You're The Last

You're The Last
Eps. 07


Ku melangkah berjalan di depan Sari dan Ratna mencari tempat duduk. Membiarkan mereka berdua membicarakan Pak Bagas.


Melihatnya dengan wanita lain, ntah kenapa hatiku rasanya sakit.


"Mel, kenapa dah ini anak" oceh Sari


"Kesambet lo ya" lanjutnya


"Apaansi, ngaco" sahutku kesal


"Eh tau ga sih..." Ratna membuka pembicaraan. Kami pun terlarut dalam pembicaraan yang tak terlalu penting, namun mampu kami tertawa lepas. Tak peduli jika banyak pengunjung Cafe yang melihat kami.


Ku alihkan pandangan ke depan, sosok laki-laki yang tadi bersama dengan wanita beranak satu tadi duduk tak jauh dari mejaku bersama laki-laki. Ya, mungkin itu temannya. Secepat mungkin ku alihkan lagi pandanganku, takut jika ia melihatku. Mencoba nimbrung dalam perbincangan teman-temanku.


"Eh gau ga sih, Adit ternyata udah punya cewek" ucap Sari


"Udah tau" sahutku membuat mereka berdua cengoh


"Hah, kok lo udah tau si" tanya Ratna dengan tatapan mengintimidasiku, ku tonyor kepalanya yang sangat dekat dengan mukaku.


"Ish" keluhnya mengelus kepalanya


"Kemarin wekeend aku ketemu dia lagi olahraga sama perempuan"


"Terus-terus" tanyanya seolah tak puas dengan jawabanku.


"Ya dia bilang kalo jadian 2 Minggu terakhir ini"


"Oh gituu, cantik gak dia"


"Astaga, kepo banget si" Ratna menyahuti ucapan Sari


Ku coba menatap ke depan, memastikannya apa dia masih berada di situ atau tidak. Dan Ya, dia masih setia duduk di situ dengan anak kecil yang duduk di pangkuannya. Tak lama seorang perempuan cantik datang dari belakang dan duduk di samping Pak Bagas.


"Pemandangan apa ini" batinku, ku alihkan pandanganku.


"Aku ke toilet dulu" pamit ku pada Sari dan Ratna. Mereka mengangguk


5 menit sudah aku di kamar mandi, aku mendengar seorang anak kecil sedang menangis. Aku mencoba mencarinya, dan ternyata dia menangis di depan kamar mandi seorang diri. Ku hampiri dia, ku sejajarkan tubuhku dengan bocah kecil itu.


"Hai cantik, kenapa menangis?" tanyaku pada gadis kecil di depanku, gadis yang tadi bersama Pak Bagas.


"Putli nyali Mama ante" jawabnya dengan Isak tangis


"Memangnya Mama kemana?"


"Ga tau" ucapnya geleng-geleng kepala, sangat menggemaskan


"Cari Mama sama Tante yuk" ajakku memenangkannya dan mengajaknya keluar mencari sang Ibu.


Seorang laki-laki datang tergopoh" merasa khawatir, memeluk dan menggendong sang anak dan menenangkannya. Rasanya ada yang beda dengan hatiku, rasanya seperti ada sesak tersendiri. Ntahlah rasa apa ini, kenapa setiap bertemu dengannya jantungku berdetak tak karuan


"Maaf Pak, tadi anak Bapak menangis di depan kamar mandi waktu saya ke kamar mandi" Ucapku menjelaskan, namun ia menatapku dan mengangguk


"Terima kasih sudah menyelamatkannya" ucapnya padaku dengan tulus.


"Kita ke Mama yuk, Mama pasti nyariin" ucapnya pada gadis kecil di gendongannya, dijawab dengan dengan anggukan kepala.


****


***Author Pov***


Mendengarkan adiknya sibuk berbicang dengan Dika tangan kanan adiknya, membuatnya sangat bosan. Baru beberapa detik ia ingin bicara mengajaknya pulang, namun ia pamit ke kamar mandi sebentar.


