
Setelah mengantar sang kekasih ke rumahnya, ia melajukan mobil untuk pulang. Ya, ia memutuskan untuk kembali ke rumah setelah kemarin malam tidak pulang.
"Bagas, kamu dari mana aja nak. Mama khawatir" ucap wanita paruh baya ketika melihat sang anak berjalan memasuki rumah. Memeluk erat sang anak penuh sayang.
"Bagas ke kamar dulu Ma" bukannya menjawab pertanyaan sang Mama, ia malah pergi ke kamar. Sedih, itulah yang di rasakan Ayu melihat ada yang berubah dari sikap anak nya. Ntah apa yang terjadi dengan anak nya dan suami nya setelah perbincangan malam itu. Ia memutuskan ke dapur mengambil kan makanan untuk anak nya.
Bagas melempar jas ke segala arah. Merebahkan tubuh di kasur king size nya, badan dan pikirannya sangat lelah. Ia ingi memejamkan mata nya sebentar sebelum pergi mandi.
"Gas, makan dulu. Mama yakin kamu pasti belum makan kan" ucap sang Mama membuat ia membuka mata dan bangun dari rebahan nya
"Mama" ucapnya memeluk erat sang Mama
"Kamu kenapa hm, cerita sama Mama" suara lembut wanita pertama yang sangat ia cintai, seolah ingin anak nya berbagi ke sedihan
"Bagas sangat mencintai dia Maa, Bagas gak kehilangan dia" ucapnya melepas pelukan menatap wanita di depannya.
"Mama tahu, Papa ingin Bagas meninggalkan dia. Orang yang sangat Bagas cintai" baru kali ini Bagas meneteskan air mata, seolah tak mau berpisah dengan kekasih yang sangat ia cintai.
"Bagas, Mama tahu kamu sangat mencintai nya. Tapi Mama tidak bisa membantah ucapan Papa mu. Papa mu sangat keras kepala" mengelus lembut kepala sang anak.
"Perjuangkan dia jika kamu sangat menginginkan nya" mendengar ucapan sang Mama ia menatap lekat manik mata wanita di depan nya
"Apa Mama menyetujui Bagas dengan Melati?" tanya nya meyakinkan
"Ya, apapun yang terbaik untuk putra Mama, Mama pasti menyetujui nya" mendengar nya Bagas sangat senang. Kembali memeluk erat wanita di depannya.
Ya, Ayu tidak pernah memandang orang dengan rendah. Beda dengan suaminya yang selalu memandang orang dengan rendah, bukan karena hati atau perilaku nya tapi karena derajat harta.
***
"Kak, anterin ke sekolah ya" pinta Davin dengan kaki menyembul di luar pintu kamar sang Kakak
"Hmmmm" sahutnya sambil memoles sedikit make up di wajah cantik nya. Merapikan kemeja yang ia kenakan agar terlihat rapi, menguncir kuda rambutnya, terlihat sangat cantik dan perfect. Setelah di rasa sudah rapi, ia turun untuk sarapan sana Davin. Orang tua nya masih belum pulang karena banyak sekali yang harus di urus.
"Bi, makan bareng yuk" ucapnya pada bibi Evi
"Tidak usah neng, bibi nanti makan di dapur aja" menolak halus ajakan anak dari nyonya besar
"Gak apa bi, makanan nya banyak banget. Mana bisa aku sama Davin makan segini banyak"
"Bagaimana kalau bibi bekal kan untuk neng Mela ke kantor?" mendengar pendapat Bibi Evi, ia tampak berfikir
"Emm baiklah bi" ucapnya tersenyum. Ya, ia menerima tawaran bi Evi agar nanti di kantor ia tak perlu ke Kantin. Ia takut jika bertemu dengan Bagas, ia akan mencoba menjauh dari Bagas.
Setelah mengantar Adik nya sekolah, ia melajukan gas mobil menuju kantor. Berjalan dengan penuh percaya diri, banyak sapa dari teman-teman kantor nya.
