
Di dalam bus, seorang perempuan berseragam putih abu-abu sedang bersandar pada jendela bus. Termenung dengan pikiran yang bercabang membuat perempuan itu sulit berpikir jernih. Andrhea, perempuan yang saat ini termenung sambil memandang ke arah jalanan.
Andrhea mengedarkan pandangannya ke setiap kursi penumpang. Ada satu sosok menjadi fokus Andrhea. Seorang wanita paruh baya yang tidak ke bagian kursi. Lantas, dirinya berdiri memberikan kursinya dengan suka rela.
“Bu, nanti jemput aku jangan sampai telat, ya.”
Kepala Andrhea reflek menoleh ke arah sumber suara. Di pojok samping supit bus terdapat seorang anak kecil berseragam merah putih bersama ibunya yang mengelus lembut rambut anaknya itu.
“Iya, sayang. Apa sih yang nggak buat princess Ibu.”
Langsung saja Andrhea membuang wajahnya ke arah depan jalanan. Buru-buru Andrhea memasangkan earphone di kedua telinganya dan memutar lagu sekecang-kencangnya untuk menenggelamkan kenangan masa lalu. Melihat interaksi antara ibu dan anak itu membuatnya yakin bahwa dirinya memang sangat rindu kasih sayang seorang ibu dalam kehidupannya.
Bus yang ditumpangi Andrhea berhenti ketika lampu merah. Mata Andrhea tidak sengaja melirik ke arah samping jendela bus. Kening Andrhea mengerut dengan kedua sudut mata mengecil guna mempertajam penglihatannya.
Di sana, ada seorang pengendara sepeda motor sedang menatap ke arahnya. Tanpa sadar Andrhea mencondongkan badannya dan spontan dia berteriak membuat semua pasang mata mengarah kepadanya. Pemuda itu Arsen, tetangga barunya yang sangat kejam dan galak. Nyali Andrhea semakin ciut ditatap tajam oleh Arsen.
Lampu merah telah berganti warna menjadi hijau. Deruan knalpot roda dua maupun roda tiga saling bersahutan demi mengejar target. Arsen menarik gas motonya dengan kencang sampai menimbulkan suara bising dari knalpot motornya. Dan pergi mendahului bus yang ditumpangi Andrhea.
Selang beberapa menit kemudian, Andrhea sampai di depan gerbang sekolahnya. Dimas, Banyu, dan Bisma sudah berdiri tepat di depan pintu bus yang ditumpangi Andrhea dengan kedua tangan mereka berada di pinggang.
“Heh, kutu kupret! Lama bangat sih datangnya. Gue sama yang lain capek tungguin lo. Badan gue sampai jamuran, gila!” cerocos Bisma panjang lebar.
Andrhea memutar bola matanya malas. “Kalau jamur yang ada di badan lo gila, mending bawa saja ke RSJ biar makin gila,” celetuk Andrhea judes.
Banyu dan Dimas hanya menghela napas jengah. Dimas menyeret Bisma seperti anak kucing, sedangkan Banyu menggenggam lembut tangan Andrhea dan mengajaknya masuk. Tepat sekali ketika mereka berempat sampai di depan kelas mereka belum berbunyi nyaring.
Di kelas XI IPS 1, ternyata mata pelajaran pertama kosong. Terlihat Andrhea sedang merebahkan kepalanya di atas meja dengan mata terpejam. Nyaman, tetapi berisik. Itulah yang dirasakan oleh Andrhea. Meski mata terpejam, tetapi telinganya masih menangkap suara-suara aneh dari penghuni kelasnya.
"SYALALALALA..." teriak Bisma yang berdiri di atas meja.
"La... La... La...," sahut Banyu dan Dimas bersama.
"LANJUT...?" tanya Bisma berteriak dengan menjadikan sapu sebagai mikrofon. Semua penghuni kelas pun berteriak menyetujui Bisma, kecuali Andrhea.
"SONIAAA... KASIHKU..." Bisma mulai bernyanyi menggunakan sapu yang diangkat setinggi-tingginya. Semua murid XI IPS 1 semakin heboh bergoyang.
"Ku... Ku... Ku..." ucap Banyu dan Dimas mengikuti kata akhir dari Bisma.
“KU DUDUK SAMPING PAK KUSIR YANG SEDANG BEKERJA. MENGENDARAI KUDA SUPAYA BAIK JALANNYA,” sambung Bisma menyeleneh.
“Nya… Nya… Nya…,” sahut Banyu dan Dimas dengan wajah kocak.
“NYANGKUT TALINYA. ISINYA DUA. BENTUKNYA GUNUNG. RASANYA SEDAP. ALHAMDULILLAH,” teriak Bisma ambigu membuat seisi kelas melongo dan semua orang sukses terdiam menghentikan goyangannya saat mendengar lagu ambigu yang dinyanyikan Bisma.
Telinga Andrhea seketika panas mendengar lagu dari Bisma. Dengan kesal dia bangun dari tidurnya. Dan tiba-tiba bangku di depan Andrhea melayang ke arah meja di mana Bisma berdiri. Seketika semua penghuni kelas berteriak histeris melihat kelakuan bar-bar Andrhea.
Brakkkhhh...
Bisma langsung jongkok sambil memegang erat-erat pinggiran meja yang dinaikinnya. Seluruh badannya tremor bersama bulir-bulir keringat membasahi seragamnya. Untung masih utuh badan gue, gumam Bisma.
Mata tajam Andrhea menghunus ke arah Bisma. Dengan hati yang kesal Andrhea pergi meninggalkan kelas dengan menendang pintu sekencang mungkin membuat penghuninya terkaget. Banyu, Bisma, dan Dimas berlari mengikuti Andrhea pergi.
______________________________________________
(Andrhea Alexis Putri)
Jangan lupa Like and comment sebanyak-banyaknya karna semua itu sangat berharga bagi penulis.