Please, Look At Me

Please, Look At Me
Kasih yang Hilang


“Tak terhitung lagi seberapa lamanya aku merasakan sebuah kasih sayang yang telah hilang. Kasih yang selalu aku nantikan setiap saat.”


_Andrhea Alexis Sanchez_


___o0o___


“Nanti malam kita akan makan malam bersama Ibu dan adik kalian,” ucap Bagas membuka pembicaraan antara kedua anaknya.


Dentingan sendok mengalihkan perhatian Bagas dan Rayhan.


“Kenapa Rhea. Kamu nggak senang saya ajak makan malam?” tanya Bagas sinis.


Kepala Andrhea terangkat, lalu menatap manik mata ayahnya. Bibir Andrhea tertarik hingga tercipta sebuah senyuman di bibirnya.


“Nggak. Aku malah senang kalau Ayah ajak aku. Makasih, Yah.”


Alis Bagas terangkat. Terkekeh mendengar ucapan Andrhea. “Buat apa kamu susah-susah minta maaf sama saya. Asal kamu tahu saya sejujurnya malas mengajak kamu. Jika bukan karna mantan istri saya, saya nggak bakalan ajak anak pembawa sial kayak kamu.”


Senyum Andrhea perkataan-lahan terkikis tergantikan raut sendu di wajahnya. Tangannya mendorong piring bekas sarapannya.


“Aku udah selesai.” Andrhea beranjak dari duduknya.


Tak ada tanggapan sama sekali atas kepergian Andrhea. Berbeda dengan Andrhea yang harus menelan kekecewaan secara pahit-pahit. Tidak ada suasana pagi yang membangkitkan moodnya, melainkan hanya membuat hatinya terluka.


Saat Andrhea keluar dari gerbang rumahnya. Ia melihat tetangga seberang rumahnya yang terlihat sedang heboh dengan teriak-teriakan membahana. Seorang wanita paruh baya berlari mengejar anaknya dengan membawa spatula. Sedangkan, lelaki paruh baya hanya menonton pertunjukan itu. Rasanya Andrhea rindu dengan suasana rumah yang ramai tapi penuh kehangatan.


“Arsen… Masukin baju kamu!” teriak Riana membahana.


“Iya, Bun. Aku pasukan bajunya, tapi lepasin dulu tangannya. Nanti seragam aku kotor.”


“Pokoknya Bunda nggak mau tau baju kamu harus dimasukin terus kuncinya sampai atas leher. Rambut kamu juga harus disisir belah dua sekalian pakai dasi yang bener biar jadi anak teladan,” cerocos Riana panjang lebar.


“Seharusnya kamu contoh Bubu kamu waktu muda. Tampang wajah udah ganteng ditambah lagi pakaian rapih, jadi cewek-cewek pada terpancing sama ketampanan Bubu kamu. Lah ini, kamu udah tampang wajah kasar, pakaian acak-acakkan kayak orang gila. Sumpah Bunda malu punya anak kayak kamu. Nanti Bunda disangka sama orang udah pungut anak yang ada di tong sampah jalanan,” lanjutnya lagi.


Kedua tangan Arsen mengepal, lalu mengacungkan ke udara dengan raut wajah geregetan. “Ckckck… Seharusnya Bunda bersyukur udah dikaruniai anak kayak aku. Baik hati, rajin menabung, dan tidak suka bohong.”


“Kamu berani sana Bunda. Pokoknya Bunda mau kutuk kamu jadi panci gosong.”


Duuaaarrrr…


Suara petir mengakhiri perdebatan antara Arsen dengan Riana. Wajah Arsen sudah pucat pasi saat suara petir menyambut kutukan Riana. Sedangkan di seberang jalan, Andrhea tertawa terpingkal-pingkal menonton drama antara ibu dan anak itu.


Mata Andrhea terpaku pada sosok lelaki paruh baya yang menatap ke arahnya. Andrhea mendongak menatap langit hingga beberapa butir air jatuh ke wajahnya.


Hujan datang.


“Kamu, ngapain berdiri di sana!” teriak lelaki paruh baya itu.


Andrhea mengerjap bingung. Menengok kanan-kiri tidak ada siapa pun selain dirinya. Lalu, ia menunjuk dirinya sendiri. “Saya, Om?” tanyanya.


“Iya, kamu,” jawab lelaki paruh baya itu ketus.


“Cepetan sini!” titahnya.


Andrhea menjadi kikuk. Ia menggaruk pelipisnya untuk mengurangi gugup. Berjalan menghampiri lelaki itu dengan canggung.


*****, calon mertua mukanya serem banget.


“Sini, masuk!”


“Eh. Masuk?” tanya Andrhea linglung. “Masuk ke mana, Om?”


Erlangga, lelaki paruh baya yang berdiri di depan Andrhea. Bibirnya semakin menipis dengan mata tajamnya menghunus ke arah Andrhea. Ia tidak suka dengan orang yang selalu basa-basi tidak jelas.


“Ikut, saya!”


