Please, Look At Me

Please, Look At Me
Misi pertama


WAJIB VOTE AND COMMENT!


SIDER \= JOMBLO ABADI


SHARE CERITA INI.


BANTU TANDAI TYPO!


_______________PLAM______________


"Lebih baik menjadi egois. Dari pada menjadi pengkhianat yang egois."


________________PLAM_____________


Pov_Arsen_


Ting!


Emak Setan😈


Jangan lupa jemput gue, ya, bang gocek!


Me


Iya, BAWEL!!


Emak Seta😈


Inget, jemputnya pake hati. Biar kita jadi pasangan yang dirundung kebucinan.


Me


Buat lo aja bucinnya. Gue udah terlalu kenyang dengar dari lo.


Jangan chat gue lagi! Gue mau tidur.


Bye!


Emak Setan😈


Yahh😯 padahal gue mau kasih rahasia sesuatu.


Lo mau ***,kan?


*typo *****


Dengerin baek-baek, ya. Gue bisikin. Jangan sampe ketauan tetangga sebelah.


Rahasianya....


Nya...


Nya...


Nya...


Sumpah malam-malam begini dibikin kepo sama Emaknya Setan, rasanya pengen gigitin bantal. Gue sengaja ninggalin dia chatan, biar gue tau gimana reaksinya. Tetapi, semua kebalik tidak sesuai rencana. Malah dia yang bikin gue gregetan. Udah nunguin kelanjutan chatnya. Eh, malah digantung. Segala pakai ofline.


Gue pantengin tuh handphone di atas meja belajar. Gak lama dari lima menit handphone gue berdiring. Gue langsung ambil tuh handphone. Rasanya deg-deg-an kayak lagi dapat lotre triliunan.


Emak Setan😈


Ciee... yang nungguin gue😁


Abang gocek, bapaknya setan. Akhirnya kangen gue😂😂


*******, umpat gue dalam hati. Kecil-kecil cabe rawit berani banget ngerjain gue. Langsung aja gue tekan videocall dan terpampang jelas wajah ngakak di seberang sana.


"Tawa aja terus kayak nggak punya dosa!"


Andrhea terkikik geli melihat wajah masam dari Arsen. "Hihihi... Anak mama ngambek," ledeknya.


"Seterah lo lah. Kalau nggak penting, gue matiin," ancam gue.


"Yahhh... lo mah nggak asik dibercandain," ucapnya merengut. "Sebelum lo tutup, gue mau kasih rahasia. Kali ini gue  serius," lanjutnya.


Gue memutar bola mata gue malas. "Cepetan!"


"Dengerin, ya!" Gue mengangguk. "Rahasianya adalah... I LIKE YOU!!!"


"Hah, apaan?"


Tut... Tut... Tut...


Bangke, langsung dimatiin. Handphone gue seketika  melayang di udara hingga mendarat di kasur. Lama kelamaan bikin gondok hati. Gue berharap semoga besok bukan hari tersial gue.


___PLAM___


Pov _Andrhea_


Gue menuruni setiap undakan tangga dengan senyum bahagia. Gimana nggak bahagia, doi yang selalu dingin udah cair guys! Nggak masalah kalau doi dingin, es batu aja gue ****-****. Apalagi udah panas makin hot.


"Andrhea, sini sarapan bareng," ajak Anna dengan melambai tangannya.


Indrhii, sini siripin biring. Alah, bullshit! Luarnya doang polos, belakangnya sebelas-dua belas kayak ibu tiri penuh tipu daya.


Setelah bergabung sarapan di meja makan. Dengan gerakan males gue ambil sarapan. Diam, adalah opsi terbaik saat kamu didesak.


"Andrhea, ternyata aku sama Arsen sekelas lho sama kamu," ungkap Anna sombong.


"Oh."


"Nanti berangkat bareng, ya," ajaknya dengan senyum palsu.


