
Hargai karya seseorang dengan memberi bintang bersinar dan comment untuk memberikan penyemangat author buat ngelanjutin ceritanya.
Happy Reading ❤❤❤
_____________________________
“Rhea, lo beneran nggak apa-apa kalau kita tinggal sendirian di sini,” tanya Banyu yang diangguki oleh Bisma dan Dimas.
Andrhea mengibaskan tangannya seperti mengusir. “Udahlah. Lo kira gue bakalan nangis ditinggal kayak gitu. Kecuali perut gue yang nangis gara-gara kalian nggak ninggalin jatah gue.”
“Yeuh… Si kampret temannya capung. Badan sakit, tapi mulutnya tetap bae kerja,” cecar Dimas menyatakan kepala Andrhea.
“Itu mah udah pasti. Karena, makanan adalah kebutuhan pokok bagi setiap manusia.”
Banyu menghela napasnya kasar. Ia jengah melihat kedua temannya itu yang selalu bertengkar di manapun mereka berada. Sedangkan, Bisma sedang fokus dengan handphonenya. Bantu bergidik ngeri saat melihat Bisma tersenyum sendiri melihat handphonenya.
Gila. Gue punya teman semuanya pasien RSJ, gumam Banyu.
“Gue pulang.” Banyu pamit tanpa memperdulikan temannya yang sedang berdebat.
Dimas tersentak. “Mami Banyu tungguin…!” teriak Dimas membahana berlari menyusul Banyu dengan menarik tangan Bisma tanpa aba-aba lagi.
Kepala Andrhea menggeleng tak percaya atas kelakuan ajaib temannya itu. Ia menghela napasnya kasar. Lalu, turun dari brankar rumah sakit. Melepas infus yang ada ditangannya hingga membuat darah segar mengucur. Tidak ada raut kesakitan di sana hanya raut datar dan dingin yang terpasang di wajahnya. Andrhea mengganti baju pasiennya.
Celana hitam, baju hitam, dan tak lupa dengan topi hitam yang terpasang di kepala Andrhea. Berjalan keluar seakan tak ada rasa takut yang akan datang di hari ke depannya. Langkah pelan, kini berubah haluan menjadi berlari menghindari kejaran dari satpam dan penjaga rumah sakit.
Tiiiinnnnnnnn…
Tubuh Andrhea terpental saat bertubrukan dengan bagian depan mobil. Mencoba bangkit sesekali meringis sakit atas luka di sikunya. Mobil yang menabraknya berhenti dan keluarlah seorang pemuda tampan. Orang-orang yang berlalu lalang membantu Andrhea. Pemuda itu meminta maaf kepada warga dan berjanji akan bertanggung jawab. Sedangkan, Andrhea mengendap-endap pergi tanpa diketahui oleh siapapun, kecuali pemuda yang menabraknya.
Andrhea, gumam pemuda itu.
Andrhea terduduk lemas di depan gerbang rumahnya. Peluh membanjiri seluruh tubuhnya. Memandangi rumah yang ada di seberangnya dengan tatapan kosong. Di sana, seorang pemuda keluar dari rumah itu dengan tampilan baju rapih seperti ingin pergi. Ia juga melihat perempuan seusianya keluar setelah pemuda itu.
“Arsen, pokoknya kamu nanti harus datang ke acara ulang tahunku. Jangan lupa bawa kado spesial buat aku, ya!” Anna perempuan itu mengingatkan Arsen tentang ulang tahunnya.
Mata Andrhea mengerjap. Dua hari lagi usianya bertambah. Hari kelahirannya menanti kedatangannya. Ia jadi ragu untuk pulang ke rumahnya sendiri. Anna bilang ia akan merayakan ulang tahunnya berarti ia juga akan merayakannya. Dan keluarganya akan memberinya kejutan di hari itu. Tanpa sadar ia tersenyum membayangkan bagaimana bahagianya ketika keluarganya kumpul dengan lengkap.
Arsen terpaku melihat Andrhea duduk di depan gerbang rumahnya. Bukankah dia sedang sakit, kenapa dia bisa ada di sini. Baru saja ia mau menghampiri Andrhea, tetapi tertahan oleh Anna yang menarik tangannya.
“Kamu mau ke mana?”
“Katanya kamu mau pulang, kan? Aku antar kamu sekarang,” ucap Arsen mengalihkan topik pembicaraan.
Mobil Arsen pergi melesat kencang meninggalkan perkarangan rumahnya dan juga Andrhea.
Langit malam semakin pekat. Taburan bintang-bintang indah menambah kesan indah malam ini. Walaupun gelap, tetap saja tidak menghilangkan rona kecerahan langit malam. Seakan merasa bahagia atas datangnya bintang dan purnama.
Tiga puluh menit telah berlalu. Selama itu pula Andrhea tidak bergerak sama sekali. Duduk dengan kedua kaki tertekuk dan kepala ditaruh di atas lutut. Ia tidak merasa bosan duduki di sana. Tidak ada niatan untuk masuk ke dalam rumahnya. Dan ia pun juga tidak menyadari bahwa Rayhan telah melihatnya sejak ia datang.
Andrhea terkejut saat langit menumpahkan air matanya. Ternyata dugaannya salah bahwa langit hari ini tidak bahagia sama sepertinya. Sembunyi dalam keceriaan.
Kepala Andrhea mendongak saat sebuah mobil berhenti di depannya. Ia juga tidak buru-buru bangkit dari duduknya. Ada tanda tanya besar dalam kepalanya saat orang itu keluar dan mengulurkan tangannya. Menatap datar tangan yang ada di depannya.
