Please, Look At Me

Please, Look At Me
Ayo Kita Ciuman!


**Cuma mengingatkan sebelum baca, like terlebih dahulu dan selanjutnya comment sebanyak-banyaknya di chapture ini.


Hargailah karya seseorang**!


______________________________________________


“***Kamu tahu gulali rasanya manis? Hari ini hidupku sama dengan rasanya. Manis, karena ada kamu yang membuat kenangan indah untuk esok dan nanti.”


_Andrhea Alexis Sanchez_


___o0o***___


Kamar Andrhea seperti penampungan bayi kerbau. Sampah snack berserakan di mana-mana. Seprainya terlantar di lantai. Bantal-bantal pergi dari tempat persinggahannya. Suara bising dari pengeras suara menambah kekacauan kamar Andrhea. Banyak buaya-buaya darat yang terdampar di lantai Andrhea dengan snack yang ada di pelukannya. Siapa lagi kalau bukan tiga curut menjadi manusia.


Banyu, telungkup di lantai beralasan seprai dengan snack di dekapannya. Bisma, tidur di kasur Andrhea dengan kepala menjuntai ke bawah sesekali tangannya mencomot makanan Banyu. Dimas, tertidur di bawah kolong kasur dengan keadaan telanjang dada. Dan terakhir Andrhea, tuan rumah pemilik kamar tidur yang sudah berhaluan menjadi tempat penitipan anak jalanan.


“Lo kemarin ke mana, sih?” tanya Banyu sambil menatap langit-langit kamar Andrhea.


“Ke tempat yang bikin hati gue berbunga-bunga,” ucap Andrhea.


“Maksud lo surga?” celetuk Bisma dengan mulut penuh makanan.


Sebuah kaos kaki mendarat tepat di wajah Bisma. “Makan tuh kaos kaki,” umpat Andrhea kesal.


“Gila. Berapa tahun tuh kaos kaki nggak dicuci. Baunya ngalahin jigong kudanil.” Bisma menggerutu sambil menggosok wajahnya, lalu berlari ke arah kamar mandi.


Andrhea langsung teruduk dengan wajah sumringah. Binar bahagia tidak bisa ditutupi olehnya. Tangannya mencengkram banyak yang ada di pangkuannya. Detak jantungnya bergebu-gebu membuat Andrhea takut jika jantungnya lepas dari tubuhnya. Ia pun tidak bisa menghapus ingatan semalam. Pokoknya ia harus bersembunyi atau pura-pura tidak kenal kalau bertemu dengan Arsen. Kini urat malunya kembali tersambung, sehingga ia malu sendiri atas perbuatannya.


“Ehemm….” Andrhea berlagak batuk untuk mencari perhatian teman-temannya.


“Apa?” tanya mereka malas.


“Engghhh… Kalian tahu kalau gue lagi jatuh cinta?” tanya Andrhea ragu-ragu.


“Yailah. Semua manusia wajar jatuh cinta. Kan setiap manusia diberi perasaan.” Dimas memutar matanya malas walaupun tidak ada yang melihatnya.


“Gue juga tau kalau yang itu. Tapi ini lebih dari itu.”


“Terus apaan?” tanya Banyu jengah.


Belum juga Andrhea beri tahu. Pipinya sudah memerah tersipu malu. Ritme jantungnya pun sangat cepat. Ia takut jika temannya mengetahui bahwa ia sedang salah tingkah.


“Kalau sekarang gue pacaran, kalian percaya?”


“APAAA?!!” teriak Banyu, Bisma, dan Dimas bersama.


Gubraakkk…


Disusul dengan suara jatuh yang tak lain dari tiga curut peliharaan Andrhea. Banyu berteriak saat dagunya terbentur lantai. Kepala Dimas terantuk kolong kasur Andrhea saat dirinya refleks bangun. Dan lebih parahnya lagi Bisma yang terjatuh di kamar mandi dengan pinggang terbentur closet.


“Whahahaha… Baru aja dapat berita ringan seringan kapas. Kalian udah kayak cacing kepanasan,” ledek Andrhea tidak bisa menghentikan tawanya.


“Lo serius udah punya pacar?” tanya Banyu penasaran.


Andrhea mengangguk. “Yups. Benar sekali, kalau gue udah punya pacar. Lebih tepatnya lagi semalam gue nembak cowok.”


Rahang Banyu terjatuh. Bahunya terkulai lemas. Ia tercengang dengan pengakuan Andrhea. Bukan hanya Banyu saja, tetapi Bisma dan Dimas pun sama tercengangnya.


“Lo yang nembak?” tanya Dimas tak percaya.


“Iya, emang kenapa sih?” tanya Andrhea memasang wajah polosnya.


Mereka menggeleng, lalu terdiam bagaikan patung. Mereka bertiga diam-diam melirik AndrheaAndrhea yang sedang tersenyum memandangi handphonenya. Mereka dibuat terkejut lagi saat Andrhea melompat kegirangan di kasurnya.


“Gue diajak kencan nanti malam.” Andrhea memberitahu kepada temannya.


“Oh,” ucap mereka serempak dengan nada kesal.


Bibir Andrhea mengerucut sebal seperti bebek. Namun, itu tidak bertahan lama ketika sebuah pesan manis yang ia dapat dari kekasihnya.


Waktu bergulir sangat cepat. Malam telah tiba, bersama hadirnya bintang dan purnama yang menemani langit malam sekarang ini.


Andrhea sedang menunggu kedatangan seseorang hingga melupakan makan malamnya. Tidak sabar untuk bertemu dan membuat cerita baru untuk dikenang olehnya. Walaupun hanya sesaat, tetapi itu sangat berarti baginya.


