White Roses

White Roses
Eps 16


Raymond membawa Alice keruangannya dan mencoba menjelaskan situasi yang sebenarnya.


"Duduklah~ " ucap Raymond pada Alice


"Ray ! Aku tidak ingin terlibat masalah perusahaan lagi" ucap Alice tegas


"Aku mengerti~ sekarang duduklah kumohon Alice" ucap Raymond memohon


Alice tetap berdiri tidak menuruti kalimat Raymond.


"Alice~ aku benar-benar hanya ingin memberitahu bahwa kita akan menikah, tidak ada hal tersembunyi lainnya" Raymond menjelaskan


"Jika ini benar pernikahan politik Om Abraham dan juga ayahku tidak akan diam saja, mereka pasti sudah mengumumkan sejak kita bertunangan" ucap Raymond mencoba menjelaskan lagi


"Lagi pula aku tidak ada kendali atas Spring Garden Hotel and Resort Ray " ucap Alice lirih


"Aku tidak membutuhkan kendali Spring Garden Hotel and Resort, aku ingin menikah dengan kamu dan menjalani hidup dengan damai" Tanya Raymond


"Baiklah~ lupakan saja masalah itu" ucap Alice lirih


"Baiklah lupakan saja masalah perusahaan, apa kau mau tinggal disini sampai jam makan siang ?" ucap Raymond


"Tapi aku. . ."


"Jangan cari alasan lagi~" Raymond memotong ucapan Alice dengan segera


"Kau harus menebus kesalahanmu har ini" ucap Alice sambil memalingkan wajahnya


"Aku minta maaf karena tiba-tiba membawa mu kedalam rapat dewan direksi" ucap Raymond pada Alice


"Coba jelaskan kenapa aku harus datang ?"


"Aku hanya ingin memberitahukan secara langsung dengan mengundangmu" jawab Raymond dengan tenang


"Apa benar sudah tersebar kabar tentang rencana pernikahan kita?" tanya Alice dengan wajah serius


"Emm~ Ada beberapa kabar beredar dan juga kita tertangkap kamera saat kita sedang bersama" Raymond menjawab dengan tenang


"Dan~ dewan direksi perusahaan menganggap ini sebagai masalah?" tanya Alice


"Mereka hanya terlalu khawatir berita itu berdampak buruk untuk perusahaan" ucap Raymond


"Lalu kamu dengan percaya diri malah membawa aku turut serta? sungguh nekat" Ucap Alice menggelengkan kepalanya sambil tertawa


"untuk apa aku menyembunyikan berita bahagia dari mereka ? lagi pula ini juga akan menguntungkan kedua belah pihak" ungkap Raymond dengan tenang


"Emm~ kau benar ! lalu aku mulai curiga dengan niat terselubung orang tua kita yang merancang perjodohan kita dengan begitu cantik" ucap Alice


"Sejak awal Om Abraham tidak pernah menyinggung kerja sama perusahaan, tapi beliau benar-benar ingin memberikan yang terbaik untukmu" Raymond menjelaskan


"Apa papa berpikir bahwa kamu adalah kandidat terbaik itu?" ucap Alice sambil tertawa


"Jangan merayuku~ aku harus segera kembali" Alice berdiri dan berpamitan


"Apa kau kecewa atas kejadian hari ini ?" tanya Raymond dengan cemas


"Jangan berpikir yang tidak perlu, aku percaya padamu" ucap Alice menenangkan


"Kau tak ingin makan siang bersamaku ?" Tanya Raymond lagi


"Emm~ aku harus kembali sekarang, lain kali undang dewan direksi secara formal untuk makan malam bersama" ucap Alice sambil menggelengkan kepala.


"Baiklah~ mari ku antar" ucap Raymond sambil berjalan disebelah Alice


Mereka berjalan berdampingan melewati koridor hingga sampai ke lobi dan menuju ke tempat parkir.


"Hati-hati dijalan" ucap Raymond sambil mencium kening Alice dengan lembut


"Emm~ bye-bye" ucap Alice lalu segera masuk kedalam mobil dan meninggalkan Wintermount Grup


*


Setelah Alice meninggalkan Wintermount Raymond segera menghubungi ayahnya.


Tut~ Tut ~


Trek~


"Iya Ray ada apa?" Randy sang ayah menyahut dari seberang


"Ada sedikit masalah, Alice salah paham soal perjodohan" ucap Raymond sedikit was-was


"Salah paham gimana ? "Tanya Randy bingung


"Alice sempat berpikir perjodohan ini untuk kepentingan perusahaan yah" Raymond menjelaskan


"Kenapa bisa seperti itu ?" tanya Randy lagi


"Ray memberitahukan rencana pernikahan didepan anggota dewan direksi perusahaan dan Alice jadi salah paham" ucap Raymond


"Lalu bagaimana respon Alice ke kamu ?"


"Sekarang sudah diluruskan yah, lusa kita perlu makan malam keluarga dan mengundang dewan direksi" ucap Raymond memberitahu ayahnya


"Bagus ayah setuju dengan itu"


"iya terimakasih ayah" ucap Raymond lalu mengakhiri teleponnya


*


to be continued...