
WAJIB vote and comment sebanyak-banyaknya!
SIDER \= BULUKAN
Happy Reading ❤❤❤
______________________________________
Pov _Andrhea_
"Kenapa, sih, setiap sekolahan punya lapangan sebesar gaban. Mending bersih se-kinclong kaca, lah ini mah tempat kedua pembuangan sampah."
Pasti kalian udah tau kalau gue lagi apa. Ya, inilah pekerjaan tetap gue kalau di sekolah, menjadi cleaning servis tiga kali dalam seminggu. Dan asal kalian tahu gua nggak dapet gaji, alias gratis.
Gue tiup-tiup rambut yang nutupin wajah gue. Karena rambut gue bergerak tapi nggak pindah tempat, dengan gerakan kasar gue ngibasin rambut gue kayak iklan sampo kambing. Masa bodo rambut gue bau sampah terpenting gue bisa nikmati surga dunia. Apalagi kalau ketiak lagi gerah, beh.. Nggak tanggung-tanggung gue buka lebar-lebar kedua tangan gue.
Please, jangan hujat gue. Karena bau keringat gue yang kecium sama kalian secara online. Harusnya gue ngehujat kalian yang bisanya rebahan sambil nge-scrol beranda mantan nggak jelas.
Oke, kembali lagi ke TKP. Gue mulai sibuk hitung sampah yang udah gue barisin di tanah. Dua ratus delapan puluh delapan yang terkumpul, sisanya kurang dua belas sampah lagi. Jangan kalian puji gue kalau gue itu terlalu rajin dan patuh sama Mak Lampir buat disuruh ngumpulin tiga ratus sampah. Nyatanya, gue bukan ngumpulin sampah dari seluasnya lapangan sekolah, melainkan buku gue yang gue sobek sampai menjadi dua ratus delapan puluh delapan.
Mata gue menyisir ke sekeliling lapangan. Hati gue berbunga-bunga lihat pohon mangga yang melambai-lambai manja buat gue datengin. Lebih berbinar lagi saat mata gue lihat buah mangga bergelanyut malu-malu.
Seketika otak gue mendadak terang seperti ada lampu di dalamnya. Buru-buru gue obrak-abrik tas gue mencari sesuatu. Selama limas belas detik gue belum juga menemukan barang itu. Saking kesalnya gue tebalikin tas dan semua barang yang ada di dalam tas meluncur cepat berjatuhan di tanah. Akibat sinar matahari yang sangat menyorot, barang yang gue cari berkilau di mata gue. Akhirnya ketemu juga.
Melangkah tanpa ragu mendekati pohon mangga. Mengantongi barang yang paling dibutuhkan buat gue. Meneliti seberapa tinggi pohon yang harus gue panjat. Menempelkan kedua telapak tangan gue ke tanah, lalu digosok secara merata. Gue tepuk-tepuk tuh pohon sebelum gue naik. Dengan ancang-ancang yang matang, perlahan-lahan gue manjat dengan hati-hati. Lalu, duduk dibatang yang lumayan besar.
Gue tersenyum culas. Mengeluarkan barang yang ada di kantong baju gue. Tangan gue menjulur ke arah buah mangga mengelusnya lembut.
"Selamat makan gratisss..." teriak gue bahagia.
Satu-persatu kulit mangga terkupas dari daging mangganya. Rasanya susah buat telan saliva gue sendiri. Wajah gue mengernyit saat rasa asam segar menyapa lidah.
"Mangga punya aku, tuh."
Gue terkejut mendengar suara perempuan yang radarnya terlalu dekat dengan gue. Lebih terkejutnya lagi, ketika suara teguran itu terdengar, tetapi wujud orang yang negur nggak ada.
"Batang pohon yang kamu dudukin juga punya aku."
Suara itu kembali terdengar. Bulu kuduk gue seketika bangun. "***** siapa yang ngomong."
"Aku, lah. Penghuni pohon ini."
Pisau lipat yang seharusnya buat motong mangga, kini beralih menjadi senjata pertahanan gue. "Lo di mana, sih? Suara doang ada, wujudnya nggak keliatan."
"Di samping kamu."
"Hah, samping gue," ucap gue melongo, lalu menoleh ke samping. "Astagfirullah. Anj—" ucap gue terpotong.
"Dilarang mengabsen murid-murid kebun binatang," katanya penuh peringatan.
Gue ngangguk aja. "Lo kayak setan," celetuk gue setelah melihat penampilannya.
"Kalau emang iya, kenapa?" tanyanya.
Tawa gue seketika meledak mendengarnya. "Siang-siang bolong begini? Nggak mungkin lah ada begituan, yang ada setannya takut keluar, karena kulitnya terbakar sinar matahari."
"Kan, setannya pakai skincare," ucapnya polos.
Dua kali gue nyemburin tawa gue sampai beberapa percikan hujan keluar dari mulut gue. "Siapa yang jual, Bu bro? Ya kali, pocong yang jual. Jalan aja masih loncat, yang ada keburu ditangkap satpol PP gara-gara jualan di pinggir jalan."
