
Alice tersenyum penuh kemenangan melihat Raymond mengalah dengan senang hati dihdapannya. Untuk sesaat ia lupa dengan perdebatan kecil yang dialaminya saat di rumah sakit. Awalnya ia ingin mengabaikan Raymond jika bertemu lagi, namun ia gagal melakukannya karena Raymond berusaha menemuinya di hari pertama ia keluar dari rumah sakit.
"Tempo hari ~ maaf aku hanya sedikit bercanda " ucap Raymond hati-hati
"Kau benar ~ aku wanita jahat" ucap Alice memiringkan kepalanya sambil mengernyitkan dahinya
"Hemm ~ maksudku kau sedikit kurang peka" ucap Raymond dengan senyum mengejek
"Kurang peka ? Ah ! seperti itu ~" Alice memperjelas kalimatnya
"Emm ~ bahkan sangat sulit untuk bertemu denganmu" ucap Raymond sedikit kesal mengingat ia harus mengejar kesana dan kemari untuk menemui Alice.
"Maafkan aku ~ aku benar-benar tidak tahu kau yang datang menemuiku" ucap Alice merasa tidak enak
"Aku ingin memberi kejutan untukmu, tapi aku mendapatkan hadiah yang lebih istimewa darimu" ucap Raymond sambil menatap Alice yang duduk dihadapannya
"Ah ~ nafsu makan ku hilang ~" ucap Alice frustasi menghadapi Raymond
"Aku senang kau berbagi makan siang denganku, jangan berpikir yang tidak-tidak ~" ucap Raymond sambil mencondongkan tubuhnya untuk berbisik ditelinga Alice
"Raymond ~ apa yang sebenarnya kau inginkan ? Berhenti menyindirku karena tidak menyambutmu dengan baik saat kau datang menemuiku" ucap Alice tepat dihadapan Raymond
Raymond tersenyum melihat Alice mulai kehilangan kesabarannya.
Cup !
Raymond mendaratkan sebuah kecupan lembut di pipi Alice untuk pertama kalinya.
Sementara Alice yang cukup terkejut terdiam menatap Raymond untuk sesaat. Jantungnya berdegup kencang dan pipinya bersemu merah jambu. Ia ingin berteriak dan bahkan memukul Raymond. Namun ia bahkan tak mampu melakukannya karena waktu seolah berhenti dalam benak Alice. Beberapa detik kemudian setelah mengumpulkan kesadarannya Alice berdiri dan hendak pergi meninggalkan Raymond.
Raymond menyadari reaksi Alice mulai bergerak menjauhinya, dengan refleks ia memegang lengan Alice.
."Jangan pergi !" Ucap Raymond tanpa pikir panjang
"Aku hanya ~ hanya ingin berterimakasih " Ucap Raymond mencari alasan
"A Aku ~ " Alice terbata-bata
Raymond menarik lengan Alice kehadapannya sehingga mereka berhadapan satu sama lain.
"Alice ~ kumohon jangan pergi ~ kau tahu sangat sulit bertemu denganmu" ucap Raymond yang sedang frustasi menghadapi kenyataan dan juga dirinya sendiri
"Aku tahu kau tidak menyukai ku meskipun aku adalah tunanganmu, aku minta maaf melakukan hal itu tanpa persetujuanmu" ucap Raymond panik
"Raymond ...." Alice membuka suara
"Maafkan aku ~ mungkin kau tidak nyaman setelah mendengar ucapanku barusan" ucap Raymond dengan wajah kecewa
Alice terdiam mendengar ucapan Raymond, ia berusaha mencerna apa yang baru saja di dengarnya.
"Apa maksudmu ?" Tanya Alice
"Aku harus segera kembali ke kantor, jaga dirimu" ucap Raymond lalu buru-buru pergi meninggalkan Alice yang tengah kebingungan.
Beberapa saat setelah Raymond pergi meninggalkan ruangan Alice.
"Ah Tidak ! Apa yang baru saja terjadi ? Dia me ~ menciumku ?! " Alice menjerit
"Aku tunangannya dan akan segera menikah ~ ya ... Setelah menikah bahkan akan ada hal lain yang bahkan tidak berani untuk ku bayangkan... Tuhan bagaimana ini ?" Alice bergumam sendirian sambil memegangi kepalanya
Setelah kejadian itu Alice tidak bisa bekonsentrasi dalam bekerja. Bayangan wajah Raymond selalu muncul dalam pikirannya bahkan saat ia menatap monitor ataupun lembaran dokumen yang ia periksa.
Akhirnya Alice memutuskan untuk pulang pada pukul 14:30 WIB. Ia merasa harus beristirahat dirumah dan mengambil cuti lagi esok hari untuk menenangkan diri sebelum menghadiri undangan makan malam dari Wintermount grup.
"Moza ~ Aku merasa sedikit lelah, aku pulang lebih awal dan tolong besok tangani urusan di kantor aku ingin istirahat" ucap Alice memberitahu Moza
"Baik nona ~ mari saya antar" ucap Moza mengikuti Alice menuju tempat parkir
"Aku bisa pulang sendiri Moz ~ kembalilah bekerja dan pulang seperti biasa" ucap Alice ketika tiba di tempat parkir
Alice segera meninggalkan Moza yang hanya mengangguk menuruti kata-katanya.
*
Malam hari
Seusai makan malam bersama orang tuanya Alice segera naik ke lantai dua menuju kamarnya. Sampai dikamar ia duduk ditepi tempat tidurnya dan sedikit melamun.
Deg !
Deg !
Jantungnya berdegup kencang ketika mengingat sebuah ciuman lembut yang mendarat di pipinya. Rasanya ia ingin berguling-guling saat itu juga.
Inikah debaran cinta ? Sempat terpikir hal semacam itu di benak Alice, namun ia menepisnya.
"Aku berdebar karena terkejut hanya itu !" Gumam Alice meyakinkan dirinya
"Dia hanya menggodaku ! Iya hanya menggodaku ! Ahh benar-benar ! " Ucap Alice kesal lalu merebahkan diri dan menutupi dirinya dengan selimut.
Beberapa detik kemudian dia bangun dan membuang selimutnya kebawah..
"Arrgh ! Bagaimana aku akan menghadapinya besok ?" Alice menggerutu.
"Aku harus tidur sekarang ~ huh ~ " Alice mengatur nafasnya lalu memungut selimutnya dan memakainya kembali.
*
to be continued...