Please, Look At Me

Please, Look At Me
selalu yang disalahkan


Budidayakan vot sebelum baca! Jangan lupa comment dan share cerita ini ke teman kalian maupun keluarga!


Happy Reading ❤❤


Semoga kalian suka.


____________________________________


“Aku hanya berdiam saja menyimpan kepahitan semua ini. Di manapun aku berada, tetap saja diriku yang selalu disalahkan.”


_Andrhea Alexis Sanchez_


___o0o___


____________________________________


5 februari 2020


Sunyi dan kecewa. Berkabung dengan balutan rinai hujan memborbardir bumi. Embun memeluk erat kegetiran hati. Aku terperangkap dalam kubangan hitam yang membentengi. Tidak ada cela yang mampu membawaku ke tepian bulan yang bersinar. Hanya kepekatan hitam yang membungkus alur kehidupanku.


_Tertanda, manusia palsu.-


Tangan ringkih yang tertancap selang infusan terkulai lemas di atas sebuah binder kulit retro. Tulisan seperti ceker ayam keriting sana-sini menghias lembar putih dalam binder itu. Tangan sebelah kirinya menggenggan erat tangan sebelah kanannya saat kembali tremor. Mencoba menahan untuk tidak menekan bel darurat di samping brankarnya. Bibirnya terkatup, wajahnya pucat pasi melihat selang infus berubah warna menjadi merah kepekatan.


"Ya ampun, Andrhea. Kenapa kamu nggak tekan tombol darurat,sih!"


Andrhea terdiam saat seorang lekaki paruh baya dengan balutan jas dokternya memberikan suntikan pada selang infusnya. Tangannya kembali semula. Tremor itu hilang, tetapi hanya sesaat tidak untuk selamanya.


"Sebenarnya penyakit apa yang telah hidup di tubuh ini, Dok?" tanya Andrhea lirih.


Hembusan napas kasar terdengar dari dokter. "Dugaan saya penyakit kamu lumayan berbahaya. Tapi kamu tenang aja ini hanya baru dugaan saya, biar nanti hasil lab yang mengatakan."


"Saya harap itu semua salah." Andrhea menekan bulat-bulat dalam hatinya untuk menyakinkan dirinya sendiri.


Suara deritan pintu membuat Andrhea dan dokter menatap siapa gerangan orang yang membuka pintu itu. Terlihat dua pemuda menyengir sungkan atas tindakannya barusan. Nyelonong masuk tanpa permisi. Mereka berdua semakin tidak enak hati saat dokter izin meninggalkan ruangan itu sebelum mereka masuk lebih dalam lagi.


"Sorry, kita kira tadi cuma ada lo aja." Bisma meringis kecil ketika Andrhea menatapnya tajam. "Sumpah, kita nggak nguping pembicaraan lo sama dokter." Bisma mengacunkan dua jarinya menyakinkan Andrhea.


"Iya, bener tuh kata Bisma." Kali ini Dimas membantu Bisma menyakinkan Andrhea.


Bukannya menjawab, Andrhea malah tidur memunggungi mereka. Sayup-sayup ia mendengar suara langkah kaki mendekat ke arahnya.


"Gue masih nggak percaya sama semua ini," ungkap Dimas setelah mendudukan diri di belakang Andrhea. "Padahal kita temenan udah dari kecebong sampe jadi emaknya kodok. Tapi, kenapa Banyu malah kesinggung sama kelakuan lo itu," sambungnya.


"Jangan dipasukin dalam hati lo ya, Rhea. Sejahat apapun mereka, kita tetap saudara," ucap Dimas.


"Ingat, Rhea. Kita ini saudara, walaupun bukan satu darah." Bisma menekan di setiap perkataannya. "Selamat malam. Semoga mimpi indah, hingga menemukan warna terang dalam hidup lo," bisik Bisma, setelah itu mengecup pelipis Andrhea yang disusul oleh Dimas.


Matanya terpejam, namun pendengarannya masih bisa menangkap kata-kata yang menggetarkan hatinya. Ia berharap, jika bisikkan itu mampu menghantarkanya pada mimpi yang lebih indah dari alur kehidupannya sendiri. Malam ini, ia tertidur mendekap coretan-coretan hatinya dengan erat. Masih bersama dengan lika-liku kehidupannya yang rumit. Sedangkan, dua pemuda itu tersenyum tipis melihat begitu possesif sekali dirinya memeluk binder kesayangannya.