Andrhea mengikuti langkah Erlangga dengan hati-hati. Tetapi, kesialan tetap saja menghampirinya. Tabrakan itu tak terelakkan lagi. Ya, punggung kokoh yang ada di depan Andrhea menjadi korban tabrakan Andrhea. Erlangga berbalik dengan mata melotot membuat Andrhea langsung menunduk takut.


“ANDRHEAAA…” teriak Riana heboh.


Hampir saja tubuh Erlangga terjatuh saat dorongan keras dari sang istri. Ia jengah melihat tingkah laku istrinya yang tidak tahu malu dengan usianya. Berbeda dengan Andrhea yang tegang saat dipeluk erat oleh Riana.


“Kamu mau berangkat sekolah, ya?” tanya Riana yang diangguki Andrhea.


Baru saja Riana membuka suara, sang suami menyela terlebih dahulu. “Sekolah kamu tetanggan sama sekolahnya Arsen, kan?”


Andrhea mengangguk.


“Ya udah, kamu berangkatnya bareng aja sama Arsen.”


“Bubu… Aku nggak mau berangkat sama dia,” bantah Arsen.


“Arsen. Mau Bunda kutuk lagi kamu,” ancam Riana.


Arsen mengacak rambutnya kesal. “Oke. Dia berangkat sama aku,” putus Arsen tidak rela.


Mobil Arsen pun melesat kencang meninggalkan perkarangan rumahnya. Membawanya dengan perasaan dongkol dan juga perasaan aneh yang hinggap di hatinya saat berasama dengan Andrhea. Ia tidak bisa berpikir untuk ke depannya, jika kebenciannya membawa ia merasakan cinta dari orang yang ia benci sendiri.


___o0o___


Lembayung senja menari di ufuk barat menghadirkan sebuah warna indah menghias langit sang agung. Semburat merah jingga menandakan bahwa sang penguasa malam akan datang. Burung-burung berterbangan mencari tempat singgahnya.


Andrhea berjalan dengan semangat empat lima memasuki rumahnya. Namun, semangat itu perlahan hilang saat sebuah gaun terjatuh menutupi wajahnya.


“Cepat ganti bajumu!”


Tangannya menggenggam erat gaun berwarna baby pink. Matanya mengerjap melihat ayahnya dan Rayhan telah berpakaian rapih. Ia mengangguk, lalu berlari ke kamarnya. Selama berpakaian, Andrhea senyum-senyum sendiri.


Butuh waktu sepuluh menit Andrhea mengganti bajunya. Terlalu senang Andrhea melupakan bahwa rumahnya sudah kosong tak ada siapa pun kecuali dirinya sendiri.


“Ayah, Abang. Ayo berangkat,” ajak Andrhea bersemangat.


Tubuh Andrhea mematung. Matanya berkeliaran mencari sosok yang tadi menunggunya. Kosong. Tidak ada siapa pun di sana. Ia menghela napasnya kasar. Kedua bahunya merosot seketika. Tetapi, suara pesan masuk di handphonenya membuat senyum Andrhea terbit kembali.


Hilir mudik orang-orang berjalan memadati sebuah restoran di salah satu tempat makan di jakarta. Andrhea mencari keberadaan keluarganya. Suasana ramai membuat kepalanya pusing dan mual. Tidak suka keramaian membuatnya sulit beradaptasi dengan keramaian.


Seorang perempuan seusianya melambaikan tangan ke arahnya. Mata Andrhea membulat saat siapa orang itu. Sontak saja ia membalas lambaian tangan itu bersama senyum hangatnya.


“Arsen, di sini!”


Kening Andrhea mengernyit bingung. Lalu, ia menoleh ke belakang. Lidahnya keluarga melihat sosok pemuda yang belakangan ini menjadi tokoh utama dalam pikirannya.


“Ayo, sini. Ayah sama Abangku udah nungguin kamu loh,” ucap seseorang membuat Andrhea tersadar.


Hati Andrhea bertanya-tanya apakah Arsen kenal dengan orang itu atau tidak. Tetapi, kenapa mereka sangat dekat sekali. Dan kenapa mereka bergandengan tangan. Andrhea semakin penasaran saat ibunya mengenali Arsen kepada ayahnya dengan antusias. Apa semua ini hanya mimpi belaka atau kenyataan yang harus diterimanya walaupun perlahan-lahan akan membunuhnya.


“Andrhea. Kenapa kamu bediri sana. Kemarilah!” titah Indrisantika.


Dengan gerakan kaku Andrhea berjalan menghampiri mereka. Ia merasa seperti makhluk paling aneh sampai semua pasang mata mengarah kepadanya. Menarik kursi di samping Rayhan berhadapan langsung dengan Arsen.


“Rhea. Kenalkan dia Arsen,” ucap perempuan berwajah sama dengan Andrhea.


Dingin. Itulah kesan pertama saat tangannya menjabat tangan Arsen seolah-olah mereka adalah orang asing.


Suasana kembali hening ketika mereka menyantap makanan di meja. Hingga menu penutup dihidangkan. Anna mengulurkan sebuah kado kepada Indrisantika.


