White Roses

White Roses
Eps 12


Sebuah kursi besar berwarna putih yang sengaja di desain untuk sebuah ayunan dengan tiang pancang yang kokoh dan rantainya yang menggantung di sisi kanan dan kiri ayunan. Terlihat sketch book dan beberapa pensil berceceran di atas ayunan.


"Taman ini spot favorit kamu ?" Tanya Raymond sambil mengamati sekeliling taman


"Disini lebih nyaman ketimbang di dalam kamar" ucap Alice


"Apa kamu masih diganggu pria itu ?" Tanya Raymond tiba-tiba


"Semalam dia sempat menghubungi aku, dia mengoceh tidak jelas seakan tahu segalanya " ucap Alice dengan kesal


"Alice~" Raymond memanggil lirih


"Emm ada apa ? " Jawab Alice sembari menatap Raymond


"Apa kau merasa bimbang dengan rencana pernikahan kita setelah bertemu pria itu?" Tanya Raymond dengan hati-hati


Alice menggeleng,


"Emm aku bukan wanita yang seperti itu" jawab Alice


"Kau yakin akan melanjutkannya denganku hingga menikah?" Tanya Raymond sekali lagi


"Aku sudah menerima lamaranmu dihadapan kedua orang tua kita, tidak ada alasan lagi bagiku untuk ragu atau pun bimbang" jawab Alice mantap


"Atau mungkin kau meragukanku ?" Tanya Alice balik kepada Raymond


"Justru akulah yang takut kehilangan kesempatan menikah denganmu" ucap Raymond tak berdaya


"Jangan bercanda~ itu tidak cocok denganmu" ucap Alice sambil tertawa


"Aku serius Alice, aku bahkan tidak tahu kenapa aku merasa takut..." Ungkap Raymond


"Entahlah~ " ucap Alice lirih


"Aku sudah kalah telak dalam perjodohan ini..." Gumam Raymond


"Jangan meminjam ucapanku" ucap Alice


"Baiklah... Baiklah... " Ucap Raymond mengalah


"Aku mau konsep preweding ditaman semacam ini" ucap Alice tiba-tiba


"Aku setuju, gunakan dress putih one shoulder sesuai dengan sketch yang kau kirimkan padaku waktu itu" Raymond menyetujui arah pembicaraan Alice


"Lalu kapan photoshoot dilakukan?" Tanya Alice


"Semakin cepat semakin baik, kupikir minggu depan bisa dilakukan" ucap Raymond


"Akhirnya tiba waktunya liburan ! "jawab Alice bersemangat


Raymond hanya tersenyum melihat Alice begitu bersemangat mendengar rencana photoshoot. Lalu ia mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Mau makan diluar sambil jalan-jalan ? "


"Tidak bisa ! Aku ingin seharian ini dirumah saja diluar sangat berbahaya" ucap Alice


"Apa kau takut bertemu kekasih masa lalu mu itu ?" Tanya Raymond


"Tidak ... Tidak ... Bukan seperti itu" ucap Alice lalu berdiri dari tempat duduknya


"Aku akan menyiapkan makan siang dengan segera" ucap Alice lalu bergegas menuju kedalam rumah


Sepuluh menit kemudian Alice datang membawa satu keranjang berisi makanan dan juga sebuah tikar lipat berukuran kecil.


Raymond mengambil tikar ditangan kiri Alice lalu dengan sigap menatanya.


"Kau bilang akan datang jadi aku menyiapkannya" jawab Alice santai


"Kau mengajakku piknik ditaman belakang rumah ?" Ucap Raymond tak percaya


"Aku malas keluar jadi kita piknik saja disini sambil menikmati bunga-bunga yang bermekaran" ucap Alice berdalih


"Lain kali jika kau ingin pergi keluar katakan padaku lebih awal" ucap Raymond sambil meraih tangan Alice yang sedang sibuk mengeluarkan kotak makanan dari dalam keranjang rotan


"Dengan senang hati" Alice menjawab sambil menarik tangannya kembali


"Aku menyukaimu" ucap Raymond tiba-tiba


"Ah ! Apa ?" Alice terkejut mendengar ucapan Raymond


"Ayo segera menikah saja" ucap Raymond sambil merebahkan tubuhnya diatas tikar sementara kakinya diatas rerumputan


"Benar-benar ya ! Kita ini mau menikah sebentar lagiapa kau lupa?" Alice mulai kesal mendengar ucapan Raymond.yang melantur


"Aku ingin dipercepat, bagaimana kalau minggu depan saja kita menikah?" Ucap Raymond sembari bangun dan duduk berhadapan dengan Alice


Jarak diantara mereka begitu dekat. Hingga detak jantung Alice berdetak lebih cepat dan wajahnya memerah.


"Apa kepalamu terbentur sesuatu saat kemari?" Tanya Alice


"Tidak ! Aku serius aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi" ucap Raymond hampir frustasi


"Berhenti melantur Ray ! Makan ini !" Ucap Alice sambil menyodorkan sepotong sandwich


Raymond tidak mengambilnya namun menggigit sandwich yan diberikan sambil memegang tangan Alice agar tidak menjauh darinya.


"Kau sungguh malas Ray !" Alice menggerutu kesal


"Apa aku tidak boleh meminta sedikit perhatian dari calon istriku ?" Raymond menggoda Alice


"Menyebalkan..." Ucap Alice sambil memalingkan wajahnya


Raymond hanya tersenyum sambil terus memperhatikan Alice yang sedang menyantap sandwich. Tanpa ia sadari jemarinya mulai mengelus rambut Alice yang tergerai indah. Sementara Alice hanya terdiam tanpa protes pada ulah yang dilakukan Raymond.


Alice menoleh kearah Raymond sambil tersenyum.


"Simpan tanganmu baik-baik Ray, bisa-bisa papa melarangmu berkunjung nanti" ucap Alice sambil tersenyum lebar


"Om Abraham dan tante Michelle agi ketemu sama ayah" jawab Raymond


"Aku kalah~ " ucap Alice tak berdaya melawan ucapan Raymond


"Aku haus Alice" ucap Raymond pura-pura lemas


Alice segera menuangkan susu kedalam gelas dan menyodorkannya ke arah Raymond.


"Aku akan segera pulang dan mengajukan usul mengenai perubahan tanggal pernikahan kita" ucap Raymond


"Jangan bercanda lagi~ udah sana balik kantor" Alice mendorong Raymond menuju ke halaman depan


"Sampai jumpa lagi Alice" ucap Raymond


"Emm hati-hati dijalan" Alice melambaikan tangannya ke arah Raymond


*


to be continued...