
“Gelap menjadi temanku, tetapi saat dia datang. Gelap menjadi musuhku. Dan saat ini aku berada di dalamnya dengan sejuta ketakutan.”
_Andrhea Alexis Sanchez_
___o0o___
Di balik kaca ruang UGD seorang perempuan terbaring lemah dengan berjuta-juta tikaman tajam yang melanda tubuhnya. Lelah membuatnya tak sanggup untuk melawan semua itu. Tidak ada harapan untuk bangkit kembali.
“Denyut jantung pasien menurun, Dok!” Suster memberitahu kepada dokter.
Seketika semua orang di dalam ruangan itu panik dengan kondisi pasien. Dokter mengatur napasnya untuk menyakinkan dirinya untuk percaya bahwa ia bisa membantu pasien yang ditanganinya.
“Tolong untuk tidak cemas hingga kita kekurangan fokus. Perjuangan kita di mulai dari sekarang. Bismillahirrahmanirrahim,” ucap Dokter.
“Ambilkan AED! Pasangkan kabel EKG pada pasien!” titah Dokter.
Para perawat pun dengan cekatan mengambil alat itu dan melaksanakan apa yang dipinta oleh Dokter.
AED (Automatic External Defibrillator). Sebuah alat kejut jantung untuk membantu menormalkan sistem kerja jantung seperti biasanya. Layar monitor EKG menampilkan gelombang seperti tanda sebuah bukit yang tidak beraturan.
Dokter menggesek alat AED, lalu perlahan-lahan menekan dada pasien itu dengan kuat hingga tubuh pasien juga ikut terangkat. Belum ada kemajuan pada kondisi pasien.
Bangunlah! Belum waktunya kamu berada di sini.
Kedua kalinya alat itu menekan dada pasien. Kali ini dokter menambah kekuatan untuk menekannya. Namun, tetap saja tidak ada perubahan sama sekali.
Bangunlah! Walaupun di sana gelap kasih sayang. Tetap saja ada beberapa orang yang menginginkan kehadiranmu.
“Satu kali lagi. Jika keadaannya masih sama, maka kita tidak bisa berbuat apa-apa selain ikhlas,” ujar Dokter putus asa.
Semuanya mengangguk sedih.
Dan terakhir kalinya dokter menempelkan alat itu dengan sisa-sisa tenaganya. Dan Tuhan tidak berpihak kepadanya dan seluruh timnya.
Layar monitor EKG, kini menampilkan garis lurus tak ada gelombang yang menghiasinya. Garis lurus membawa seorang pulang pada sang Pencipta. Dokter beserta timnya sudah tidak mampu berbuat apa-apa lagi, ketika sang Pencipta berkata lain dengan rencana mereka.
Di luar ruangan UGD. Seorang pemuda yang menyaksikan secara langsung perjuangan perempuan di dalam sana. Tubuhnya luruh ke lantai bersama isak tangis yang tak tertahankan. Tangannya memukul dadanya dengan kencang menghilangkan sesak. Meraung seperti kesetanan saat bayangan pedih berputar di kepalanya.
“ANDRHEEAAA…!”
Banyu berteriak frustasi dengan berjuta-juta kekecewaan yang terpendam dalam hatinya. Hilang sudah panutan pujaan hatinya. Senyuman manis hilang bersama raga yang terpejam. Tak ada lagi tingkah konyol bersama perempuan itu. Rencana yang tersusun rapih telah runtuh berkeping-keping.
“Bangun, Rhea,” lirih Banyu sambil terisak hebat.
Getaran pada kantong celananya membuat kesadaran Banyu kembali ke dunia nyata. Berpuluh-puluh panggilan dari sahabatnya terlewatkan.
Dengan tangan gemetar Banyu menelpon balik sahabatnya. Nada telpon tersambung. Belum ada lima detik panggilan tersebut diangkat.
“Hallo.” Suara serak Banyu membuka pembicaraan.
Menahan tangis, Banyu menekan dadanya agar mengurangi sesak di sana. “Bis, Dim. Dia udah pergi. Pergi dari kehidupannya dengan sejuta luka yang membebani punggungnya.”
Banyu menangis kembali saat tak ada tanggapan dari seberang telepon sana. Kesunyian mengisi rongga-rongga speaker handphone Banyu.
Di tempat yang berbeda dengan waktu yang sama. Arsen sedang menyuapi Anna dalam ruang perawatan. Kini wajah Anna sudah tidak ada lagi rona kepucatan. Hilang sudah rasa sakit yang menyerang tubuhnya secara mendadak.
Bagas, Indrisantika, dan Rayhan tersenyum lega melihat orang yang paling mereka jaga telah kembali seperti semula. Namun, apakah mereka tahu dibalik semua itu mereka akan kehilangan sesuatu yang mereka anggap tidak berharga. Tetapi, waktu akan membuktikan segalanya. Siapa yang paling berharga untuk mereka jaga.
“Hiks… Hiks… Hiks...”
Andrhea mengusap punggung Dimas dengan gerakan lembut. Tubuhnya masih terlalu lemah untuk digerakkan. Ia hanya mampu terkekeh kecil melihat tingkah laku sahabatnya itu.
