White Roses

White Roses
Eps 14 White Roses ?


Sebelum Alice benar-benar melangkah Raymond segera menghampirinya dengan langkah mantap dan tenang. Lalu meraih tangan Alice dengan lembut dan memberikan buket bunga mawar.


"Untukku ?" Tanya Alice tidak percaya


Raymond mengangguk sambil tersenyum.


"Thank you Ray~" ucap Alice dengan mata yang berbinar


"Aku hanya ingin mampir sebentar sebelum ke kantor" ucap Raymond menjelaskan kedatangannya


"Tapi kenapa white roses ?" Tanya Alice kemudian


"Seharusnya dihari pertunangan aku membawanya untukmu, tapi aku tidak sempat" ucap Raymond menjelaskan


"Aku suka bunganya" ucap Alice tersenyum


"Apa kau sedang bertemu client?" Tanya Raymond sambil melirik kearah Reza yang berdiri didekat tangga sedari tadi


"Bukan~ dia Reza yang waktu itu" ucap Alice pada Raymond


"Ohh ya ? " ucap Raymond santai


"Emm~ " Alice hanya mengangguk


"Saya belum sempat berkenalan dengan baik waktu itu" ucap Raymond


"Raymond~ calon suami Alice" ucap Raymond sambil mengulurkan tangannya


"Senang bertemu dengan anda, saya Reza" ucap Reza sambil menyambut uluran tangan Raymond


"Apa aku mengganggumu ?" Tanya Raymond pada Alice


"Tidak~ pertemuanku sudah selesai" jawab Alice


"Syukurlah kalau begitu" ucap Raymond


"Apa kau mau duduk dulu diruanganku?" Tanya Alice


"Boleh meskipun hanya sebentar" ucap Raymond sambil mengedipkan matanya


"Alice tunggu sebentar" cegah Reza


"Ada apa lagi ?" Alice bersikap dingin pada Reza seperti sebelumnya


"Berikan aku satu kali kesempatan lagi" ucap Reza memohon pada Alice


Reza tidak peduli sekalipun ada Raymond disana.


"Aku tidak bisa Reza" ucap Alice datar


"Apa kau menyukai pria ini?" Tanya Reza pada Alice sambil menunjuk ke arah Raymond


"Apa aku perlu menjelaskannya?" Tanya Alice kembali


"Aku ingin mendengarnya jika kau benar-benar memilih dia daripada aku!" Ucap Reza meninggikan suaranya


"Ada banyak orang disini mari pindah tempat lebih dulu" ucap Raymond menengahi


Alice mengangguk dan berjalan menuju meeting room disayap kanan.


"Aku sudah cukup memberikan kesempatan untukmu, tapi kau selalu mengulangi lagi kesalahanmu..." Ucap Alice lirih


"Aku muak menghadapi dirimu ! Sekarang aku benar-benar melepaskanmu dan aku memilih untuk segera menikah dengan Raymond" lanjut Alice


"Aku baru beberapa kali bertemu dengan Raymond tapi dia menghargai aku Za... Dia mementingkan kenyamananku dan pendapatku ... Jadi~ biarkan aku bahagia dengan jalan yang kupilih" Alice menekankan kalimatnya


Reza hanya mampu terdiam tanpa kata dan mengangguk tanda mengerti.


"Aku mengerti... Maafkan aku Alice" ucap Reza lalu meninggalkan meeting room dengan langkah berat


*


"Aku akan berusaha agar kau tidak menyesali pilihan mu" ucap Raymond sambil tersenyum


"Jangan membodohiku seperti pria br*ngs*k lainya" ucap Alice sambil memukul dada Raymond


"Mana mungkin~" ucap Raymond menenangkan Alice


"Aku tidak akan memaafkanmu jika itu terjadi" Alice mengancam


"Alice~ lihat aku" ucap Raymond melepaskan pelukannya


"Kita terikat karena perjodohan itu fakta, tapi apakah kita tidak diperbolehkan bahagia?" Ucap Raymond


Alice hanya terdiam tidak tahu harus berkata apa lagi, hati dan pikirannya telah kacau.


"Kamu harus tahu. . . Bahwa aku menginginkan kamu berada disisiku" Lanjut Raymond


"Aku harap hubungan kita akan baik-baik saja, hanya itu yang ku mau . . ." Ucap Alice dengan lirih


"Aku ingin kita menjalaninya dengan rasa nyaman" ucap Raymond


"Aku akan berusaha" ucap Alice tersenyum


"Bukan berusaha tapi mari kita nikmati setiap detik kebersamaan kita" ucap Raymond dengan sorot matanya yang teduh


Alice mengangguk dan tersenyum mendengar kalimat yang diucaokan Raymond barusan. Seperti seorang pangeran berkuda putih yang datang menyelamatkannya dari belenggu.


"Alice ~" Raymond memanggil nama Alice dengan lembut


"Iya ~ ?" Jawab Alice dengan linglung


"Aku memilih white roses karena aku ingin ikatan kita seputih dan secantik bunga ini, meskipun ikatan suci belum terlaksana tapi aku berharap pernikahan kita nanti akan menjadi ikatan yang suci. . . Bukan pernikahan politik seperti kebanyakan orang" ucap Raymond sambil menatap Alice


Sementara Alice terkejut mendengar kalimat yang diucapkan Raymond.


"A. . Aku tidak menyangka ada makna sedalam ini dibalik bunga ini"


"Apa aku terkesan seperti presdir yang arogan dan kejam?" Tanya Raymond dengan jahil


"Ti. . Tidak ~ image seperti itu tidak cocok denganmu" Alice menjawab dengan terbata-bata karena ketampanan yang hakiki baru saja terpancar melalui senyuman yang Raymond buat barusan.


"Lalu menurutmu aku ini pria yang seperti apa?" Tanya Raymond


"Emm~ awalnya kupikir kamu adalah playboy karena kamu dengan mudahnya melamar wanita yang baru saja kamu temui" ucap Alice tajam


"Karena wanita yang aku temui waktu itu adalah kamu" ucap Raymond sambil berjalan keluar dari meeting room


"Baiklah ~ sekarang kau harus kembali ke kantor" ucap Alice


Alice mengantar Raymond sampai ke lobi kantor dan mengucapkan selamat jalan.


"Sampai jumpa"


"Jaga diri baik-baik Alice" ucap Raymond sambil mencium kening Alice.


Secepat kilat ia masuk kedalam mobil dan meninggalkan Spring Garden. Beberapa karyawan Alice yang sempat melihat adegan itu mereka berbisik-bisik.


X : Apa dia tunangan Nona Alice ?


Y : Astaga ! Mereka romantis sekali !


Z : Sstt ! Pelankan suaramu nanti bu boss dengar !


"Ehem ! Apa pekerjaan kalian diperusahaan ini bergosip ?" Moza menegur mereka


Mereka diam tanpa kata mendapat semprotan pedas dari Moza sang sekretaris bertangan besi itu.


*


to be continued...