
Double update!
Jangan lupa untuk vot and Comment sebanyak-banyaknya ya.
Dan sebarkan cerita ini ke teman kalian ya. Agar banyak yang tahu dan tertarik sama cerita ini
_____________________________
“Hal kecil pun bisa dilupakan. Lalu, kenangan apa yang harus aku simpan? Jika tidak ada seorang pun yang memberiku sebuah kenangan yang dapat aku kenang.”
_Andrhea Alexis Sanchez_
___o0o___
Hidung memerah, mata membengkak, dan pelipis di plester. Itulah gambaran wajah Andrhea saat ini. Berjalan seperti tak ada gairahnya hidup. Luntang-lantung tak mempunyai tujuan pergi. Hidupnya sudah pelik ditambah dengan adiknya yang sakit dan juga uang jajannya berkurang. Maka, semakin pelik hidupnya.
“Huffttt… Kerja apa, ya?” gumam Andrhea sambil menatap sekitar lingkungannya.
Seorang badut membuat Andrhea tertarik melihatnya yang sedang membagikan brosur makanan. Kepala Andrhea mendongak ke atas langit melihat matahari yang lumayan panas dan memakai baju tebal seperti itu membuatnya membayangkan panasnya bertambah.
Badut itu mendekati Andrhea, lalu menyodorkan brosur makanan kepadanya.
“Lagi promo ya, Dut?” tanya Andrhea yang masih fokus membaca.
Badut itu mengangguk.
“Murah-murah, kan?” tanyanya lagi.
Badutnya kembali mengangguk.
“Berarti, ada lowongan kerja, dong.”
Ucapan Andrhea membuat sang Badut menurunkan bahunya.
Lalu, membuka kepala kostum badutnya. “Kalau mau cari lowongan bilang dari tadi. Nggak usah pakai tanya ini-itu. Yang ada waktu kerja gue berkurang gara-gara lo.”
“Hehehe… Maaf, Mbak. Ya kali gue langsung nanya intinya. Entar gue malah dikata sok kenal.”
Ratri, perempuan di balik kostum badut kelinci menghela napasnya lelah. “Seterah lo. Mending lo datang aja ke café tempat kerja gue. Disana masih terima lowongan kerja.”
Andrhea mengangguk. “Makasih, Mbak. Gue pikir-pikir lo lebih cantik kalau pakai kepala kostum badut kelinci lo,” ucap Andrhea sesekali mengejek.
“Sialan lo.”
Andrhea cekikikan sambil berlalu meninggalkan Ratri. Ia pun masuk ke dalam café story life. Ramai pengunjung membuat Andrhea kebingungan mencari informasi lowongan kerja. Dengan menerobos antrian panjang yang diumpatin banyak pembeli, Andrhea sampai ke meja kasir.
“Mas, ada lowongan kerja nggak?” tanya Andrhea seperti bisikkan.
“Ada. Mbak naik ke lantai atas aja nanti ketemu sama manager café ini.”
“Oh, oke. Makasih ya, mas.”
Panas matahari sangat menyengat ditambah dengan kemacetan ibu kota Jakarta membuat semua manusia malas untuk berlama-lama di bawah sinar matahari. Banyak dari mereka yang mampir untuk mencicipi minuman segar di café story life. Berbeda dengan dua perempuan di balik kostum badut kelinci dan pandai yang sedang berusaha menarik pelanggan agar pekerjaan mereka cepat selesai.
“Mbak, lo setiap hari begini terus. Emang nggak capek apa?”
“Capek nggak capek harus gue jalanin, karena gue hidup butuh duit.”
Di balik kostum badut pandai Andrhea tersenyum menyemangati dirinya agar bisa bertahan hingga lama dalam melakukan pekerjaan ini. Bayarannya lumayan cukup untuk kebutuhan sehari-seharinya.
Menghilangkan rasa malu pada dirinya sendiri, Andrhea berjoget-joget untuk menarik pelanggan dan sesekali memberikan brosur yang ada di tangannya. Suara musik mengalami dari café story life membuat Andrhea dan Ratri semakin semangat membagikan brosur dan menarik perhatian pelanggan.
