Please, Look At Me

Please, Look At Me
Tatap Sebentar Wajahku Ayah!


WAJIB VOTE DAN COMENT!


SIDER \= JOMBLO ABADI


BANTU RAMAIKAN SETIAP PARAGRAF.


DAN SHARE CERITA INI KE TEMAN KALIAN.


Pertanyan random:



Kalian baca chapture ini jam berapa?


Kalian baca chapture ini sambil ngapain?


3.  Dapat uang berapa dari hasil jual kue ke tetangga?


Baju lebaran pasti kalian udah punya.  Kalau pacar baru udah punya belom?



_______________PLAM______________



________________PLAM_____________


"Drama lo hampir sempurna, tapi sayang harga diri lo jatuh sejatuhnya. Gue benci lihat lo jahat sama Anna ," ucap Arsen seraya melepaskan genggaman tangan Andrhea.


Andrhea berbalik, lalu menatap Arsen dengan alis sebelah terangkat. "Jahat? Jahatan gue atau mereka?" tanyanya mengangkat dagu.


Melihat Arsen bungkam membuat Andrhea tersenyum miring. "See! Lo aja masih ragu, tapi secara gamang lo bilang gue jahat."


Andrhea terkekeh sinis. "Sen, di mata lo yang nyata terlihat kebohongan. Lalu, kebohongan terlihat apa di mata lo?" tanyanya.


"Gue bicara bahasa indonesia, sedangkan lo balasnya pakai rumus fisika," cibir Arsen sinis.


"Bahasa indonesia?" tanya Andrhea tercengang.


Lalu, Andrhea mengikis jarak di antara mereka. "Nyatanya lo masih keliru dengan sebuah realita dengan sebuah kebohongan." Andrhea mendorong dada Arsen dengan jari telunjuknya. Setelah itu pergi berlalu meninggalkan Arsen.


"Tapi gue benci lo ngehancurin semua rencana Anna untuk menyantukan tali persaudaraan kalian!" teriak Arsen, membuat langkah Andrhea terhenti.


"Berhenti, Sen! Berhenti untuk menciptakan drama di balik drama. Jangan sampai lo salah langkah, Arsen! Karena berakibat fatal untuk menghancurkan harapan seseorang yang udah memberikan kepercayaannya sepenuhnya buat lo," ucap Andrhea tanpa berbalik badan.


"Hanya demi kebahagiaan orang lain, lo rela membunuh orang yang percaya sama lo perlahan-lahan." Andrhea mengakhirinya dengan


Tubuh Andrhea merosot di balik pintu rumahnya, hingga kedua kakinya menekuk dengan kepala menelungkup di lipatan kakinya. Dadanya bergemuruh sesak, kedua matanya memanas, dan kepalanya pening. Sungguh menyakitkan mendengar tuduhan yang diberikan oleh seseorang yang sudah dipercayainya.


Kepalanya mendongak agar air matanya tidak tumpah meruah. Sesekali menghela napas menghilangkan sesak di dada. "Kenapa harus begini? Rasanya aku mau nyerah dengan keadaan seperti ini dan tertidur damai tanpa ada masalah yang merundung kehidupanku," gumamnya dengan mata berkaca-kaca.


Uhuk... Uhuk... Uhuk...


Suara batuk yang bersumber dari ruang tamu membuat tubuh Andrhea terkesiap. Buru-buru ia menyeka air matanya, lalu menghampiri ayah yang terbaring lemah di sofa.


"Ayah, sakit?" tanya Andrhea dengan tangan menempel di kening ayahnya.


"Apaan, sih. Nggak usah pegang-pegang," sentak Bagas menepis tangan Andrhea.


Andrhea terdiam menatap tangannya. "Kenapa, Yah?" lirihnya dengan hati pedih.


Bagas kembali batuk, membuat Andrhea spontan berlari ke dapur mengambil segelas air hangat untuk ayahnya. "Diminum dulu, Yah. Supaya tenggorokannya hangat," ucapnya seraya menyodorkan segelas air hangat.


Pranggg...


Bukannya menerima dengan sukacita, Bagas malah menepis gelas pemberian Andrhea hingga terjatuh di lantai. Tangan Andrhea pun seketika memerah akibat terkena panasnya air yang tercecer.


"Kamu nggak usah sok peduli. Saya nggak sudi minum dari tangan kotormu," ucap Bagas bagai pisau tajam yang menikam hati Andrhea.


Dengan gemetar Andrhea menggosok-gosokan tangannya ke bajunya. "Tanganku bersih, kok. Tadi aku udah cuci gangan dulu."


"Kenapa sih kamu nggak nurut kayak Anna. Seharusnya kamu nggak lahir di dunia ini. Harusnya Anna saja tanpa kakak yang nggak guna sepertimu!" cerca Bagas.


"Karena, aku Andrhea bukan Anna! Jika aku tidak lahir, maka tidak akan ada Anna anak ayah tersayang!"


"Berani sekali kamu membalas ucapan orang tua!"


