
Haii...
Jangan lupa untuk spam comment sebanyak-banyaknya. Dan votnya jangan lupa.
Selamat menikmati❤❤❤
_____________________________
“Jika aku harus memilih menjadi tawon atau bunga. Maka, akan ku pilih bunga. Ya, karena aku tahu siapa yang berbuat, tetapi orang lain yang tersalahkan. Sama seperti halnya dengan tawon, yang menghisap madu pada bunga, tetapi juga menyakiti orang disekitarnya.”
_Andrhea _
____o0o____
Dengan langkah gontai Andrhea berjalan di koridor rumah sakit Kasih Bunda. Wajah kusam, rambut acak-acakan, dan masih menggunakan seragam sekolah yang tidak tertata rapih. Ya, ia akhirnya terdampar di sini saat setelah kejadian tadi ia mendapatkan telpon dari sang Ibu yang menyuruhnya datang ke rumah sakit ini.
Mata Andrhea menangkap sosok wanita paruh baya terduduk di kursi tunggu dengan tubuh bergetar. Sontak aja Andrhea berlari ke arahnya. Wanita itu mendongak saat melihat sepatu hitam di hadapannya. Andrhea tertegun melihat tetesan air mata mengalir di kedua pipi wanita itu.
“Adikmu, Rhea,” lirih wanita itu.
“Adikku kenapa, Bu?” tanya Andrhea cemas.
Indrisantika, selaku Ibu kandung dari Andrhea terisak hebat. “Adikmu mengidap gagal jantung.”
Andrhea terduduk lemas di lantai dengan mata berkaca-kaca. “Sejak kapan, Bu?” tanyanya bergetar.
“Seminggu lalu. Dia selalu mengeluh sesak napas dan sakit di bagian dada kirinya. Ibu sangat terpukul mendengar kabar itu, sedangkan hanya dia yang bisa menjadi semangat Ibu buat melanjutkan hidup.”
Lalu, Ibu anggap aku apa?
Hati Andrhea teriris mendengarnya. Di rumah, Ayahnya dan kakaknya membencinya dan Ibunya pun hanya menganggap dirinya figuran saja. Tanpa sadar Andrhea menghela napasnya kasar. Dengan ragu ia mengenggam tangan Ibunya.
“Apa Ayah tahu soal ini?”
Indrisantika menggeleng, lalu mengusap air matanya. “Nggak. Ibu tidak berani memberi tahunya, karena hubungan kita sudah merenggang sejak perceraian itu.”
Ada rasa bersalah hinggap di hati Andrhea. Air mata yang ia tahan dari tadi tak mampu lagi bertahan hingga pertahanannya runtuh seketika. Kepalanya tertunduk di pangkuan Ibunya dan menangis untuk menyampaikan maafnya.
“Ma—af. Semua i—tu salah a—ku,” sesal Andrhea tersendat-sendat.
“Kamu, nggak salah. Memang itu sudah takdir Ibu yang tidak berjodoh dengan Ayah.”
“Maaf, Bu.”Indrisantika mengangguk dan mengusap lebut rambut Andrhea.
Seorang perawat datang menghampiri kami. Aku lantas berdiri di samping Ibu. Perawat itu menyerahkan sebuah kertas kedapatan Ibu. “Maaf, Bu. Tolong segera lunasi administrasinya,” ucap Perawat itu.
“Harus sekarang ya, Sus?” tanya Indrisantika.
Perawat itu mengangguk. “Iya, Bu. Pembayarannya harus cepat agar pasien bisa mendapatkan ruangan,” jelasnya.
“Baik, Sus. Nanti saya akan bayar secepatnya,” ucap Indrisantika ragu.
Lalu, perawat itu pergi meninggalkan kami. Ada raut bingung tercetak jelas di wajah Ibuku. Ku genggam tangannya dengan lembut. “Kenapa, Bu?”
Indrisantika menghela napasnya lelah. “Kamu punya uang?” Aku mengangguk dengan cepat. “Boleh, Ibu pinjam dulu? Nanti Ibu akan ganti,” pinta Indrisantika ragu.
“Berapa yang Ibu butuhkan? Nanti akan aku kasih berapa pun.”
“Dua puluh juta, ada?”
Aku mengangguk. “Ada, Bu. Tapi aku nggak ada uang cash,” ucapku sambil merogoh tasku. “Ini, Bu. Pakai saja untuk kebutuhan Ibu dan Adik,” aku menyodorkan kartu ATM ku yang diberikan oleh Ayah.
“Benar, Nak. Tidak apa-apa jika Ibu ambil? Nanti Ayahmu menanyakan tentang kartu ini, lalu kamu akan beralasan apa?”
“Gampang, Bu. Nanti aku bilang kartunya hilang,” jelasku.
Dan hidupku akan tersiksa karna kartu itu.
Aku tersenyum saat Ibu berpamitan untuk membayar administrasi. Dari kaca aku melihat seorang perempuan muda sepertiku terpejam damai. Rasanya aku ingin sepertinya agar aku dapat merasakan bagaimana kedamaian itu hinggap di hidupku.
“Cepat bangun biar nanti Ibu nggak kesepian lagi. Dan aku minta maaf,” bisikku melalui kaca ruangannya.
Buru-buru Andrhea menyeka air matanya, karna ia tak mau dibilang drama lagi sama Arsen. Cukup sekali aja ia tersakiti dengan orang asing seperti Arsen. Dengan penuh keyakinan Andrhea pergi meninggalkan Arsen tanpa sepatah katapun.
Lidah Arsen kelu. Ingin menyapa, tetapi dirinya sadar bahwa sudah memberi luka kepada Andrhea, sehingga terciptanya jarak di antaranya. Taksi yang dinaiki Andrhea melesat jauh meninggalkan perkarangan rumah sakit. Dengan waktu yang bersamaan Arsen mencium kening perempuan yang terbaring lemah di brankar.
