
"Kau begitu sempurna~
dimataku kau begitu indah~
Kau membuat diriku akan selalu memujamu~
...."
Seorang gadis tengah duduk disebuah cafe bernuansa klasik sambil mendengar sayup sayup alunan lagu. Sambil sesekali mengotak atik ponsel nya ia menyesap secangkir mocca latte dengan tenang. Tak lama kemudian muncul seorang pria sambil mengamati nomor meja tempat Alice duduk yaitu meja nomor 07.
"Meja nomor 07 dengan Alice ? Benar?" Pria itu bertanya dengan sopan
Sesaat Alice menatap pria itu kemudian ia menjawab dengan suara sedikit bergetar
"Iya~ saya Alice"
"Maaf saya sedikit terlambat, saya Raymond" ucapnya seraya mengulurkan tangannya pada Alice.
Kemudian Alice menyambut uluran tangannya dengan ramah lalu keadaan menjadi hening untuk sesaat.
"Saya datang kesini atas kemauan saya bukan karena paksaan dari orangtua saya nona Alice, jadi saya ingin lebih mengenal anda" ucap Raymond mencoba mengawali pembicaraan
"Panggil saya Alice "
"Lalu bisakah kamu panggil saya Raymond atau Ray saja cukup" ucapnya ringan mencoba menghilangkan kesan formal diantara mereka.
"Baiklah... Anda datang kesini ingin mendiskusikan skenario penolakan yang seperti apa ?" Tanya Alice santai
Bak petir disiang bolong ucapan Alice membuat Raymond terkejut namun ia berusaha agar terlihat tetap tenang.
"Saya ingin menyetujui perjodohan ini "
"Apaa ?!" Alice terkejut dengan jawaban Ray
"Kita perlu mengenal satu sama lain karena tanggal pernikahan sudah ditentukan oleh orangtua kita, jadi saya mohon kerja samanya" ucap Ray sambil tersenyum
"Alice boleh menolak perjodohan ini tapi itu tidak akan berhasil" Ray mencoba memberi penekanan pada Allice
"Kamu bisa cari orang lain untuk permainan ini tapi orang itu bukan saya" ucap Alice dengan tenang tanpa kebencian sedikitpun
"Saya tidak butuh orang lain " jawab Ray dengan tenang
Kemudian melanjutkan kalimatnya.
"Bisa ikut saya sebentar ? Saya ada janji dan sebisa mungkin harus membawa kamu"
"Bukankah kita baru saja bertemu ? Lalu janji apa yang harus melibatkan saya?" Jawab Alice menunjukkan ekspresi dingin.
"Ada janji makan siang bersama orangtua kita di North Summer sekarang" jawab Ray dengan tenang dan meraih tangan Alice untuk segera bergegas meninggalkan cafe tersebut.
*
Suasana North Summer
.
.
Orang tua Alice dan Raymond sedang berbincang ringan sambil menunggu kedatangan kedua anaknya. Tak berapa lama kemudian pasangan muda memasuki ruangan dan menarik perhatian banyak orang karena kecantikan dan ketampanan pasangan itu.
Apakah mereka artis ?
Kyaa mereka pasangan serasi !
Mereka tampak elegan ~
Beberapa orang tampak berbisik-bisik dan ada pula yang histeris melihat Alice dan Raymond yang sedang menuju meja khusus yang telah ditempati kedua orangtua mereka.
"Ayah senang kamu datang bersama Alice" ucap Abraham sang ayah
Setelah obrolan ringan kemudian sampailah pada inti pembicaraan yang sebenarnya hari ini. Alice yang sedari tadi tampak diam jantungnya mulai berdegup tak karuan karena apa yang ingin dihindarinya akhirnya akan terjadi hari ini.
"Alice ... Papa minta maaf sebelumnya karena perjodohan ini sudah lama sekali kami rencanakan, dan hari ini dengan susah payah papa usahakan agar kalian bisa bertemu karena sulit sekali mengadakan pertemuan ini"
"Papa sudah beberapa kali bertemu dengan nak Ray dan beberapa kali berbincang mengenai ini lalu dia tidak keberatan .. sekarang papa ingin agar kalian segera bertunangan" Randy sang papa berbicara dengan hati-hati agar putrinya tidak meledak-ledak seperti tempo hari waktu ia diberi tahu tentang perjodohan ini.
