar Mela. "Biar gue periksa dulu dia" ucap nya pada Bagas, Ya, dia Dokter Rio
"Silahkan" Rio memeriksa keadaan Melati
"Keadaan nya sudah membaik, boleh pulang sore ini" ucap nya membuat Mela tersenyum senang
"Oke terima kasih" ucap nya pada Rio
"Jaga dia baik-baik, kalau tidak nanti ku ambil" canda Rio membuat Bagas menatapnya tajam
"Hahaha" Rio terbahak melihat sahabat nya itu, membuat Mela ikut tertawa
"Gue permisi dulu" Pamit nya berlalu pergi.
"Baiklah, mari kita bersiap-siap untuk pulang" ucap Bagas mengemasi barang-barang Mela untuk di bawa pulang.
Arum dan Andi datang dari belakang.
"Wahh, sudah siap-siap saja kalian" ucap nya senang melihat kedua sejoli tengah bersiap-siap.
"Iya Tan, Mela sudah boleh pulang" kata nya senang.
"Tante bantu ya" Arum menawarkan diri membantu Bagas, namun Bagas menolak nya
"Tidak perlu Tante, biar saya saja. Tante sama Om lebih baik duduk saja" tolak Bagas halus, membimbing Arum untuk duduk di sofa dengan suami nya. Melihat perlakuan Bagas membuat hati Mela menghangat.
Mela pulang bersama Bagas, sedangkan orang tua nya pulang dengan sopir nya.
"Bagas anak nya sopan ya Yah" ucap Bunda Arum senang
"Iya, hfttt. Kita berdo'a saja yang terbaik untuk hubungan mereka. Jodoh sudah di atur sama Tuhan" ucap Andi yang mendapat anggukan kepala oleh Arum.
****
1 hari setelah kepulangan Mela dari Rumah Sakit, kini ia sudah rapi dengan baju kerja nya yang rapi dan sangat pas di tubuh nya sang ideal.
"Yah, Bun, Mela mau kerja" ucap nya turun dari tangga
"Emang udah yakin bisa masuk?" tanya Arum sang Bunda
"Yakin kok, Mela udah sembuh nih" meyakinkan sang Bunda
"Mau Ayah antar?" tawar sang Ayah
"Gapapa, udah ayo. Keburu telat nanti, Ayah sekalian mau ke kantor sebentar" ucap Ayah nya masih khawatir dengan keadaan sang anak
"emmm, baiklah. Kalau gitu Mela berangkat dulu Bun. Assalamualaikum" pamit nya pada sang Bunda
"Wa'alaikumsalam, hati-hati Yah" sahut Arum.
20 menit sudah Mela sampai di depan Perusahaan Wijaya Group.
"Mela masuk dulu Yah" pamit nya pada Andi dan mencium tangan nya. Ia berjalan memasuki kantor, banyak sapaan-sapaan yang di lontarkan pada nya.
"Waahh akhirnya Mela masuk kerjaa" ucap Sari menghampiri Mela dan memeluknya
"Uuhhh aku kangen tahu" ucapan Sari membuat nya tersenyum
"Ish, jangan erat-erat kalau meluk" desah nya pada sahabtanya yang terlalu erat memeluk
"Hehehe, terlalu rindu tauu" Mela senang bisa masuk kerja kembali dan bertemu teman nya.
"Udah balik ke meja sana" usir nya pada Sari
"Yaaah di usir deh" Sari mencebikkan bibir mendengar perkataan Mela, membuat Mela tertawa melihat Sari. Ya, Sari memang selalu bisa membuat nya tersenyum dan tertawa dengan sikap dan tingkah nya yang konyol.
Lama ia berkutat di depan laptopnya dan lembaran kertas putih di atas meja, ia pun beranjak pergi ke kamar mandi.
Namun ketika ia ingin membuka knop pintu kamar mandi, ia urungkan kala mendengar teman kantor membicarakan tentang Bagas.
"Tau gak sih, Pak Bagas Minggu depan mau nikah sama perempuan yang di kenalkan Pak Yudha lalu"
Deggg!! mendengar perkataan orang di luar kamar mandi rasanya dunia nya seakan hancur. Seakan enggak keluar, Ia mendengar pembicaraan teman kantor nya di dalam kamar mandi, karena jarak nya yang dekat dan tidak kedap suara.
"Seriusan?"
"Kata nya sih gitu, hari ini kan Pak Bagas tidak masuk karena fitting baju"
"Kasihan Melati, harus melihat orang yang di cintai nya menikah dengan orang lain"
"Iya, semoga gue gak gitu"
Setetes bulir bening jatuh dari pertahanannya, menahan Isak tangis.
"Takdir apa ini?" batinnya menangis. Terperosot duduk di dalam kamar mandi menahan Isak tangis nya. Sakit, hancur pasti ketika kekasih kita akan menikah dengan perempuan lain pilihan orang tua nya.
"Apa aku memang gak pantas buat Pak Bagas?" lirih nya.
Lama sudah ia di dalam kamar mandi, akhirnya ia memutuskan keluar. Mencuci muka agar tidak terlihat menangis.
Sepanjang perjalanan menuju meja nya, ia menunduk, berjalan cepat seolah di kejar maling.
"Astagaa dari mana aja sih, lama banget" baru saja ia sampai di meja nya, ocehan Adit sudah menyambut nya.
"Iya maaf" ucap nya menerima map dari Adit
"Mel, lihat aku" titah Adit membuat Mela mendongakkan wajah menatap Adit. Adit mengerutkan kening melihat perempuan di depan nya dengan mata sembab dan merah.
"Lo abis nangis lagi?" terka Adit, namun Mela menggeleng cepat
"Udah deh, lo gak bisa bohongin gue" Ucap Adit dengan kecut
"Gak mau cerita?" desak Adit agar Mela mau bercerita
"Ini jam kerja Dit" mendengar perkataan Mela, ia hanya menghela nafas kasar.
"Nih, udah" menyodorkan map yang di berikan Adit tadi. Adit menerima dengan berat dan melangkah menuju meja kerja nya.
"Gue tahu lo lagi hancur, perasaan lo terluka" Gumam nya menjauh dari meja Mela.
Ya, meskipun Adit sudah mempunyai kekasih namun ia sangat peduli pada Mela. Peduli nya hanya sebatas Sahabat, tidak lebih.