“Selamat hari ibu,” ucapnya.


Indrisantika langsung memeluk putrinya dengan hati bahagia.


Lalu, Rayhan menyusul memberikan sebuah kado seperti Anna. Berbeda dengan Andrhea yang tertunduk melihat itu.


Tangan Andrhea bergetar saat mengobrak-abrik tas selempangnya mengambil sesuatu yang berharga. Tidak ada apapun di sana hanya ada sepasang jepitan rambut dan handphonenya. Tanpa sengaja tangannya menyenggol gelas di sampingnya, tetapi ditahan oleh Rayhan. Dirinya semakin resah saat ayahnya menatapnya tajam.


“Ibu,” panggilnya lirih.


Semua mata tertuju ke arahnya. Keringat dingin membasahi telapak tangannya. Perlahan-lahan Andrhea menyodorkan sepasang jepitan.


“Ini, buat Ibu. Tolong dijaga,” ucapnya.


Senyuman kecil terbit di bibir Andrhea saat ibunya mengambil hadiah darinya. Namun, sebuah suara memecahkan kebahagiaannya.


“Kamu kasih Ibu barang bekas,” ujar Anna tak percaya.


Andrhea menggeleng cepat saat mata Indrisantika menatapnya seolah meminta penjelasan. “Anna. Jika, kamu tak tau apapun dengan barang yang ku beri. Kamu cukup diam,” tegasku.


“Andrhea, jaga mulutmu!” bentak Bagas.


Membuat semua orang kaget atas perilaku Bagas. Andrhea menatap takut ke Bagus. Ia mengigit kecil bibirnya untuk menghilangkan rasa resah yang sudah tak tertahankan.


“Maaf, Yah.” Bibir kecil itu bergerak lirih.


Sesuatu hangat menyentuh tangan Andrhea. Indrisantika tersenyum hangat menenangkan hatinya. Senyuman itu pun tertular kepadanya.


Mereka semua melanjutkan kegiatan mereka untuk menyantap makanan pencuci mulut. Sedangkan Andrhea terpaku dengan es krim di tangan Anna. Baru saja Anna ingin menyuap, tetapi tangan Andrhea lebih gesit mengambil es krim itu dan menukarnya dengan miliknya.


“Maaf, Anna. Aku kurang suka dengan rasa itu,” ujar Andrhea.


Tindakan Andrhea membuat Bagas geram melihatnya. Suara Bagas tertahan saat mendengar suara seseorang mengaduh kesakitan. Anna mencengkram erat perutnya sesekali meringis menahan sakit.


“Anna, apa yang sakit, Nak?” tanya Bagas khawatir.


“Perutku sakit, Ayah.”


Langsung saja Bagas menggendong Anna membawanya ke rumah sakit. Indrisantika dan Rayhan terlihat panik, sedangkan Arsen hanya memandang Anna cemas.


“Awas lo! Kalau kenapa-napa dengan adik gue,” ancam Rayhan sebelum pergi menyusul kedua orang tuanya.


Kepala Andrhea terkulai lemas di atas meja. Deru napasnya tidak beraturan. Bintik-bintik merah mulai timbul di kulit Andrhea. Rasa gatal membuatnya sulit bernapas.


“Lo kenapa?” tanya Arsen bingung.


Andrhea menggeleng. “Pulang,” gumamnya.


Arsen semakin cemas saat melihat Andrhea yang kesulitan mengambil oksigen untuk ia bernapas. Ditambah dengan Andrhea yang terisak sambil bergumam menginginkan pulang.


Menghilangkan rasa bencinya sedikit. Arsen menggendong Andrhea ke mobilnya. Yang lebih mengherankan lagi ketika di jalan Andrhea selalu bergumam ia ingin pulang, tetapi pulang ke rumah Banyu.


Saat di perjalanan memeriksa handphone Andrhea dan meminta alamat rumah Banyu melalui via watsapp. Arsen terburu-buru menekan bel rumah Banyu dengan kesusahan.


Banyu keluar. Raut wajahnya terlihat syok melihat kondisi Andrhea yang semakin melemah. Cepat-cepat Banyu membawa ke sofa ruang tamu. Ibunya Banyu histeris melihat keadaan Andrhea.


“Gue, balik,” pamit Arsen.


Banyu mengangguk. “Makasih.”


“Jangan sampai berlarut dalam tidurmu,” gumam Arsen sebelum meninggalkan rumah Banyu. Dan hanya Arsen saja yang mendengarkan gumamannya saja.


_____________________________


Halo guyss...


Saya berterima kasih sama readers cerita ini yg sudah membaca tapi belum memberikan vot dan comment nya.


Untuk kedepannya lagi semoga kalian lebih suka dan menghargai karya seseorang


Gimana pendapat kalian sama chapture ini?


Kalo ada typo tolong di koreksi ya.


Jangan lupa untuk vot and comment sebanyak-banyaknya.


Dan juga sebarkan cerita ini ke teman kalian.