
Keluarga Abraham
"Alice papa perlu bicara sama kamu" ucap Abraham
Alice baru turun dari kamarnya menuju ke meja makan untuk sarapan bersama papa dan mamanya.
"Iya pa~ ada apa ?" Tanya Alice sambil menempatkan diri menarik kursi lalu duduk dengan baik
"Gimana sikap Raymond selama bertemu kamu ?" Tanya Abraham
"Emm gimananya yang gimana pa maksudnya?" Tanya Alice bingung
"Maksud papa apa dia kurang ajar, nggak sopan, kasar atau dia ternyata playboy semacam itu..." Ucapnya gemas
"Ohh~ dia cukup baik pa, tapi dia juga cukup terkenal kok dikalangan perempuan" jawab Alice lugas
"Apa dia punya pacar sebelum dijodohkan sama kamu?" Tanya Abraham lagi
"Dia bilang nggak ada pa... jadi kita sama-sama nggak terikat sama siapa pun" ucap Alice
Abraham hanya mengangguk menanggapi jawaban putrinya. Sementara Michelle sang mama turut mencari tahu sejauh mana mereka berdua berkomunikasi.
"Kamu nggak bicara macam-macam yang keterlaluan kan ?" Tanya Michelle
"Nggak ma.. Alice cukup tahu diri lagi pula dia menerima perjodohan tanpa syarat ma.." ucap Alice
"Awalnya Alice pikir dia bakalan nolak tapi nggak tahu kenapa bisa-bisanya dia nerima dengan mudahnya" ucap Alice menambahkan
"Itu karena pesona anak mama ini bisa bikin orang meleleh" ucap Michelle sambil tersenyum bahagia
"Mama~ Alice serius maa~ " lagi-lagi Alice merajuk dihadapan mamanya dengan manja
"Alice kamu sudah mau menikah loh... Kurangin manjanya" ucap Abraham sambil tersenyum jahil menggoda putrinya
"Iya~ iya~ papa siap!" Jawab Alice tersenyum lebar
"Buruan berangkat keburu jalanan macet gih..." Ucap mamanya mengingatkan
"Iya ma... Alice berangkat dulu ... Bye papa" Alice berpamitan setelah mencium tangan kedua orang tuanya.
*
Wintermount Resort and Hotel
Raymond berkunjung ke resort milik keluarganya di kota P sehari setelah pertemuannya dengan Alice. Ia berencana menggunakan tempat ini untuk menggelar pernikahannya lalu menikmati keindahan alamnya dengan menginap beberapa hari disana. Karena acara pertunangan akan digelar di North Summer yaitu hotel milik keluarga Alice, maka Raymond harus menyiapkan kejutan yang bagus untuk calon istrinya dihari pernikahannya nanti.
"Boss anda terlihat begitu memanjakan calon istri anda" ucap Andra dengan jahil
"Benarkah ? Aku hanya ingin melakukan hal yang semestinya kulakukan" ucap Raymond
"Apa anda benar-benar menyukai Nona Alice?" Tanya Andra
"Hmm~ apa kau meragukanku" ucap Raymond sambil menepuk bahu Andra pelan
"Saya tidak ingin Nona Alice yang cantik dan pintar itu termakan rayuan anda" ucap Andra tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya
Andra adalah teman baiknya sejak berada di bangku SMA , namun sejak menjadi sekretarisnya ia bertekad untuk mengabdi sebagai bawahan. Namun ia juga merupakan penasihat yang baik bagi Raymond.
"Untuk bunga yang anda inginkan saya sedang berusaha keras agar sesuai harapan anda" ucap Andra mengalihkan pembicaraan
"Dihari pertunangan juga siapkan buket dengan bunga itu" ucap Raymond
"Baik lusa akan dikirim" ucap Andra
"Tidak perlu, aku akan membawanya sendiri" Ucap Raymond singkat
Raymond meluangkan waktu sejenak untuk berdiskusi dengan Alice melalui sambungan telepon disaat yang terpisah.
"Sudah makan siang?" Tanya Raymond
"Emm sudah..." Jawab Alice singkat
"Aku ingin menanyakan sesuatu~" ucap Raymond
"Apa itu ?"
"Apa kau suka warna putih ?"
"Tentu saja, ada apa?"
"Tak apa... Aku hanya ingin tahu" ucap Raymond
"Bagaimana dengan file yang aku kirimkan kemarin?" Tanya Alice
"Terlalu berani, lakukan sedikit perubahan untuk belahan tinggi bagian bawahnya" ucap Raymond tegas
"Emm akan aku lakukan" ucap Alice sambil tersenyum
"Bagaimana dengan yang akan kau pakai lusa?" Tanya Raymond
"Sudah selesai dikerjakan, hanya mengubah sedikit detail rendanya" jawab Alice
"Baiklah ... Kita akan bertemu lagi dihari pertunangan"
"Iya sampai jumpa" ucap Alice dengan suara bergetar
"*Apa yang terjadi tanganku terasa dingin dan aku gemetar.." ucap Alice lirih setelah panggilan telepon berakhir
"Aku tidak boleh terlena lalu tertipu oleh kebaikan yang diperlihatkan Raymond selama ini"
"Pertunangan dan pernikahan ini adalah sebuah kerjasama " tegasnya dalam hati*
Alice merasakan dingin ditelapak tangannya karena ia gugup pertunangan akan segera tiba, namun ia tidak menyadari bahwa mereka mulai menunjukkan ketertarikan satu sama lain. Mungkin seperti itulah cinta datang tak disangka-sangka.
*
to be continued....