Please, Look At Me

Please, Look At Me
ARSEN


“***Warnanya menggugah selera, tetapi keberadaannya begitu mematikan.”


(Andrhea Alexis Putri***)


Gelap dan sunyi, itulah yang tergambar dari suasana kamar perempuan bernama Andrhea. Kondisinya pun tidak bisa tertolong lagi hampir sama dengan keadaan kandang ayam. Sepatu, baju, seprai, celana, buku, dan sampah makanan ringan juga ikut mewarnai kamar itu. Meskipun keadaannya sudah bisa dikatakan tidak layak dihuni, tetapi perempuan berambut sebahu tidak merasa terganggu, melainkan sudah hal biasa baginya.


Perempuan itu mencoba menggerakkan kelopak matanya untuk menyesuaikan retina matanya dari kegelapan. Pegal-pegal menghampiri di setiap jengkal tubuhnya. Susah payah ia meregangkan otot persendian dan terdengar suara ‘krek' sebagai bukti dari ototnya yang tegang.


Masih dalam separuh sadar Andrhea bangkit dari tempat tidurnya. Karena, matanya sesekali terpejam saat berjalan membuatnya terjatuh menginjak sepatunya sendiri. Ia pun mengaduh kesakitan sambil mengusap bokongnya. Merasa aneh dengan area telapak tangannya yang dingin-dingin basah, Andrhea mengendus dan tercium harum khas pasta gigi. Sungguh tak lazim barang tersebut bisa tercecer di lantai kamar. Buru-buru ia menggosok telapak tangannya di baju tidurnya.


Setelah bokongnya merasa tidak sakit lagi, Andrhea bangkit dan berjalan ke arah tirai yang menutupi rapat jendela kamarnya. Ini adalah satu di antara lainnya menjadi penyebab kamarnya terasa gelap. Menghirup oksigen perlahan-lahan untuk menstabilkan detak jantungnya agar tidak berpompa terlalu cepat. Andrhea berharap bahwa saat ia membuka tirai kehidupannya berjalan normal kembali dan merasakan layaknya kebahagiaan seorang anak.


‘Sreekkk'


Tirai tersebut terbuka lebar menampakkan semburat merah jingga yang menghiasi indahnya langit sore. Senyuman manis tercetak jelas di wajah perempuan berambut sebahu. Angin berlomba-lomba menerbangkan dedaunan yang sudah gugur. Sekali sentak jendela terbuka membuat rambutnya melambai-lambai untuk menari memeriahkan sore ini.


Suara mesin mobil terdengar samar-samar, Andrhea menyipitkan matanya guna memperjelas penglihatannya. Terlihat sebuah mobil BMW terparkir di halaman rumah kosong di seberang rumahnya. Andrhea menganggukkan kepalanya ketika ia paham apa yang telah dilihatnya. Tetangga baru, batinnya.


Puas dengan semuanya, Andrhea pergi memasuki kamar mandi untuk membersihkan seluruh anggota tubuhnya. Cukup dua puluh menit dari mandi, memakai baju, dan berdandan sudah selesai dilakukan olehnya.


‘Tok, tok, tok'


Suara ketukan dari jendela kamar sangat jelas terdengar. Andrhea mengalihkan tatapannya ke arah jendela terlihat Banyu sedang mengetuk jendelanya kasar dengan mulutnya komat-kamit seperti memberi tahunya agar segera turun dari kamarnya. Ia pun mengacungkan kedua jempol tangannya.


Andrhea berjalan mengendap-ngendap keluar kamarnya. Dalam kehitungan ketiga, ia sudah mendarat selamat di samping halaman rumahnya. Sudah hal biasa ia melompat dari lantai dua, karena jaraknya tidak terlalu tinggi dari tanah.


“Mau ke mana nih?” tanya Bisma mengangkat kedua alisnya.


Alih-alih untuk menjawab pertanyaan Bisma, Andrhea memilih menatap rumah tetangga barunya itu. Terkejut saat Bisma berteriak tepat di telinganya, ia mendengus kesal mengusap telinganya yang sakit. Mata Andrhea berbinar sebuah ide terlintas di kepalanya.


Lalu, ia berbisik ke arah Bisma dan Bisma memberi tahu kedua temannya.


Mereka berempat berbagi tugas untuk melancarkan rencana yang mereka buat. Dimas dan Bisma mengambil tangga, Banyu mengawasi lokasi, dan Andrhea sebagai pelaku yang berperan dalam rencana itu.


Banyu menginstruksikan kepada mereka agar cepat lakukan kegiatan mereka, karena lokasi sudah aman terkendali. Andrhea menganggukkan kepalanya seolah sudah siap.


Dimas memegang kedua bahu Andrhea sambil memasang wajah melas. “Nak, semoga kau diterima disisinya.”