"Kalau pakai online kamu percaya?"
"What the hell, online?" ucap gue tak percaya. "Kurir mana yang mau nganterin? Ngeliat kaki gelantungan di pohon aja langsung lari apalagi tatap wajah langsung."
"Ada, kok. Malah abang kurirnya ganteng banget." Gue ngeliatnya ngeri, malah dia mesem-mesem nggak jelas.
"Udah, lah. Ngapain ngomongin dunia diluar nalar. Kan, rencana gue mau nyolong+makan mangga."
Eh, tunggu deh. Bukannya tadi sebelum gue panjat nih pohon nggak ada siapapun. Kok, dia tiba-tiba ada di samping gue. Jangan-jangan dia....
"Aku liat kamu tadi, kok. Tapi sayang kamunya nggak liat aku."
Dia dengar suara hati gue? Apa ada microphone di dalam hati gue? Makin lama kok pikiran gue makin menyeleneh, sih.
"Kamu lagi patah hati, ya?" tanyanya.
"Hati kamu, patah berkeping-keping. Mau aku sapuin, nggak?"
Rasanya gue mau berkata-kata kotor. "Sotoy, lo." Gue senggol lengannya. "Wahhh... Lo ngintip, ya. Gue doain mata lo bintitan segede monas," canda gue menakut-nakutinya.
"Hihihihihi... Nggak lucu."
Gue bergidik merinding mendengar tawanya dan gue ngerasa nggak asing sama tawanya kayak di film-film. Tapi gue lupa film apa, ya?
"Lo punya solusi buat taklukkin cowok nggak?" Dia mengangguk. "Kasih tau dong," pinta gue memohon.
"Berubah jadi kucing betina," usulnya.
"Lah, lo kira gue lagi cari mangsa ikan asin." Seketika rahang gue ternganga lebar.
"Bukan itu maksud aku." Dia menggeleng. "Kamu harus agresif kayak kucing betina lagi kawin."
Kalian tau agresifnya kucing lagi kawin? Kasih tau dong, gue belum pernah liat. Apa sehabis pulang sekolah gue nonton youtube aja, ya.
"Emang taktik lo kalau deketin cowok gimana, sih?"
"Pepet terus dimana pun berada."
"Berarti kalau cowok lo ke toilet, lo ikut dong?" Dia mengangguk. "Kalau pintunya dikunci?"
"Tinggal tembus dari tembok," jawabnya cuek.
Tunggu-tunggu, kayak ada yang ganjil deh. Sejak kapan tembok bisa membelah diri? "Lo bercanda, ya."
Dia menggeleng dengan kepala tertunduk.
Gue pandangi tuh orang dari ujung rambut kepala sampai ujung rambut kaki. Dia pakai baju putih kucel, rambut panjang yang kusut, dan kaki telanjang. Kok lama-lama dia mirip kayak yang di film horor.
"Mata gue yang salah apa lo-nya yang emang mirip sama orang di film horor," gumam gue, dan ternyata dia denger guysss.
"Kan, emang aku temenan sama mereka. Walaupun mereka palsu, aku yang asli."
Reflek gue nengok ke arahnya. Dia juga natap wajah gue. Mata merah dengan lingkaran hitam seperti mata pandai, membuat gue susah telen saliva. Mangga dan pisau di tangan gue jatuh duluan ke tanah.
"HIHIHIHIHIHI...."
Wajah gue makin pucat. Tanpa sadar duduk gue makin mundur hampir sampai ujung batang pohon. Gue tatap dia, tetapi dia malah makin kencang ketawanya. Fix, dia beneran kembaran yang ada di film horor. Gue lirik ke bawah, ternyata lumayan tinggi. Dalam hati gue nimbang-nimbang, ngejatuhin diri secara sengaja atau secara sengaja gue jatuhin diri.
Dia makin lama makin mendekat, sedangkan gue makin mundur. Gue baru sadar kalau bagian kanan pelipisnya ngeluarin darah. Dengan jantung berdetak kayak lari marathon, gue julurin kaki kanan gue ke bawah, lalu di susul dengan kaki kiri sampai pada akhirnya tubuh gue mendarat dengan gaya cantik, yaitu nyungsep nyosor tanah.
GUBRAKKK!!!
"Hihihihihihi...."
***** tawanya makin ngakak. Siap-siap gue masang ancang-ancang, lalu berdiri setengah badan membungkuk dan meluncur lari.
"HUAAAA... ADA SI ENENG!!!"
______________________________________
Gimana perasaan kalian setelah baca chapture ini?
Kira-kira siapa itu si Eneng?
Kalian pernah ketemu sama makhluk kasat mata? Coba ceritain.
Menurut kalian, Andrhea ikutin solusi dari si Eneng, gak ya? Jadi kucing betina agresif?
Jangan lupa vote and comment!
Jangan lupa sebarkan cerita ini biar makin banyak peminatnya.
See you next time.
Salam
_Salbiyah_