
Adakah yang menunggu cerita ini update?
Jangan lupa bacanya sambil dengerin mulmed di atas. Terus vote, komen, dan share cerita ini. Dan...
Happy Reading guysss...
_Rapuh_
"Bolehkah aku egois sebentar. Menerima cintamu, karena sebab aku tak mau sendiri. Dan aku sadar, semua itu sudah terlambat. Kamu, dia, dan mereka telah pergi menjauhiku."
___PLAM___
Semua orang sangat khidmat melantunkan doa di sebuah pemakaman atas nama Dimas Prasetya. Tidak ada tangis dan raungan di sana. Mungkin mereka sudah lelah dan menerima garis jalan takdir Tuhan. Meskipun masih tergambar jelas guratan sedih di wajah mereka masing-masing.
Di bawah pohon rindang, Andrea terduduk dengan pandangan kosong menatap ke arah makam Dimas. Ia cukup sadar untuk tidak bergabung dengan mereka. Pembawa sial dalam segala hal apapun. Maka dari itu, ia cukup menepi dari keramaian dan kekhidmatan proses pemakaman Dimas.
"Ternyata lo bener Bang Dimas. Butuh kekuatan untuk bangkit. Bukan hanya diam untuk memilih opsi yang paling terbaik," lirih Andrhea.
Satu persatu dari orang yang menghadiri acara pemakaman itu pergi setelah doa yang begitu panjang berakhir dengan kata amin. Hanya Banyu, Bisma, Arsen, Anna, dan Reyhan, yang masih menetap berdiri di sana. Perlahan, Andrhea bangkit dan berjalan menuju makam Dimas.
Dengan menatap setangkai mawar kuning di tangannya, Andrhea merasakan keberanian dalam dirinya untuk menghampiri mereka. Walaupun setibanya ia mengacuhkan mereka semua. Ia pun berjongkok tepat di samping makam Dimas. Lalu, ia perlahan meletakkan bunga mawar itu.
"Terima kasih, Bang. Sudah menjadi sahabat sekaligus keluarga. Maaf, baru sekarang manggil lo abang. Jangan lupa ya, Bang."
Anna yang mendengar ucapan Andrhea mendecih secara terang-terangan. "Alah, caper amat, Mbak. Muka tembok, sih, jadi nggak punya malu," sindir Anna.
Andrhea terkekeh sinis. Lalu, ia mengelus nisan Dimas dan berbicara, "Bang, lo dengarkan? Paku karat semakin dipukul, maka semakin bengkok. Lebih jelasnya gila. Udah tau nggak bisa dipakai, tapi tetep aja mau dipakai."
Wajah Anna memerah, kedua tangannya terkepal, dan napasnya ngos-ngosan menahan amarah. "Lo bilang gue gila?!"
Bangkit dari jongkoknya, lalu Andrhea melipat tangannya di dada dengan gaya pongah. "Mulut lo sendiri yang ngomong, bukan gue!"
Dengan gerakan bar-bar, Anna menerjang Andrhea menjambak rambut panjang Andrhea. "Mati aja lo!" teriak Anna seraya memukul wajah Andrhea.
Sedangkan, Andrhea membalas perlakuan Anna dengan menarik kencang rambut pirang Anna, hingga beberapa helai rambut rontok di tangannya.
Rayhan pun berdiri di tengah-tengah Anna dengan Andrhea, mencoba melerai tetapi tak kunjung berhasil. Tanpa sadar ia mendorong mereka berdua dengan kekuatan sepenuhnya, hingga membuat....
"Aaahhhkkk!!!"
Anna dan Andrhea berteriak bersamaan saat tubuh mereka oleng terjatuh ke tanah. Tetapi...
Duaggg!
Kepala belakang Andrhea terantuk papan nisan Dimas. Sedangkan, Anna terjatuh dalam dekapan Banyu. Bukan hanya Banyu saja yang menolong, melainkan Rayhan, Bisma, dan juga Arsen.
Selamat, Rhea. Akhirnya kamu benar-benar sendirian sekarang.
"Lo apa-apaan, sih! Kayak orang yang nggak terdidik. Main hajar aja!"
Itu suara Banyu dengan nada tinggi. Andrhea terkejut, lebih terkejutnya lagi kalimat sarkas itu untuknya bukan untuk Rayhan.
"Banyu, lo bentak gue?" tanya Andrhea tak percaya.
"Lo emang pantes buat dibentak, Andrhea!" sahut Bisma.
Ucapan Andrhea tertahan di kerongkongan. Saat melihat wajah datar Banyu dan Bisma.
Tak ada senyum di sana Andrhea. Sekarang, tak ada lagi yang sama. Senyum, tawa, dan harapan. Bukan milikmu lagi.