Sebuah motor sport hitam berhenti tepat di depan gerbang rumah Andrhea. Lantas Andrhea bergegas menghampiri mobil itu. Bibirnya berkedut menahan senyuman.


"Ayo, kita berangkat," ajak Andrhea menggandeng tangan Arsen.


Dengan cepat Andrhea menggeleng mengibaskan tangannya. "Nggak usah. Lagian di rumah nggak ada siapa-siapa." Andrhea menolaknya dengan cepat.


Alis Arsen terangkat. "Hari pertama pacaran lo udah bohong sama gue. Apalagi kalau hubungan kita sampai ke jenjang yang lebih serius."


"Gue beneran nggak bohong kok." Andrhea berusaha mengelak.


"OM, SAYA IZIN BAWA ANAKNYA KELUAR." Arsen berteriak sangat kencang membuat Andrhea membalik badannya.


Mata Andrhea membulat saat melihat ayahnya berdiri menatap tajam ke arahnya. Andrhea langsung menunduk, karena tidak tahan dengan tatapan tajam itu. Andrhea tersentak kaget saat pundaknya disenggol oleh Arsen. Tentu saja kepalanya terangkat menatap Arsen bertanya. Sedangkan, Arsen menunjuk ke belakangnya. Ia melihat ayahnya mengangguk tanpa senyum dan pergi masuk ke dalam rumah. sontak saja Senyum Andrhea semakin berkembang.


Motor Arsen pergi melesat kencang meninggalkan perkarangan rumah Andrhea. Pergi membawa sejuta pertanyaan bagi orang yang ada dibalik pintu rumah itu. Hingga kurang dari dua puluh menit, motor Arsen berhenti di sebuah pasar malam.


"Loh, kita kok ke sini?" tanya Andrhea bingung setelah turun dari motor.


"Kenapa? Lo nggak suka," jawab Arsen seraya melepaskan helm.


Andrhea menggeleng dengan cepat. Jika dipikir-pikir kalau dirinya bilang tidak suka otomatis kencan mereka batal dong.


Arsen berjalan meninggalkan Andrhea yang sedang melamun. "Sampai kapan lo mau berdiri di situ mulu."


Andrhea tersadar bahwa ia telah ditinggal. Langsung saja ia berlari menyusul Arsen menyamakan langkah mereka. "Lo gimana, sih. Kalau orang pacaran katanya harus gandengan tangan."


Langkah Arsen terhenti. Ia pun memutar tubuhnya dengan alis terangkat. "Lo lupa? Bukannya lo sendiri yang bilang uluran tangan cuma dibutuhin buat orang buta aja. Dan orang yang ulurin tangannya lo bilang itu murahan."


Seketika Andrhea terdiam dengan hati tersendiri mendengar penuturan Arsen. Andrhea tersenyum getir. "Maaf, gue lupa."


"Arsen, makasih. Udah buat dua hari gue berwarna. Kejadian kemarin, sekarang, hingga esok atau nanti. Akan menjadi kenangan yang akan gue ingat selalu. Tetapi, kalau lo tersiksa dekat dengan gue atau rasa di hati lo telah pudar. Maka, beritahu gue, karena gue nggak sekuat apa yang lo lihat sekarang ini."


Bibir Arsen tertarik membentuk sebuah senyuman manis. "Oke."


Rahang Andrhea jatuh. Tidak percaya apa yang Arsen katakan. "Gue ngomong panjang lebar. Lo cuma jawab Oke doang?" tanya Andrhea tak percaya.


Arsen mengangguk. "Iya, oke.


Andrhea gemas dengan Arsen. Lalu, ia maju mengikis jarak antara ia dengan Arsen. Dengan kasar Andrhea menarik kerah baju Arsen hingga membuat hidung mereka bersentuhan.


" ARSEN, AYO KITA CIUMAN!" Andrhea berteriak tepat dihadapan wajah Arsen membuat pemuda itu memejamkan matanya.


Para pengunjung pasar malam menghentikan kegiatan mereka saat mendengar suara menggelegar dari Andrhea. Arsen dibuat panas dingin oleh tingkah laku absurd Andrhea. Rasanya ia ingin menghilangkan diri dari bumi ini.


"Lo dapat kata begituan dari mana," tanya Arsen menyelidik.


"Kata ustadz Google."


Pantas saja tingkah laku Andrhea semakin absurd kuadrat. "Mana HP lo?"


"Ini. Emang buat apa?"


"Udah aja siniin HP lo."


Andrhea menyerahkan handphonenya dengan ragu. Ia menatap serius wajah Arsen yang sedang mengutak-atik handphonenya. Baru saja ia ingin mengintip apa yang sedang dilakukan Arsen, tetapi kepalanya sudah terlebih dahulu di dorong oleh Arsen.


"Nih, HP lo. Udah gue hapus ustadz Google lo"


Mulut Andrhea tercengang. Ia menggosok kedua telinganya. Gue nggak salah dengar, kan?. Dengan gerakan cepat Andrhea mengambil handphonenya, lalu ia mengutak-atik kembali. Kedua pundaknya merosot lesu.


"Kok, lo hapus, sih. Nanti gue nanya sama siapa, dong. Kan, ini pertama kali gue pacaran." Wajah Andrhea memelas menahan tangis.


"Kan, masih ada gue. Jadi, lo bisa tanya sepuasnya sama gue."


Binar senang di wajah Andrhea terbit kembali. "Serius?" Arsen mengangguk.


"Oke, kalau begitu AYO KITA CIUMAN!"


Mampus, gumam Arsen.


______________________________________________


**Halo kak jangan lupa untuk like and comment chapture ini sebanyak-banyaknya. Dan sekalian share ke teman kalian untuk lebih banyak lagi yang berminat membaca cerita ini.


Kalo ada typo tolong dikoreksi.


Terima kasih**.