Please, Look At Me

Please, Look At Me
Rumah Tak Bertuan


“ luasnya tak terjangkau, tetapi memang kehangatan keluarga tidak ada di dalamnya.” ———o0o———


Andrhea dan ketiga temannya di interogasi oleh pemilik pohon mangga yang ingin mereka curi. Suara rintihan sakit terdengar dari bibir Andrhea. Wanita paruh baya selaku pemilik rumah meminta pembantunya mengambilkan kotak P3K.


Arsen tertunduk dalam diamnya ketika ia diceramahi habis-habisan oleh Bundanya.


Semakin dongkol saat melihat senyuman dari Andrhea seakan mengejek dirinya.


“Sini, Nak! Bunda obati lukamu,” titah Riana lembut.


Pencitraan, batin Arsen.


Dengan takut-takut Andrhea menatap wanita paruh baya itu. Riana, Bunda Arsen tersenyum lembut meyakinkan Andrhea, lalu Andrhea duduk di samping Riana ragu-ragu.


“Seharusnya kamu main bareng sama teman perempuanmu terus belanja-belanja ala remaja sekarang,” tutur Riana sambil membersihkan luka-luka Andrhea.


Andrhea menatap lekat mata Riana seakan menemukan sosok hangat ibunya yang sudah lama tak bertemu. Rasa hangat menjalar dari hati sampai mata Andrhea membuat matanya berkaca-kaca.


Tes... Tes... Tes...


Mata Andrhea mengerjap sehingga buliran kristal matanya terjatuh melalui kedua pipinya. Ingin rasanya Andrhea berteriak sekeras mungkin untuk menghilangkan rindunya kepada sang ibu, namun apalah daya seorang Andrhea adalah sosok memendam rasa.


Riana kaget melihat Andrhea menangis buru-buru ia menghapus air mata itu. “Aduh, kok nangis sih. Bunda, terlalu kencang obati kamu, ya?” ujar Riana lembut yang digelengi kepala oleh Andrhea. “Sini, peluk Bunda!” titah Riana.


Andrhea langsung memeluk Riana erat sambil terisak. Seerat kentalnya darah dengan daging. Merasa ikut terharu Dimas, Banyu, dan Bisma menangis bersama-sama. Lebih tepatnya lagi berpelukan. Baru kali ini mereka melihat Andrhea menangis. Selama enam tahun mereka berteman tak ada tangisan di wajah Andrhea, melainkan hanya tingkah konyol dan ceria dari Andrhea.


Berbeda dengan pemuda berwajah dingin. Arsen menatap ngeri melihat Bundanya dan orang-orang yang belum dikenalnya menangis histeris di depannya. Nih rumah butuh diruqiyah kali ya, batin Arsen.


“Bunda,” lirih Andrhea mengusap kedua pipi Riana.


Riana semakin terisak mendengar panggilan Andrhea. Entah kenapa hatinya mengatakan bahwa Andrhea itu sosok yang rapuh, tetapi tertutup dengan senyumnya. Dimas, Banyu, dan Bisma meringsek maju memeluk Andrhea seperti teletubis.


“Makin gila,” gumam Arsen menggelengkan kepalanya. “Bismillahirrohmanirrohim. Allahu laa ilaha ilahuwa hayyul qayyum...” Arsen membaca ayat kursi dengan nada berteriak.


Pletak


Sebuah jitakan keras mendarat di kening Arsen. Riana melotot melihat tingkah laku anaknya. Suasana dari melankolis menjadi histeris.


“Heh, anak kucing. Kamu kira Bunda setan apa.”


“Kalo, aku anak kucing berarti Bunda induk kucing dong,” ledek Arsen. “Aduh... Duh...


Bunda, jangan ditarik kuping aku...,” teriak Arsen histeris.


Andrhea dan ketiga temannya tertawa melihat tingkah konyol ibu dan anak itu.


Sungguh ajaib sekali.


–––o0o–––


Lembayung senja menari di ufuk barat. Kicau-kicauan nyanyian burung melengkapi suasana sore hari. Tiga pemuda dengan satu pemudi sedang menikmati manisnya mangga hasil dari meminta atau lebih tepatnya lagi hasil curian.


