You're The Last

You're The Last
Eps. 21


Pagi ini Mela mulai mempacking baju dan barang-barang yang akan ia bawa ke Bandung. Di bantu oleh mbak Evi pembantu nya.


"Neng Mela yakin mau ke Bandung?" tanya Evi dengan raut wajah sedih, membuat Mela mengalihkan pandangan menatap nya. Memegang lembut pundak Evi


"Iya mbak, Mela mau memulai hidup baru di Bandung. Do'ain Mela sukses ya mbak di Bandung" ucap nya pada Evi dengan senyum lembut


"Mbak di sini kesepian dong nanti"


"Astagaa mbakk Evi, nanti Mela sering-sering deh hubungi mbak Evi" memeluk Evi seperti kakak nya sendiri. Ya, meskipun usia Evi sudah 36 thn, tapi Mela menganggap nya seperti kakak sendiri.


"Udah jangan sedih, nanti Mela jadi sedih nih" ucap nya mengurai pelukannya


"Baik neng"


"Yukk beberes lagi mbak" ajak nya dan mereka membereskan kembali barang-barang nya


***


Di Wijaya Group


Pukul 07:15 Bagas baru sampai di kantor, ia sedikit terlambat. Ia memasuki kantor dengan wibawa, terlihat para karyawan kantor sedang sibuk berkutat dengan kerja masing-masing. Namun kala melewati meja Mela, meja itu kosong tak berpenghuni.


"Kemana dia" batin nya.


Ingin sekali ia bertanya pada seseorang, teman dekat nya, kemana kekasih nya itu. Namun ia urungkan karena kejadian kemarin membuat nya kesal. Ia berjalan memasuki ruangan, mendudukkan bokong di atas kursi kuasa nya.


"Baiklah, lebih baik se pulang ngantor aku ke rumah nya. Ya, itu lebih baik" ucap nya bicara pada diri sendiri


****


"Kakak sudah siap?" tanya Andi memasuki kamar sang Putri


"Sudah Yah" ucap nya menatap manik Andi, seolah bertanya ada apa


"Nak, Ayah berharap kau bahagia selalu. Ayah selalu berdo'a yang terbaik untukmu. Jaga dirimu baik-baik di Bandung, Ayah sudah menghubungi Om Arif dan Tante Linda. Nanti di Bandara kau di jemput sama Arka" petuah sang Ayah


"Iya Yah, Melati akan selalu merindukan Ayah sama Bunda" ucap nya dengan mata berkaca-kaca memeluk lelaki di depan nya.


"Ya sudah kita berangkat sekarang, nanti malah telat" ajak nya pada sang anak, Mela mengangguk setuju. Ia membawa satu koper besar, ntahlah yang isi nya apa saja.


Keluarga itu dalam perjalanan Bandara, mengantar sang Putri. Hening! Mela tak mau banyak bicara hari ini. Ia berharap keputusan yang ia ambil benar. Dan ya, Mela sudah mengirimkan surat pengunduran diri di Wijaya Group. Ia juga sudah menyuruh orang suruhan nya untuk membereskan dan mengambil barang-barang nya yang masih di Perusahaan itu. Ia tidak memberitahu kepergian nya pada ketiga sahabat nya, biarlah mereka tahu sendiri kelak.


40 menit sudah perjalanan mereka menuju Bandara, kini mereka sudah sampai.


"Jaga diri baik-baik di Bandung ya Kak" ucap Arum sang Bunda menangis.


Ya, ini kali pertama nya jauh dari sang Putri dengan waktu yang lama. Melihat sang Bunda menangis, membuatnya berkaca-kaca. Namun ia menahan agar tak sampai menangis di depan orang tua nya.


"Iya Bun, Kakak pasti jaga diri disana. Kakak juga akan sering menghubungi Ayah dan Bunda" ucap nya memeluk sang Bunda.


****


Di Wijaya Group


"Melati kemana si kok ga dateng" ucap Sari penuh tanya.


"Iya, apa mungkin dia sakit?" sahut Ratna


"Gue coba hubungi dia aja" mengeluarkan ponsel dan mengetik sebuah nama di sana.


