
Jam kerja sudah berlalu, kini Mela tengah mengemudi mobilnya dengan Sari di sampingnya. Melaju dengan kecepatan sedang, membelah jalanan kota Jakarta
"Sar, beli minum dulu yuk. Haus nih" ajak Mela, dan menepikan mobilnya di pinggir jalan. Ya, kini ia berhenti untuk membeli minuman pinggir jalan
"Ayok"
Duduk santai menatap jalanan yang penuh kendaraan berlalu lalang, menikmati keindahan senja yang tak lama lagi menghilang. Bersenda gurau dengan sang sahabat membuatnya lebih tenang, karena memang sang sahabat senang sekali bercanda. 1 jam sudah mereka berada di pinggir jalan menikmati minuman, kini mereka beranjak pulang
Seorang pemuda tampan kini berada di mobil, duduk di belakang memainkan ponsel yang tak terlalu penting. Mobil berhenti tanda rambu kini berwarna merah, sejenak menatap keluar jendela. Menangkap sosok wanita cantik tengah bersenda gurau dengan satu orang temannya, menikmati minuman di pinggir jalan. Seulas senyum tercetak di bibirnya kala melihat sosok wanita itu. Pak Parjo menatap sang majikan melalui cermin, terheran melihat sang majikan tersenyum dengan mata memandang keluar. Pandangan Pak Parjo beralih keluar mengikuti pandangan sang majikan. Senyum tipis menghias bibir tua Pak Parjo menatap dua perempuan cantik tengah bersenda gurau. Mungkin alasan tuannya tersenyum karena melihat mereka. Melanjutkan perjalanan kala rambu sudah berubah warna hijau
****
***Melati Pov***
Setelah mengantar Sari pulang, aku langsung melaju pulang. Tepat pukul 17:00 aku sampai di rumah, ku tatap ada sebuah mobil terparkir rapi di depan rumah. Ku sunggingkan senyum, dengan semangat ku beranjak keluar mobil dan segera masuk ke rumah. Ingin segera menemui kedua orang yang sang berarti. Ya, orang tuaku.
"Assalamualaikum Bunda, Ayah" aku masuk ke dalam rumah dengan semangat, karena seseorang yang ku tunggu kepulangannya kini sudah berada di rumah
"Kakak suaranya cempreng, bikin telinga sakit" cibir adikku Davin, aku hanya menjulurkan lidah mengejek
"Biarin. Bundaaaa, kangen" ucapku berlari ke arah bunda dan memeluknya
"Bunda juga kangen sama anak bunda yang cantik ini"
"Ekhem" dehem sang Ayah
"Bunda aja nih yang di kangenin, Ayah enggak?" Ucap sang Ayah membuatnya melepas pelukan dan beralih memeluk sang Ayah
"Kakak juga kangen sama Ayah" mengeratkan pelukan
"Mandi dulu gih, bau banget tau" ucap sang Ayah sembari memegang hidung, membuat sang empu memanyunkan bibir. Ia pun beranjak pergi menuju kamar, melakukan ritual mandi.
****
***Author Pov***
Seorang laki-laki tampan tengah berdiri di balkon kamar, seulas senyum tercetak di bibir nya kala mengingat seseorang yang di rindunya. Seseorang yang mungkin kini membenci nya karena kesalahannya, menghianatinya dengan teman baik kekasihnya dulu. Menyesal, itu yang kini ia rasakan
"Gue rindu, apa kabar dia" tersenyum kecut berbicara dengan diri sendiri
*Bagas POV*
"Cantik" ucapnya tersenyum simpul menatap langit-langit kamar, mengingat wanita di pinggir jalan tadi membuatnya ingin tau siapa dia. Berharap kembali bisa bertemu di lain waktu.
Bunyi ketukan di luar pintu membuatnya mebuyarkan lamunan. Segera ia beranjak membuka pintu. Terlihat seorang perempuan cantik meski usianya tak lagi muda
"Iya mah" Ia beranjak turun kebawah untuk makan malam, terlihat sang Papa sudah duduk manis di kursi nya. Sedang sang Mama mengambil makanan untuknya. Hening, hanya suara dentingan sendok.
"Kapan kamu kenalkan calon menantu untuk Papa" Ucap Yudha, namun Bagas tetap lanjut makan. Ia sudah sering mendapatkan pertanyaan seperti itu, karena memang usianya yang sudah cukup untuk menikah. Ya, usianya kini 27 tahun.
