
"Tante, ada apa?" ucap nya ketika membuka pintu
"Ada nak Beni di bawah" ucapnya tersenyum, namun Melati hanya diam
"Dah dandan yang rapi dan cantik" lanjut Tante Linda dan berlalu meninggalkan Melati.
Setelah mengetahui bahwa Beni telah menjemput nya, ia segera merapikan kemeja nya.
10 menit sudah Melati berkutat di depan cermin, ia bergegas turun menemui Beni.
"Kak" sapa nya kala sudah di depan Beni
"Hai" sapa Beni dengan senyum manis
"Maaf nunggu lama" sahut Melati merasa tak enak karena membuat Beni menunggu lama.
"Tidak apa, yuk" ucapnya berdiri dari duduk nya dan menggandeng tangan Mela frontal. Melati hanya menurut.
****
Melati berjalan masuk kantor bersama Beni. Namun Melati tetap di belakang Beni, ia harus profesional dalam bekerja.
"Pak Beni sekarang sering sama dia berangkat nya"
"Mereka jadi barengan terus ya"
"Apa mungkin mereka berdua punya hubungan khusus?"
"Cocok banget gak sih dia sama Pak Beni"
"Iya, Pak Beni tampan dan juga Melati cantik"
"Pak Beni tambah ganteng aja"
Begitulah bisikan-bisikan para karyawan kantor. Risih? Ya, Melati sangat risih jika jadi bahan pembicaraan orang lain. Apalagi jika ia sering berangkat bersama Beni, ia sungguh merasa tidak enak.
****
Terlihat Melati sedang berkutat dengan lembaran-lembaran putih di hadapannya, dengan jemari yang lihai menari di atas keyboard laptop. Tanpa ia sadari seorang laki-laki tengah memperhatikannya sedari tadi.
"Dia selalu terlihat cantik" gumam nya tersenyum.
"Hai Mel" seorang laki-laki menghampiri meja nya
"Hai" sahut Melati dengan senyum manis
"Istirahat bareng yuk" ajak nya. Ya, jam istirahat sudah menghampiri nya. Melati menatap jam tangannya
"Yaudah, yuk" sahutnya berdiri dan merapikan pekerjaannya.
Mereka berdua berjalan menuju kantin. Dia Miko, teman kantor Melati yang diam-diam menyukai nya. Banyak laki-laki yang menyukai nya. Selain cantik, dia juga perempuan yang baik dan juga lembut, selalu tersenyum dalam keadaan apapun.
"Selvy kemana ya" Ucap Mela dengan kepala celingak-celinguk di kantin mencari teman barunya itu.
"Selvy gak masuk hari ini" sahut Miko dengan tangan mengaduk kopi di depannya. Mendengar perkataan Miko, Mela mengerutkan kening.
"Kenapa gak masuk?"
"Gak tau, dengar-dengar Mama nya masuk Rumah Sakit"
"Seriusan?" tanya Melati memastikan, membuat Miko gemas sendiri
"Huh, iya Melati cantik" sahut nya mencubit gemas pipi Melati, membuat sang empu cemberut.
Sedangkan Beni yang melihat sikap Miko pada Melati membuatnya cemburu. Ya, Beni juga berada di kantin, ingin sekali ia menghampirinya, namun ia sadar sedang bersama Manajer nya. Alhasil, ia m hanya menatap dari kejauhan saja.
"Bagaimana Pak Beni" tanya sang Manajer yang entah membahas apa
"Ah bagaimana Pak?" Beni gelagapan mendengar pertanyaan sang manajer. Ya, Beni sedari tadi tidak fokus dengan pembicaraan yang sedang mereka bahas, karena ia fokus pada dua sejoli yang duduk bersama di kantin.
****
Bagas tengah sibuk dengan pekerjaan yang menumpuk di depan nya. Ia berusaha fokus dengan lembaran-lembaran di depannya, ia harus bersikap profesional di dalam kantor. Ia tak mau mengacaukan semuanya meskipun ia sedang tidak baik-baik saja memikirkan kekasihnya.
"Pagi Bu"
"Selamat Pagi Bu"
Sapa para karyawan kantor kala seorang perempuan datang. Ya, Selly datang ke kantor Bagas. Ia membawakan Bagas makan siang, meskipun ia tahu Bagas akan menolak nya. Namun ia tak akan menyerah.
"Pagi" sahut Selly. Selly perempuan yang ramah, namun meskipun ia sedikit egois.
Ia masuk ke ruangan Bagas tanpa mengetuk pintu.
"Apa kau tidak punya sopan santun?" ucap Bagas menohok tanpa menatap Selly.
"Ah ya, maafkan aku" jawab Selly tak enak
"Oh ya, aku bawakan makan siang untukmu" lanjutnya dan berjalan menuju sofa meletakkan makanan.
"Apa kau sudah makan?" tanya nya lagi menghampiri Bagas
"Aku tidak makan" jawab Bagas seadanya, ia sangat malas dengan perempuan di depannya. Ya, meskipun Selly memang cantik, namun itu tak mampu membuat Bagas melupakan Melati.
"Makan lah sedikit saja" rayu Selly
"Kalau aku tidak mau ya tidak mau" bentak Bagas pada Selly, membuat sang empu diam berkaca-kaca. Mendengar bentakan Bagas, ia berlari keluar ruangan.
Bisikan-bisikan para karyawan di lontarkan padanya kala melihat Selly keluar dari ruangan Bagas dengan menangis.
"Jangan-jangan Pak Bagas mengusirnya lagi"
"Kasihan dia"
"Huh, sepertinya gak bakal ada yang bisa ngambil posisi Melati di hati Pak Bagas"
"Melati kemana ya"
Begitulah bisikan-bisikan para karyawan Wijaya Group.
Ratna yang juga melihat Selly, ia merasa kasihan padanya. Namun ia tidak bisa berbuat apapun. Ia tahu bahwa Bagas tidak menginginkannya, Bagas hanya menginginkan sahabat nya itu.
****
Melati sedang duduk termenung dengan pandangan lurus ke depan, membiarkan kertas di depannya. Setelah mendapat kabar tentang Bagas membuat nya memikirkan laki-laki itu kembali. Ya, kemarin Sari menghubunginya.
**Flashback**
"Hai Mel, gimana kabar lo" sapa seseorang perempuan di seberang telepon
"Baik Sar, gimana kabar lo" jawab Melati
"Baik juga"
"Apa lo gak pengen tau keadaannya?" lanjut Sari, bertanya dengan hati-hati.
Mendengar pertanyaan Sari, Melati diam sejenak. Lama tak mendapat jawaban dari Mela, Sari melanjutkan pembicaraan
"Eh gau gak sih, tadi waktu di kantor ada perempuan nangis keluar dari ruangan Pak Bagas. Kasihan Pak Bagas, gak bisa lupain Lo" ucap Sari dengan ceria, seolah ia tak mau sahabat nya itu sedih
"Gue matiin dulu ya telepon nya" setelah mendengar perkataan Sari, ia mematikan telepon.
**Flashback off**
****