Please, Look At Me

Please, Look At Me
Ranjau Hati


Kalau banyak typo tolong kasih dikoreksi ya.


Jangan lupa vot and comment sebanyak-banyaknya.


Dan sekalian sebarkan cerita ini ke teman kalian. Agar banyak yang tau sama cerita ini.


Happy Reading ❤❤❤


______________________________________________


Seminggu sudah berlalu Andrhea bekerja di café story life. Mulai dari menjadi seorang badut dan berakhir menjadi seorang waiters. Selama itu pula ia merasakan nyaman tak ada kendala apapun, kecuali kejadian pilu antara ia dengan Arsen.


Semenjak kejadian itu, ia dan Arsen seperti orang asing kembali. Tidak ada tatapan hangat, tetapi tatapan tajam yang ia dapatkan dari Arsen.


Andrhea menggeleng mengusir rencana yang ada di kepalanya. Mana mungkin ia yang harus terlebih dulu meminta maaf, sedangkan Arsen saja menganggapnya orang asing. Lalu, harapan apalagi yang ia harapkan, kecuali hilangnya kebencian yang sudah tumbuh di hati Arsen.


“Please, nggak usah berharap sama cowok yang kayak dia. Dan lo harus teguh pada pendirian lo sendiri,” gumam Andrhea.


Andrhea mengintip seseorang di balik tembok dapur café story life. Matanya memicing memperjelas siapa perempuan yang duduk di samping pemuda itu. Rasa penasarannya semakin membuncah saat melihat pemuda itu mengusap ujung bibir perempuan di sampingnya.


Apa-apaan itu pakai ngelap bibir bebek segala. Rasa panas menjalar di hatinya. Denyutan-denyutan kecil menyengat tubuhnya seperti kesetrum. Andrhea memegang dadanya dengan jantung berdegup kencang. Lalu, ia kembali lagi mengintip dia sejoli itu.


Mati gue. Mata Andrhea terbelalak saat mata tajam dari pemuda itu mengarah ke arahnya. Buru-buru ia berbalik badan untuk menghindar, namun naas dirinya malah menabrak salah satu teman kerjanya. Suara pecahan beling dari piring dan gelas membuat pengunjung heboh. Dan itu membuat Andrhea malu tak tertahankan.


“Maaf, Mbak. Gue nggak sengaja,” ucap Andrhea seraya mengumpulkan pecahan beling di lantai.


“Lo ngapain di sini?”


Kepala Andrhea mendongak. Spontan ia langsung berdiri tanpa memperhatikan pecahan beling yang berserakan di lantai. Tubuh Andrhea oleng seketika saat kakinya merasakan tusukan tajam menembus kulitnya. Namun, sepasang tangan kokoh menahan tubuhnya.


“Astaga, Andrhea lo ceroboh banget sih,” teriak Ratri histeris melihat darah dari kaki Andrhea. “Arsen cepat bawa Andrhea ke rumah sakit.”


Seolah jiwanya melayang. Andrhea terpaku pada sosok yang tak asing baginya. Gurat sendu tercetak jelas di sana. Dadanya merasakan sesak ingin meluapkan emosi. Tetapi, ini bukan perasaannya, melainkan perasaan adik kembarnya.


Di depan sana, Andriana Alexis sanchez berdiri dengan perasaan marah. Ia benci dengan orang yang berwajah sama dengannya. Kedua tangannya terkepal, air mata tergenang di pelupuk matanya. Jangan terulang kembali lagi.


“Rhea, lo masih sadarkan?” tanya Arsen khawatir.


“Please, jangan nangis,” gumam Andrhea mencengkram dadanya kuat-kuat.


Arsen berusaha melepaskan cengkraman Andrhea. Ia semakin khawatir saat wajah Andrhea semakin memerah dan napasnya yang sudah tak beraturan. Dengan cekatan ia menggendong Andrhea membawanya ke rumah sakit. Dan Arsen seakan lupa dengan kehadiran sosok yang hatinya selalu ia jaga. Namun, hari ini ia sudah berhasil memecahkan hati sosok itu hingga sebuah luka lama terbuka kembali.