Alice hanya diam sambil menghembuskan nafas dengan berat sambil menoleh ke arah Raymond yang duduk disampingnya mencoba mencari penjelasan dari pria itu.
Suasana hening sejenak menunggu reaksi dari Alice karena telah diketahui bahwa pihak Raymond telah menerima perjodohan ini dan hanya menunggu waktu pertemuan keluarga dan menentukan tanggal pertunangan.
"Alice... saya Raymond putra dari pasangan Randy Putra Utama dan Siena Larasati Utama mengajukan lamaran maukah kamu menikah dengan saya?" Raymond melamar Alice saat itu juga didepan kedua orang tuanya.
Alice merasa pria disampingnya ini sudah gila bagaimana bisa melamar perempuan yang bahkan baru ditemuinya hari ini tanpa ragu !
"Menurut saya ini terlalu cepat tuan Raymond bisakah kita saling mengenal terlebih dahulu ?" Ucap Alice dengan wajah kesal namun berusaha tetap ramah
"Setelah bertunangan masih ada waktu untuk saling mengenal bukankah begitu Om Abraham dan Tante Michelle ?" Ucap Ray dengan tenang
"Tentu saja kalian tidak perlu khawatir, kami akan memberikan tenggat waktu satu bulan setelah bertunangan lalu setelah itu baru akan diselenggarakan pernikahan" jawab Abraham
Sedangkan Michelle hanya mengangguk sambil tersenyum puas mendengar ucapan calon menantu dan jawaban dari suaminya. Semua itu cukup untuk menghentikan tindakan Alice yang mencoba mengulur waktu.
"Baiklah aku bahkan kalah telak sebelum memulai untuk melawan kalian semua, aku akan menyetujui perjodohan ini dengan beberapa syarat yang akan aku ajukan pada calon suamiku" jawab Alice dengan tegas tanpa keraguan
"Katakan .." Ucap Raymond
" Meskipun pernikahan ini bukan berlandaskan cinta tapi aku ingin kita menikah atas dasar kepercayaan, lalu aku tidak mengizinkan calon suamiku menjalin hubungan gelap karena itu akan mempengaruhi reputasiku dan juga keluargaku, aku juga tidak akan melakukan hal keji semacam itu kemudian apapun masalah yang kita hadapi setelah kita menikah jangan melibatkan kedua orangtua kita" ucap Alice dengan tegas
"Aku setuju dengan syarat yang kamu ajukan" jawab Raymond
Setelah kedua keluarga mencapai kesepakatan masing-masing mereka melanjutkan acara makan siang lalu undur diri untuk melanjutkan aktifitas masing-masing. Alice berencana kembali ke kantor diantar Raymond.
"Aku pikir kamu akan mengajukan syarat agar aku menjaga jarak aman darimu" ucap Ray sambil mengarahkan laju mobilnya menuju Spring Garden perusahaan milik Alice.
"Aku akan menyusun persyaratan itu dan kau harus tanda tangan" ucap Alice santai
"Apa kau coba untuk membodohi aku?" Ucap Ray menahan tawanya
"Aku tidak membodohimu, tapi kau mengingatkanku dengan hal penting barusan" ucap Alice dengan tenang
"Baiklah lupakan bagian itu... Apa kau punya pacar? Jika iya mari selesaikan itu agar kita bisa lebih nyaman sebelum pertunangan semakin dekat" ucap Ray mencoba menggali informasi
"Kamu beruntung... Aku tidak sedang menjalin hubungan dengan siapapun jadi tidak perlu buang-buang waktu mu yang berharga itu" ucap Alice tanpa basa-basi
"Benarkah ? Aku seberuntung itu rupanya, bagaimana jika kau menemani aku lusa untuk menjauhkanku dari wanita rubah ?" Tanya Ray
"Kenapa aku harus terlibat dengan rubah betina itu?" Tanya Alice
"Aku ingin dia tahu aku akan segera menikah dan supaya kita lebih nyaman itu saja" jawab Ray singkat
"Harus bersamaku untuk menghentikan rubah itu?" Tanya Alice
"Harus..." Jawab Ray singkat namun tegas
"Baiklah.. " ucap Alice pasrah tanpa perlawanan.
Tak lama kemudian Alice sampai di gerbang utama Spring Garden, Raymond turun untuk mengantar Alice sampai ke lobi lalu undur diri.
**
to be continued...