"Maaf, gue ada yang jemput," gue menolak ajakkannya dengan sombong.


"Dijemput sama Banyu, ya? Wah ternyata kalian kejebak frindzone," kata Anna dengan nada mengejek.


"Sahabatan bukan berarti dia saling suka satu sama lain. Bisa aja dia hanya butuh seseorang yang nasibnya sama dan berakhir menjadi patner yang saling menguatkan," bantah gue sambil natap dia tajam dan sukses membuat dia bungkam seketika.


Ini kali pertama gue bertengkar dengan Anna setelah sekian bertahun-tahun terpisah. Ternyata tak seburuk apa yang gue pikirkan mencari teman ribut dengan saudara sekandung.


"Selamat pagi."


"Arsen, kamu jemput aku? Wah, peka banget,deh. Padahal aku belum bilang minta jemput sama kamu," cerocos Anna.


Drama lagi. Gue yang lihat rasanya ingin muntah. Pagi-pagi bikin mood gue anjlok. Seringaian terbentuk di bibir gue saat Arsen memilih melihat gue tanpa menjawab ucapan Anna. Ide jahat bermunculan di kepala gue. Lumayan dapat tontonan gratis.


"Anna, adikku yang manis. Arsen bukan mau jemput lo. Dia ke sini mau jemput gue," ucap gue sambil merangkul lengan Arsen. "Oh, iya. Kita juga mau kencan seharian setelah pulang sekolah."


Wajah Anna seketika memerah malu, lalu tersenyum kaku. "Bener, Sen, yang diucapkan Andrhea?" tanyanya tak percaya.


Tidak ada jawaban yang keluar dari bibir Arsen, melainkan hanya anggukkan kepala. "Ingat, perjanjian yang kita perbuat!" bisik gue mengingatkannya. "Ijin sama ayah gue. Setelah itu kita berangkat."


"Om, saya ijin berangkat bareng Andrhea. Sekalian saya mau ajak kencan Andrhea hingga malam. Om, nggak perlu khawatir," Ijin Arsen, membuat raut wajah Bagas masam seketika.


"Nggak perlu minta ijin sama saya. Toh, saya sangat bersyukur kalau dia tidak kembali pulang," ucap Bagas ketus.


Iya, entar gue pulangnya ke rahmatullah.


"Yuk, berangkat!" ajak gue menggandeng lengan Arsen.


Sebelum gue benar-benar keluar, gue berhenti di samping Anna. Lalu, "Satu kosong. Gue satu, lo kosong," bisik gue tepat di telinganya.


Akhirnya gue bisa mengendalikan Arsen di depan Anna. ******, lo.


___PLAM___


Pov_Author_


Pagi telah berganti sore. Biru pergi hingga datanglah semburat merah jingga. Ya, kini hari telah sore.


Andrhea dan Arsen, kini sedang menjalani kencan pertama mereka setelah memutuskan untuk berhubungan yang lebih serius. Tidak lupa dibumbuhi dengan perjanjian-perjanjian yang hanya mereka dan Tuhan yang tahu.


Wajah masam Arsen tidak membuat senyuman Andrhea luntur. Duduk sambil menompang wajah, Andrhea menatap Arsen memuja. Sampai seorang pelayan menghampiri mereka, Andrhea masih bertahan dengan tatapannya.


"Heh, cabe rawit. Lo mau pesan apaan?" tanya Arsen yang di balas senyuman aneh milik Andrhea. "Gila, nih bocah."


Seketika wajah Andrhea merengut kesal. "Mbak, ada kopi, nggak?" tanyanya judes. Sang pelayan pun gelagapan saat tetangkap basah menatap Arsen secara terang-terangan.


"A-da, Kak. Mau kopi rasa apa, ya?"


Sebelum menjawab, Andrhea melirik Arsen terlebih dahulu. "KOPI-NANG ARSEN DENGAN BISMILLAH!"


Uhuk... Uhuk... Uhuk...