“Dia pergi,” ujar Andrhea dengan tatapan kosong.


Kepala Arsen menunduk bingung dengan ucapan Andrhea. “Siapa?”


“Berlian yang harus gue jaga.”


___o0o___


Arsen masih berdiri di depan ruang UGD. Hatinya masih menelaah arti tersirat dari kata Andrhea. Seperti sebuah rahasia yang sangat penting bagi Andrhea. Dan itu pun semakin membuatnya penasaran dengan kehidupan Andrhea.


Pintu ruang UGD terbuka menampilkan lelaki paruh baya yang menggunakan jas dokter. Buru-buru ia menghampirinya.


“Bagaimana, Dok?”


“Apa temanmu mempunyai riwayat penyakit?”


Kening Arsen mengernyit mengingat hal aneh pada Andrhea, tetapi selama ia melihatnya tidak ada guratan sakit atau mengeluh sesuatu.


“Nggak, Dok. Emang ada apa ya, Dok?”


Senyum meragukan membuat Arsen tak percaya dengan gelengan kepala dokter.


“Tidak ada yang harus dikhawatirkan. Semuanya baik-baik saja,” ujar dokter berbohong. “Kalau begitu saya permisi.”


Arsen mengangguk. Lalu, ia masuk ke dalam UGD mendapatkan Andrhea yang terduduk di atas brankar dengan kepala tertunduk.


“Makasih,” ucap Andrhea tanpa melihat Arsen.


“Ya. Kaki lo udah nggak apa-apa, kan?” tanya Arsen.


Andrhea mengangguk. “Maaf udah bikin lo repot.”


Tanpa menjawab ucapan Andrhea, Arsen mengangkat tubuh Andrhea. Mengantar perempuan itu untuk pulang ke rumahnya. Rasa benci masih ada di hatinya, tetapi Arsen tidak tega meninggalkan Andrhea yang sedang terluka.


Di dalam mobil tidak ada yang membuka suara sama sekali pun antara Andrhea dengan Arsen. Cuaca hujan membuat suasana semakin dingin ditambah AC mobil yang dinyalakan. Arsen tahu bahwa tubuh Andrhea menggigil. Arsen masih fokus dengan jalanan, tetapi tangan kirinya meraba-raba di jok belakang mengambil sesuatu.


Sebuah jaket jatuh di pangkuan Andrhea. Andrhea bertanya melalui matanya.


“Pakai! Udaranya dingin,” titah Arsen.


Secanggung inikah jika ia bersama Arsen. Bagaimana ia bisa meluluhkan hati Arsen dan membuatnya jatuh cinta kepadanya. Sedangkan, ada dinding tebal yang menghadang dihati Arsen dan juga hilangnya dua puluh persen atas harapannya untuk mendapatkan hati Arsen.


“Kenapa liat gue kayak gitu.”


Andrhea menggeleng cepat.


Memutar tubuhnya menghadap ke jendela mobil. Memainkan air hujan yang mengembun di jendela mobil. Mengukir sesuatu dengan abstrak. Hatinya resah memikirkan seseorang. Mulutnya juga gatal ingin bertanya kepada Arsen. Tetapi rasa takut membuat nyalinya ciut.


“Lo mau tanya apa sama gue.”


Kepala Andrhea tertoleh melihat Arsen mengangkat sebelah alisnya. Gugup menghampirinya. “Engghhh… Tadi di café, lo sama siapa?” tanyanya ragu.


Ciiiiittttt…


Arsen mengerem mendadak. Dia baru ingat, jika sudah meninggalkan seseorang yang sangat berarti baginya. Bodoh, tanpa sadar Arsen meluapkan emosinya dengan memukul stir mobil.


Andrhea berteriak kecil terkejut dengan apa yang dilakukan olh Arsen. Matanya melirik takut ke arah Arsen.


“Gue salah ngomong, ya?” tanyanya hati-hati.


Tidak ada jawaban dari Arsen, melainkan suara perempuan yang terdengar sedang menangis. Ternyata sumber suara itu dari handphone Arsen. Siapa dia.


