
“Tiga kata yang mampu membuat aku tersadar bahwa aku adalah orang asing bagi kalian.”
_Andrhea Alexis Sanchez_
___o0o___
“ANDRHEAAAA…!!!”
Lengkingan hebat itu mampu menggetarkan seisi sekolah. Bukan hanya aku saja yang kaget, melainkan siswa-siswi lain juga ikut kaget mendengarnya. Banyak pasang mata yang mencuri pandang ingin tahu apa yang sudah aku lakukan hingga Mak Lampir marah besar. Aku berlari di urutan pertama, kedua Mak Lampir alias Bu Saloni, dan di urutan terakhir ada Banyu, Bisma, dan Dimas.
“Nggak tau malu banget, ya. Kalau jadi dia, suka cari sensasi sana-sini.”
“Miskin, tapi gayanya belagu banget.”
“Dasar cewek kurang belaian.”
Aku menulikan kedua telingaku seakan itu hanya cicitan tikus got yang sedang kelaparan. Kesabaranku itu sudah mencapai tingkat dewa, jadi tidak perlu goyah, lalu tumbang terinjak-injak. Sudah hal biasa mendapatkan cibiran-cibiran tidak bermutu seperti itu.
“Andrhea, berhenti kamu! Kurang ajar sekali kamu sama saya.” Bu Saloni tidak mau mengalah dengan Andrhea. Ia semakin naik pitam saat Andrhea tidak mengindahkan perintahnya.
“Makanya saya ingin memberikan pelajaran sama Ibu tercinta!” teriak Andrhea. “Minggir-minggir, air panas mau lewat!!” Andrhea kembali berteriak dengan tangannya sesekali menyingkirkan orang yang menghalangi jalannya.
Dari arah berlawanan seorang pemuda bertubuh tinggi kekar menghadang Andrhea yang terlalu fokus ke belakang tanpa memperhatikan larinya. Semua pasang menatap bingung pemuda itu, karena dia memakai seragam yang berbeda menandakan bahwa dia bukan siswa di sekolah ini.
Andrhea semakin menambah kecepatan larinya membuat jarak antaranya dengan pemuda itu semakin tipis. Tabrakan di kedua sisi tidak mampu terelakkan lagi. Tidak tanggung-tanggung Andrhea menubruk tubuh kekar yang ada di hadapannya hingga kedua tubuh itu mendarat sempurna di lantai koridor kelas.
"*****! Air panas gue tumpah hingga memakan banyak korban," histeris Andrhea. "Gue nggak mau tau, mau lo raja, presiden, rakyat jelata, setan, jin, dan sebangsanya. Pokoknya lo harus tanggung—" Bibir Andrhea langsung terbungkam saat matanya melihat sosok yang di bawah tubuhnya.
"Maksud lo, tanggung jawab? Emang gue udah hamilin lo, Andrhea."
Mata Andrhea mengerjap tidak percaya. Melihat senyum miring dari sosok tengil, tetapi sangat ia sukai. "I-ya," jawabnya tergagap. Namun, matanya langsung melotot, tangannya refleks memukul bibirnya yang kurang ajar ini.
Andrhea menggeleng cepat. "Bukan, maksud gue bukan itu."
"Nggak usah sakitin bibir lo sendiri, mendingan gue yang bikin bibir lo sakit sekaligus enak," celetuk pemuda itu.
Pipi Andrhea memerah bersama dengan kedua telinganya. Memukul dada pemuda itu gemas. Terlalu malu dengan ucapan pemuda itu. "Ih, Arsen. Lo kok jadi mesum kayak gini, sih."
"Loh bukannya lo duluan, ya, yang nyosor duluan? Gue sih mau-mau aja."
"Ya ampun, Andrhea!! Berani sekali kamu menunjukkan adegan tidak senonoh di depan publik sekolah!" Bu Saloni berteriak histeris saat tubuh Andrhea masih menempel pada tubuh Arsen.