Selama diperjalanan pulang Andrhea merasakan gelisah yang cukup parah, karena pikirannya masih memikirkan keadaan adiknya dan juga ketakutannya kepada sang ayah. Supir taksi pun sesekali melirik dari kaca spion melihat kegelisahan Andrhea. Supir itu membuka dashboard dan mengeluarkan sebuah permen karet. Lalu, tangannya terulur ke arah Andrhea.
“Ini. Semoga membantu mengurangi kegelisahan, Non,” ucap supir taksi.
Andrhea mengambilnya sambil tersenyum. “Terima kasih, Pak.”
Supir taksi itu mengangguk.
Selang beberapa menit, mobil taksi yang dinaiki Andrhea telah sampai di tempat tujuan. Segera Andrhea keluar, lalu membayar taksi itu. Mata Andrhea melihat mobil BMW sudah terparkir di depan rumahnya. Ternyata dia sudah pulang. Sebelum masuk ke dalam gerbang, Andrhea menghela napas terlebih dahulu.
Dengan ragu Andrhea menapaki depan rumahnya. Tangannya terulur untuk membuka pintu, tetapi pintu itu lebih dulu terbuka oleh sang kakak. Rayhan menatap tajam ke arah Andrhea yang sedang menunduk.
“Udah ketemu jalan pulang?” tanya Rayhan sarkas.
“Maaf. Tadi aku ada urusan setelah pulang sekolah.”
Reyhan tersenyum mengejek.
“Urusan sama anak yang nggak jelas pergaulannya,” ejek Reyhan.
Kepala Andrhea terangkat seketika. “Jangan rendahkan mereka! Karna diri kakak sendiri yang lebih rendah dari mereka.”
Tangan Reyhan terkepal kuat. Ia tidak terima dihina seperti itu. “AYAH… ANAK NGGAK TAU DIRI UDAH PULANG, NIH!” teriak Reyhan sambil melirik ke arah Andrhea.
Andrhea kesal terhadap perilaku menyebalkan dari kakaknya. Rasanya ia ingin hilang dari bumi saja saat ini. Jantung yang berdebar tak karuan membuat Andrhea semakin gelisah apalagi ayahnya sudah tahu bahwa ia pulang tidak tepat waktu. Dengan sekuat tenaga ia mendorong Reyhan hingga kakaknya sendiri terhuyung ke belakang. Andrhea pergi meninggalkan Reyhan. Mata Andrhea pun menangkap sosok ayahnya yang berdiri tegap di ruang tamu dengan wajah merah padam.
“Ayah ak—”
Plakkk…
Kepala Andrhea langsung pening dan telinganya berdengung. Rasa panas menjalar di pipi kanannya beserta hatinya. Air mata tergenang di pelupuk matanya. “Ayah,” ucap Andrhea tak percaya.
“Kenapa? Kamu mau marah sama saya,” tanya Bagas dengan pongah. “Kembalikan uang saya!” pinta Bagas.
Andrhea menggeleng dengan kepala tertunduk. Kedua tangannya *** kuat rok abu-abunya. “Nggak ada.”
“Kamu” tunjuk Bagas. “Kurang ajar sekali!” teriak Bagas bergema.
Tangan Bagas kembali melayang menghantam pipi kiri Andrhea, membuat kepala anak itu tertoleh kasar.
“Bukan aku yang kurang ajar, tapi ayah sendiri. Udahh menelantarkan ibu dan adikku,” tukasnya.
“Di sana, adikku sedang sakit, Yah. Ibukku sedang kesusahan mencari uang untuk biaya berobat adikku. Tapi ayah sendiri hanya diam saja, padahal ayah adalah ayah kandung adikku,” ucap Andrhea dengan tangisan tergugu.
Bagas terpaku. Tangannya terasa berat dan hatinya serasa mati rasa saat mendengar kondisi putri bungsunya. Rayhan maju mendekat ke arah Andrhea, lalu mendorong kasar hingga Andrhea jatuh tersungkur di lantai.
“Itu semua gara-gara lo. Kalau bukan karna lo, ayah sama ibu nggak akan bercerai. Lo itu buah dari kesalahan itu.”
“Iya, aku paham. Semua itu karna kesalahanku sampai aku pun tak teranggap dari dua kubu. Kenapa kalian menumpahkan semua kebencian kepadaku, sedangkan ayah sendiri yang bersalah masih bisa hidup dengan damai. Lalu, apa kabarnya dengan hatiku. Selalu tersalahkan, tidak diterima di dunia, dan kalian pun sama tidak mau menerima keberadaanku.”
Andrhea memukul dadanya merasakan sesak yang begitu dalam. Ayah dan kakaknya menyalahkan dirinya, lalu ia harus bercurahan hati dengan siapa dan meminta keadailan dengan siapa?
Bagas pergi meninggalkan kedua anaknya dengan perasaan campur aduk. Lalu, diikuti oleh Rayhan, sedangkan Andrhea masih terisak di lantai. Keadaan berantakan dan hatinya hancur berkeping-keping. Tiba-tiba Andrhea menghadap dinding, lalu membenturkan kepalanya ke dinding sesekali mengucap kata maaf. Air matanya masih mengalir deras. Ujung pelipisnya berdarah dan itu pun membuat Andrhea semakin semangat membenturkan kepalanya menghiraukan rasa sakit yang dialaminya.
_____________________________
Hai guyss...
Gimana sama chapture ini?
Spam next di sini
Jangan lupa tinggalkan jejak vot and comment sebanyak-banyaknya.