You're The Last

You're The Last
Eps. 27


Ia berjalan menuju meja yang sudah ada penghuni nya.


"Udah lama lo?" tanya nya. Ya, di sana sudah ada Rio yang menunggu nya


"Rio" sapa Adit kaget melihat sahabat lama nya kini di depannya


"Dit" mereka berdua berpelukan, pelukan rindu pada sahabat yang sejak dulu selalu bersama. Adit, Bagas, dan juga Rio sahabat sejak dulu.


"Gimana kabar lo?"


"Baik bro" sahut Adit


Mereka bertiga terlarut dalam pembicaraan yang seru.


"Eh iya, gimana hubungan lo sama perempuan itu?" pertanyaan tiba-tiba yang di lontarkan Rio membuat Bagas terdiam. Adit? ia nampak khawatir jika Bagas akan menggila.


"Dia pergi" Jawabnya tiba-tiba, membuat Rio mengerutkan kening tidak mengerti


"Dia pergi setelah tahu gue di jodohkan dan sebentar lagi akan menikah"


"Apa? lo mau menikah dan bukan dengan perempuan waktu itu?" tanya Rio memastikan, Bagas hanya mengangguk lemah.


"Astaga, kenapa bisa gini" ia tak habis pikir dengan sahabat nya itu


"Gue bingung. Gue ga pengen kehilangan dia, tapi di satu sisi gue harus nuruti apa kata bokap gue daripada gue ga bisa ketemu sama dia selamanya" ucapnya mengacak rambut


"Terus sekarang lo tahu dia dimana?"


"Gak, gue gak tau. Bahkan kedua orang tua nya menutupi"


"Hffttt" Rio membuang nafas kasar


"Apa lo gak mau kejar dan perjuangin dia?" tanya nya dengan mata menyipit seolah mengintimidasi sahabat nya itu


"Gue bingung" memijat pelipisnya


"Eh gue balik dulu ya, ada yang harus gue kerjakan" Adit berpamitan pada kedua sahabat nya


"Ok" sahut Rio


"Apa lo mencintai perempuan yang di jodohkan sama lo?"


"Sedikitpun gak ada rasa tertarik sama dia" ucap Bagas


"Gas, kalo lo emang cinta sama dia, lo pertahanin. Dia perempuan baik, lembut. Kejar dia sebelum ada orang lain yang mengambilnya. Gue pergi dulu" Ucap nya pada Bagas sebelum beranjak pergi.


Perkataan Rio membuat nya semakin frustasi. Sejujurnya ia ingin sekali mencari keberadaan perempuan yang ia cintai, namun ia tak mungkin membuat Papa nya murka apalagi ancaman nya waktu itu. Bukan ia tak berani, namun ia juga tidak ingin terjadi apa-apa pada Melati


****


Melati memainkan ponsel nya, mencoba scroll galeri hp nya. Ia menghentikan jemari nya dan melihat satu foto seseorang yang membuat nya tak tenang, membuat nya menahan rindu, membuat nya menahan kecewa sekaligus sakit.


Ia tersenyum miris.


"Aku berharap kamu bahagia dengan pilihan orang tuamu mas" ucap nya dan mendelete foto tersebut .


Menaruh ponsel di atas nakas, dan beranjak ke tempat tidur untuk merebahkan tubuhnya yang lelah.


Tidak, ia tidak benar-benar tidur. Dering ponsel membuat nya terbangun lagi dari rebahannya. Terpampang nama Beni di layar ponsel.


"Halloo" sapa nya pada orang di seberang


"........"


"Mau tidur Kak"


"........"


"Seperti biasa saya sama Kak Arka Kak"


"........"


Mela terdiam mendengar ucapan Beni


"Baiklah terserah kak Beni saja jika tidak merepotkan"


"........"


Ia mematikan ponsel nya dan merebahkan tubuhnya kembali.


****


***Beni Pov***


Ntah kenapa keinginan untuk mendapatkan Melati semakin besar. Meskipun gue baru mengenalnya, tapi gue jatuh hati sejak pertama bertemu.


"Gue harus dapetin dia" gumamku menyunggingkan senyum tipis.


Ku ambil ponsel ku di atas nakas, mencari sebuah nama yang selalu menganggu pikiranku. Ku tekan tombol panggil


"Halloo" sapa nya


"Hai, emmm....lagi ngapain?" tanyaku basa-basi, padahal jantungku serasa sedang lari maraton


"Oh, besok berangkat kerja sama siapa?"


