Please, Look At Me

Please, Look At Me
Kencan (tidak) Sempurna


“Aku kira hati kamu menetap ternyata nomaden. Suka berpindah-pindah tempat.”


_Andrhea Alexis Sanchez_


___o0o___


Terik matahari sangat menyengat membuat kulit siapa saja yang berada di bawah sinarnya merasa terbakar. Kabur polusi kendaraan menambah kelengkapan pada hari ini. Kepadatan penduduk di ibukota membuat jalanan macet oleh hingar-bingar kendaraan bermotor maupun mobil.


Dengan teriknya matahari membuat seseorang di balik kostum badut panda mengeluh lelah. Keringat panas sudah membanjiri seluruh tubuhnya. Padahal orang itu ingin sekali istirahat, namun ia sadar bahwa brosur yang ada di tangannya masih ada dan itu lumayan cukup banyak.


Tidak perduli dengan kostum badutnya kotor. Ia duduk di pinggir trotoar jalanan. Lalu, membuka kepala kostum badutnya. Menghela napasnya gusar sesekali mengipas-ngipasi wajahnya menggunakan brosur.


“Hidup gue gini amat, dah. Di dunia aja udah sengsara, apalagi di akhirat nanti.” Andrhea sosok di balik kostum panda mengeluh dengan jalan hidupnya.


Matanya memancing memperjelas penglihatannya. Terkejut saat melihat ketiga temannya yang berjalan ke arahnya. Dengan tergesa-gesa ia berlari menghindar dari jangkauan temannya. Ia juga merasakan beban di tubuhnya menghilang saat rasa gelisah melandanya membuatnya semakin bersemangat berlari


Angin bertiup kencang menerbangkan beberapa helaian rambut Andrhea hingga menutup pandangannya. Matanya berbinar saat melihat café tempat kerjanya sudah dekat dijangkau. Terlalu fokus berlari sampai tidak melihat sebuah lobang besar yang ada di depan sana. Dan memupuskan harapan Andrhea seketika.


Bruukkkhhh…


Tubuh Andrhea terguling-guling di aspal. Semua pasang mata menatap ke arahnya. Ada yang iba, tertawa geli, dan cuek. Berbagai mimik wajah yang ditampilkan oleh orang-orang disekitar Andrhea membuat perempuan itu malu atas tingkah lakunya. Buru-buru ia bangkit dan melanjutkan jalannya dengan kepala menundukk.


Kakinya terseok-seok menahan sakit di kakinya. Setiap langkah ia pun mendesis kesakitan. Keningnya pun menjadi korban kekonyolannya sendiri.


Ratri terkejut melihat keadaan Andrhea yang sangat hancur. Kening berdarah, kostum yang kotor penuh lumpur, dan jalannya pun terseok-seok.


“Ya ampun… Andrhea lo habis kena bencana di mana? Sampai kayak orang gila gini.” Ratri berteriak heboh.


Andrhea melotot saat Ratri berteriak membuat pengunjung café menatap aneh ke arahnya. Ia tersenyum canggung meminta maaf kepada pengunjung, lalu ia tempeleng kepala Ratri dengan kesal.


“Bisa diem nggak sih. Mulut udah kayak knalpot bocor.” Andrhea mencecar Ratri.


Baru saja Ratri membuka mulutnya, namun tertahan saat melihat Andrhea terburu-buru memaki kepala kostum badutnya terbalik. Wajahnya memerah menahan tawa akibat tingkah laku absurd Andrhea.


“Rhea, itu kebalik,” ucap Ratri.


Namun, Andrhea tetap Andrhea dengan sejuta tingkah absurdnya. Tidak peduli dengan rasa malu demi bersembunyi dalam keadaan darurat.


“Ratri, di suruh ke dapur sama, Mas.”


Sial. Dia mendekat, umpat Andrhea dalam hati.


“Siap, bos.” Ratri berjalan meninggalkan Andrhea dengan orang itu. Sebelum itu tangannya ditahan terlebih dahulu oleh Andrhea, namun demi kepanjangan hidup gajinya. Ia rela meninggalkan teman barunya itu.


Perlahan-lahan Andrhea melangkah untuk kabur dari tempat itu. Namun, ia melupakan bahwa ia memakai kepala badutnya terbalik hingga menutupi pandangannya. Sudah terlalu malu untuk membuka kostumnya. Berjalan dengan tangan meraba dan sesekali menyenggol meja pelanggan. Langkahnya terhenti saat terasa sebuah tepukan di pundaknya.