“Bee, maaf. Aku udah ninggalin kamu di sana. Tadi aku refleks cuman mau bantu aja. Orang yang aku tolong juga karyawan sepupu aku.”


Hanya karyawan Andrhea.


“Please, kamu jangan nangis, Bee. Ingat kamu baru aja keluar dari rumah sakit. Oke, aku ke sana sekarang minta maaf langsung sama kamu.”


Dengan amarah memuncak Arsen mengendarai mobilnya. Menghiraukan ketakutan dari Andrhea. Menurutnya yang terpenting hanya keadaan perempuan kecilnya.


Tubuh Andrhea bergetar. Keringat dingin mengalir ke seluruh tubuhnya. Kenangan kelam membuatnya trauma. Napasnya memburu, tangannya mencengkram erat stalbelt mobil.


Mobil Arsen berhenti di sebuah rumah bergaya klasik. Di depannya terdapat sebuah taman yang asri, walaupun rumahnya sederhana tetapi nyaman akan ketentraman.


"Turun!"


Suara dingin menyentak kesadaran Andrhea. Terlalu asik mengandai-mengandai, jika ia yang tinggal di rumah itu.


"Lo budek, ya. Gue bilang turun!" sentak Arsen.


Andrhea berjengit kaget. Ia memutar bola matanya malas. Mulai sedeng lagi bocah. Dengan kesal ia turun, lalu membanting pintu mobil Arsen sekencang mungkin. Masa bodo dengan keadaan pintunya yang terpenting membuat sang empu dongkol itu tujuannya.


"Gue masih punya kuping dua. Jadi, lo nggak boleh ngatain gue budek lagi."


"Alah, seterah lo aja. Nih,ambil sana pergi," Arsen melempar uang dua ratus ribu ke arah Andrhea.


Mata Andrhea terpejam saat terkena lemparan uang dari Arsen. Serendah itu harga diri lo, Rhea.


"Buat apa?"


"Ya buat ongkos lo pulang. Cukup gue antar lo ke rumah sakit. Nggak usah berharap lebih."


Andrhea tersenyum miris. "Makasih, atas uangnya. Lo seharusnya nggak usah bawa gue ke rumah sakit."


"Udah sana, lo masuk. Nanti cewek lo ke buru nangis lagi," usir Andrhea.


Tanpa mengucapkan apapun, Arsen pergi meninggalkan Andrhea dengan hati yang teriris. Andrhea memandang uang yang ada di genggamannya. Ia remas dengan sekuat tenaga uang itu.


Sadar, Rhea. Lo cuman sebuah figur biasa yang bisanya cuman diuangkan. Nyawa lo sendiri pun dapat diuangkan oleh mereka.


Andrhea berjalan ke arah pos satpam yang berjaga di depan rumah itu. Lalu, ia mengulurkan uangnya kepada satpam.


"Tolong, kasih ke Arsen, ya. Bilang aja kalau saya pulangnya pakai sayap ayam."


Satpam itu melongo mendengarnya. Ia pun hanya mengangguk-angguk saja.


Selang beberapa menit Arsen kembali keluar lagi. Jangan berpikir bahwa dia ingin mengantar Andrhea. Bukan, dia bukan ingin mengantar Andrhea, melainkan mengambil barang yang tertinggal di mobilnya. Tetapi, langkahnya tertahan saat satpam menyodorkan uang dua ratus ribu.


"Ini, buat apa, Pak?" tanya Arsen heran.


"Tadi, cewek yang sama aden kasih saya uang. Katanya dia nggak butuh."


"Terus dia pulang naik apa?"


"Naik sayap ayam."


"Hah. Sejak kapan sayap ayam bisa terbang," ucap Arsen tercengang.


Satpam mengangkat kedua bahunya dan pergi meninggalkan Arsen.


Gue keterlaluan nggak sih. Pikiran Arsen berkecamuk dengan tindakannya tadi. Apa ia menyakiti hati Andrhea dengan mengasihnya uang. Tadi itu lo cuman kasihan doang, bukan perasaan apa-apa.