"Seperti biasa saya sama Kak Arka Kak" sahutnya


"Besok aku jemput jam 6" ucapku.


Mela terdiam, hffttt ucapan ku tadi serasa seperti perintah saja


"Baiklah terserah kak Beni saja jika tidak merepotkan"


"Iya, kalau gitu selamat tidur" ucapku mengakhiri pembicaraan di telpon


Setelah mendengar jawabannya, aku sangat senang karena ia tak menolak ajakanku. Ah bukan ajakan, itu seperti perintah. Konyol memang.


Memikirkan nya aku seperti orang gila saja, seperti remaja yang baru merasakan jatuh cinta. Suara ketukan pintu dari luar kamar membuyarkan lamunanku, ku beranjak membuka pintu.


"Ada apa?" tanyaku saat mengetahui bahwa Vanesh yang mengetuk pintu kamar.


"Ajarin ngerjain tugas dong kak" pinta nya


"Plis kak" ku lihat wajahnya memelas, astagaa bocah itu selalu begitu. Pandai merayu


"Huh, baiklah" jawabku


"Yeyyyy" dia nyelonong masuk ke dalam kamar


"Hei bocah, main nyelonong aja" kesal ku


Vanesh, dia adikku. Aku tiga bersaudara. Aku mempunyai seorang Kakak laki-laki bernama Bram, usia nya tidak jauh dariku. Dia 28, sedangkan aku 25. Kakakku seorang yang dingin dengan siapapun, pantas saja sampai sekarang dia belum menikah.


****


***Author Pov***


"Setiap pertemuan pasti ada perpisahan"


Melati berdiri di balkon kamar, menikmat dingin nya malam yang menyeruak menembus kulit. Menatap cantiknya bintang yang berkelip seolah menyapanya.


"Setiap pertemuan pasti ada perpisahan"


Seorang laki-laki datang dari belakang, memasuki kamar sang perempuan. Perlahan Melati menoleh ke belakang.


"Kak Arka" lirih nya, Arka hanya tersenyum berjalan menghampiri Melati


"Masih mikirin dia?" tanya nya, membuat perempuan di depannya mengangguk pelan. Arka memeluk Melati, seolah memberi ketenangan pada sang Adik.


"Gimana sama Beni?" tanya nya kemudian memecah kecanggungan. Melati mengurai pelukannya dan menatap Arka penuh tanda tanya.


"Kamu tahu, Beni menyukai mu"


"Hahaha kak Arka ngaco deh" sahut Melati seolah tak percaya


"Gak percaya?"


"Mana mungkin Kak Beni suka sama aku, aku tuh bawahannya Kak Beni Kak"


"Astaga, gak peka banget nih bocah. Suatu saat kamu pasti menyadari sikap Beni" ucapnya kemudian membuat Melati terdiam.


"Jangan memikirkan orang yang sudah di miliki orang lain" lanjut nya berbalik keluar kamar.


Ia terdiam melihat Kakak sepupu nya yang meninggalkannya sendiri. Memikirkan ucapan Arka yang sangat menohok, membuat nya tersadar.


"Apa yang di ucapkan Kak Arka benar" lirih Melati, air mata jatuh membasahi pipi mulusnya


Ya, ia memang belum bisa mengikhlaskan Bagas bersama orang lain.


****


Pukul 06:10, Beni sudah berdiri di depan rumah Arka. Ya, dia sengaja menjemput Melati untuk berangkat ke kantor bersama. Ia melangkah kan kaki, mengetuk pintu rumah Arka.


tok....tok....tok....!!!


Seorang perempuan yang usia nya tak muda lagi membuka pintu.


"Eh nak Beni, masuk dulu" sapa nya mempersilahkan Beni masuk


"Iya Tan" Beni masuk dan duduk


"Nyari nak Arka ya?" tanya Mama Arka


"Tidak Tan, eemmm.. Beni mau jemput Melati" ucapnya kikuk, menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Sedangkan Mama Arka tersenyum mengerti


"Oh bentar ya, Tante panggilkan Melati dulu" pamit nya


"Iya Tante"


tok...tok..tok....!


Suara ketukan dari luar pintu kamar Melati, membuat nya berjalan ke arahnya.