Please, Look At Me

Please, Look At Me
Bersamamu



"Rasanya aku sangat berterima kasih pada rasa ibamu. Karenanya, aku bisa menikmati malam bersamamu."


_Andrhea_


______________________________________


Melihatnya berjalan mendekati arah balkon kamarku. Aku buru-buru menutup tirai jendela, lalu berjalan menjauh. Ku buka lemari mengambil baju dan celana jeans. Gaun yang aku pakai sudah tergolek di lantai. Celana sudah terpasang, kini tinggal baju yang masih berada di tanganku.


Gerakan tanganku terhenti saat ingin memasukkan baju ke kepala. Aku tengok jendela saat mendengar suara seperti benda jatuh. Mataku melotot, reflek aku melindungi dadaku dengan baju dengan mendekap.


"Aahhhkkk...!"


Aku tidak tahu lagi bagaimana orang itu bisa masuk ke dalam kamarku. Lebih parahnya lagi, dia memelukku dengan tubuh yang menempel berbaring di karpet. Dan bagian depan tubuhku terekspos seperti dada ayam yang ada di etalase tukang ayam goreng.


"Mmmhh... Le-phasss!!" jeritku tertahan akibat mulutku yang dibekap tangan orang itu.


Aku tatap tajam mata itu. Lalu, dengan gerakan cepat aku gigit tangannya dan menggulingkan tubuhnya hingga telungkup di bawah kuasaku.


"Anjirr... Sakit, ****!"


"Bodo amat. Lo aja nggak diundang tapi dateng kayak jailangkung," desisku, kembali menekan tubuhnya.


"Ashh... Lepasin, Andrhea!" geramnya.


"Cemen banget, sih. Cowok kok kalah sama cewek," ejekku, seraya melepaskan kucian tubuhnya.


"Harusnya lo yang harus dipertanyakan. Cewek kok tenaganya kayak kingkong kelaparan."


"Sialan, lo!" Bantalku mendarat tepat di wajahnya. Aku pun buru-buru mengenakan baju.


"Yailah, tadi mah jangan pakai baju dulu. Kan, enak berdua-duan di kamar terus si ceweknya nggak pakai baju," protesnya.


"*******, lo!" Satu bantal kembali mendarat di wajahnya. "Dasar semua cowok nggak jauh-jauh dari ************ sama dada."


"Heh, harusnya kaum perempuan berterima kasih sama kaum gue. Tanpa lelaki, lo nggak bakalan ada di dunia ini," balasnya menyeleneh.


"Dasar omes!!" teriakku.


Tangannya sigap sekali membungkam mulutku. Pasti bukan hanya tangannya saja yang sigap, tetapi bibir kenyalnya itu juga sigap merayu banyak perempuan.


"Diam, nggak lo! Ntar ada yang dengar disangka kita lagi berbuat yang nggak-nggak lagi." Aku mendadak ciut saat mata tajamnya menatapku bringas. Aku pun mengangguk kecil.


Lalu, dia melepaskan tangganya dan berjalan ke ranjang tempat tidurku. Dengan seenak jidat dia melempar tubuhnya, hingga membuat seprai tidurku berantakan.


"Sen, mau lo apa, sih!" geramku kesal.


"Ya mau ikut acara orang tua lo, lah," jawabnya malas.


"Terus kenapa lo malah nyasar ke kamar gue?" tanyaku frustasi.


"Kalau lo kenapa malah diem di kamar? Ke kunci lagi pintunya," ucapnya, membuatku kalah telak. "Nah, diem kan lo."


"Ya udah, sih. Nggak semua urusan gue harus lo juga tau."


"Oh, ya? Bukannya lo bilang kita ini pacaran. Definisi pacaran bukannya harus saling terbuka dan saling percaya satu sama lain," katanya.


Aku terkekeh sinis. "Emang, ya? Kok gue lupa kalau kita pacaran. Bukannya definisi pacaran harus selalu ada dan saling membantu. Terus lo selama ini ke mana?" tanyaku sinis.


Arsen terdiam. Saat matanya bertabrakan dengan mataku, dia langsung menghindariku.


Tubuh tegapnya bangun dan berjalan ke arah balkon. Tangannya berpegangan pada teralis balkon. "Ingat, Rhea. Hati gue masih beku. Sebelum lo benar-benar menang dalam pertaruhan ini. Cairkanlah hati ini, menangkanlah kembali. Dan lo bakalan tau jawaban dari gue.


Aku pun ikut menghampirinya, berdiri di sampingnya dengan memandang langit yang sama. Aku menoleh kepadanya. " Lalu, kenapa lo datang ke sini kalau hati lo belum cair sama gue?"


"Iba. Gue iba sama lo. Makanya gue datang buat temanin lo yang perlu dikasihani."