Huusssttt…


Seketika kepala kostum Andrhea telah berpindah tangan ke orang lain. Tepat sekali angin bertiup kencang membuat rambutnya acak-acakan. Tangannya terhenti saat merapihkan rambutnya melihat sosok yang sangat dekat dengan dirinya dengan jarak lima cm.


Orang itu semakin mengikis jarak antara ia dengan Andrhea. Jantung Andrhea semakin tidak terkontrol lagi. Ia takut jika orang itu mendengar degup jantungnya yang berdebar hebat.


“Katanya nggak mau bergantungan sama seseorang, tetapi jaga diri sendiri aja nggak becus.” Arsen, pemuda yang saat ini sedang menempelkan plester di kening Andrhea sambil mengomel-ngomel.


Hembusan napas hangat dari Arsen membuat tubuh Andrhea menegang menahan gejolak yang ada dihatinya. “Kok, lo bisa ada di sini?” tanya Andrhea gugup.


“Bukannya lo yang mau bikin gue jatuh cinta sama lo sendiri?” Arsen melemparkan balik pertanyaan kepada Andrhea.


“Hah, jatuh cinta? Bukannya kita udah pacaran, ya.” Andrhea mengingatkan kembali Arsen.


“Iya, kita udah pacaran. Tetapi setiap orang berbeda mendefinisikan arti dari sebuah jatuh cinta. Sama halnya dengan gue. Menjalankan hubungan ini, tetapi nggak ada rasa sedikitpun yang buat gue jatuh cinta sama lo. Makanya, gue tagih janji lo.”


Ingat, Rhea. Dia cuma mau bantu lo aja. Nggak mungkin lo bisa milikin hati dan cintanya.


Andrhea terkekeh sinis. “Thanks. Udah mau ingatkan gue. Gue pastiin kalau lo jatuh cinta sama gue secepatnya dan segera mengakhirkan sandiwara ini.”


Arsen semakin mengikis jarak antaranya dengan Andrhea. “Lo milih untuk maju?” tanya


Arsen yang diangguki Andrhea.


“Kalau gue bikin lo nangis atau sakit hati berkepanjangan. Apa lo masih mau maju dan meneruskan sandiwara ini?”


Lidah Andrhea kelu. Terdiam mencerna makna yang terkandung di setiap kata yang diucapkan Arsen. Menatap mata Arsen mencari jawaban di sana, namun kekosongan yang mengisi di sana.


“Gu—e. Gue bakalan tetap maju meneruskan semua ini. Masa bodo dengan sakit hati. Masa bodo gue nangis gara-gara lo. Yang terpenting gue punya kenangan yang bisa gue kenang. Walaupun kenangan itu menyakitkan buat diri gue sendiri.” Tenggorokan Andrhea tercekat saat mengatakan semua kebohongan yang baru saja ia perbuat.


“Oke, kalau begitu kita sepakati perjanjian ini.” Andrhea menyambut uluran tangan Arsen dengan gemetar.


Arsen berlalu saja setelah membuat hati Andrhea pecah berkeping-keping. Tidak perduli dengan banyak pasang mata yang menyaksikan mereka. Lalu, ia menghentikan langkahnya memutar tubuhnya membuat Andrhea ketar-ketir menahan getaran di tubuhnya.


“Oh iya. Nanti lo jangan pulang dulu sekalian ganti baju lo dengan gaun yang bagus. Gue udah booking satu ruangan khusus untuk kita kencan nanti.” Setelah mengucapkan itu Arsen melanjutkan jalannya pergi meninggalkan Andrhea dengan sejuta tanda tanya di kepalanya.


___o0o___


Di pantulan kaca toilet seorang gadis berdiri menatap dirinya sendiri dengan pandangan aneh. Tubuhnya terbalut gaun hitam polos, namun wajahnya tampak biasa saja. Tidak ada riasan sedikitpun di sana.


“Gue merasa murahan kalau kayak gini,” gumamnya.


“Meminta sesuatu yang nggak akan bisa gue miliki. Dan gue sendiri terlalu bodoh udah minta tolong sama orang yang salah,” lanjutnya lagi.


Gemerlap cahaya lilin pertama kali menyambut kedatangan Andrhea dalam ruangan itu. Terdapat meja makan yang sudah dihias sedemikian rupa. Namun, ada yang aneh dalam pandangannya. Kenapa kursinya ada tiga, bukankah harusnya dua. Lalu, untuk siapa kursi satunya lagi.


“Maaf. Gue telat.”


Andrhea terkejut saat mendengar suara serak basah tepat di telinganya. Ia terpana dengan ketampanan dari sosok yang saat ini ia kagumi di hadapannya. “I-ya. Nggak apa-apa, kok.”


