Please, Look At Me

Please, Look At Me
Kabar baik atau Kabar Buruk?


"Mau apa lo ke sini? Mau nyakitin Andrhea lebih dari ini atau melenyapkannya dalam kehidupan kalian," tuding Bisma mencengkram kerah baju Rayhan.


"Dua hari lalu, lo tolak dia mentah-mentah. Lo permalukan dia di depan umum. Terus lo nggak malu ngejilat ludah lo sendiri? Walaupun dia bakalan mati sekaligus." Dimas membeberkan kembali tentang kejadian dua hari yang lalu.


Rayhan terdiam. Raut wajahnya langsung berubah datar. Menatap tajam balik ke Bisma seakan menantang balik.


"Cuih. Lo masih bisa nunjukin sifat asli lo setelah bikin sahabat sekaligus adik gue sekarat. Ingat, Rayhan. Orang sombong tanpa otak akan kalah dengan orang lebih sombong yang punya otak!" Tekan Bisma memperingati.


Bisma beralih ke Arsen. Napasnya memburu melihat wajah pemuda itu yang tidak ada rasa menyesal sama sekali.


Buughhh


Satu pukulan mendarat di pipi kanan Arsen hingga sudut bibirnya berdarah. Tetapi pemuda itu tidak bergeming.


"Pertama, salam kenal buat lo yang udah masuk dan merusak kehidupan Andrhea.


Buugghhh


"Kedua, buat lo yang udah jadi pacar nggak becus."


Buugghhh


"Ketiga, buat kegantengan lo yang bikin cewek-cewek berpaling dari gue, termasuk Andrhea."


Alis Arsen terangkat. "Bukan salah gue yang lahir udah ganteng. Salah lo yang lahir biasa-biasa aja, tapi berprilaku kalau lo itu lebih ganteng dari siapapun. Bullshit tau nggak!"


Wajah Bisma seketika memerah menahan malu. Jika dilihat secara kasat mata, hidungnya sudah mengeluarkan asap. "Kurang ajar lo!!!"


Kepalan tangan Bisma melayang saat ada tangan kekar berotot menahan tangannya di udara. "Tolong kerjasamanya. Di sini bukan hanya kalian aja, karena ini tempat umum. Jika kalian masih berkelahi, maka saya tidak segan-segan untuk mengusir kalian dari sini!!" ancam orang itu.


"Ayah, bagaimana kondisi Andrhea?" tanya Arsen saat mengetahui siapa yang mengancam mereka. "Apa dia udah sadar?"


"Kondisinya cukup buruk. Ayah harap kamu bisa jaga sikap di sini," jelasnya, lalu menatap ke Bisma dengan serius. "Kamu, wali pasien yang ada di dalam?" Bisma mengangguk.


"Saya selaku Ayah dari Arsen, ingin meminta maaf atas perlakuannya yang bodoh. Pukul aja kalau memang dia salah," ucap Ayah Arsen.


"Yah, apaan sih. Ngapain minta maaf segala, aku nggak bersalah," bantahnya.


“Kamu kira ayah nggak pernah muda kayak kamu. Seenggaknya ayah tau kalau seorang perempuan harus dihormati!”


Nyali Arsen mendadak ciut saat ayahnya melotot ke arahnya. Mulutnya tertutup rapat. Tidak bisa membantah lagi.


“Ingat, Sen! Kesempatan nggak datang kedua kali." Setelah mengucapkan itu, ayah Arsen pergi meninggalkan anaknya dan yang lainnya.


Diam-diam Rayhan menerobos masuk ke dalam ruangan Andrhea. Menatap tajam sosok yang terbaring lemah.  Ada rasa iba di hatinya, namun saat terlintas wajah memelas adiknya yang lain membuat egonya membunuh rasa iba itu.


"Bangun lo!!" sentak Rayhan memaksa bangun Andrhea.