Tiba-tiba tubuh Andrhea mematung saat melihat sosok pemuda yang sedang membenarkan letak jaketnya. Lebih parah lagi saat pemuda itu berjalan ke arahnya. Kali ini ia beruntung saat kepalanya tertutup kostum badutnya. Dengan gerakan kaki Andrhea memberikan brosur kepada pemuda itu. Tetap, bukannya di ambil, melainkan Andrhea sendiri yang diberikan sebuah lolipop berbentuk hati.
“Ini, ambil. Semoga makin semangat kerjanya,” ucap pemuda itu setelah memberikan lolipop kepada Andrhea.
Andrhea masih termangu melihat lolipop hati di tangannya. Jantungnya berdetak kencang. Pipinya bersemu merah bersamaan dengan rasa hangat menjalar di hatinya. Selama ini, tidak ada yang memberikan lolipop seperti itu kecuali pemuda tadi.
“Jangan terlalu dimasukin ke hati. Karena bukan lo doang yang dapat lolipop kayak gitu. Gue juga pernah dan yang lain pun juga pernah.”
Tanpa sadar Andrhea menghela napas kasar. “Baru aja gue baper udah dijatuhin dari langit sama kata-kata lo,” keluhnya.
Ratri terkekeh mendengarnya. “Dia, keponakan dari bos. Asal lo tau dia udah punya pawangnya dan lebih cantik dari lo. Tapi gue rasa wajah lo sama pawang dia hampir mirip, deh.”
“Masa, sih. Seharusnya gue yang lebih cantik dong, kan gue murah senyum dan baik hati,” bantah Andrhea.
“Tapi sayang sekali, karena dia udah milih pawangnya dari pada lo yang bar-bar.”
Andrhea mengangguk. “Iya, sayang sekali.” Ratri menepuk pundak Andrhea mengajaknya untuk melanjutkan kerja mereka agar lebih cepat selesai.
Hari semakin sore. Lembayung senja menari di ufuk barat. Langit sudah menguning perlahan-lahan hilang digantikan malam yang dipenuhi bintang-bintang. Andrhea dan Ratri sudah selesai melakukan pekerjaan mereka. Andrhea mengangguk saat Ratri berpamitan pulang lebih dulu.
“Padahal cuman beberapa jam doang, tapi capeknya nggak ketulungan,” gumam Andrhea sambil memutar lehernya yang terasa pegal.
Mata Andrhea mengerjap berulang kali merasa ada yang aneh dengan matanya. Pandangan Andrhea mengabur semuanya tiba-tiba menjadi buram membuat Andrhea sendiri panik kepalang. Ia sebelumnya tidak pernah merasakan seperti itu. Berulang kali ia mengucek matanya tetap saja tidak ada perubahan. Dengan kemampuan indra melihat Andrhea yang kurang jelas, ia buru-buru berjalan agar cepat sampai ke rumah untuk mengistirahatkan tubuhnya.
“Mungkin cuman kelelahan,” gumamnya.
Kepala Andrhea celingak-celinguk melihat deretan rumah besar di sekelilingnya. Pandangan yang mengabur menambah kadar kebingungan Andrhea saat mencari rumahnya. Malam semakin larut. Kendaraan berlalu lalang sudah tidak ada lagi yang ada hanya jalanan dengan kesunyian.
Andrhea semakin kalut saat dirinya hanya sendirian. Dinginnya malam membuat aura mencekam. Terlalu banyak berpikir membuat kepala Andrhea pening seperti ditimpa beban berat. Tangan Andrhea memukul kepalanya dengan sekuat tenaga. Akhirnya Andrhea jatuh terduduk sambil terisak di depan rumah entah milik siapa.
“Kenapa bisa lupa. Padahal rumah tempat lo pulang,” lirih Andrhea berlinang air mata.