Pagi indah, matahari yang cerah menyapanya dengan sinarnya yang menembus jendela. Suara wanita cantik membuatnya terusik untuk bangun.
"Bangun kak, udah jam 06:00. Nanti telat loh kerjanya" Dilihatnya sang anak yang berusaha bangun mengumpulkan segala nyawa
"Iya Bun" ucapnya beranjak bangun dan ke kamar mandi untuk bersiap ke kantor. Tak lama ia menyelesaikan ritual mandi, kini ia turun ke bawah untuk sarapan. Dilihatnya meja sang Ayah dan sang Adik kosong
"Ayah sama Davin kemana Bun" Tanyanya pada wanita yang sibuk di dapur
"Ayah udah berangkat ke kantor, ada meeting. Davin tadi udah berangkat sama Ayah" jawab sang Bunda yang hanya dijawab anggukan oleh sang Putri. Ya, Ayahnya mempunyai Perusahaan Furniture. Sang Ayah sudah menyuruhnya untuk bekerja di kantor Ayahnya, namun Mela menolak. Ia ingin mandiri dengan bekerja di Perusahaan lain. 15 menit sudah dia menyelesaikan sarapan, ia pun beranjak pamit pergi bekerja.
Di Pratama Group
Seorang wanita berjalan menghampiri meja Mela
"Mel, di suruh ke ruangan pak Dirut tuh" ucapnya, ya dia Mery. Teman kantor Mela
"Ngapain?" tanya Mela
"Ga tau, katanya suruh bawa laporan keuangan bulan ini" Mela hanya mengangguk dan mengambil berkas yang di minta Dirut. Ini kali pertamanya Mela ke ruangan Dirut yang baru, ia belum mengetahui bagaimana Dirut yang baru. Apakah ia berwajah datar, dengan kumis tebal? membayangkan saja ia bergidik ngeri. Ia mulai berjalan melangkah ke ruangan Dirut. Penuh keyakinan dan keberanian ia mengatur nafasnya sebelum bertemu dengan Dirut. Ia ketukan jari di pintu hingga terdengar instruksi suara dari dalam menyuruhnya masuk.
"Permisi Pak, saya Mela. Membawa laporan keuangan yang Bapak minta" Ucapnya sembari menyodorkan laporan, namun yang diajak bicara masih memunggungi nya, 1 menit kemudian berbalik menghadap lawan bicara. Deg!
"Wanita itu" bukannya mengambil laporan yang sudah di sodorkan, ia malah memandang Mela dengan tatapan yang tak bisa diartikan. Wanita yang membuatnya gila karena memikirkannya, padahal baru pertama kali melihatnya
"Pak" sapa Melati karena belum ada respon dari sang atasan
"Ah iya" jawabnya dengan cangggung menerima laporannya. Meneliti satu persatu secara detil. Sesekali melirik ke arah Mela. Setelah puas melihat laporan keuangan, ia memberikannya pada Mela. Ia baru mengetahui bahwa orang yang selama ini menganggu pikirannya bekerja di Perusahaannya
"Baik Pak, kalau begitu saya permisi" ucapnya dengan senyum manis. Bagas hanya mengangguk. Menatap punggung Mela yang semakin menghilang di balik pintu membuat senyumnya mengembang. Dengan polesan sedikit make up, lipstik tipis yang membuatnya semakin terlihat cantik
****
***Melati Pov***
Jam kerja telah berakhir, kini aku beranjak langsung pulang. Rasanya lelah sekali hari ini. Baru saja ku turun dari mobil, kulihat sudah ada mobil terparkir rapi di depan rumah. Aku tak tau mobil siapa, ku lanjut melangkah masuk ke dalam rumah. Baru selangkah ku menginjakkan kaki masuk ke rumah, aku terdiam mematung. Sosok yang berusaha ku lupakan, sosok yang kubeci, yang membuatku sakit sampai saat ini, kini berada di rumahku. Berbincang dengan orang tuaku, ntah apa yang dilakukan disini
"Kak, sudah pulang" Ucap ayahku yang menyadari aku sudah pulang, aku hanya tersenyum kikuk
"Mandi dulu, abis itu turun. Sudah di tunggu nak Adlan dari tadi" Aku hanya mengangguk, berjalan gontai menuju kamar. Ku hempaskan sebentar tubuhku diatas kasur, memikirkan apa yang dia lakukan disini