"Gas, jaga Putri. Kakak mau ke kamar mandi sebentar" pintanya pada sang Adik untuk menjaga sang buah hatinya


"Iya kak" ucapnya. Gadis kecil yang sibuk bermain dengan iPad yang di pegangnya, dan Bagas yang sibuk berbincang dengan Dika. Tanpa di sadari Putri turun dari kursinya, berjalan ntah kemana. Bagas masih belum menyadari Putri pergi. Selang beberapa menit ia menunduk melihat sang keponakannya, namun Nihil. Keponakannya tidak ada di kursinya


"Loh Putri kemana" tanyanya pada ntah siapa


"Putri kan di situ main iPad" sahut Dika yang juga tidak menyadari kepergian gadis kecil itu


"Astagaa, kemana dia. Gue mau cari bocah itu dulu" Ucapnya frustasi dan bergegas mencari keponakannya


"Gue juga ikut nyari" ucapnya yang mendapat anggukan dari sahabatnya itu


Panik, itulah yang ia rasakan. Ia takut jika keponakannya hilang karena kelalaiannya, ia takut jika menjadi bahan amukan sang kakak.


Ntahlah kemana bocah itu pergi. Farah datang setelah dari kamar mandi, mendapati meja yang di duduk i sang adik dan anaknya tidak ada orang, ia bertanya pada pelayan Cafe.


"Va, liat Bagas sama Putri?" tanyanya pada salah satu pegawai yang bernama Eva


"Pak Bagas sedang mencari anak Ibu, saya dengar Putri tadi sudah tidak ada di tempat duduknya Bu" jelasnya, membuatnya takut setengah mati kala anaknya hilang. Ia bergegas pergi mencari anaknya


Semua tempat sudah Bagas itari, namun tidak ada ponakannha itu. Hanya satu tempat yang belum ia cari keberadaan keponakannya itu. Ya, kamar mandi perempuan. Ia bergegas pergi ke arah kamar mandi Perempuan. Tak jauh darinya seorang wanita mencoba menenangkan bocah kecil yang sedang menangis. Ia menghampirinya, dan benar bahwa itu adalah Putri. Segera ia gendong Putri dan memeluknya erat, ia takut jika jika keponakannya hilang.


"Maaf Pak, tadi anak Bapak menangis di depan kamar mandi waktu saya ke kamar mandi" Ucap seorang perempuan, ia menatapnya. Ia bersyukur bahwa yang menemukan Putri adalah Melati, tak tahu jika orang lain yang menemukannya. Apakah Putri akan di kembalikan pada ibunya atau tidak.


"Terima kasih sudah menyelamatkannya" ucapnya pada Mela dengan tulus.


"Kita ke Mama yuk, Mama pastii nyariin" ucapnya pada gadis kecil di gendongannya, dijawab dengan dengan anggukan kepala.


"Kalau begitu saya permisi Pak" Ucapnya berlalu pergi meninggalkan ku dengan Putri. Di tatap langkahnya yang kini semakin menjauh pergi.


****


***Bagas Pov***


Setelah aku bertemu Putri, segera ku bawa Putri untuk bertemu Kakakku. Aku sudah siap jika mendapat amukan dan ocehan dari Kakak nanti karena keteledoran ku menjaga Putri. Oh astaga.


Dari jauh ku lihat Kak Farah menangis mencari Putri, ku hampiri dia


"Kak"


"Astaga" ia merebut Putri dari gendonganku, ku tahu dia khawatir


"Kau ini lalai sekali, baru saja kakak pergi ke kamar mandi dan Putri sudah tidak ada. Menjaga satu keponakan saja sudah teledor, gimana nanti kalau kamu udah punya anak lebih dari satu" ocehannya, aku hanya diam karena memang itu kesalahanku. Terlalu asik mengobrol dengan Dika sampai-sampai aku lalai menjaga keponakanku.


Mendengar ucapan kak Farah, aku jadi membayangkan jika nanti sudah punya anak dengan Melati. Pasti sangat ribet menjaganya seperti menjaga Putri.


"Sudah ayo pulang" bentak kakakku membuyarkan lamunan, ia berjalan lebih dulu ke mobil


"Dasar nenek lampir, astagaa membuyarkan lamunanku saja" gerutuku sembari berjalan ke parkiran mobil. Kulihat kakakku sudah di dalam mobil.