Arsen langsung tersedak ludahnya sendiri. Semua pasang mata mengarah ke meja mereka. Sedangkan, Mbak pelayan wajahnya memerah malu. Berbeda dengan Andrhea yang menyengir tanpa dosa.


"Gue, malu," gumam Arsen sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Sen, di jawab dong," ucap Andrhea.


"Mau di jawab apaan. Gue udah ke buru malu duluan!" geram Arsen melototkan matanya.


"Bukannya para lelaki suka cewek agresif, ya? Kok, lo malah malu, sih. Jangan-jangan lo nggak suka cewek, ya?" tuduh Andrhea. Mata Arsen semakin melotot gara-gara Andrhea.


Sebelum Arsen membalas ucapan Andrhea, ia sudah di buat terkejut kembali dengan tindakan aneh yang dilakukan oleh Andrhea.


"L-o mau ngapain?" tanya Arsen gugup. Sial, segala pakai gugup.


Andrhea semakin mengikis jarak antara ia dengan Arsen. Menatap lekat manik hitam Arsen bersama loncatan dari detak jantungnya. "Sen, bibir lo," ucap Andrhea serius.


Spontan Arsen langsung menyentuh bibirnya. "Bibir gue kenapa?" tanyanya cemas.


"Ada---"


"Ada apaan?" Arsen memotong ucapan Andrhea.


Plakkk


Dalam tiga detik tangan lentik Amdrhea mendarat dengan kasar di bibir Arsen. Bibir Arsen kebas seketika.


"ANDRHEA!!!"


Tubuh Andrhea mundur seketika. Wajahnya berubah pucat saat melihat ada kilatan amarah di mata Arsen. "Ampu, Sen. Tadi ada nyamuk nangkring di bibir kissable milik lo," jelas Andrhea. "Gue cemburu sama nyamyknya. Masa gue yang pacaran malah nyamuk duluan yang nyium lo," lanjutnya.


"Kebanyakan makan kuaci, sih. Jadi, sampah masyarakat, deh."


Andrhea dan Arsen menoleh ke arah sumber suara. Ternyata ejekkan itu bersumber dari mulut nista Rayhan. Bukan hanya Rayhan saja, tetapi juga tatapan sinis milik Anna.


"Wah, mulut mercon nyerocos aja. Padahal belum di ajak ngomong lho. Emang kita saling kenal, ya," ejek Andrhea membalas. Tangan Rayhan mengepal kuat.


"Eh, ada putri malu yang nggak tau malu. Kok matanya merah? Mau nangis, ya, lihat kita mau ciuman," lanjutnya.


"Sen, sini dah," panggil Andrhea menyuruhnya membungkuk


Cup


Satu kecupan mendarat di pipi mulus Arsen. Andrhea tertawa jahat di dalam hatinya melihat mata Anna berkaca-kaca. Lalu, Andrhea menarik Arsen pergi dari cafe itu.


"Dua kosong, Anna. Gue masih bertahan jadi pemenangnya," bisik Andrhea sebelum pergi.


Sedangkan Rayhan yang sudah melayangkan pukulannya tertahan di udara saat Anna mencegah dan menggeleng lemah dengan bulir air mata berjatuhan.


Di luar, Andrhea menekan rasa sesak di dadanya. Ia mencoba mengatur napasnya, namun tetap saja tidak bisa. Dan ini bukan perasaan miliknya, tetapi milik Anna. Mereka memiliki ikatan batin.


Cukup merasakannya. Tidak boleh menyerah sebelum kepastian datang.


_______________PLAM______________


Sorry, updatenya telat. Seharusnya dua hari lalu aku udah update. Karena banyak gangguan jadi ke tahan.


Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankannya.


Jangan lupa vote and comment. Bantu share cerita ini ke teman, sahabat, keluarga, pacar dll.


Mau lanjut?


See you next time


Salam❤


_Salbiyah_