"Pagi Mel"
"Pagi Laaa"
"Cantik banget dah pagi ini"
Begitulah sapaan-sapaan dari teman kantor nya. Tak lupa ia selalu membalas sapaan teman-teman nya dengan senyum merekah yang tak pernah luntur meskipun hati nya sedang tak baik-baik saja. Ya, Mela memang banyak di segani banyak orang di kantor tempat ia bekerja. Selain cantik, dia juga baik tidak sombong.
"Selamat pagi Pak" sapa nya ketika berpapasan dengan Bagas
"Selamat pagi" sahutnya, dan Mela berlalu pergi tanpa sepatah kata. Membuat sang empu bingung dengan sikap nya
"Apa ada yang salah denganku?" batin Bagas. Karena tak biasa nya Mela bersikap seperti itu pada nya, ia akan bersikap ceria dengan senyum merekah di wajah cantiknya. Tak mau berfikir yang tidak-tidak, ia memutuskan ke ruangan nya.
****
***Melati Pov***
Setelah mengantar Davin ke sekolah, aku melajukan mobil menuju kantor. Ada sedikit rasa bersalah jika aku menjauhi nya tanpa ia tahu sebabnya. Aku mencoba menetralkan jantungku, bersiap jika nanti bertemu dengan Mas Bagas. Berjalan masuk ke kantor dalam percaya diri, banyak sapaan dari teman sekantor. Akhirnya, kita saling berpapasan.
"Selamat pagi Pak" sapaku ketika berpapasan dengan Pak Bagas
"Selamat pagi" sahutnya tersenyum, namun aku sebaliknya. Aku justru bersikap cuek dan berlalu pergi setelah menyapa Pak Bagas. Ada rasa bersalah ketika aku mencoba menjauh. Ya, aku yakin pasti Pak Bagas bingung dengan sikap ku. Karena memang tak biasa nya aku bersikap cuek, bahkan ketika aku bertemu dengan nya selalu mengukir senyum ceria di depannya.
"Mel, lo kenapa?" tanya Adit
"Ga papa Dit" ucapku memaksakan senyum
"Kalau ada apa-apa bilang, jangan kayak kemarin waktu sakit. Bilangnya "aku gapapa Dit", ujung-ujungnya juga pingsan kan" ucap Adit menirukan gaya bicaraku, aku terbahak melihat tingkah nya.
"Hahaha iya iya dit, tapi beneran gue gapapa" ucapku meyakinkan
"Huh yaudah deh, gue balik ke meja dulu" pamitnya berlalu pergi. Ya, Adit memang selalu bisa membuat semua orang tertawaan karena tingkah lucu nya.
Aku mencoba mengalihkan pikiran ku dengan laptop dan lembaran kertas di depanku. Mencoba menyibukkan diri dengan pekerjaan ku. Namun lagi-lagi aku tak bisa fokus dengan pekerjaan ku, aku memikirkan hubungan ku dengan Mas Bagas. Aku bingung harus bagaimana, aku sangat mencintai nya.
"Apa memang aku gak pantes buat Pak Bagas?" ucapku lirih dengan mata berkaca-kaca.
Sungguh aku tak rela jika hubungan ku berakhir secepat ini. Pak Bagas laki-laki yang sangat dewasa, mengerti tentangku.
Membayangkan nya saja aku tak mampu. Sebutir air mata lolos dari pertahananku, secepat mungkin aku menyeka air mataku sebelum banyak yang melihat ku menangis.
"Mel"
"Lo kenapa?" ucap seseorang memegang tangan ku, ku dongakkan kepala menatapnya. Ya, dia Ratna
"Gapapa Rat" ucapku bohong dengan senyum terpaksa
"Jangan bohong, nanti pulang ngantor kita ke Cafe" ucapnya, ku tahu dia ingin aku berbagai cerita dengan nya. Ratna memang perempuan yang sangat dewasa dalam berpikir, dia selalu mengerti tentangku.
Aku tersenyum mendengar penuturan nya, aku bersyukur punya sahabat seperti Ratna, Sari dan juga Adit. Selalu ada saat aku butuh, namun tidak semua hal aku berbagi cerita pada mereka.