
“Ternyata kamu adalah aktor paling terbaik di dunia ini. Sampai sebuah luka pun mampu kau tutupi dengan aktingmu.”
(Arsenio Orlando)
___o0o___
“Rhea, lo kenapa sih dari tadi uring-uringan mulu?” tanya Bisma penasaran.
“Lo masih tanya kenapa? Gue sebagai kaum wanita merasa terhina gara-gara lo!” tunjuk Andrhea geram.
Dengan tampang polosnya Banyu bertanya. “Terhina karna apa?”
Hidung kembang-kempis, wajah memerah seperti tomat, dan mata melotot. Itulah, gambaran mimik wajah Andrhea sekarang ini. “Pantesan kalau cowok itu selalu dianggap salah mulu di mata perempuan. Ya, karna cowoknya aja bego yang nggak punya kepekaan tingkat dewa. Dan lebih parahnya lagi, mulutnya melebihkan panasnya kuali gosong. Suka nyablak sana-sini.”
Banyu, Bisma, dan Dimas langsung menggeleng secara kompak dengan tangan menyilang seperti huruf X.
“Heh, kau para kaum perempuan. Apakah kurang puas kaca yang sebesar gaban hingga kau tidak bisa mengaca diri sendiri. Pantas aja cowok selalu salah di mata perempuan, karna perempuan punya otak tapi nggak pernah diandalkan. Apalagi kaca sebesar gaban yang hanya digunakan untuk menempelkan semen-semen di wajah,” ucap Dimas panjang lebar dengan sekali tarik napas.
Andrhea mengacungkan sebuah pisau milik tukang bakso di kantin ke arah ketiga temannya. “Wahai para kaum cowok. Dengarkan secara baik-baik! Kalau perempuan lewat muka kayak penggorengan di comment. Udah cakep se-kinclong piring yang abis di cuci malah di comment. Lo semua itu maunya apa sih? Mau dapet perempuan yang mukanya setengah penggorengan dan setengah lagi piring cucian?” semprot Andrhea membuat ketiga kaum adam terdiam kutu.
Skakmat! Banyu, Bisma, dan Dimas terdiam kutu tidak bisa mengeluarkan kata-kata pembelaan. Mata mereka turun ke arah mata pisau yang mengkilap sehingga membuat mereka meneguk salivanya kasar. Mereka bertiga sams-sama meringis menyesal sudah mengganggu macan betina, apalagi macan itu sedang kedatangan tamu bulanan. Runyam sudah hidup mereka.
“Oke, kita selalu salah di mata perempuan,” mereka bertiga pun mengakui kekalahannya.
Langsung saja wajah Andrhea berbinar dan cerah secerah matahari pagi. “Nah, dari tadi aja ngakunya. Kan, nggak perlu capek-capek berdebat,” ucap Andrhea senang.
“Kalau gitu kalian bayar makanan gue,” celetuk Andrhea tak terbantah.
Lidah mereka mendadak kelu dan badan mereka pun tidak mampu digerakkan saat sebuah perintah yang tak terbantahkan dari sang pemimpin. Bisma berdiri tanpa aba-aba lagi membuat bangku yang didudukinya terjatuh.
“Dasar, perempuan! Gengsi dibesarin. Bilang aja lo nggak punya duit terus minta bayarin. Segala pakai acara debat-debat. Awas aja lo! Entar muka lo jadi tempat pengadukan semen,” teriak Bisma menggelegar mengumpat Andrhea yang meninggalkan mereka dengan banyak utang.
Andrhea terkekeh mendengar cacian dari mulut pedas milik Bisma. Ya, Cuma Bisma satu-satunya teman cowok yang memiliki mulut pedas diantara yang lainnya. Tidak kaget lagi untuk Andrhea, karna sudah makanan sehari-seharu. Jadi, tidak harus keluar-masuk rumah sakit untuk meriksa jantungnya.
Dengan langkah mengendap-endap, Andrhea melangkah kebelakang sekolah. Matanya menatap tembok yang menjulang tinggi di hadapannya. Fokusnya ke arah semak belukar yang menutupi sebuah lobang besar atau sering disebut pintu menuju syurga (bolos) bagi para siswa-siswi badung sepertinya.
