
WAJIB VOTE DAN COMMENT!
SIDER \= JOMBLO ABADI
BANTU RAMAINKAN DI SETIAP PARAGRAF. DAN SHARE CERITA INI KE TEMAN, SAUDARA, PACAR, KELUARGA.
SELAMAT BACA❤❤
___PLAM___
"Apakah aku terlalu baik untuk menyembunyikan dirimu dibalik diriku? Apakah semua akan kembali seperti semula, jika aku mengorbankan diriku sendiri?"
___PLAM___
Dua orang berseragam polisi menggiring gadis yang tertunduk dengan kedua tangan di belakang tubuhnya. Ada sepasang mata yang menatap gadis itu iba. Namun, gadis itu memalingkan wajahnya dengan gemuruh benci terpendam dalam hatinya.
"Bapak bisa membawa pengacara untuk membantu proses jalannya pengadilan anak Bapak nanti. Terima kasih, sampai bertemu di kantor polisi nanti," pamit kedua polisi itu dengan dengan lelaki paruh baya yang berdiri di samping mobil itu.
Seiringnya ban mobil berjalan, ada setetes air mata terjatuh di pipi gadis malang itu. Tetapi, ada seseorang yang sadar melihat jelas air mata itu turun.
"Kenapa harus begini," liriknya.
___PLAM___
Di kantor polisi.
"Saudari Andrhea, apa benar kamu yang menabrak saudara Dimas Prasetya?" tanya polisi gendut.
Alih-alih menjawab, Andrhea malah berteriak histeris. "Dia tertabrak, Pak?" tanpa sengaja Andrhea meninggikan nada suaranya.
"Tolong dikontrol nada bicaranya," ucap polisi muda. Andrhea tersenyum kikuk mendengarnya.
"Habis nabrak pura-pura lupa! Jangan main-main kamu!" tuding polisi gendut.
Kening Andrhea mengernyit. "Kok berasa dikomporin, ya," ucapnya dalam hati.
"Bukan saya Pak yang nabrak. Saya dari pagi main sama pacar—eh temen," sanggah Andrhea mencoba menjelaskan.
"Coba kamu lihat!" unjuk polisi muda mengarahkan sebuah video yang sedang di putar. "Kamu tahu mobil ini milik siapa, kan?" tanya polisi itu kembali.
Andrhea mengerjap berulang kali. "I-tu mobil A-yah saya."
"Kamu, kan, yang mengendarai mobil itu?"
Andrhea menggeleng cepat. "Bukan, Pak. Saya, sa-ya—"
Lidah Andrhea mendadak kelu saat mengingat kejadian pagi tadi tentang dirinya yang meminjam mobil ayahnya.
"Saya apa?" tanya polisi muda penasaran.
"Ndan, pihak keluarga pelaku dan korban sudah datang," instruksi salah satu polisi yang menjeda ketegangan di dalam ruangan itu.
Mata Andrhea menjelajah keluar ruangan melihat banyak pasang mata menatapnya dengan pandangan yang berbeda. Hatinya bergetar melihat Anna berdiri dengan wajah pusatnya yang sedang dirangkul Rayhan. Tubuhnya merasa menggigil, ia perlu pelukan hangat dari seseorang. Namun, tak ada yang sudi memeluk tubuh kotor ini.
"Saudara Andrhea, tolong beri penjelasan yang sejelas-jelasnya. Jangan membuang waktu kami dengan pembualanmu!" gertak polisi gendut.
Tubuh Andrhea tersentak kaget. Kedua tangannya mencengkram baju yang dipakainya. "Saya sudah jujur."
Seorang polisi datang kembali, lalu membisikkan sesuatu kepada polisi muda. Dan pergi meninggalkan ruangan itu.
"Ayahmu tidak mau memberikan pengacara untukmu untuk menangani kasus ini. Sesi tanya ini selesai. Tolong hubungi keluargamu yang lain. Untuk mengirimkan pengacara untukmu."
Ucapan polisi muda itu bergema di kepala Andrhea. Berputar-putar layaknya kaset rusak.
Ayah tidak peduli padamu.
Ayah tidak mau membebaskanmu.
Ayah benci padamu.
"Saya yang menabrak Dimas, teman saya sendiri!"
Polisi muda itu langsung menyuruh rekannya untuk memasukkan Andrhea dalam sel penjara. Dengan pasrah Andrhea mengikuti polisi muda itu.
Hingga tiba di luar ruangan.
Plaakkkk
Tubuh Andrhea oleng seketika, namun ditahan oleh polisi gendut. Sebuah tamparan keras mendapat di pipinya.
"KURANG AJAR KAMU! SAYA KIRA KAMU BAIK. TERNYATA KAMU IBLIS YANG BERSEMBUNYI DI BALIK WAJAH POLOS INI!!" teriak mama Dimas histeris, seraya ingin menjambak rambut Andrhea.
"Ma," panggil Andrhea dengan mata berkaca-kaca.
Mama Dimas semakin berang mendengar panggilan Andrhea untuknya. "JANGAN PANGGIL AKU MAMAMU! AKU TAK SUDI PUNYA ANAK ANGKAT SEPERTIMU!!"
Tubuh Andrea memberontak ingin memeluk Mama Dimas. "Please, jangan bilang kayak gitu lagi. Percaya sama aku, aku nggak ngelakuin semua ini. Tapi, aku memang harus mempertanggung jawabkan semua ini."
"Tolong percaya sama aku," lirih Andrhea dengan air mata menetes. "Cuma mama harapanku, untuk percaya sama aku."
"IBU KANDUNGMU SAJA TAK MENGINGINKANMU. APALAGI SAYA! IBU DARI ANAK YANG HAMPIR DI BUNUH OLEHMU!!"
"Mama bohong! Ibu menginginkanku hadir. Kalau aku anak yang nggak diinginkan, Anna nggak bakalan ada di sini!" teriak Andrhea.
"Hahaha... Kamu bodoh Andrhea! Nyatanya yang kamu panggil ibu itu bukan ibu KANDUNGMU! Kamu itu anak haram. Anak selingkuhan ibumu!"
Duaarrr
Jantung Andrhea seperti diremas. Ia menggeleng tak percaya dengan beruraian air mata. "Itu nggak benar! Aku anak ibu. Ibuku Indrisantika!" sanggah Andrhea. "Ayah, aku anak kandungmu, kan?" Andrhea menatap ayahnya penuh harap.
Namun, harapannya pupus seketika melihat ayah yang sangat disayanginya menggeleng tegas. Pecahlah sudah tangis Andrhea. "Aa-ku siapa, Ayah?" tanyanya frustasi.
Tidak ada satupun yang menjawab pertanyaan Andrhea. Hingga akhirnya ia kembali digiring oleh kedua polisi dan bergemalah teriakkan Andrhea di seluruh penjuru ruangan.
"AYAH AKU ANAKMU!!!"
"AYAH, AKU BUKAN ANAK HARAM!!!"
Bagas berlari...
Bukan untuk mengejar Andrhea, melainkan pergi dengan setetes air mata. Tetapi, dirinya masih tetap bertahan dengan egonya. Ia ingin Andrhea hancur se-hancurnya. Membalas dendam masa lalunya, dengan orang yang berbeda. Tetapi, masih satu darah dengan pelakunya.
TBC.
____PLAM____
Mari kita main tebak-tebakan.
Siapa ibu kandung Andrhea?
Siapa pelaku yang nabrak Dimas?
Kira-kira Andrhea bebas nggak ya?
Spam komen guyss!!!
Satu kata buat chapture ini?
Jangan lupa vote dan komen!
Next?
Salam manis❤
_Salbiyah_