Tamatlah sudah riwayatku, gumam Andrhea sambil meneguk ludahnya kasar
Arsen langsung mendorong Andrhea tanpa perasaan sedikit pun. Lalu, wajahnya kembali datar menatap tajam dengan pandangan lurus. Sedangkan, Andrhea meringis saat tubuhnya kembali mencium lantai.
"Ya ampun, Bu. Nggak usah teriak kayak orang hutan, ujung-ujungnya saya yang jadi korban," keluh Andrhea.
"Heh, kamu samain saya dengan Tarzan. Pokoknya saya dendam kesumat sama kamu!"
"Jangan gitu dong, Bu. Nanti ilmu saya nggak ngalir dari Ibu," mohon Andrhea, lalu beralih menatap Arsen dengan jelas.
"Pacar. Bantuin jelasin dong. Kan, kita tadi bukan melakukan adegan ehem-ehem. Walaupun pelukan sambil tiduran." pinta Andrhea tidak lupa menggoda.
Arsen jengah dengan godaan Andrhea. "Saya, setuju sama, Ibu. Malahan saya sangat senang kalau tuh bocah ngebersihin satu sekolahan ini."
"Ish, kok lo malah jadi kompor, sih." Andrhea memukul bahu Arsen kesal.
"Gimana, Bu. Setuju nggak sama usulan saya?" tanya Arsen semakin memprovokasikan Bu Saloni.
"Nah, kayak gini dong kalau punya pacar. Perhatian dan memberi contoh yang baik." Bu Saloni menepuk pelan bahu Arsen membanggakan pemuda itu.
"Perhatian apaan. Malah bikin gue sengsara," cibir Andrhea.
"Heh, Andrhea. Bibir kamu mau tak kasih sambal, hah?" ucap Bu Saloni sesekali mencubit lengan Andrhea.
"Nggak mau lah. Emang Ibu kira bibir saya bakso mercon."
"Alah, banyak bacot, ya, kamu!" ucap Bu Saloni, langsung menggiring Andrhea yang sedang cemberut.
Arsen tertawa jahat saat Andrhea digiring seperti anak ayam. "SELAMAT MENIKMATI, PACAR!"
Bilangnya pacar, tapi malah menjatuhkan. Gerutu Andrhea dengan bibir manyun.
Ada satu sosok yang tidak suka dengan interaksi antara Arsen bersama Andrhea. Terlihat dari tatapan tajamnya untuk Arsen, seakan-akan ingin menelannya hidup-hidup.
___o0o___
Panas matahari sangat menyengat membuat Andrhea berulang kali menyeka keringatnya. Rambutnya lepek hingga menempel di beberapa bagian wajahnya. Bau kecut dari tubuhnya dan juga sampah di tangannya tercampur menjadi satu.
"Kan, gue udah bilang. Nggak usah cari masalah sama Bu Saloni, yang ada lo tersiksa mulu." Banyu berulang kali menasehati Andrhea, namun tetap saja hanya dianggap angin berlalu.
"Untuk kali ini gue malah seneng gara-gara lari-larian sama Bu Saloni. Capek membawa keberuntungan." Andrhea terkekeh geli membayangkan wajah Arsen.
Tangan Banyu seketika mengepal menahan amarah di dalam hatinya. Cemburu, namun tidak bisa berbuat apa-apa. Inilah yang paling menyakitkan ketika mencintai seseorang, tetapi orang itu seakan buta atas cinta kita.
"Kenapa, Nyu? Kok lo kayak nggak seneng gitu sama ucapan gue?" Ternyata Andrhea melihat Banyu yang mengepalkan tangannya.
Banyu menggeleng, lalu bangkit dari jongkoknya menghampiri Bisma dan Dimas. Bergabung bersama mereka dengan kegabutannya.
Andrhea mengangkat kedua pundaknya acuh. Lalu, menoleh ke arah lapangan yang cukup ramai dipadati oleh kaum hawa. Ia menyipitkan matanya memperjelas pandangannya, melihat seorang pemuda memakai kostum basket yang baru saja memasuki bola ke dalam ring. Tubuhnya langsung tegap berdiri dengan mata melotot.
