Please, Look At Me

Please, Look At Me
Mencoba Merangkul.


Sorry dua hari nggak bisa update. Adakah yang menunggu?


Jangan lupa vote, komen, dan share cerita ini!


Bantu rangkul para sider untuk menunjukkan giginya.


Happy Reading❤❤


"Jika jarak adalah pilihanmu. Maka, aku akan memilih untuk merangkulmu. Karena, sebuah jarak akan hilang dengan rangkulan yang bersahabat."


___o0o___


Menurut Andrhea, pagi ini sangat sial untuknya. Bangun terlambat, ia juga menyesal setelah menyadari begitu jauhnya jarak dari kos Mbak Ratri dengan sekolahnya. Mendengus kesal saat gerbang sekolah yang menjulang tinggi tertutup rapat. Mau tidak mau ia harus memanjat tembok samping sekolah.


Matanya melirik tingginya tembok yang ada di hadapannya. Ia meneguk salivanya kasar. Ia jadi meragukan kemampuan memanjatnya setelah sekian lama sudah tidak memanjat lagi. Dengan tekad kuat, ia melemparkan tasnya terlebih dahulu. Kemudian, kakinya menginjak susunan batu yang ada di sampingnya. Perlahan-lahan ia memanjat, hingga akhirnya ia sudah duduk di atas tembok kokoh itu.


"Woi! Cepetan turun!"


Hampir saja tubuh Andrhea terjengkang ke depan mendengar teriakan mendadak dari seseorang di bawah tembok luar.


"Gila, bisa mati mendadak gue," gumam Andrhea dengan tangan masih mencengkram erat-erat tembok.


"Heh, lo nyari kutu di situ! Lama amat turunnya," sindir orang itu.


"Bukan, nyari kembaran lo yang ilang, " jawab Andrhea tanpa menunduk.


"Kembaran yang mana, dah?" tanya orang itu bingung seraya menggaruk leher belakangnya.


"Monyet di ragunan yang kabur."


"Sialan, lo! Lo bilang gue mirip kaya monyet ragunan!" Orang itu langsung meledak-ledak mendengar ejekan Andrhea. Tanpa ragu lagi, orang itu mendorong, lalu menarik tubuh Andrhea dengan sengaja.


"Weh, jangan bercanda, dong! Bisa jatuh ke bawah nih!" bentak Andrhea seraya menabok tangan orang itu. Kemudian, ia berbalik menatap tajam sang pelaku. Ternyata...


"Lo!" teriak mereka bersamaan.


"Emang lo mau ngapain, sih, Bis di sini?" tanya Andrhea penasaran.


"Mau sekolah lah! Emang ini sekolah punya nenek moyang lo!" jawab Bisma ngegas.


"Please, deh. Kalau mau ngegas jauhan sedikit, muka gue jadi basah, nih."


"Triple S, ya!"


Kening Andrhea mengernyit bingung. "Apaan, tuh?"


"Suka-suka sultan!" Sengaja Bisma berteriak di dekat wajah Andrhea.


"*****, mulut lo isinya kolam renang? Banjir bener airnya." Andrhea mengusap wajahnya jijik dengan lengan seragamnya.


Dengan seenaknya Sultan Bisma. Posisi duduk Andrhea bergeser akibat dorongan kuat Bisma. "Awas! Sultan mau turun duluan."


Benar saja, Bisma sudah mendarat duluan meninggalkan Andrhea yang masih terduduk di atas tembok.


"Sultan Bisma, bantuin turunin, dong." Andrhea memohon dengan kaki yang menjulur-julur ke bawah.


"Yailah, julukan doang anak nggak baik. Giliran naik tembok bisa, eh pas turunnya kaya kucing di siram air. Kincep!" omel Bisma seraya menarik-narik kaki Andrhea.


"Eh, eh jangan digelitikin. Bisma, geli kaki gue!" Bukannya merasa takut, Andrhea malah tertawa terbahak-bahak.


"Astaga, penunggu tembok udah menampilkan wujudnya." Bisma menatap ngeri Andrhea.


Secepat kilat Bisma berlari meninggalkan Andrhea. "EMAK, ADA HUNTU!!!!"


