Please, Look At Me

Please, Look At Me
Hati yang Risau


Wajib vote dan coment!


SIDER \= JOMBLO ABADI


Bantu ramaikan setiap paragraf cerita ini!


Dan share cerita ini ke teman kalian.


Pertanyaan random:


Kalian asal kota mana?


Baca jam berapa chapture ini?


Kalian dapat THR lebaran kemarin?


Happy Reading ❤❤


________________PLAM________________



Bapak Setan😈


Gue di luar. Cepetan keluar!!!


Mata Andrhea terbelalak kaget melihat notif berdenting di handphonenya. Buru-buru ia menyingkap gorden jendela kamarnya. Ia kembali terkejut saat melihat Arsen berdiri di depan rumahnya dengan bersedekap dada.


"Gila, ngajak ketemuan kayak ngajak tawuran. Segala bawa tongkat baseball," gumam Andrhea tidak percaya.


Buru-buru ia berlari menuruni tangga untuk menghampiri Arsen. Di pertengahan anak tangga, namanya terpanggil begitu jelas. Ia pun menghentikan langkahnya.


"Kak Andrhea mau ke mana?" tanya Anna setelah menutup pintu kamarnya.


"Mau main," Jawab Andrhea jutek.


Kening Anna mengerut melihat penampilan Andrhea. "Serius mau main pakai piyama? Ini juga masih terlalu pagi."


Andrhea jengah mendengarnya. "Mau lo apa?" tanya Andrhea agak membentak.


Bibir Anna tersenyum culas. "Pintain kunci mobil sama Ayah!" suruh Anna.


"Lo gila! Gue nggak se-akrab lo sama Ayah," sentakan Andrhea dengan mata melotot.


Masih dengan senyum culasnya, Anna melipat kedua tangannya di dada. "Gue cuma bantuin lo doang, kok. Biar makin akrab sama Ayah."


Melihat Andrhea hanya bungkam membisu. Anna mendorong baju Andrhea. "Udah, sana! Gih, pintain kunci mobilnya," titah Anna selayaknya nyonya besar.


Berulang kali Andrhea mendengus sebal. Mau tak mau ia harus meminta kunci mobil kepada Ayahnya. Mengetuk pintu ruang kerja ayahnya, lalu masuk dengan jantung berdebar-debar.


"Mau apa!?"


Tatapan tajam menyambut kedatangan Andrhea. Ia semakin dibuat gugup oleh pertanyaan sangat ayah. "Engghh... I-itu, Yah. Aku mau pinjam kunci mobil," ucap Andrhea terlalu cepat.


"Kamu yang mau pinjam?"


Andrhea mengangguk spontan, namun matanya kontan melotot teringat sesuatu. Seharusnya ia tidak mengangguk dan mengatakan kalau Anna yang ingin meminjamnya buka dirinya sendiri.


"Ambil di laci. Jangan lupa balikin mobilnya dengan keadaan tanpa lecet sedikitpun!"


Mata Andrhea mengerjap tidak percaya. Apakah ini tanda-tanda kalau ayah akan menerima kehadirannya? Bibirnya pun tertarik menampilkan senyum bahagia. "Makasih, Yah," ucapnya, setelah itu pergi meninggalkan ruang kerja ayahnya.


Kini, Andrhea lah yang tersenyum culas membalas tatapan remeh dari Anna. Lalu, ia melemparkan kunci mobil ke Anna. "Tuh, ambil. Thanks, udah bantu gue buat di marahin Ayah. Tapi, dugaan lo salah, karena Ayah kasih kuncinya tanpa ada kekerasan."


"Bye-bye, Anna." Andrhea berlari sambil melambaikan tangannya dengan senyuman mengejek.



"Lo berdiri di sana. Terus kalau gue udah kasih aba-aba, lo lempar bolanya. Ingat, jangan kenceng-kenceng lemparnya!" titah Arsen seraya melemparkan bola baseball.


Tubuh Andrhea terpelanting ke belakang akibat belum siap menerima lemparan bola dari Arsen. "Lo kira gue asisten lo!" sungut Andrhea marah.


"Oh, udah berani, ya, sama pacar!" omel Arsen.


Pipi Andrhea seketika bersemu merah. Mendadak ia menjadi salah tingkah. "Heh, ngapain lo salting kayak gitu!" sindir Arsen.


Bukannya menjawab, Andrhea berlari meninggalkan Arsen. Sedangkan, Arsen terkekeh lucu dengan kepala menggeleng-geleng.


"Satu... Dua... Tiga... Lempar!" teriak Arsen.


Berulang kali Andrhea manut mengikuti perintah Arsen. Entah ke kanan atau ke kiri. Berlari-lari mengejar bola yang di pukul oleh Arsen, lalu melempar kembali hingga ia kembali mengejar bola itu.


"Andrhea, ambil bolanya!"


"Andrhea, pasang kuda-kuda-nya yang bener!"


"Andrhea, lari! Jangan kalah sama bolanya."


Kepala Andrhea di penuhi dengan kata bola, bola, dan bola. Ia menatap tajam Arsen yang saat ini menampilkan raut polosnya. Dengan kekuatan penuh, ia melempar bolanya dengan emosi. Secepat itu pula bola yang ia lempar kembali ke arahnya. Dan menyentuh...