“Lo nggak mau ikut sama gue?”
Andrhea langsung berdiri. “Ikut ke mana?” tanyanya balik.
“Berburu.”
Alis Andrhea menukik tajam mendengar ucapan orang itu. “Berburu? Lo suka bunuh hewan-hewan.” Andrhea menatap tak percaya.
“Lebih dari itu,” kata orang itu dengan senyum miringnya.
Sontak Andrhea melangkah mundur. “Jangan-jangan lo tukang potong ayam, ya? Yang suka cincang-cincang daging ayam.”
“Lebih dari itu,” kata orang itu lagi.
Mulut Andrhea terbuka dengan mata melotot. “Jangan-jangan lo spikopat yang ada di novel-novel, ya?” tanya Andrhea mengacungkan telunjuknya.
Orang itu menggeram menemukan ada kata keliruan dari Andrhea. “Andrhea. Psikopat bukan spikopat!”
Andrhea terkekeh melihat wajah merah padam itu. “Lagian lo, sih. Segala ngomong spikopat bae.”
Orang itu mengibaskan tangannya kesal. “Udahlah. Seterah lo aja. Mau ngomong psikopat, spikopat, ketoprak. Gue nggak perduli.”
“Jadi, lo mau ikut nggak?” tanyanya mengulurkan kembali tangannya kepada Andrhea.
Tangan Andrhea terulur menggenggam tangan orang itu sebelum ia menepis dengan kasar. “Gue masih mampu lihat. Nggak usah nawarin tangan lo. Lo kira gue orang buta. Dan kesannya lo itu murahan.”
Orang itu mengangkat kedua tangannya ke atas seperti seorang tahanan. “Oke, fine.”
Sepanjang jalan, Andrhea terdiam seperti orang bisu. Tidak ada pergerakan darinya sama sekali. Menatap lurus ke depan dan itu membuat orang yang di sebelahnya bingung dengan sikap aneh Andrhea.
Mungkin lagi dapat hidayah, gumam orang itu.
“Arsen,” panggil Andrhea tanpa menatap orangnya.
“Hemmm.”
“Arsen!”
“Kenapa Andrhea, sayang?” tanya Arsen dengan nada menggoda.
“Kok lo manggil gue sayang, sih!” Andrhea berseru marah.
“Emang salah gue manggil lo sayang.”
“Ya, salah dong!” teriak Andrhea tidak terima.
Arsen tersentak kaget. Mengelus telinganya yang sakit. “Nggak usah teriak-teriak!” teriak Arsen membalas.
Dia sendiri nggak sadar kalau dia juga teriak, gumam Andrhea sebal.
“Inget ya, Andrhea. Sayang itu bukan kata yang mengartikan bahwa seseorang suka sama orang itu doang. Makanan jatuh aja dibilang sayang. Orang jualan aja bilangnya sayang anak. Terus salah gue di mana, hah?”
“Salah lo, karena lo belum suka sama gue.”
“Ya, lo-nya aja nggak punya aura yang bikin gue terpikat sama lo. Lo sendiri aja datar mulu. Gimana gue mau suka sama lo.”
Andrhea terdiam. Ada kerutan di dahinya menandakan bahwa ia sedang berpikir dalam. Lalu, ia memutar tubuhnya menghadap Arsen. Mata tajamnya menelisik wajah Arsen.
“Ya udah kalau begitu kita PACARAN sekarang. TITIK nggak pakai KOMA belakangnya Triple TANDA SERU!!!”
Ciiiiitttttt…
Braakkhhhh!!!
Mobil Arsen ngerem mendadak hingga menabrak trotoar jalanan. Telinganya seakan tuli mendengar teriakan Andrhea. Rohnya serasa tercabut dari raganya. Apa dia nggak salah dengar atau Andrhea yang salah bicara.
“Lo tadi bilang apa?” tanya Arsen linglung.
Andrhea mendengus kesal. Ia menarik napasnya dalam-dalam, lalu menghembuskan dengan perlahan-lahan. Ia juga memotong urat malunya untuk Arsen. Masa bodo dengan derajat perempuan yang maunya selalu dijunjung tinggi.
“AYO KITA PACARAN!!!” ajak Andrhea dengan nada memaksa.
Kepala Arsen tertunduk lemah di stir mobil. Napasnya memburu. Wajahnya memerah manahan emosi meletup-letup di dadanya. Tangannya mencengangkan kuat-kuat stir mobil. Sedangkan, Andrhea mengigit kukunya cemas menunggu jawaban dari Arsen.
“Kenapa harus lo duluan yang nembak gue!” geram Arsen geregetan.
Mata Andrhea mengerjap polos. “Loh, tadi kan lo sendiri yang bilang kalau gue harus bikin lo jatuh cinta. Ya udah makanya kita pacaran.”
Wajah Arsen mendadak pucat. Bibirnya bergetar menahan tangis akibat memendam kekesalannya.
“Duh, jangan nangis dong. Harusnya lo ketawa atau bahagia gitu. Kan, gue udah nembak lo,” kata Andrhea menenangkan Arsen.
Bukannya tenang, Arsen semakin kesal atas tingkah laku Andrhea.
_____________________________
Halo guys...
Andrhea udah mulai bar-bar sekarang.
Gimana pendapat kalian sama chapture ini?
Tolong koreksi kalau ada typo.
Jangan lupa untuk vot and comment sebanyak-banyaknya. Sekalian share cerita ini biar banyak yg minat.