Andrhea seketika meringis saat rasa pusing menghantam kepalanya. Mengerjap menghalau cahaya di matanya. "Sakit kak," lirihnya.


"Nggak usah manja deh. Cuman sakit kayak gitu aja ngeluh mulu." Rayhan mencecar sinis Andrhea.


"Tapi, kak. Kepalaku sakit banget," keluh Andrhea dengan wajah pucat.


"Gue nggak perduli!" Rayhan kembali menyeret Andrhea hingga selang infus terlepas dari tangannya.


Kaki Andrhea seperti jelly, bergetar saat menahan bobot badannya. Meringis saat luka di tangannya kembali mengeluarkan darah segar. "Pelan-pelan, kak."


"*******! Lo mau bawa ke mana Andrhea!!!" Dimas mengumpat marah, lalu mencegat Rayhan yang menarik paksa Andrhea.


"Lepasin, Anj*ng! Lo buta, dia kesakitan ****!"


Tubuh Dimas terdorong paksa saat Rayhan berteriak memanggil Arsen dengan mendorong tubuhnya kasar.


"Lo bawa nih ratu drama!" titah Rayhan seraya mendorong tubuh lemah Andrhea ke hadapan Arsen.


Arsen iba melihat betapa hancurnya Andrhea. "Tapi, bang. Dia..." ucapnya ragu.


"Apa! Lo nggak mau bawa tuh cewek. Ya udah biar gue seret tuh cewek." Rayhan kembali menarik kasar Andrhea, namun terhenti dengan gelengan kepala Arsen.


"Biar gue aja. Lo yang urus mereka berdua."


"Biadab kalian!!" Dimas langsung menyerang Rayhan brutal. Sedangkan, Bisma mengejar Arsen yang membawa Andrhea.


"Lepasin Andrhea, keparat!!!" Teriakkan Bisma dihiraukan Arsen.


"Sen, tolong berhenti." Langkah Arsen mendadak terhenti. "Gue mau ngomong sebentar sama Bisma," pinta Andrhea memelas.


Andrhea berbalik badan, menatap Bisma sedih. "Bis, balik gih. Gue nggak apa-apa sama mereka," ucap Andrhea menyakinkan.


"Gue nggak percaya sama lo."


"Please, gue mau masalah ini selesai," mohon Andrhea yang diangguki lesu dari Bisma.


"Oke, kalau gitu hati-hati. Langsung kabarin gue kalau ada apa-apa." Bisma mengalah dan pergi meninggalkannya.


"Ayo." Andrhea mengerjap tersadar mendengar suara dingin Arsen. Berjalan tertatih mengikutinya dari belakang. Ada rasa sesak menyusup dalam hatinya.


Kepala Andrhea mendongak tersadar bahwa mereka telah sampai. Matanya menangkap gerakan tubuh mereka yang tertawa di balik ruangan itu. Rasa iri menggelayut di hati. Lalu, ia tatap mata setajam elang itu. "Kenapa harus begini?" tanyanya bingung.


Hampir saja Arsen ingin mendekap tubuh rapuh itu. Ia benci melihat mata sayunya yang berkaca-kaca. Ia benci dengan dirinya sendiri, yang membesarkan gengsi. Intinya ia benci, jika Andrhea menangis apalagi ia sendiri pelakunya.


"Andrhea," sapa gadis yang terbaring di brankar pesakitan.


Mendadak kaki Andrhea berat untuk melangkah. Ia merutuki suara nyaring dari gadis itu. "Y-aa," balasnya tercekat.


"Ayah sama ibu, mau rujuk lho," ucap gadis itu semangat. "Nanti kita bakalan tinggal bareng lagi, deh. Aku nggak sabar nunggu hari itu tiba," lanjutnya.


Tenggorokan Andrhea semakin tercekat. "I-bu, benarkah?" Indrisantika menggeleng cepat.