Dimas menepis pelan tangan Andrhea. Menggosok ujung matanya dan juga hidungnya yang memerah. Tetap saja air matanya masih mengalir deras. Kekanakan sekali. Tetapi memang begitu kenyataannya dari seorang Dimas yang mudah sekali nangis kalau melihat adegan sedih.
“Lo mah tinggal enak doang, Rhea. Kuburan digaliin orang. Mandi, dimandiin. Sholat tinggal disholatin doang. Lo mah nyantai tinggal penjamin mata terus tidur,” cecar Dimas.
Andrhea memukul Dimas dengan sekuat tenaga membuat Dimas melenguh kesakitan. Mata sayunya terbuka lebar menatap tajam Dimas.
“Dimas. Lo tau kan visi misi hidup gue apa?” tanya Andrhea tajam.
Dengan kasar Dimas meneguk salivanya. Lalu, mengangguk dengan kepala menunduk. “Iya, gue tau, Rhea.”.
“Banyu, Bisma. Sebutkan visi misi dengan lantang!”
Tubuh Banyu dan Bisma mendadak berdiri tegak. Berbaris menyamping kanan dengan tangan kanan terkepal berada di dada kiri. Mereka bersama-sama menarik napas.
“VISI MISI HIDUP ANDRHEA ALEXIS SANCHEZ!”
Banyu dan Bisma berteriak lantang menghiraukan keberadaan mereka yang ada di rumah sakit.
“VISI : Pertama, menjunjung tinggi kebahagiaan dunia akhirat. Kedua, menjunjung tinggi nilai persahabatan. Dan ketiga, ketika terusik maka balas dengan setimpal.” Kali ini Banyu yang berteriak.
“MISI : Sebelum mendapatkan nasi catering dari tahlil 7 hari teman terdekat. Maka, tidak akan lenyap atau mati terlebih dahulu,” teriak Bisma.
Gue nyesel udah nangisin tuh bocah, gumam Dimas.
Mulut Dimas komat-kamit mendengar ocehan Banyu dan Bisma. Buah apel melayang ke arahnya. Tak ada waktu untuk menghindar kecuali berserah diri. Benjolan merah tercetak di kening Dimas. Andrhea tertawa paling kencang, sedangkan Banyu dan Bisma menutup mulutnya menahan tawa.
Suara pintu terbuka membuat mereka melihat siapa pelaku yang membukanya. Seorang lelaki paruh baya dengan stetoskop tergantung di lehernya berdiri di depan pintu. Mereka semua terdiam dalam keheningan. Dimas bergeser memberi ruang untuk dokter memeriksa Andrhea.
“Bagaimana keadaan kamu, Andrhea?” tanya Erlangga dokter yang menanganinya.
“Lebih baik dari tadi, Om.”
Erlangga menatap Andrhea dengan serius. “Kamu udah tau bahwa kamu mempunyai riwayat alergi kacang?” Andrhea mengangguk polos.
“Kalau kamu tau kenapa kamu makan kacang. Kamu sengaja mau mati konyol, hah!”
Erlangga geram melihat Andrhea yang bertepuk tangan saat diomelin olehnya.
“Ya ampun. Bisma, lo harusnya mengabadikan keajaiban dunia yang dilakukan Om Erlan. Dia bisa ngomong dengan durasi panjang.” Andrhea heboh sendiri berbeda dengan Erlan yang memutar bola matanya malas.
Mereka tak menyadari jika sedang diawasi oleh seseorang di luar sana. Mengacuhkan segala hal apapun demi kepentingan hati lembut perempuan yang rapuh di hadapan mereka.
“Lo lihat sendiri, Sen. Dia itu rapuh, tapi banyak orang yang peduli sama dia. Sedangkan, adik gue nggak ada teman yang bisa menguatkan, kecuali keluarga dan lo sendiri. Gue harap hati lo masih berpihak ke adik gue. Dan tujuan balas dendam lo nggak melenceng di luar rencana.”
Arsen terdiam mencerna ucapan Rayhan. Ada kebimbangan di dalam hatinya. Sering kali ia menguatkan rasa bencinya, namun malah sebaliknya rasa aneh menghempas jauh rasa benci itu. Terlebih parahnya lagi saat melihat perempuan itu terluka terasa ada getaran hati yang pedih. Dan ia pun merasa kehampaan saat bersama kekasih pujaannya. Apa ia salah melakukan hal ini dengan sebuah rasa. Tepukan di pundaknya membuat ia tersadar dari lamunannya.
“Ayo, kita pergi.”
Rayhan merangkul pundak Arsen dan pergi meninggalkan ruangan itu.
Maaf, ini demi kebaikan lo sendiri, gumam Rayhan sekilas menatap ruangan Andrhea.
_____________________________
Halo guyss...
Cuma mengingatkan untuk meramaikan chapture ini dengan bintang bersinar bersama comment yang banyak. Dan sekalian sebar cerita ini keteman kalian.
Selamat menunggu chapture berikutnya......