"........"


"Halooo Mel, lo dimana? kenapa ga masuk? Lo sakit?" tanya Sari bertubi-tubi


"........."


"......."


"Hah, baiklah. Hati-hati ya" ia mengakhiri perbincangan di telpon.


"Gimana?" tanya Ratna


****


***Melati Pov***


Aku harap ini adalah keputusan terbaik yang ku ambil. Mencoba memulai hidup, melupakan dia. Ya, aku tak sanggup jika tetap bekerja di Perusahaan Wijaya Group, terus melihat nya dengan wanita lain yang akan menjadi istri nya.


Kini aku sudah sampai di Bandara xxxx, menuju jemputan oleh sepupuku. Anak dari kakak nya Bunda. Tak lama datang seorang laki-laki tampan yang ku kenal.


"Haii girl, udah nunggu lama" ucap nya memeluk bahu ku


"Baru 15 menit an Ar" ucapku


"Oke, kita pulang sekarang" sahut nya semangat membawa koper ku dan menggandeng tangan ku. Banyak sorot mata memandang kami, namun kami cuek.


Aku takjub dengan pemandangan kota B*****, sangat indah dengan gedung yang bertingkat megah.


"Gimana keadaan Om sama Tante?" tanya Arka, aku menolehkan kepala menghadap nya


"Alhamdulillah Baik" ia manggut-manggut sebagai jawaban


"Ke Cafe dulu mau?" tawar nya


"Mau aja kalau di traktir sama Dokter tampan" candaku


"Huh, baiklah. Tidak berubah sejak dulu, selalu minta traktir" ucap nya membuat ku terbahak-bahak. Arka adalah seorang dokter Bedah, salah satu dokter muda di kota B****, usia nya 25 tahun. Ia sangat tampan, tak heran jika banyak yang menyukai nya, namun Arka tak mudah menyukai seseorang. Dia memang keras kepala.


****


***Author Pov***


Arka dan Melati sampai di sebuah Cafe terkenal di kota B******.


"Pilih apapun yang kamu suka" ucap Arka menyodorkan buku menu, dengan senang hati Mela menerima


"Seriusan?" sahut nya dengan semangat, membuat Arka geleng-geleng kepala. Sepupu nya itu memang tidak berubah. Selalu ceria, dan banyak mah ketika bersama nya.


"Kenapa memutuskan pindah ke B*****" tanya Arka setelah selesai makan, pertanyaan yang di lontarkan Arka membuat nya mendongak seketika.


"Gapapa" sahut nya, secepat mungkin membuang pandangan ke luar jendela Cafe. Melihat sikap Melati, ia tidak mau lanjut bertanya alasan pindah ke B******. Ia tahu sepupu nya itu sedang menutupi sesuatu, sejak dulu Arka dan Melati sering bersama. Jadi Arka tahu bagaimana Melati.


"Ohya, mau nyari kerja di sini?" tanya Arka lagi


"Iya, bantuin nyari dong" ucap Mela dengan nada memohon


"Baiklah gue bantu nyari" mendengar perkataan Arka Mela sangat senang


"Yeyyyy, dah yuk pulang. Ngantuk" ajak nya pada Arka, Arka mengangguk dan berjalan keluar Cafe bersama Mela. Dengan tangan yang bergelayut manja di lengan Arka. Ya, Mela memang seperti itu, selalu manja jika bersama keluarga.


****


Jam kerja sudah berakhir, kini para karyawan banyak yang berlalu pulang dengan kendaraan yang di bawa. Bagas? ia sedang bersiap menuju rumah Mela. Ya, ia ingin menemui nya. Ia ingi meminta maaf, ia sangat merindukan kekasih nya.


"Assalamualaikum" Bagas mengucap salam di depan rumah kedua orang tua Mela


"Wa'alaikumsalam, eh nak Bagas. Masuk dulu nak" jawab Arum bunda Mela, menggiring Bagas masuk ke dalam rumah nya.


"Mela ada tan?" pertanyaan Arum membuat nya diam