Please, Look At Me

Please, Look At Me
Kabur Hitam


“Jika kamu berpikir bahwa kamu hanya sendiri, maka itu salah. Karena masih ada sandaran pundak kami untuk mendengarkan keluh kesahmu dan itu pun gratis bagimu.”


_BBD CS_


___o0o___


Hari ini ada yang berbeda dari Andrhea yang selalu terdiam dengan raut wajah muram. Sepertinya matahari pagi hari ini tidak mampu membangkitkan semangat Andrhea. Kepalanya di telungkupkan di lipatan tangannya.


Pluukkk


Bola kertas mendarat tepat di kepala Andrhea, membuatnya mengerang kesal.


Dengan malas Andrhea mengangkat kepalanya “Apa?” tanyanya dengan malas.


Banyu menunjuk ke arah depan. Seorang guru perempuan menatap tajam ke arah Andrhea. Lalu, dengan kasar guru itu melempar buku paket ke arah Andrhea. Dengan sigap Andrhea menangkap buku itu.


“Kerjakan halaman 25 dan kumpulkan saat bel istirahat berbunyi,” titah guru itu tak terbantahkan.


Andrhea bangkit dengan gerakan yang lumayan cukup kasar membuat bangkunya berderit. Perpaduan antara raut kesal dari Andrhea dan juga raut marah dari guru menambah ketegangan suasana kelas. Ujung mata Andrhea menangkap Banyu yang bergumam meminta maaf kepadanya. Ia pun mengangguk dan pergi meninggalkan kelas tanpa pamit terlebih dahulu.


Guru yang mengajar itu pun menggeleng tak percaya. “Dasar! Anak tidak tahu sopan santun.”


Dengan langkah lunglai Andrhea menelusuri tempat ternyaman untuk tidur kembali. Kaki Andrhea membawa tubuhnya melangkah ke kursi yang berada di bawah pohon besar. Tanpa ragu Andrhea menjatuhkan tubuhnya ke bangku. Andrhea duduk dengan posisi badan tegap, lalu wajahnya ditutupi oleh buku paket. Dan waktunya tidur.


Baru saja memejamkan mata, tetapi suara ramai membuatnya terusik. Matanya mengarah ke lapangan sekolah, ternyata kelas XII MIA sedang melakukan olahraga. Berarti kakaknya—Rayhan ada di salah satu di antara mereka. Masa bodo dengan lingkungan sekitar, Andrhea melanjutkan tidurnya kembali.


Para domba berterbangan di alam mimpi Andrhea. Angin sepoi-sepoi menambah kenikmatan tidur Andrhea. Andrhea sangat kesal saat semua orang meneriaki namanya dan itu sukses mengganggu mood tidurnya. Dengan sengaja ia membanting bukunya ke bangku taman. Matanya menangkap sebuah benda asing berbentuk bulat terbang di atas langit dan arahnya mengarah ke posisi ia duduk. Baru saja ia berdiri, benda asing itu sudah mendarat ke wajahnya sampai tubuhnya kembali duduk di bangku. Darah menetes dari hidung Andrhea membuat semua orang panik dan bergerak mendekati Andrhea.


“Jangan menunduk! Nanti darahnya makin banyak” ucap pemuda jangkung berkulit putih.


Refleks Andrhea mendongak menatap pemuda itu. Ternyata dia adalah Nathaniel Anggara Yudha. Teman dekat Rayhan dan juga kapten basket sekolahnya yang banyak disukai seluruh siswi di sekolahnya. Natha terlihat cemas melihat darah Andrhea berbeda dengan Rayhan yang muak melihat kejadian itu.


Dasar wanita pemburu perhatian, gumam Rayhan.


Natha membantu Andrhea pergi ke UKS. Para siswi mendesah kecewa melihat kedekatan Natha dengan Andrhea. Mereka berdua tidak tahu bahwa secara diam-diam Rayhan mengikuti ke mana mereka pergi.


“Tunggu sebentar. Gue mau beli es batu di kantin buat kompres hidung lo,” ucap Natha sambil memegang bahu Andrhea yang sedang duduk di brankar.


Andrhea hanya mengangguk saja. Lalu, Natha pergi keluar dari UKS.


Dengan gerakan terburu-buru Rayhan bersembunyi saat mendengar pintu UKS berderit yang bertanda ada orang yang membuka pintunya. Rayhan bernapas lega saat Natha tidak melihat keberadaannya. Rayhan langsung masuk ke dalam UKS, lalu mengunci pintunya dengan cepat agar tidak diketahui oleh siapapun.


