
______________________________________________
*08 Februari 2020
Aku sangat berterima kasih pada mereka, sudah mengizinkan aku melihat bagaimana dunia menjahatiku dan perlahan-lahan membunuhku. Tidak masalah jika dunia yang membunuhku, tetapi yang menjadi permasalahannya ada pada yang menempatinya. Ya, itu mereka. Menganggapku tiada, namun ragaku ada di hadapannya.
_Tertanda, Manusia Palsu*_
Baru saja aku menutup buku yang ada di hadapanku. Mengeluh bersamanya atas apa yang aku rasakan. Terkunci dalam suatu ruangan membuatku terbiasa. Sepi dan gelap, menjadi pewarna dalam hidupku.
Aku tertawa miris saat melihat tubuhku memakai gaun putih sederhana, aku termenung memikirkan kejadian tadi. Untuk apa aku memakai gaun ini, jika hanya untuk terkurung dalam sangkar kelam. Suara alarm perutku berbunyi. Ah, sampai lupa bahwa aku tidak mengisi perutku sejak siang, padahal hari sudah malam.
Suara deru mesin mobil masuk dalam gendang telingaku. Ternyata mereka mulai berdatangan. Aku buru-buru melangkah mendekati jendela. Gerimis membuat jendela mengembun, aku pun menyekanya walaupun masih tampak buram.
Di sana, banyak orang berdatangan memenuhi taman samping rumahku. Gerimis tidak membuat mereka menepi sejenak dalam kebahagiaan yang sedang dirasakan oleh sepasang suami-istri. Mereka adalah orang tuaku.
Pasti kalian bertanya-tanya kenapa aku masih berada di kamar, kenapa tidak bergabung bersama mereka. Jawabannya adalah aku yang tidak terundang. Bukan hanya tidak terundang, melainkan bahwa kehadiranku akan membuat pesta mereka berantakan.
"*Nanti, kamu pakai baju ini, ya," pinta Anna memberikanku sebuah gaun berwarna putih polos.
"Aku juga pakai baju yang sama kayak kamu. Biar kita dianggap kembar sama orang lain," lanjutnya. "Eh, padahal kita memang kembar dari lahir ya." Anna terkikik geli saat mengingat ucapannya.
Aku mengangguk. Tidak ada senyum di bibirku. Aku bukannya tidak bahagia atas pesta yang diadakan kedua orang tuaku dalam rangka ijab qabul keduanya. Namun, aku resah memikirkan perilaku ayah saat mengetahui aku ikut dalam pestanya.
"Jangan khawatir, biar aku yang bilang sama ayah nanti." Suara Anna menyadarkanku dalam lamunan kegelisahan hatiku.
"Makasih, Anna."
"Sama-sama. Kita ini saudara." Anna memelukku dengan erat. Hatiku menghangat hingga seulas senyum tersungging di bibirku.
Melihat diriku di cermin membuatku tersipu malu. Ya, ini adalah hari kedua aku ikut acara bersama mereka. Menjadi bagian dari salah satu diantara mereka. Rasa bahagia sudah tidak tertahankan.
Berjalan melangkahi satu persatu undakan tangga. Sebisa mungkin aku menampilkan senyuman yang manis. Tinggal lima anak tangga lagi aku akan menyentuh lantai dasar rumah ini. Namun, langkahku terhenti terpaku atas teriakan marah yang membahana.
"DIA BUKAN ANAKKU, INDRI!!!"
Siapa yang sedang dibicarakan ayah. Apa mungkin kak Rayhan? Atau Anna? Tapi bukannya mereka sangat disayangi ayah. Lalu, anak siapa yang dibicarakan oleh ayah, hingga membuatnya begitu marah.
"Sadar, mas. Dia itu anak kamu, anak yang pernah kamu sayangi akan keberadaannya!!" indrisantika membalas teriakan Bagas.
Jantungku berdetak kencang menduga-duga siapa orang itu. Aku menajamkan pendengaranku agar tidak satu katapun yang terlewatkan.
"AKU BILANG DIA BUKAN ANAKKU! DIA ANAK HARAM DARI WANITA DAN LELAKI BRENGSEK ITU!!"
"Siapa yang kamu maksud, mas. Semua anakku nggak ada yang namanya anak haram. Dia anak kandungku, mas."
"KAMU LUPA INDRI. AKU INGATKAN LAGI, DIA BUKAN ANAK KITA. NAMANYA——"
"Andrhea," panggil Anna, menyela ucapan ayahnya.
Sial, Anna. Sungguh merusak suasana sekali. Padahal sedikit lagi aku akan tahu siapa yang dibicarakan ayah.
Lalu, Anna menarikku untuk bergabung dengan mereka. Aku melihat wajah ayah semakin tegang dan wajah ibu pun tidak kalah terkejutnya.
Gimana nggak mau dengar langkah kakiku. Ibu saja yang terlalu sibuk berdebat dengan ayah.
"Ngapain kamu di sini?"
Pertanyaan sinis membuatku menoleh ke arah ayah. Wajah tuanya menegang dengan urat-urat yang menonjol di lehernya.
"Mau ikut pesta ijab qabul kedua ayah sama ibu," ucapku terlalu polos.
"Balik ke kamarmu!" titahnya.
"Kenapa, yah?" tanyaku bingung.
"SAYA BILANG, BALIK KE KAMARMU!!!"
Aku terkejut mendengar teriakkannya. Sampai mataku terpejam erat. Perlahan aku bukan kelopak mataku, mengintip kemarahan ayah.
"I-ya, Ayah." Aku pun berjalan kembali ke kamarku. Ada rasa sesak di relung hatiku. Aku ingin berteriak di depan wajahnya kalau aku berhak untuk ikut merayakan kebahagiaan mereka.
"Kunci pintumu. Jangan sekali-kali kamu keluar dari kamarmu kalau nggak mau saya kasih hukuman! Dan jangan kamu nampakkan wajahmu di depan pesta saya!"
Aku mengangguk patuh. "Lebih baik ayah anggap aku udah mati dimakan tanah. Daripada aku ada, tetapi selalu ditiadakan di mata ayah."
Tidak ada sahutan kembali. Aku berlari masuk ke kamar, lalu membanting pintu sekencang mungkin*.
Praanngggg!!!
Aku terlonjak kaget saat sebuah kerikil menghantam jendela kamarku. Lebih mengejutkannya lagi saat melihat siapa yang melemparkan kerikil itu.
Arsenio Orlando, pelaku yang melemparkan kerikil. Aku mengernyit tidak paham saat tangannya bergerak merangkai kata. Dalam keadaan gerimis tetap saja tidak kelihatan, apalagi jarak antara aku dengannya lumayan jauh.
Keningku tertempel di jendela dengan kedua tangan menempel di samping kedua sisi kepala. Mataku menyipit mempertajamkan pandanganku. Hingga akhirnya aku menangkap maksud gerakan tangannya.
Ayo kita bertemu, sayang.
______________________________________________
**Halo guys...
Gimana kabar kalian? Semoga sehat selalu, ya.
Suka nggak kalo aku update cepat?
Gimana nih perasaan kalian setelah baca chapture ini.
Lanjut cepat gak?
Jangan lupa dukungannya. Vote and comment.
Karena aku suka sama bintang yang bersinar**.