Aku tertawa getir. Alasanya cukup diterima bagiku, namun tetap saja hatiku menolak. "Oh, kasihan, ya?" tanyaku lirih.  "Terima kasih, karena rasa ibamu membuatmu datang menemuiku."


"Sialan, lo! Dasar ****** kurang ajar!!"


"Lo yang ngegoda gue duluan, iya kan. Jawab gue!!" tudingnya.


Aku menggeleng tidak percaya. Lenganku terasa kebas saat tangannya mencengangkan kuat-kuat lenganku. Aku mengigil takut melihat kemarahannya.


"Maksud lo apa, Sen? Gue nggak ngerti. Padahal lo yang datang sendiri," ucapku membela diriku.


"Nggak usah belaga lupa, deh. Lo duluan yang ngegoda gue!!" tukasnya tajam.


Mataku berkaca-kaca sekuat tenaga menahan rasa sesak di hatiku. "N-ggak, Sen," ucapku tercekat.


"Dasar ******!!!" teriaknya bergema hingga berputar di kepalaku.


Tidak siap menerima dorongan kuat dari Arsen, aku pun terjatuh hingga kepalaku terbentur pembatas balkon.  Napasku semakin tercekat saat teriakan dengan penuh peringatan terdengar di telingaku.


"ANDRHEAAA!!!"


"Bukan aku, Yah. A-ku nggak ke-luar dari ka-mar," ucapku takut dengan mata terpejam kuat.


"Iya, kamu memang nggak keluar dari kamar. Tetapi, kamu menggoda Arsen!" teriak Ayahku marah.


Aku menggeleng cepat. "Nggak, Yah. Percaya sama aku. Aku nggak ngegoda Arsen, tapi dia sendiri yang datang ke kamarku," belaku.


"Bohong, Om. Dia yang menggoda saya," bantah Arsen.


Aku menggeleng tidak percaya. "Nggak, Yah. Jangan hukum aku lagi, Yah." Tubuhku terseret paksa saat ayahku menyeret tubuhku ke arah kamar mandi.


Mataku menatap ngeri ke arah bathup yang terisi penuh oleh air. Aku mencoba berontak, namun kekuatan ayahku tidak mampu aku tandingi. Menatap mohon ke Arsen yang kini melihatku, tetapi permohonanku tidak digubris olehnya.


Kejam sekali kamu. Setelah kamu membuatku terbang ke langit bersama bintang, lalu dalam sekejap kamu menjatuhkanku seperti figuran yang tak ternilai harganya.


Aku tersentak kaget saat merasakan dingin mengguyur kepalaku. Tanpa persiapan untuk mengambil sebanyak-banyaknya oksigen, kepalaku sudah mendarat ke dalam bathup yang terisi penuh dengan air.


"A-yah...." ucapku sebelum kepalaku kembali tenggelam dalam bathup.


Aku merasakan tenggorokanku memanas. Dadaku sesak dengan banyaknya air yang masuk. Aku tertutup menangis, betapa kejamnya ayahku.


Jika memang ini hari terakhirku, aku berharap ayah bisa berubah sebagai seorang ayah yang lembut terhadap anak dan istrinya. Walaupun aku yang terdahulu menjadi korban atas kekejamannya. Aku berharap ayah bahagia setelah aku hilang dari muka bumi ini.


"Udah, Om. Nanti kalau dia mati Om yang disalahkan!" teriak Arsen memperingati.


Tubuhku lemas tak bertulang. Hampir saja aku mati konyol atas tindakan ayahku sendiri. Dengan serakah aku menghirup oksigen. Perih di kepala lebih sakit dibandingkan hatiku.


Ku balikkan tubuhku menghadap dinding dengan kedua tangan memeluk kakiku. Menangis dalam diam, menganggap mereka hanya bayangan tidak bernyawa. Kepalaku semakin menelusup ke dalam pelukan tanganku saat menyadari ada cairan merah kental terjatuh dari hidungku. Menutupi se-rapat-rapat mungkin dari mereka, karena cukup aku saja yang merasakan.


Merasakan kekejaman seorang ayah kepada anaknya. Kekejaman akan takdir tuhan. Dan kekejaman dari sebab-akibat jatuh cinta kepadanya.


*Aku, Andrhea. Mati dalam kekejaman yang mereka buat untukku.


Mati dalam bayang-bayang kehidupan mereka. Dan


Mati dalam rasa yang belum tumbuh selamanya*.


______________________________________


Gimana nih sama chapture ini?


Kalian sedih nggak sih sama chapture ini?


Ternyata Arsen jahat, ya. Yuk hujat bareng, cowok brengsek kayak dia.


Jangan lupa vote and comment.


Tolong share cerita ini ke teman kalian, keluarga, sahabat dll. Agar cerita ini makin banyak yang suka dan banyak dikenang.


See you next time guys....


_Salbiyah_