___oOo___


Rumah nan megah milik seorang pengusaha yang lumayan terkenal di Jakarta, ricuh tidak tertolong lagi membuat seisi rumah panik melihat putri terakhirnya mengeluh dada kirinya sakit dan berakhir tumbang dengan napas yang tidak beraturan.


"CEPAT BAWA KE RUMAH SAKIT!!" teriakan menggelegar dari lelaki paruh baya membuat semua orang semakin panik.


Hujan dan suara petir menambah kesan suram. Mobil mewah itu membelah jalanan yang senggang menembus kumpulan anak panah hujan. Ada rasa ketakutan diantara mereka akan kehilangan.


Sama halnya dengan Andrhea yang termenung di kursi tunggu di depan ruangannya. Ketakutan yang melanda dirinya. Ia takut, jika memang benar-benar terjadi kepadanya untuk meninggalkan dunia ini selamanya. Walaupun ada sebersit pikiran untuk pergi secepat mungkin dari mereka, dunia, dan kenangan.


Baru saja Andrhea ingin masuk ke dalam ruangannya, langkanya tertahan dengan rasa penasarannya. Di ujung sana, para suster berlarian menjemput pasien yang baru saja datang. Fokusnya bukan tentang suster itu, melainkan siapa yang terbaring lemah di atas brankar yang didorong oleh beberapa suster.


Brankar itu melewatinya bersama orang-orang yang sangat ia kenal sekali. Dirinya seakan tidak terlihat oleh mereka. Ia tekankan kuat-kuat menghilangkan rasa sakit untuk saat ini. Melangkah dengan ragu, menghampiri mereka bersama rasa sakit yang tumbuh begitu besar dihatinya. Di sana, terlihat sepasang suami-istri berpelukan sambil menangis tersedu. Dua pemuda yang menampilkan raut frustasi dan kecemasan.


Lalu, apa kabar dengan dirinya? Dua hari menghilang dari mereka, tetapi tidak ada satupun yang mengkhawatirkannya. Apa ia harus menunggu bertahun-tahun untuk mendapatkan kembali kepercayaan dan kasih sayang itu?


"Ibu?" panggilnya bergetar.


Pasangan suami-istri itu melepaskan pelukannya. Mereka terkejut melihat keberadaan Andrhea yang memakai baju pasien dengan punggung tangan kanan tertancap infus.


"Kamu kemana aja? Kenapa bisa kayak gini?" tanya Indrisantika khawatir.


Aku hanya disini. Mereka yang membuatku seperti ini, gumam Andrhea.


"Aku sakit." Andrhea tetap mengulas senyum untuk menutupi luka yang menganga.


Kalau aku bilang akan berakhir dengan sama, yaitu penyesalan. Karena merekalah yang membuatku kesepian selama ini.


"Nggak apa-apa, Bu. Aku udah biasa," ucap Andrhea menenangkan. "Adekku kenapa, Bu?" tanyanya.


"Penyakitnya kambuh lagi," jawab Indrisantika.


Dengan ragu Andrhea menggenggam tangan ibunya. "Maaf," lirihnya. "Dua hari yang lalu, aku udah bikin adek terluka. Jujur aku nggak sengaja, Bu. Ibu mau kan, maafin aku?" tanyanya ragu.


"Oh ternyata kamu yang bikin putri saya terluka!!" teriak Bagas, membuat Andrhea terkejut hingga mundur beberapa langkah.


"Ayah, maksudku bukan begitu. A-ku, aku nggak sengaja, Yah." Andrhea mencoba menjelaskan, namun terhenti saat dirinya mendapatkan dorongan kuat dari sang ayah.


"Maksud kamu yang bagaimana, hah? Putri saya yang mengadu, jika ia disakiti seseorang atau merasa bersalah sama orang yang udah sakitin dia sampai dirinya sendiri masuk rumah sakit. Kamu sendiri malah senang-senang di sini, berlagak sakit dengan pakaian pasienmu itu."


Andrhea merasa hatinya tertohok mendengar tuduhan palsu dari ayahnya sendiri. Dengan kaki gemetar Andrhea bangkit. "Ayah, kenapa aku selalu salah di mata Ayah. Wajahku dengan adikku sama, Yah. Tetapi kenapa hanya aku yang Ayah benci?"