‘Pletak'


Bisma menjitak kepala Dimas dengan gemas, lalu menggantikan posisi Dimas. “Bodoh! Lo, kira Rhea mau pulang kesisi Tuhan,” ucapnya.


“Seharusnya lo bilang kaya begini ‘Nak, jangan terlalu sungkan untuk mengambilnya. Jika bisa tebanglah pohon itu sekalian jual hasilnya. Dan jangan lupa bagilah untukku delapan puluh persen, sisanya ambil untukmu,” terang Bisma yang terlalu bijak membuat Banyu selaku temannya ingin memakannya hiduphidup.


Banyu menepuk kepala Andrhea pelan. “Hati-hati!” ucapnya yang dibalas anggukan.


Dengan hati-hati Andrhea menginjak anak tangga untuk menggapai tujuannya beserta para temannya. Dan akhirnya Andrhea duduk nyaman di atas pohon mangga milik tetangga barunya.


Andrhea mengeluarkan pisau lipatnya untuk mengupas kulit mangga. Ketiga temannya meneguk liurnya kasar. Sengaja Andrhea memamerkan rasa mangga yang begitu manisnya. Ketiga temannya merasa kesal melihat tingkahnya, karena mereka juga ingin merasakan mangga itu.


“Ya Allah, kabulkan doa hambamu yang ter-zalimi ini. Semoga monyet di atas pohon mangga itu jatuh nyungsep,” teriak Dimas mengusap wajahnya dengan kedua tangannya seperti selesai berdoa.


Tidak mau kalah Banyu dan Bisma mengamini doa Dimas juga.


“Amin...,” teriak mereka berdua.


Andrhea tersedak mendengarnya. Menepuk dadanya agar batuknya mereda, ia juga menelan liurnya kasar dan bergidik ngeri jika ia terjatuh.


Tongkat bisbol tergenggam erat di tangannya.


‘Duuggg'


Suara tongkat bisbol dientakkan pada pohon mangga terdengar begitu nyaring dan diiringi teriakan kesakitan dari Andrhea. Ya, karna pemuda itu memukul pohon mangga sangat keras membuat maling di atas terjatuh. Ketiga teman maling itu meringis ngilu.


“Lo, mau maling di rumah gue?” tanya pemuda berbaju polos sambil mengacungkan tongkat bisbolnya.


Andrhea meneguk liurnya susah, ia menatap ketiga temannya meminta pertolongan, tetapi ketiga temannya juga tidak bisa berkutik sama sekali.


“Engghhh... Gue, bukan maling,” jelas Andrhea gugup. “Tadi, gue cuma tester mangga lo doang buat gue jual di pasar,” jelasnya kembali meminta persetujuan dari temannya yang diangguki oleh mereka.


Pemuda berbaju polos memicingkan matanya tak percaya. “Lo, cewek gila yang ikut tawuran kemarin, kan?”


Andrhea mengerjapkan matanya bingung. Ia memutar otaknya untuk mengingat ucapan pemuda itu, tetapi tidak berhasil. “Yang mana sih?” tanyanya balik.


“Oh... Jangan-jangan lo anak sekolah sebelah yang disuruh mata-matai gue, ya?” tuduh pemuda itu menunjuk Andrhea menggunakan tongkat bisbol.


Semakin dibuat bingung olehnya, sedangkan ketiga temannya hanya melongo tidak tahu arah pembicaraan mereka berdua. “Lo, kalau ngomong yang benar dong jangan bikin gue bingung!”


“Halah, nggak usah banyak bacot deh!” tegasnya sambil memukul perempuan di depannya tanpa pandang bulu lagi.


Untungnya Andrhea menghindar secepat mungkin kalau tidak kepalanya bisa bocor.


Gila nih orang, batinnya.


Sosok wanita paruh baya berlari tergopoh-gopoh melihat kelakuan anaknya.


“ARSEN! Kamu nggak lihat? Hampir saja kamu pukul seorang perempuan,” teriak ibu dari pemuda berbaju hitam polos itu.


Riana, selaku ibu kandung dari pemuda bernama Arsen. Ia membantu perempuan yang terduduk di tanah dengan lutut dan tangannya. Menatap tajam sang anak memberi peringatan kepadanya. Dan membawa perempuan itu bersamanya ke dalam rumahnya beserta ketiga temannya.


Arsen berdecak sebal melihat Bundanya memihak kepada Andrhea tidak kepadanya.


“Awas lo!” ancam Arsen kepada Andrhea.


______________________________________________



(ARSEN REINALDO)


**Halo guys gimana sama chapture ini?


Jangan lupa like and


comment


sebanyak-banyaknya


sebagai suport author dalam menulis cerita ini.


Happy Reading


❤❤❤**