Akhirnya, bebas juga. Senyuman puas tercetak jelas di wajah Andrhea. Tak apalah jika tasnya tertinggal di kelas yang penting dirinya terbebas dari jeratan jeruji besi kelas. Baru saja dirinya merasa berbangga diri, tetapi ada saja orang yang merusak moodnya.
Tubuh Andrhea terplontang-planting mengikuti tarikan seorang pemuda berseragam putih abu-abu yang dilapisi jaket denim. Hampir saja kaki Andrhea tersandung dengan kakinya sendiri, karena tidak bisa menyeimbangi langkah kaki pemuda yang menariknya.
“Mampus! Segala pakai keroyokan,” umpat pemuda itu saat menoleh ke belakang.
Mata Andrhea melotot saat tahu siapa pemuda itu. “Woy! Buaya sawah. Ngapain lo ajak gue lari-lari,” teriak Andrhea kesal. “Lo mau ajak gue kawin lari?”
Langkah mereka terhenti saat dikepung banyak orang dengan membawa senjata tajam. “Anjir… Lo ngajakin gue kawin lari, tapi bawa warga sekolah lain segala sambil bawa senjata tajam gitu. Lo mau kawin apa ngajak tawuran sih,” bisik Andrhea kepada Arsen.
Arsen menyikut lengan Andrea membuat perempuan itu meringis. “Heh, kutu ayam. Ngapain capek-capek kawin lari, mendingan kawin di kamar sekalian di atas ranjang.
”DASAR GILA! Lo kira gue cewek yang sering keluar masuk hotel,” teriak Andrhea tidak terima.
Seorang pemuda yang memakai bandana kupu-kupu hitam mengacungkan celuritnya lebih dekat ke arah Arsen dan Andrhea. Dia adalah Wisnu, tangan kanan dari ketua geng sekolah SAMPAI JAYA. Yang menggeram kesal mendengar ocehan tidak masuk akal dari mangsanya.
“Heh kuda darat! Lo kalau mau berantem nggak usah banyak ngemeng. Maju, ya maju sekalian nggak usah ngumpet di ketek cewek lo,” teriak Wisnu mengeluarkan unek-uneknya.
Kali ini Arsen lah yang terpancing emosinya.
Kedua tangannya terkepal dengan wajah memerah. Dengan kasar Arsen menarik Andrhea ke kebalakangnya. “Lo bilang apa?” tanya Arsen pura-pura tidak mendengar.
Dada Wisnu naik turun mendengar ejekan dari Arsen. “Sejak kapan gue ditempeleng langsung ngibrit? Yang ada lo yang langsung kencing dicelana,” tukasnya Wisnu membalik mengejek.
Arsen mengangguk dengan senyum pongahnya. Lalu, ia membuka dasinya langsung saja diikat di kepalanya sekuat mungkin. Jarinya membuka kancing seragamnya, lalu melemparnya sembarang arah. “Oh… Jadi udah berani, ya?” tanya Arsen mengejek sambil menggulung lengan seragamnya.
Jakun Wisnu naik turun seperti gerakan menelan salivanya. Tiba-tiba tangannya tremor, sehingga membuat celuritnya terjatuh di tanah. Kepalanya menoleh ke belakang melihat para anggotanya yang sudah menatap aneh ke arahnya. Sedangkan, sang ketua sudah menjadi beruang yang sedang hibernasi. Lalu, apa kabar dengan dirinya sendiri yang sudah menantang anaknya wewe gombel. Dengan tangan bergetar Wisnu mengambil kembali celuritnya dan mengacungkan ke arah Arsen.
“Oke, kalau begitu kita mulai,” putus Arsen seraya tersenyum iblis. “Nanti, lo pegang pundak gue sekencang mungkin,” bisiknya kepada Andrhea.
Andrhea mengangguk, walaupun Arsen tidak melihatnya. Mata tajam Andrhea merekam semua wajah manusia titisan tikus yang sudah membawanya dalam masalah ini. Terutama manusia yang bernama Wisnu.
“Satu… Dua… Tiga… Sekarang!” titah Arsen.