"Astaghfirullah. Tuh orang malah pamer roti sobeknya," decak sebal Andrhea.
Dengan langkah tegas beserta kedua tangan di pinggang, Andrhea menghampiri ke lapangan basket itu. Ketiga curut Andrhea langsung berdiri saat sang induk pergi, mengikutinya dengan langkah tergopoh-gopoh.
"MINGGIR, WOYYY!!!. Gue pukul kalau lo pada halangin jalan gue!" teriak Andrhea membahana.
Para kaum ciwi-ciwi terpaksa menyingkir saat induk singa beserta anggotanya berjalan.
"Awww... Kulit gue kena rotan murahan lo, bego!"
"*****, kayak dia yang punya kawasan."
"Bocah belagu aja ditakutin, paling dia cuma mau gertak doang."
Langkah Andrhea langsung terhenti. Lalu, ia membalikkan tubuhnya, menatap tajam ke arah gadis berambut pirang. Sedangkan yang ditatap ketar-ketir untuk tidak lari ketakutan. Andrhea mengikis jarak antaranya dengan gadis itu. Ia tatap dari atas sampai bawah, tidak ada yang spesial pun di tubuh itu.
"Lo ngomong apa tadi? Gue nggak salah denger, kan?" tanya Andrhea tajam.
Gadis itu tertawa mengejek. padahal di dalam hatinya ia menyiapkan dirinya agar kabur sebelum bencana datang. "Oalah. Ternyata preman sekolah punya penyakit budeg, guys!" teriaknya mengejek yang langsung disambut gelak tawa banyak orang.
Andrhea menggeram seperti singa yang melihat mangsanya. "Cindy Maheswari," ucap Andrhea tajam membaca badge di dada kanan.
"Hei, kalian! Dengerin baik-baik dan rekam di otak kalian, bahwa kakak kelas tercinta kita ini adalah musang berbulu domba. Minggu yang lalu, tepatnya sabtu malam pukul 9. Bergelanyut manja sama om-om bodong." Semua orang terbelalak tidak percaya atas ucapan Andrhea.
"Asal kalian tau, tarif dia semalam cuman 200 ribu. Buat anak cowok seterah mau kalian apain mumpung masih murah." Andrhea berteriak kembali yang disahuti sorak-sorak senang dari kaum adam.
Cindy malu bukan kepalang lagi. Air matanya sudah beruraian ditambah dengan pandangan yang memandangnya rendah. Ia pun berlari dengan dendam dihatinya untuk Andrhea. Sedangkan, Andrhea tertawa senang atas tindakannya.
"Mau lo apa sih, Andrhea?" tanya Banyu dengan nada kesal.
"Apa?"
"Mau lo apa?! Kalau mau cari gara-gara nggak usah buka aib orang segala!" desis Banyu.
"Loh, kok lo yang marah. Seterah gue dong mau apa. Ini hidup gue, jadi lo nggak berhak ikut campur." Andrhea mendorong dada Banyu dengan rotannya. "Oh, atau lo salah satu pelanggannya, ya."
Tatapan tajam Banyu semakin menusuk. Sudah cukup ia sakit hati karena Andrhea. Ia berlalu pergi menghiraukan seruan Bisma dan Dimas. Masa bodo tentang Andrhea yang melakukan apapun, entah bahaya atau tidak. Ia sudah tidak perduli lagi.
"Sen, nanti mampir ke toko kue langganan aku, ya."
Kepala Andrhea langsung tertoleh mencari suara yang sangat tidak asing baginya. Katanya melotot saat melihat sosok gadis mirip dengan dirinya.
Dia ngapain di sini. Oh, tidak! Lancang sekali pegang-pegang roti sobek gue.
Andrhea berlari cepat menghampiri gadis itu. Menyentak keras tangan nakal milik gadis yang wajahnya serupa dengannya. Entah dirinya yang terlalu keras menyentak atau gadis itu yang terlalu lemah, hingga membuat tubuhnya terjatuh di lapangan.