Duaghhh...


Tubuh Andrhea terjatuh ke tanah saat bola baseball mencium keningnya. Telinganya berdengung kencang. Berulang kali ia mengerjapkan matanya agar tetap terjaga kesadarannya.


Sedangkan, Arsen membungkuk seraya terpingkal mentertawakan Andrhea. Seakan tersadar dengan keadaan Andrhea. Arsen berlari menghampiri Andrhea. Rasa cemas menggaung di kepala Arsen. Namun, rasa gengsi memadamkan seketika.


"Baru gitu aja udah jatuh. Gimana mau lawan mereka?" ledek Arsen, walaupun nyatanya ia menggigit lidahnya setelah meledek gadis itu. "Udah lah bangun. Nggak usah pura-pura lemes kayak gitu!"


Dengan mata terpejam Andrhea tertawa kaku. "Iya, gue tau kok. Semuanya hanya terlihat kebohongan di mata lo. Tapi, emang lo nggak ada sama sekali rasa khawatir sama gue?" tanyanya.


Perlahan tubuh Andrhea bangkit sesekali meringis menahan sakit di kepalanya. Rasanya bumi terlalu cepat berputar, hingga membuat tubuh Andrhea oleng terjatuh dalam pelukan Arsen.


"Ck, gini nih kalau cewek punya gengsi tinggi. Bilang aja mau dipeluk, sok-sokan pakai jatuh segala." Arsen mendumel sesekali berdecak kesal.


"Please, deh. Sekali ini aja lo percaya sama gue," lirih Andrhea masih bersandar di dada Arsen.


Mendengar suara Andrhea yang volumenya hampir seperti bisikkan. Ia meraih kepala Andrhea untuk melihat keadaan gadis itu. "Ini darah beneran apa bohongan sih?" tanya Arsen seraya mencolek darah yang keluar dari hidung Andrhea.


"Cuma orang **** yang pakai lipstik di hidung!"



Di dalam kamar yang gelap Andrhea duduk dengan gelisah. Ia merasa ada yang ganjil dengan hari ini. Tak biasanya group keluarga gesrek sepi tidak ada notif.


Semoga kalian baik-baik aja. Walaupun, aku tak bisa menyangkal rasa gelisah ini.


"ANDRHEA!!!"


Tubuh Andrhea telonjak kaget. Buru-buru ia keluar dari kamarnya. Berbalik badan setelah menutup pintu kamarnya,  ia tertegun melihat senyum manis tercetak di wajah ayahnya. "Kenapa, Yah?" tanyanya ragu.


"Sini, sayang," titah Bagas dengan nada lembut.


Dengan ragu Andrhea melangkah mendekati ayahnya. "Habis main seneng nggak?" tanya Bagas.


Andrhea mengangguk senang. "Seneng banget, Yah. Apalagi setelah pulang, terus lihat ayah baik kayak gini bikin aku tambah seneng," ucapnya antusias.


Dalam sekejap senyuman Andrhea luntur saat rambutnya ditarik kencang oleh ayahnya.


"Ayah, kenapa tarik rambutku?"


"Oh, kamu mau tau kenapa?" tanya Bagas. "Pantes kamu seneng banget. Habis nabrak orang terus malah asik leha-leha di kamar. Masih kecil udah jadi buronan polisi!" Bagas semakin kencang menarik rambut Andrhea.


Kening Andrhea mengernyit meringis menahan sakit akibat tarikan rambutnya. "L-e-phas A-yah," mohon Andrhea.


"Enak aja mau minta lepas." Bagas mendorong tubuh Andrhea ke lantai. "Silahkan di bawa, Pak. Hukum dia sesuai perbuatannya," ucapnya, membuat jantung Andrhea semakin berdebar.


Dua polisi menarik tubuh Andrhea paksa. "Ayah yang udah ngerencanain ini semua, kan? Kok Ayah tega sih sama aku. Anak kandung sendiri Ayah jebloskan ke penjara. Ini pasti rencana balas dendam Ayah sama aku, " ucap Andrhea tak percaya.


"Saya nggak salah, Pak!" jelas Andrhea seraya melepaskan cekatan dua polisi.


"Anda bisa jelaskan nanti di sana."


Dengan tatapan nanar Andrhea menatap manik mata Bagas. Terlihat tak ada sedikit pun rasa khawatir tergambar di wajah tua sangat Ayah. Terpaksa ia mengikuti alur permainan ayahnya sendiri.


"Tunggu, Pak!" panggil Bagas menghentikan kedua polisi yang membawa Andrhea.


Ada satu harapan terbit di hati Andrhea. Namun....


Plaakkk


Satu tamparan mendarat di pipi kanan Andrhea. "Itu belum cukup untuk anak tidak tahu diri sepertimu," ucap Bagas setajam pisau.


Ku kira langit yang biru membuat suasana hati ayahku bersemu. Ternyata hatiku yang berkelabu. Tersakiti oleh kata-katanya yang semanis empedu.


TBC


Lanjut???


See you next part...


Salam manis❤


_Salbiyah_