Di sebrang sana, di lantai dua rumah yang berhadapan di mana Andrhea yang sedang menangis. Seorang pemuda yang bernama Rayhan menatap aneh ke arah Andrhea. Kenapa dia menangis di sana padahal jika pulang tidak terlalu jauh. Aneh sekali.
Wajah Andrhea tersorot lampu membuatnya mengernyit. Suara mesin motor sangat jelas di dengarnya. Mata Andrhea semakin menyipit guna memperjelas siapa orang di balik helm hitam itu. Ketika helm itu terlepas tetap saja mata Andrhea menangkap wajah orang itu buram. Menggeleng-geleng agar tidak berbayang.
“Lo ngapain nangis di depan rumah gue,” tanyanya bingung.
Suara itu. Langsung saja Andrhea bangkit dari duduknya hampir saja dirinya tersungkur ke tanah akibat terburu-buru berdiri. “Kamu Arsen, kan?” tanya Andrhea dengan tangan meraba-raba wajah Arsen.
Sontak saja Arsen menepis kasar tangan Andrhea. “Apaan, sih. Nggak usah pegang-pegang,” sentaknya kasar.
Tubuh Andrhea oleng seketika. “To-long. Tolong gue, Arsen. Antarkan gue ke rumah,” pinta Andrhea memelas.
“Lo bego atau tolol, sih. Rumah lo sama rumah gue jaraknya nggak jauh sampai ke Korea. Sepuluh langkah langsung sampai.”
Kepala Andrhea sukses tertunduk mendengar nada sinis dari Arsen. “Maaf, gue udah salah nanya sama lo,” Andrhea terkekeh. “kalau gue nggak lupa gue nggak bakalan mau nanya sama orang sombong kayak lo.”
“Ya udah sana pergi,” usir Arsen.
Dengan langkah tertatih Andrhea pergi menjauh dari Arsen. Pandangan Andrhea semakin parah sampai kepalanya pusing tak tertahankan. Napasnya memburu menahan sakit di kepalanya dan sesak di dadanya. Andrhea sudah tak tahan dengan rasa sakitnya hingga ia terjatuh di tengah jalan. Dari sebelah kanan sebuah motor melaju kencang ke arah Andrhea. Arsen panik bukan kepalang lagi, sedangkan Andrhea sudah pasrah jika nanti ia akan mati tertabrak.
Tiinnn… Tiinnn… Tiinnn…
Brahhkkk…
Arsen dan Andrhea terguling-guling di jalanan. Tangan Arsen menepuk-nepuk pipi Andrhea yang terpejam dengan napas memburu. “Rhea, bangun.”
Mata lentik Andrhea terbuka bersamaan dengan air mata yang keluar. “Maaf. Udah bikin lo susah.”
“Sebenarnya lo mau ngedrama apa lagi, sih. Kalau lo mau ngedrama nggak usah ajak gue, karena gue jijik sama cewek yang suka cari perhatian.”
“Arsen, segitu bencinya lo sama gue padahal kita orang asing yang baru bertemu. Iya, gue tau kalau gue cewek yang menjijikkan suka cari perhatian sana-sini. Tapi, lo nggak tahu hal apa yang udah mereka lakukan sampai gue seperti ini,” ucap Andrhea lirih.
Arsen terdiam terpaku melihat Andrhea hancur seperti itu. Tak ada kebohongan di matanya. Ia juga merasakan betapa sakitnya yang ditanggung Andrhea.
“Help me, Arsen. Berikan gue sebuah kenangan. Entah itu menyakitkan atau bahagia. Hari ini gue udah lupa di mana rumah gue sendiri. Entah esok atau nanti gue bakalan lupa semuanya. Gue butuh kenangan, Arsen. Seenggaknya gue bisa ingat kalau gue pernah hidup di bumi.”
“Buat gue jatuh cinta sama lo. Nanti gue akan tolong lo.”
Setelah mengucapkan itu Arsen dengan tega meninggalkan Andrhea yang mematung memandang langit. Tidak ada pergerakan darinya hanya hembusan napas lelah yang terdengar. “Akan gue lakukan,” gumamnya.