
Saat berjalan menuruni tangga Alice merasa kepalanya sedikit pusing, dia berhenti sejenak karena merasakan sekelilingnya bergoyang. Lalu berjalan perlahan agar orang tuanya tidak menyadari bahwa dirinya sedang dalam kondisi kurang prima. Hari ini sungguh melelahkan bagi Alice, banyak hal tak terduga yang terjadi.
"Gaun yang berada di tengah itu ma~" Alice menunjuk sebuah gaun
"Wah ~ cantik sekali " Michelle berdecak kagum melihat gaun berwarna putih seputih susu
"Emm~ cantik, akan lebih baik lagi kalau Raymond juga mencoba stelan miliknya" ucap Abraham sedikit menyayangkan
"Raymond sedang sibuk pa~ lain kali Alice akan menghubunginya" ucap Alice menghibur papanya
"Baiklah mama akan bantu kamu ganti baju" ucap Michelle
"Tunggu sebentar ma~ Moza juga akan membantu" Alice mencegah mamanya
Nyut !
Sakit kepala Alice berdenyut dikepalanya, kali ini ia terhuyung dan jatuh pingsan.
"Alice !" Teriak Michelle
Beruntung Michelle sedang berada disampingnya sehingga Alice tidak terjatuh ke lantai.
Sementara itu Abraham terkejut mendapati putrinya jatuh pingsan.
"Papa akan bawa Alice ke rumah sakit terdekat, mama jangan panik" ucap Abraham mencoba bersikap tenang
Dengan sigap Abraham menggendong putrinya menuju ke mobil. Diikuti oleh Michelle dengan langkah tergesa-gesa.
"Nona Alice ! Apa yang terjadi ?" Tanya Moza ketika bertemu dilobi saat ia hendak menyusul ke galeri
"Alice pingsan, sekarang kita bawa ke rumah sakit dulu" ucap Michelle menjelaskan
"Saya akan menyusul segera setelah menyelesaikan urusan disini tante" ucap Moza tidak mempedulikan mode sekretarisnya karena cukup tekejut
Michelle mengangguk lalu segera meninggalkan Spring Garden Home Design dan menuju rumah sakit terdekat.
*
Ruang pemeriksaan
Dokter telah selesai memeriksa dan Alice sudah siuman dari pingsannya. Kemudian dokter memberitahukan kondisi Alice dengan kedua orang tuanya.
"Putri anda perlu istirahat dan jangan biarkan dia tertekan"
"Baik dok ! Kalau begitu apa Alice bisa dibawa pulang ?" Tanya Michelle khawatir
"Sebenarnya bisa saja, tapi saya khawatir pasien tidak.bisa istirahat dengan baik jadi akan lebih efektif bila rawat inap selama beberapa hari ke depan" Dokter Elli menjelaskan
"Baik terimakasih dok~" ucap Abraham mengangguk setuju
"Seharusnya kita tidak memaksa Alice pergi ke galeri pa~" ucap Michelle dengan menyesal
"Galeri hanya terletak dilantai bawah ma~ kondisi Alice memang sedang kelelahan... Jangan menyalahkan diri sendiri" Abraham menenangkan istrinya
Kriet~
Tak !
"Papa~ " Alice memanggil lirih
"Tetap berbaring... Kamu harus istirahat dengan baik. Akhir-akhir ini kamu sering pulang terlambat dan juga harus pergi dengan Raymond mengurus persiapan jadi kamu kurang istirahat" Ucap Abraham dengan lembut pada putrinya
"Emm~ Alice hanya perlu istirahat sebentar nanti akan kembali sehat pa~" Ucap Alice menenangkan kekhawatiran yang tergambar jelas diraut wajah papanya
"Baiklah~ mama dan papa akan mengurus keperluan kamu selama disini, istirahatlah dengan baik" ucap Abraham lalu beranjak dari duduknya
"Apa Alice nggak bisa pulang sekarang ?" Tanya Alice bingung
"Lebih baik istirahat selama beberapa hari kedepan, kemudian kamu boleh pulanh" ucap Abraham sembari melangkah ke arah pintu
Alice hanya terdiam mematung mendengar ucapan papanya. Padahal ada banyak hal yang harus dia selesaikan sebelum mengambil cuti.
"Kenapa jadi begini ? Padahal aku baik-baik saja~ tidak ku sangka akan semudah ini tumbang !"
"Sepertinya banyak sekali pekerjaan yang menumpuk setelah perjodohan itu ~ Aah ! Sungguh menguras banyak tenaga !" Gerutu Alice dalam hati
*
Moza menyelesaikan urusan kantor lalu dengan tergesa-gesa kembali ke ruangan Alice untuk memeriksa kalau ada barang yang tertinggal. Benar saja handbag dan smartphone milik Alice masih bertengger di meja kerja. Dengan sigap Moza merapikan meja kerja milik boss-nya lalu segera menyusul ke Rumah Sakit Theresa tempat Alice berada.
Tring ~
Tiriring ~ Ring ~
Ditengah perjalanan smartphone Alice berdering memecah keheningan didalam mobil Moza.
"Astaga ! Mengangetkan saja ! Uh benar-benar siapa yang telepon~ " gerutu Moza
Moza menggelengkan kepalanya beberapa kali melihat nama yang tertera di layar smartphone.
"Ck ! Belum cukup orang ini membuat Alice kehabisan tenaga rupanya " Moza berdecak kesal
"Halo ! Mohon maaf Nona Alice sedang istirahat tidak.bisa menerima telepon" Moza menjawab
"Tidak bisa ? Ini siapa ? Sekretarisnya ?" Tanya Raymond agak kesal mendapat rentetean kalimat tajam
"Iya saya sekretarisnya, mohon maaf saya sedang sibuk" ucap Moza segera mengakhiri telepon
"Haah ! Pria tidak tahu diri beraninya membuat teman ku jadi begini" umpat Moza dalam hati
*
to be continued...