“Mari kita mulai kencan kita, Nona,” ajak Arsen mengulurkan tangannya berlagak seperti pengawal kerajaan.


Andrhea tersenyum kecil saat diperlakukan seperti itu. Hal kecilpun mampu membuatnya berbunga-bunga. “I-ya, Tuan.”


“Arsen. Makasih banyak udah menghidupkan kembali harapan gue.” Andrhea tersenyum menatap hangat sosok Arsen.


Arsen mengangguk pelan. “Itu udah tugas gue untuk lo. Juga dengan lo sendiri yang punya tugas buat gue jatuh cinta sama lo.” Arsen mengingatkan pada Andrhea.


“Ya. Gue ingat itu.” Andrhea mengangguk mantap. “Boleh gue minta sesuatu sama lo?”


“Apa?” Arsen menghentikan gerakan memotongnya. “Apa yang perlu gue kabulin untuk saat ini?” tanyanya.


Perlahan jari jemari Andrhea menggenggam tangan Arsen.


“Boleh gue minta hati lo?”


“Hah, Hati gue?” mata Arsen membulat mendengar permintaan Andrhea, lalu ia terkekeh sinis. “Hahaha… Lo gila, ya. Kalau hati gue buat lo, sama aja gue nyerahin nyawa gue sendiri. Lo juga bakalan rugi sendiri, karena nggak ada yang mau bantuin lo dengan permintaan aneh lo selain gue.”


Genggaman Andrhea merenggang dan terlepas mendengar nada sindiran dari Arsen. “Gue serius, Sen.” Andrhea menatap Arsen dengan serius.


“Gue lebih serius dari lo, Andrhea.” Nada bicara Arsen berubah menjadi dingin. “Hal apa yang belum gue wujudkan permintaan lo. Gue serius ngelakuin semua ini demi orang asing yang belum gue kenal seluk-beluknya. Harusnya lo bersyukur gue nggak nolak permintaan lo mentah-mentah. Permintaan apa lagi yang belum gue wujudkan sama lo?”


“Hati dan cinta!”


Arsen terdiam seribu bahasa. Kalimat yang belum bisa ia berikan pada Andrhea. Ah, lebih tepatnya tidak akan bisa. Namun, roda kehidupan berputar. Tuhan juga bisa membolak-balikan hati. Siapa tahu saja beberapa hari kemudian atau jam, detik, hatinya bisa berbalik arah.


“Lo diam berarti itu iya. Lo nggak akan kasih kedua hal itu sama gue.” Mata Andrhea menikam tajam pada Arsen.


Andrhea bangkit membuat suara nyaring dari kursi yang didudukinya. Tubuhnya hampir oleng sebelum ia bisa menyeimbangkan kembali. Menahan rasa sakit di tubuhnya dan juga hatinya. Ia terluka, raga dan jiwanya.


“Sen. Kalau lo udah berubah pikiran atau lo mau kasih kedua permintaan gue. Tolong beritahu gue, karena gue tetap ada menunggu kabar baik dari lo. Gue juga siap jadi rumah kedua lo. Kapan aja lo mau datang, pintu terbuka lebar buat lo.”


Setelah mengatakan itu, Andrhea berjalan meninggalkan Arsen. Langkahnya terhenti saat berpapasan dengan sosok yang tak asing baginya.


“Anna. Kamu ngapain ke sini?” tanya Andrhea.


“Loh, emang acaranya udah selesai, ya? Apa aku telat datangnya?”


“Acara apa?” kening Andrhea mengernyit bingung.


“Bukannya kakak yang undang aku makan malam sama kalian. Tadi, Arsen bilang ke aku, kok.” Anna memasang wajah polosnya.


Andrhea tersenyum miris. “Oh i-ya. Tadi aku yang suruh Arsen ajak kamu makan malam. Engghhh… A-ku mau  balik duluan, ya.” gugup membuat Andrhea sulit mencari alasan dan hampir membuat Anna tak percaya padanya.


Dinginnya malam membuat tubuh ringkih Andrhea menggigil. Berdesis disetiap langkahnya menahan rasa sakit di kepala dan mual. Kilat-kilat menyala di atas langit menandakan bahwa hujan akan turun. Angin kencang pun ikut memulai semua ini. Dan semua itu tidak terelakkan lagi saat ribuan air menyerbu bumi. Membasahi sekujur tubuh Andrhea. Beban di kepalanya semakin berat dan juga rasa mual makin mendesaknya. Air yang menggenangi wajahnya membuat pandangan Andrhea buram.


TIN… TIN… TIN…


Byuurrrr…


Tubuh Andrhea bagaikan patung saat air tergenang di jalan berpindah ke tubuhnya. Ia tidak bisa melakukan apa-apa selain memejamkan mata erat-erat.