"Sejujurnya aku nggak berani, tetapi sikap ayah yang kayak gini membuat aku muak untuk bertahan dengan senyum palsu," lirih Andrhea. "Kenapa ayah selalu membeda-bedakan aku dengan Anna? Wajah kami sama persis, tapi kenapa cuma Anna yang ayah sayang?" tanyanya.


Mata Andrhea membulat mendengarnya. "Ibu bukan wanita ******." Andrhea menggeleng. "Kok ayah tega nuduh istri ayah sendiri ******. Atau jangan-jangan ayah selingkuh, lalu melempar semua masalah kepadaku," tuduh Andrhea.


Seketika Bagas berdiri dengan kedua tangan mengepal. "Sialan, anak nggak tau diri!" teriaknya seraya melayangkan tamparan ke pipi mulus Andrhea.


Kepala Andrhea mendongak dengan diiringi desisan kesakitan akibat rambutnya dijambak oleh Bagas. "Istriku bukan ****** sepertimu!" tekannya dengan wajah memerah.


"Lalu, siapa yang ayah maksud?" tanya Andrhea sambil menahan air mata yang sudah tergang di pelupuk mata.


"IBUMU! IBUMU ANDRHEA!!!"


Mata Andrhea terpejam erat saat tubuhnya membentur meja di dekat sofa. "Ibu yang mana, Yah? Aku tak punya ibu selain Indrisatika." Bibir Bagas bungkam tak bersuara. "Tatap wajahku sebentar ayah," pinta Andrhea sambil merangkum kedua pipi Bagas untuk menatap wajahnya.


Lima detik. Bagas hanya mampu tahan lima detik menatap wajah Andrhea. Hati Andrhea semakin merepih sakit melihatnya. Sekarang ia tahu betapa besar kebencian tersimpan di mata ayahnya.


"Sebesar itu, kah, ayah membeciku?" tanya Andrhea berlinang air mata. "Sebegitu buruknya wajahku sampai ayah memalingkan wajah saat menatapku. Sakit, Yah. Hatiku sakit, hiks, melihat ayah tak sudi menatap wajahku." Andrhea mengusap wajahnta dengan lengan tangannya.


"Sekotor itukah wajahku di matamu, Yah?" tanya Andrhea kembali.


Bagas masih tetap bungkam dengan kedua tangan mengepal. "Lebih baik aku didiamkan, daripada aku menahan sakit yang ayah berikan padaku," ucap Andrhea menekan dadanya.


"Banyak anak yang bilang ayah adalah cinta pertamanya. Tapi, aku tidak mendapatkan itu sejak aku lahir. Hanya tatapan kebencian yang ayah berikan padaku. Aku pikir memang aku yang salah lahir di keluarga ini. Keluarga yang tidak mau menampung anak sepertiku. Bunuh aku saja, Yah," pinta Andrhea dengan lirih.


Tubuh Andrhea luruh di bawah kaki Bagas dengan punggung bergetar hebat menahan isak tangis. Lalu, Bagas membuka ikat pinggangnya. Membalikkan tubuh Andrhea membelakangi tubuhnya.


Ctaarrr...


Satu cambukan mendarat di punggung Andrhea.


Ctaarrr...


Andrhea meringis menahan sakit di punggunya. Darah segar tercetak jelas di baju area punggung.


Ctaarrr...


"Ini, kan, yang kamu mau?" tanya Bagas setelah melempar ikat pinggangnya. "Taruh tangan kamu di lantai!" titahnya tak terbantahkan.


Dengan ragu Andrhea menaruh tangannya di lantai dengan pecahan beling berserakan.


Kreekkk...


"Aahhkkk..." teriak Andrhea kesakitan saat tangannya diinjak oleh Bagas hingga beberapa pecahan beling tertancap di telapak tangannya.


"Sss-akit a-yah," desis Andrhea saat kaki Bagas kembali menekan tangannya di lantai.


"Ini belum seberapa, Andrhea."


"Ke-napa a-yah me-laku-kan i-ni," ucap Andrhea terbata-bata.


Tubuh Bagas membungkuk mensejajarkan tubuhnya dengan Andrhea. "Karena kamu masih punya hutang pada saya. Jantungmu menjadi taruhannya," bisik Bagas, lalu pergi meninggalkan Andrhea yang menangis tergugu.


"Ayah, jahat. Tapi aku sayang ayah," bisik Andrhea.


Langkah Bagas terhenti mendengar bisikkan Andrhea, namun ego sudah menguasai tubuhnya. Dan ia pun berlalu meninggalkan Andrhea dengan hati yang perih.


_______________PLAM______________


Hallo guys...


Satu kata buat Andrhea...?


Satu kata buat Arsen...?


Satu kata buat Bagas...?


Akhirnya aku bisa update juga. Makasih buat kalian yang masih menunggu kelanjutan cerita ini. Karena, sudah dipenghunjung ramadhan. Aku mau ucapin


Minal aidzin wal faidzin. Mohon maaf kalau author ada salah sama kalian. Semoga kita bisa ketemu di ramadhan berikutnya. Dan kalian tetap terus stay sama cerita ini.


Jangan lupa vote, comment, and share ya!


Spam next di sini!


See you next part...


Salam❤


_Salbiyah_