“Kak Rayhan,” ucap Andrhea tercekat melihat keberadaan sangat kakak yang menatapnya tajam.


Tubuh Andrhea oleng saat Rayhan menariknya kasar hinggap terbentur dinding. Rasa panas menjalar di area punggung, sedangkan kepalanya semakin pusing. Darah masih keluar dari hidungnya, tetapi Rayhan tetap saja tidak memberikan belas kasih kepadanya.


Tangan Rayhan mencekik leher Andrhea. Ia sudah gelap mata dengan adiknya sendiri. Tidak ada lagi rasa iba di hatinya, melainkan hanya rasa benci yang terpendam menggunung di hatinya.


“Lo kenapa sih. Nggak di rumah maupun di sekolah tetap aja cari perhatian sama orang. Lo mau orang pada kasihan sama lo,” ucap Rayhan kesal tanpa melepas tangannya pada leher Andrhea.


Andrhea tak mampu berbicara, karena cekikikan Rayhan membuatnya susah bernapas. Berontak pun percuma saja kekuatannya tak sebanding dengan kakaknya.


“Nggak akan ada yang berubah walaupun lo cari perhatian ke siapapun, karena anak pembawa sial tetap aja pembawa sial,” tekan Rayhan.


Air mata tergenang di pelupuk mata Andrhea. Ia semakin susah bernapas saat hatinya terhimpit bongkahan batu besar yang diberikan oleh kakaknya. Sebuah batu kebencian yang sudah mendarah daging.


Sebuah ketukan pintu terdengar mengalihkan fokus mereka berdua. Dengan kasar Rayhan menghempaskan tubuh Andrhea hingga terbentur nakas UKS. Suara ketukan pintu semakin cepat terdengar terkesan ingin mendobraknya. Rayhan meninggalkan Andrhea yang sudah berlinang air mata. Natha menatap Rayhan menyelidik yang dibalas tatapan datar oleh sang lawan.


Rayhan dan Natha terdorong saat ketiga teman Andrhea yang tak lain adalah Banyu, Bisma, dan Dimas menerobos masuk ke UKS. Mata Natha terbelalak melihat kondisi Andrhea yang semakin hancur. Lantas Natha pun berlari menghampiri Andrhea, tetapi langsung ditahan oleh Dimas. Sedangkan Andrhea sudah menumpahkan hujannya kepada Banyu yang mendekapnya dengan erat.


“Rhea, siapa yang melakukan ini semua,” tanya Banyu khawatir.


Andrhea menggeleng dengan tangis tergugu.


“Bilang sama gue kalau dia pelakunya, Rhea,” tekan Banyu.


Andrhea meregangkan pelukannya, lalu menatap manik Banyu. “Lo tahu kan, Nyu. Di dalam kehidupan gue bahwa tersangka adalah korban yang tersakiti dan korban pun sebaliknya. Dan lo tahu bahwa yang melakukan semua ini , itu siapa.”


Banyu meremas kuat pundak Andrhea. “Rhea, masa lalu bukan untuk disesali. Bukan juga untuk diulangi. Dan bukan juga sebagai sumber kehancuran. Tapi, masa lalu untuk memperbaiki apa yang belum kita kehendaki dan itu pelajaran buat kita untuk lebih cermat lagi dalam hal apapun. Jadi, jangan salahkan diri lo terus, karena yang semua lo alami itu udah takdir Tuhan.”


Tangan Banyu terulur ke lekukan kaki Andrhea dan juga punggungnya. Lalu, ia angkat ke tubuh Andrhea ke brankar. Dengan lembut Banyu mengenggam tangan Andrhea.


“Andrhea, jangan selalu tutup mata hati lo. Jangan berpikir bahwa lo sendiri di dunia ini, karena masih ada kita yang mampu disandarkan oleh keluh kesah lo. Karena kita berteman.”


Tapi lebih dari kata teman, gumam Banyu.


“Iya, kita teman.”


Tiga kata sukses membuat Banyu, Bisma, dan Dimas terharu. Mereka pun berpelukan untuk saling menghangatkan hati mereka masing-masing. Natha yang hanya terdiam memberikan apresiasi di dalam hatinya melihat pertemanan mereka yang sudah menjadi kekeluargaan. Dan Natha pun semakin penasaran dengan sosok Andrhea yang terlihat rapuh seperti kulit telur.


_____________________________


Halo guys...


Gimana sama chapture ini?


Jangan lupa vot and comment sebanyak-banyaknya ya.


Happy Reading...