"Loh, kok ibu nolak, sih," Anna langsung berseru tidak terima. "Kenapa, Bu?" tanyanya.


"Ibu nggak akan rujuk kalau sikap ayah ke Andrhea masih semena-mena. Dia juga anak ibu, ibu nggak mau Andrhea semakin menderita."


"Indri, kenapa kamu perdulikan anak itu," Bagas menggeram marah.


"Bukan anak itu mas, tetapi anak kita!!" seru Indrisantika mengingatkan.


"Kak, kamu setuju juga dengan ibu? Tega banget sih kamu. Padahal aku udah nanti-nantikan hari itu tiba, tapi alasan ibu itu tidak masuk akal. Aku tersiksa selama ini," tuduh Anna.


Aku lebih tersiksa daripada kamu. Di sini aku yang tak teranggap.


"Nggak, aku malah setuju kalau ayah mau rujuk sama ibu," kata Andrhea dengan senyum palsu. "Kalau nggak ada yang mau diomongin lagi, aku akan pergi."


Anggukan dari Anna, membuat Andrhea tertawa sumbang. Mengapa ia yang harus mengalah, kenapa bukan adiknya atau takdir yang Tuhan rencanakan. Kenapa ia harus dipanggil, jika pendapatnya tidak didengarkan.


"Andrhea, boleh bicara sebentar."


Kepalanya terangkat. "Boleh."


"Mari kita bicarakan di ruangan saya."


___o0o___


Suara gesekan besi yang bertabrakan membuat Andrhea tersadar bahwa dirinya berada di ruangan dokter yang menanganinya. Sebuah map berisi data-data tentang kesehatannya berada di tangan dokter itu. Keningnya mengernyit melihat perubahan mimik wajah dokter itu setelah membuka map.


"Maaf, Andrhea. Saya harap kamu tidak berkecil hati. Takdir, jodoh, maut sudah ada di tangan Tuhan. Saya berharap kamu tidak terpuruk setelahnya ini."


"Memang sakit saya apa, dok?" tanya Andrhea cemas.


"Dari hasil pemeriksaan, anda terkena  meningioma atau yang sering disebut dengan tumor otak. Apa anda sering mengalami sakit kepala belakangan ini?"


"Iya, dok. Jadi, saya harus apa untuk menyembuhkannya?"


"Kita akan melakukan pemeriksaan saraf dan pemeriksaan pencitraan, seperti CT scan atau MRI otak untuk melihat adanya tumor otak. Kemudian, kita akan menentukan jenis tumor otak melalui biopsi tumor, yaitu pengambilan sampel jaringan tumor untuk diperiksa dengan mikroskop. Penentuan jenis tumor ini akan membantu kita untuk memperkirakan keparahan penyakit dan merencanakan pengobatannya," papar dokter itu.


"Lalu, jenis pengobatannya seperti apa, dok?"


"Jenisnya ada tiga, yaitu radioterapi, kemoterapi, dan operasi." Andrhea semakin terdiam.


"Saya harap saat check up kembali, kamu harus datang bersama orang tuamu untuk membicarakan permasalahan ini," pintar dokter.


Andrhea mengangguk. "Saya tidak janji, dok. Kalau begitu saya permisi."


Mati, Andrhea.


Ini yang diharapkan ayahmu. Terbujur kaku dengan mata terpejam, lalu jantungmu akan diambil olehnya.


Mana mungkin mereka mau datang. Menatapku saja enggan.


Lalu, aku harus apa? Menyimpannya sampai ajal menjemput atau memberitahu mereka dan dianggap lelucon saja.


Sungguh miris kehidupanmu, Andrhea.


______________________________________


Halo guys


Sorry update nya lama


Ada yang nunggu gak nih?


Kira-kira andrhea bakalan kasih tau orang tuanya gak ya?


Atau orang tuanya percaya sama omongan andrhea gak ya?


Jangan lupa voters and comment.


See you next time


_salbiyah_