Please, Look At Me

Please, Look At Me
pergi


Bacanya sambil dengerin mulmed di atas ya.


Jangan lupa vote, komen, dan share cerita ini.  Dan...


Happy Reading ❤❤❤


_Pasrah_


"Ada niat untukku sudahi penderitaan ini, tetapi takdir masih berlanjut. Lalu, apa yang harus aku lakukan? Bangkit atau pasrah?"


___o0o___


Berdiri di depan rumah megah milik Bagas membuat jantung Andrhea berdebar. Ada rasa malu hinggap di dirinya untuk kembali datang ke rumah ini. Tetapi, dia butuh penjelasan atas siapa yang benar-benar orang tua kandungnya.


Lalu, ia menatap rumah yang ada di seberangnya. Sepi, itulah kata yang menggambarkan keadaan rumah seberang sana.


"Calm down, Andrhea. Semuanya harus ada penjelasan. Lo harus masuk!"


Dengan langkah mantap Andrhea masuk ke dalam rumah itu tanpa memencet bel terlebih dahulu. Namun, gerakan tangannya untuk menutup pintu terhenti saat ia melihat keluarganya sedang bercanda ria. Ralat, mereka bukan keluarganya melainkan orang asing yang tanpa perduli ia masuk ke dalam keluarga mereka.


"Hem, ha-i," sapa Andrhea canggung.


Derai tawa bahagia lenyap sudah saat ia menyapa. Wajah sumringah mereka terlihat kecut melihatnya. Tak ada sapaan balik, melainkan delikan tajam dari Bagas, Rayhan, dan Anna. Sedangkan, Indrisantika menyambutnya dengan suka rela.


"Ya ampun, kamu udah balik? Kok nggak bilang sama ibu, nanti kalau bilang biar ibu yang jemput kamu."


"Nggak apa-apa, Bu. Aku juga kaget saat Mama cabut tuntutannya. Sekarang aku bebas, Bu."


Indrisantika tersenyum lega. "Sini, nak. Ibu mau cerita sama kamu."


Duduk di antara mereka membuat Andrhea segan. Ia pun tak mampu menegakkan kepalanya.


"Dulu, kamu ingat nggak saat kita liburan di pantai? Kamu main pasir sampai lupa waktu," cerita Indrisantika.


"Ingat, Bu. Kan, aku ditinggal di sana sendirian. Kalian pergi ke hotel nggak ngajak aku. Apalagi aku udah panik banget sampai nggak sadar kalau aku udah di tengah pantai. Untung aja ada yang nolongin," ucap Andrhea jujur.


Hati Indri tersentil mendengarnya. Ia meringis ngilu mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu. "Oh, iya. Waktu itu juga kita ke kebun binatang. Ibu ingat banget, dulu kamu paling antusias ngeliat jerapah." Indri mencoba mengalihkan pembicaraannya.


"Iya saking antusiasnya aku sampai lupa kalau kalian udah pergi. Terus aku disuruh tunggu di tempat dekat kandang jerapah. Eh, nggak taunya kalian lagi makan di luar kebun binatang."


Mata Indri berkaca-kaca, juga tenggorokannya merasa tercekat. Ia semakin dibuat bungkam dengan kata-kata Andrhea.


"Apalagi waktu kita datang ke kolega bisnisnya Ayah. Sampai di sana, aku disuruh tunggu di tempat parkir. Aku kira aku juga ikut masuk sama kalian, padahal aku udah seneng banget mau ikut pesta. Dan aku kagumnya lagi, teman-teman kolega bisnis Ayah ngasih duit ke aku. Mereka kira aku pengemis yang salah tempat untuk mengemis."


Tatapan tajam dari Bagas yang memberi peringatan tak membuat semangat Andrhea surut untuk menceritakan kenangan kelamnya. Ia juga semakin berani berbicara secara terang-terangan tentang kesalahan-kesalahan yang mereka perbuat.


"Sekarang aku udah nggak suka jerapah," ungkap Andrhea.


"Kenapa?" tanya Indri ingin tahu.