"Air matamu nggak mempan buat saya iba sama kamu. Cukup satu orang aja yang saya sayang pergi gara-gara kamu. Jangan sekali-kali kamu melukai putri saya!" ancam Bagas tidak main-main.


Lalu, Bagas mengikis jarak antaranya dengan Andrhea. "Cukup! Akhiri dramamu ini! Saya udah MUAK sama kamu. Dasar ANAK PEMBAWA SIAL!!" Bagas menyentak tangan kanan Andrhea hingga infus yang terpasang terlepas berhamburan.


"A-ya-h." Andrhea menatap takut ke arah ayahnya. Tubuhnya bergetar saat melihat darah segar mengalir deras di tangannya.


"Mohon maaf mengganggu."


Semua orang mengalihkan pandangannya ke arah dokter yang baru saja keluar dari ruangan ICU.


"Saya selaku dokter yang menangani anak anda ingin memberitahu. Kondisi anak anda cukup memprihatinkan. Fungsi jantungnya perlahan-lahan mulai turun dari biasanya. Saya sarankan untuk secepatnya melakukan operasi transplantasi jantung. Kami dari pihak rumah sakit berupaya untuk mencarikan donor yang cocok," jelas panjang lebar dokter.


"Kalau begitu, saya permisi."


Setelah dokter itu pergi, emosi Bagas kembali tersulut. Dadanya kembang kempis, menatap tajam Andrhea seakan ia lahap hidup-hidup. Sedangkan, Andrhea hanya menunduk takut menatap ayahnya.


Bagas mencengangkan lengan Andrhea sangat erat. Urat-urat di tangannya tampak menonjol menandakan bahwa ia harus meledakkan amarahnya. "Andrhea, kamu dengarkan apa yang baru saja dikatakan oleh dokter. Anak saya mau MATI, Andrhea. DI MAU MENINGGALKAN SAYA, ANDRHEA!!!" teriak Bagas meledak-ledak.


Arsen dan Rayhan mencoba menghentikan ayahnya saat Bagas sudah mencekik leher Andrhea. "Om, lepasin! Kasian Andrhea kehabisan napas!" Arsen mecoba membujuk Bagas.


"BIARKAN SAJA! BIAR DIA MERASAKAN SAKIT HATINYA SAYA. SAYA NGGAK PEDULI KALAU DIA MATI!!! "


Andrhea menangis tergugu. Wajahnya pucat seperti kapas. Darah di punggung tangannya tidak mau berhenti. Rasanya ia ingin menyerah untuk menghirup oksigen. Sebelum matanya tertutup ia sempat mengucapkan sesuatu. Entah itu akan membuat ayahnya senang sebelum ia benar-benar mati.


"Ambil jantungku, Ayah," bisik Andrhea sebelum menutup matanya.


Tubuh Andrhea luruh ke lantai saat Bagas melepaskan cekikannya. Bagas menatap tak percaya kedua tangannya. Hampir saja ia membunuh anaknya sendiri. Lalu, ia tatap lagi tubuh yang terbujur kaku di lantai. Otaknya mendadak kosong. Di sana, ia melihat anaknya tersenyum saat mengucapkan kata yang mampu meruntuhkan emosinya.


"Sialan kamu, Mas! Kamu mau bunuh anakku!!" jerit Indrisantika histeris memeluk Andrhea.


Bagas terkekeh dengan menatap kosong ke arah tangannya. "Tak apa aku kehilangan dia. Yang terpenting jantungnya akan menghidupkan kembali putriku."


"Indri, ingatkan aku. Jika dia sudah menyerahkan jantungnya kepadaku. Bilang kepadanya bila dia sudah sadar, tolong secepatnya untuk memindahkan jantungnya untuk putriku." Bagas pergi dengan menulikan telinganya atas makian dari mantan istrinya.


"BRENGSEK KAMU, MASSSS!!!!"


______________________________________


Haii guys....


Mohon di maafkeun updatenya lama, karena banyak kendala di dunia nyata.


Gimana perasaan kalian pas baca chapter ini?


Sedih atau biasa aja?


Kalo biasa aja berarti saya belum bisa bikin kalian nangis. Apa perlu saya kirimin bawang buat mata kalian supaya pada nangis pas baca chapter ini.


Oh iya, jangan lupa follow akunku, ya. Sekalian instagram ku @cingabie


Selamat malam.


See you next time


Salam


_Salbiyah_