Kesadaran Andrhea kembali datang saat lengannya terasa sakit akibat cengkeraman dari Arsen. "Sa-kit," rintih Andrhea.
Tubuh Andrhea terhuyung hampir terjatuh. Matanya terbelalak, tangannya bergetar saat melihat darah di telapak tangannya. Darah siapa ini?.
"Maksud lo apaan, Anjing!!" teriak Arsen kalut mencengkram kerah baju Andrhea.
Ada ketakutan di mata Andrhea. Tiba-tiba kepala pening hingga pandangannya berputar. Kupingnya berdengung hebat tidak mampu menangkap teriakan dari Arsen. Ia menggeleng menghilangkan rasa sakit ini. Namun, tetap saja tidak hilang sama sekalipun.
"Gue masih tahan sama sikap lo tadi. Tapi, kali ini gue muak sama sikap lo. Kalau lo mau bales dendam sama gue nggak usah lo sakitin punya gue." Arsen mengguncang tubuh Andrhea.
"Gu-e nggak se-ngaja." Andrhea menggeleng dengan air mata.
"ANDRHEEAAA!!!"
Kepala Andrhea menoleh ke arah sumber suara dengan bersamanya sebuah pukulan mendarat di wajahnya. Tubuhnya langsung tergeletak dengan mengenaskan. Darah segar keluar dari hidungnya. Napasnya terputus-putus. Rasa sakit menjadi dua kali liat yang ia rasakan.
"*******!!" teriak Bisma memukul Rayhan membabi buta, sedangkan Dimas dan Arsen memisahkan mereka.
Setetes air mata keluar dari pelupuk mata Andrhea. Darah semakin deras keluar dari hidungnya. Apakah ini hari terakhir untuknya?
"Dia cewek bego!!" teriak Bisma kembali dengan napas memburu.
Rayhan terkekeh sini, lalu meludah tepat ditubuh Andrhea hingga membuat gadis itu terpejam perih. "Gue nggak peduli dia cewek atau cowok. Gue juga nggak peduli kalau dia mati atau nggak. Tapi gue bersyukur kalau dia mati sekalian. Ingat Andrhea, cewek yang lo lukain adalah adik gue!" Bisma melayangkan kembali pukulannya, namun tertahan oleh suara lirih dari Andrhea.
"Aku siapa kamu, kak?" lirih Andrhea. Semua terdiam dengan bisu. "Hahaha... Bodoh sekali aku ini, padahal aku tau bahwa aku ini orang asing untuk kalian. Nyawaku pun tak ada harganya bagi kalian." Andrhea terbatuk hingga mengeluarkan darah membuat seisi sekolah panik melihatnya.
Bisma dan Dimas berlari menggendong Andrhea. Membawa tubuh rapuh itu pergi meninggalkan manusia berbulu domba. Berbeda dengan Banyu yang hanya menatap datar ke arah Andrhea, sedangkan Bisma dan Dimas menatapnya dengan permusuhan.
"Kalian akan tau bagaimana jahatnya seseorang yang terlahir dari baik. Terutama lo berdua, Arsen, Rayhan. Lo bakalan tersiksa atas hal yang udah lo lakuin sama Andrhea." Dimas berteriak marah dengan nada mengancam.
Rayhan terdiam bisu. Sedangkan Arsen menenangkan Anna, tetapi matanya tidak terlepas dari tubuh rapuh yang perlahan-lahan menghilang bersama rasa bersalah yang berkabung di hatinya.
_____________________________
Halo guy's...
Apa kabar nih?
Gimana sama chapture ini?
Ungkapin perasaan kalian setelah baca chapter ini disini.
Jangan lupa untuk dukungannya, bintang, dan comment sebanyak-banyaknya. Beserta share cerita ini ke teman, keluarga terdekat kalian.
See you👋
Salam
_Salhiyah_