"Kepalanya terlalu tinggi sampai makan pun tak perlu menunduk ke bawah." Andrhea menghentikan ucapannya sejenak, lalu...


"Terlalu sombong menjadi mahluk hidup, hingga tak melihat kesalahan kecil yang mereka perbuat di masa lalu," lanjut Andrhea.


"Oh... Jadi, lo salahin kita semua atas kejadian-kejadian dulu yang lo alami? Itu mah resiko lo jadi anak pembawa sial," sahut Rayhan dengan tajam.


Andrhea mengangguk paham. "Seberapa bersinarnya emas di tumpukan jerami, tetap saja sulit untuk ditemukan," ucap Andrhea penuh sarat.


"Aku mau ke kamar dulu. Kalau begitu selamat menikmati waktu kalian," pamit Andrhea.


"Menikmati? Yang ada gue muak sama keberadaan lo," cibir Rayhan yang masih mampu didengar Andrhea.


Tubuh Andrhea merasa gamang melihat seisi kamarnya yang begitu rapih atau bisa dibilang ini sangat rapih. Mulai dari seprai, selimut, dan juga tata letak bantal begitu rapih di ranjang tidurnya.


Bukannya merasa senang melihat seisi kamarnya rapih dan bersih, Andrhea merasa tersakiti melihatnya. Meja yang diisi barang kesukaannya, kini raib hilang tak ada satupun yang terlihat. Poster-poster kesukaannya terlepas membekas di dinding. Sepatu dan juga buku-bukunya tak ada di tempat sepertinya.


Matanya terhenti ke arah lemari bajunya. Dengan tungkai yang lemas, Andrhea berjalan cepat sesekali terjegal dengan kakinya sendiri ke arah lemari bajunya. Cukup kasar ia membuka pintu lemari itu.


Kosong. Di sana kosong. Tak ada satu helai baju pun terlipat rapih di dalamnya. Matanya berkaca-kaca, dadanya sesak, dan tubuhnya lemas tak bertulang.


Semuanya hilang tak tersisa. Buku diary kesayangannya pun juga hilang tak berjejak.


"Semua barang milikmu ada di gudang."


Suara dingin dan berat membuat tubuh Andrhea menegang. Ia takut, jika hanya berdua dengan Bagas. Entah kemana keberaniannya hilang seperti tadi.


"Kamar ini bukan milikmu lagi. Dan rumah ini juga bukan tempat untuk kamu singgah."


"Lantas aku tinggal di mana, Yah?" tanya Andrhea bergetar.


Dengan santai Bagas mengedikkan bahunya. "Itu seterah kamu. Di jalanan atau di emperan toko. Saya nggak peduli lagi kamu mau tinggal di mana."


"Tapi, Yah. A-aku ini anak—"


"Anak haram, yang saya urusi dengan suka rela," potong Bagas cepat.


"Hak asuh aku masih milik Ayah."


"Sekarang sudah tidak lagi." Bagas melemparkan sebuah berkas pada tubuh Andrhea, hingga isinya berhamburan keluar.


"Silahkan kamu angkat kaki dari sini!" usir Bagas.


Air mata yang Andrhea tahan, kini telah tumpah ruah membasahi pipi pucatnya. Melangkah dengan derai air mata sungguh menyakitkan, apalagi disaksikan oleh orang yang kamu sayang.


Baru saja tangannya menyentuh handel pintu, suara dingin milik Bagas berubah menjadi lembut.


"Jaga kesehatanmu."


Ternyata Ayah masih peduli denganmu Andrhea.


Baru saja ia menyeka air matanya dan berbalik melemparkan senyum untuk Bagas. Namun, ia kembali dipatahkan dan berulang kali dipatahkan.


"Suatu saat nanti, saya akan mengambil hak atas jantung milikmu. Karena, jantungmu adalah milikku."


Ku sudahi derita ini, tetapi aku terjatuh dalam jurang curam yang membunuhku perlahan-lahan.


TBC.


Satu kata buat chapture ini?


Kira-kira Andrhea mau pergi kemana ya?


Masih mau lanjut?


Tetap vote, komen, dan share cerita ini.


Salam manis ❤


_Salbiyah_