"Bang, dada gue sakit," lirih Anna memecahkan ketegangan.
Dengan sigap Rayhan menggendong Anna, lalu pergi dari situ yang di ikuti Arsen, Banyu, dan Dimas.
Kaki Andrhea mendadak bergetar saat ia ditinggal sendirian. Matanya berkaca-kaca melihat betapa khawatirnya mereka dengan Anna. Tangannya mencengkram baju kuat-kuat. Mencoba mengatur napasnya, lalu....
"BANYU!!!"
Andrhea berlari mengejar Banyu, walapun kakinya sudah tak mampu menompang tubuhnya. "Banyu, berhenti!!!"
Dada Andrhea memanas, napasnya tercekat. "Lo masih suka sama gue?"
Seketika tubuh Banyu menegang. "Tau dari mana lo? Kalo gue suka sama lo."
"Dimas."
Satu kata membuat Banyu tertawa sinis. Ia pun berbalik badan. "Kenapa baru sekarang lo tau kalau gue suka sama lo. Kenapa nggak dari dulu, Rhea."
Keringat dingin semakin membasahi tubuh Andrhea. "Karena, lo nggak terus terang sama gue."
"Terus lo anggap apa perhatian gue sama lo selama ini?"
"Cuma sahabat," cicit Andrhea.
Banyu mengangguk mengerti. "Oke, kalau gitu nggak ada lagi yang harus diperjelas."
"Tapi lo masih suka gue!"
"Itu dulu, Andrhea. Sekarang berbeda!"
"Kenapa secepat itu, Nyu?"
"Kenapa secepat itu lo nerima Arsen, Rhea?"
Pertanyaan balik dari Banyu membuat Andrhea bungkam seketika.
"Lo bingung kan mau jawab apa? Sama kayak gue, Rhea. Hati gue bilang gue masih suka sama lo, tapi keadaan yang bikin semuanya jadi semu."
"Kalo gue nerima lo, lo mau, kan?" tanya Andrhea ragu.
"Sorry, itu udah terlambat."
"Tapi, Nyu. Gue suka sama lo."
"Selain sikap lo yang berubah, ternyata lo juga suka bohong, ya?"
"Boleh nggak sih Nyu, kalau gue egois sebentar? Minta lo buat nggak pergi setelah semuanya hancur. Gue sendirian, Nyu. Gue butuh teman."
"Harum tercium, pedih tergenggam. Percuma memaksa untuk bahagia, akhirnya harus saling mendekap luka, " ucap Banyu. "Udah cukup untuk bertahan di lambaian ombak. Terbawa arus dan tenggelam berulang kali. Kita akhiri semuanya. Karena memang kita memulai dengan cara menyakiti dan berakhir untuk saling mengobati, tetapi hanya melakukan sendiri."
"Kita udah nggak ada lagi, Andrhea. Hanya luka dan kenangan yang utuh. Kita saling menghancurkan, jika kita dipersatukan. Maka dari itu, akhiri saja semuanya. Walaupun saling tersakiti." Ucapan Banyu bagaikan kalimat penutup akhir dari pembicaraan mereka.
Setiap langkah kaki Banyu terayun meninggalkan Andrhea. Maka, setetes air dan darah saling berjatuhan. Menangis di balik hujan, juga meredam sakit di balik godam perasaan. Hingga, akhirnya...
"Kali ini gue percaya kalau di hidung lo itu darah. Bukan lipstik yang dipakai dihidung." Uluran sapu tangan membuat Andrhea mendongak.
"Gue tau kalau hujan bisa melenyapkan tangis lo. Tapi kali ini berbeda, air dengan darah tak bisa menyatu. Begitupula hati, menerima atas kasihan atau dengan rasa cinta yang terbalas"
"Maaf, Andrhea," ucap orang itu seraya menarik tubuh ringkih Andrhea ke dalam pelukannya.
Sesakit inikah atas kesendirianku. Menahan beban yang bukan milikku. Kenapa begitu susah mencoba untuk mempertahankan? Walaupun hanya sebentar untuk ku kenang.
Tuhan, apakah Engkau tak kasihan denganku? Dari lahir aku sendiri, hingga mati nanti pun aku sendiri. Inikah takdir indah-Mu? Sebaik-baiknya skenario, hanya milikmu yang terbaik. Lalu, kenapa takdirku begitu menyedihkan? Hingga pada akhirnya aku sendirian.
TBC.
Satu kata buat chapture ini?
Ada yang tau siapa yang kasih sapu tangan buat Andrhea?
Mau lanjut?
Jangan lupa vote, komen, dan share cerita ini!
Salam Manis❤
_Salbiyah_