Mobil itu berhenti di keheningan hujan deras. Kaca mobil itu diturunkan hingga terlihat sepasang pemuda-pemudi. Yang satu menatap prihatin dan yang satunya lagi hanya menatap datar.


“Kamu kok keterlaluan banget, sih. Ini udah malam dan kamu bikin dia tambah basah!” Anna berteriak kesal dengan kelakuan Arsen.


Buru-buru Anna membuka pintu mobil dengan payung yang ada di tangannya, tetapi terhenti saat mata tajam Arsen melarangnya.


“Kamu diam atau aku nggak akan mau ketemu kamu lagi!” titah Arsen dengan nada mengancam.


“Tapi dia kakak aku. Dia kedinginan, aku harus tolong dia,” lirih Anna.


“ANNA!” tanpa sadar Arsen membentak Anna hingga membuat mata gadis itu berkaca-kaca.


Arsen merampas payung yang dipegang oleh Anna. Lalu, menekan pedal gas hingga mobil itu mundur dan berhenti tepat di hadapan Andrhea. Ia turun tanpa menggunakan payung mendekati Andrhea. Tangannya mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu dari dompetnya. Sedangkan, Andrhea menatap bingung dengan keberadaan Arsen.


“Nggak usah cari perhatian orang, karena ujung-ujungnya orang enek lihat kelakuan lo. Gue udah bilang bakalan kabulin permintaan lo, tapi nggak juga dengan cara kayak gini. Yang ada gue semakin BENCI sama lo.”


Ucapan pedas Andrhea membuat hati gadis itu hancur. Air mata telah tumpah ruah, namun tertutupi oleh hujan. “Kalau lo nggak suka lihat gue kayak gini. Lo cukup tutup mata buat nggak lihat hal yang buat lo jijik. Lo cukup tutup kuping, kalau lo nggak mau dengar tangisan gue. Dan lo cukup tutup hati lo, kalau lo emang benci sama gue dan hilangkan rasa kasihan lo sama gue, karena gue nggak butuh belas kasihan lo.”


Ternyata kata-kata itu tidak mampu membuat Arsen tersadar. Melainkan pemuda itu terkekeh sini mendengarnya. “Gue nggak butuh nasihat lo. Ini, ambil bayaran lo malam ini buat ongkos pulang.”


Andrhea menatap tajam Arsen. Menepis kasar tangan Arsen yang menyodorkan beberapa lembaran uang ratusan ribu. Ia menggeleng tidak percaya dengan Arsen. Sebegitu hina dirinya hingga dibayar dengan uang.


“Dua kali lo ngelakuin itu, Sen. Lo anggap gue cewek murahan. Lo anggap gue juga sama kayak cewek yang menjajahkan tubuhnya ke lelaki hidung belang. Sebegitu hinanya diri gue di mata lo.” Andrhea sudah tidak bisa menahan isak tangisnya lagi.


“Itu, buat gue, kan?” tanya Andrhea parau, menatap ke arah payung yang dipegang oleh Arsen. “Makasih atas keperdulian lo.” Setelah itu Andrhea berjalan menjauh dengan payung yang dipakainya, walaupun percuma tetapi ia hanya untuk menghargai.


Andrhea berbalik arah menuju ke Arsen. Senyum manis terukir di bibir Andrhea, membuat Arsen bingung.


“Gue lupa mau bilang makasih sama lo. Makasih atas pujian dari lo sampai lo sendiri harus menyandang predikat cowok paling ter-brengsek di dunia ini.” Andrhea masih tersenyum, namun tidak lama lagi terganti dengan wajah dinginnya. Dan pergi meninggalkan Arsen dalam kubangan masalah.


*Satu jam yang lalu, kamu buat aku berharap lebih untuk bisa mendapatkan hati kamu. Satu menit yang lalu, kamu membuat aku membenci harapan itu. Detik ini, aku masih berpikir bahwa aku masih sangat membutuhkanmu, hingga kebenciannya itu sirna tetapi tetap saja sakit hati yang aku rasakan tidak akan pernah berubah.


Akan Aku tulis rasa sakit ini dalam journalku. Hingga saatnya tiba, kamu akan ingat betapa jahatnya kamu dulu kepadaku.


______________________________________________


**Jeng... Jeng... Jeng...


Hai gimana sama chapture ini?


Tetap like dan comment sebanyak-banyaknya.


Bantu share cerita ini ke teman, saudara, kekasih kalau ada😄 dll. Biar tambah populer cerita ini.


Salam.


_Salbiyah***_