Andrhea langsung saja memegang pundak Arsen sekuat tenaganya, sedangkan Arsen memegang pinggang Andrhea lalu diangkat dan diputar secepat mungkin. Kaki Andrhea memanfaatkan kesempatan itu untuk menendang para manusia tikus. Melihat semua manusia tikus terdampar di tanah, Arsen langsung menggendong Andrhea dan berlari dari jeratan manusia tikus itu.
Jarak mereka semakin jauh dari manusia tikus. Kaki Arsen semakin lama tidak mampu menampung berat badan dari Andrhea, sehingga mereka terjatuh dengan posisi Arsen diatas tubuh Andrhea. Lagi dan lagi Arsen terpana dengan bola mata Andrhea yang berwarna hitam pekat seperti gelapnya malam tanpa ditemani bintang dan bulan. Tanpa sadar Arsen mendekatkan wajahnya ke Andrhea sampai hidung mereka bersentuhan. Andrhea lantas memejamkan matanya. Hembusan napas hangat Arsen sangat terasa di wajah Andrhea membuat jantungnya semakin berdebar. Semoga saja Arsen tidak mendengar debaran jantungnya.
“Lo ngapain tutup mata? Pasti lo lagi bayangin yang jorok-jorok, ya,” ledek Arsen.
Sontak saja Andrhea membuka matanya dan langsung menatap tajam Arsen. “Yeuhh, si bego. Ogah bangat gue bayangin yang jorok entar yang ada adik lo yang bangun.”
Ketika mendengar kata adik membuat Arsen reflek menunduk melihat bagian bawah perut dan Andrhea pun juga melirik sedikit. Ya, sedikit agar tidak terlalu terlena melihatnya. Lalu, Arsen melihat kembali ke arah Andrhea yang pipinya sedang bersemu merah.
“Katanya nggak ngebayangin, tapi tuh pipi malah merah,” ejek Arsen.
“Bodo amat dan itu bukan urusan lo,” tukasnya Andrhea kesal. “Cepat bangun dari atas tubuh gue,” titah Andrhea tajam.
Arsen pun menurutinya dan langsung menepuk celananya untuk menghilangkan debu yang menempel. “Tapi kok mata lo nggak asing bagi gue, deh,” gumam Arsen dengan kepala masih menunduk.
Andrhea mengernyit bingung. “Siapa?” tanyanya.
“Ada lah yang penting dia lebih cantik dari lo dan sikapnya masih seperti kodratnya seorang perempuan.”
Kaki Andrhea melangkah mengikis jarak antara dia dengan Arsen. Tubuh mereka saling menempel dan Andrhea dapat merasakan detak jantung Arsen. “Lalu, lo anggap gue apa? Perempuan yang tak dikenal sebagai layaknya perempuan atau seorang manusia yang tak pantas hidup di dunia ini?” tanya Andrhea lirih.
Mata Arsen mengerjap tak percaya apa yang dilihatnya. Sosok yang dihadapannya memasang wajah sendu. “Tolong, jangan samakan orang lain dengan orang yang lo sukai. Karena semua pandangan berbeda apalagi jika sudah menyangkut soal perasaan,” ucap Andrhea tegas.
Perlahan-lahan Andrhea melangkah mundur. Matanya masih menatap Arsen yang terdiam tak berkutik. Lalu, ia pun berbalik badan dan meninggalkan Arsen dengan berjuta-juta rasa penasarannya.
“Drama apalagi yang lo tunjukkan sama gue,” teriak Arsen.
Langkah Andrhea terhenti. Berbalik dan tersenyum hangat. “Tidak ada drama yang saat ini gue tunjukkan. Tetapi hanya sebuah kenyataan yang tertutupi dengan ribuan kebohongan hanya demi segilintir orang yang disayangi.” Dan Andrhea pun melanjutkan langkahnya dengan hati yang hancur.
______________________________________________
**Halo guys... 🤚
Apa kabar? Sorry lama update, soalnya banyak kegiatan dan susah bagi waktunya.
menurut kalian chapture ini gimana?
Jangan lupa like and comment sebanyak-banyaknya**!
(Arsenio Erlando)