“Nih, mangga rasanya juara deh. Ngelebihin mangga di pasar,” ucap Dimas antusias sesekali memakan mangga.


Bisma menoyor kepala Dimas. “Yehh... Si bego, namanya juga gratis. Gue tanya emang lo mau beli mangga sekilo terus yang makan kita bertiga, mau nggak lo?” tanya Bisma yang dibalas gelengan oleh Dimas.


Andrhea bangkit dari duduknya yang diikuti Banyu. “Udah lah, tuh mangga buat lo berdua. Gue cabut udah mau malam entar kanjeng tuan bisa ceramah berjam-jam.”


“Asikkk....” Dimas dan Bisma berteriak kencang saling berebut mangga dengan cara mendekapnya erat-erat.


“Gue temani masuk, ya,” tawar Banyu cemas.


Andrhea menepuk bahu sahabatnya itu. “Nggak usah. Gue bisa sendiri.”


Banyu menghela napas kasar. “Ya udah. Hati-hati!”


Andrhea masuk ke dalam rumahnya bersama dengan Banyu yang melanjuti perjalanannya menuju rumahnya. Sebenarnya hati Andrhea waswas memasuki rumahnya. Tidak biasanya ayahnya pulang cepat. Jantung Andrhea berdebar sangat kencang seperti ada beban berton-ton membuat jantungan putus seketika.


Dengan tangan bergetar Andrhea membuka pintu rumahnya. Terlihat ruang tamu sepi dengan penerangan yang minim. Buru-buru Andrhea berlari menaiki tangga menuju kamarnya, tetapi terhenti ketika suara berat menghentikannya.


“Mau ke mana kamu.”


Kepala Andrhea langsung menunduk menatap lantai. “Aku, mau ke kamar,” ucap Andrhea gugup tanpa berbalik badan.


“Sopan sekali kamu, berbicara tanpa memandang wajah saya,” sindir seorang lelaki paruh baya dengan mimik wajah yang menyeramkan.


“Bagaimana mau sopan, dirinya sendiri aja bergaulnya sama anak berandalan,” ucap pemuda berbaju biru yang berjalan ke arah Andrhea.


Kepala Andrhea mendongak secara kasar saat rambutnya ditarik oleh pemuda itu. “Iya, kan, adik manis?” tanya pemuda itu dengan menyeringai.


Andrhea meringis menahan sakit di kulit kepalanya terlebih hatinya lebih sakit saat kakak kandungnya sendirilah yang melakukan seperti itu. “Mereka bukan anak berandalan!” tukas Andrhea tajam.


Lalu, mata Andrhea menatap ke arah sang ayah. “Seharusnya Ayah tanya sendiri sama diri Ayah. Kenapa aku nggak sopan, sedangkan aku sendiri nggak pernah diajari apa itu rasa sopan,” ucap Andrhea menantang.


Gigi Bagas selaku Ayah Andrhea bergemeletuk geram dengan kedua tangan terkepal.


“KURANG AJAR KAMU!” teriak Bagas bergema di dalam rumah itu.


Plakkk...


Sebuah tamparan mendarat di pipi mulus Andrhea. Untung saja Andrhea langsung memegang pembatas tangga agar dirinya tak jatuh. Rayhan kakak Andrhea ikut kaget melihat betapa kerasnya Ayahnya menampar Andrhea.


Andrhea memegang pipinya dengan kenangan air mata. “Aku sayang Ayah, tapi Ayah lupa bahwa aku anak Ayah juga,” lirih Andrhea mengusap air matanya, lalu pergi meninggalkan mereka berdua.


Bagas dan Rayhan terdiam mendengar latihan Andrhea.


Di dalam kamar, Andrhea terisak sambil memukul dadanya pelan untuk menghilangkan rasa sesak.


“Ibu...,” lirih Andrhea. “Aku mau ikut Ibu.”


Andrhea semakin terisak menenggelamkan kepalanya di lipatan kedua tangannya merendam isak tangisnya.


______________________________________________


**Hai guys... 🤚🤚


Gimana perasaan kalian setelah baca chapter ini?


Sedih atau bahagia?


Oke cuma mengingatkan untuk jangan lupa like and comment sebanyak-banyaknya. Dan sekalian juga follow akun Author


nya.


Happy Reading❤❤**