___o0o___


Di bawah teriknya matahari, Andrea dan Bisma berdiri dengan hormat juga kaki terangkat satu di tengah lapangan. Selama hukuman yang mereka jalani, Andrea misuh-misuh seperti cacing kepanasan kepada Bisma. Sedangkan, Bisma meringis bersalah akibat mulutnya yang kaya knalpot bocor, menyebabkan mereka diketahui oleh Bu Saloni. Mak Lampir dari segala Mak Lampir. Pokoknya Bu Saloni sudah tingkat dewa, jika keadaannya diusik.


"Besok-besok lo beli jarum sama benang selusin." Andrhea menyuruh Bisma dengan nada ketus.


"Buat apaan? Gue, kan bukan tukang permak." Bisma mencoba melirik sedikit wajah Andrhea.


"Buat jahit mulut lo!" kata Andrhea sadis.


Bisma refleks membekap mulutnya. "Nanti gue nggak bisa CEK."


"CEK apaan?"


"Cium Endus Kecup."


Bugghh!!!


Satu bogeman mendarat di lengan Bisma hingga tubuh tegap itu jatuh tersungkur di tanah.


"BISMA OMES!!!" teriak Andrhea dengan wajah memerah.


Ringisan kuat dari Bisma membuat Andrhea tersadar apa yang sudah ia perbuat. "Astaga! Lo ngapain lagi sungkeman di sini!"


"Sekali lagi lo teriak, gue tendang lo ke Pluto!" ancam Bisma membuat nyali Andrhea ciut.


"Bisma, lo mau kemana? Hukumannya belum selesai!" teriak Andrhea panik saat Bisma meninggalkannya.


Buru-buru Andrhea mengejar Bisma. "Mau ke kantin, ya? Gue ikut dong." Bisma tak menyahut.


"Nanti lo mau jajan apa? Bakso, siomay, nasgor, mie ayam? Gue yang traktir, deh." Mendadak Andrhea meringis mengingat sekaratnya hidup  dompet miliknya.


"Engghh... Bisma, traktirannya pakai duit lo dulu, ya. Nanti gue ganti dua kali lipat." Cengiran yang dibarengin ringisan membuat Andrhea kikuk sendiri melihat wajah Bisma yang datar.


"Kita mau duduk di mana, nih? Kayanya udah penuh semuanya, deh." Pandangan Andrhea menyapu seluruh penjuru kantin.


"Ikut nggak?!" tanya Bisma ketus menyadarkan Andrhea.


"Eh, i-iya gue ikut," jawab Andrhea gelagapan.


"Empat puluh persen hatinya udah luluh," gumam Andrhea.


"Sorry, lama tadi gue ketahuan sama Mak Lampir," ucap Bisma, yang menyadarkan Andrhea.


"Nggak apa-apa kok, Bisma. Kita, kan teman, jadi nggak keberatan buat nungguin kamu," balas Anna penuh dengan bualan.


Dalam hati, Andrhea merutuki dirinya bodoh. Kenapa Bisma mengajaknya ke meja para cecunguk *******. Terlebih melihat sikap sok polos dari Anna, membuat perutnya mendadak mual.


"Hei, gue gabung sama kalian, ya." Tanpa menunggu persetujuan mereka, Andrhea menarik kursi dan duduk di samping Arsen.


"Bisma, lo mau pesan apa? Gue yang pesanin, ya." Andrhea mendekati telinganya Bisma. "Gue pinjam duit lo dulu, ya," bisik Andrhea terlalu pelan takut terdengar oleh yang lain.


"Hem," Bisma mengangguk.


"Ingat Andrhea, kamu nggak boleh makan sembarangan. Penyakit kamu sudah memasuki fase berbahaya."


Andrhea menghembuskan napasnya gusar. "Gue nggak jadi pinjam duit lo, deh," lirih Andrhea.


Sontak Bisma menoleh cepat ke wajah Andrhea. "Kenapa?" tanyanya bingung. "Lo nggak usah bayar nggak apa-apa kok."


Kepala Andrhea menggeleng lemah. "Air putih aja."


"Bisma, aku mau bakso dong," pinta Anna memotong pembicaraan Bisma. Sedangkan, Bisma hanya mengangguk pasrah.


Mata Andrhea sesekali melirik ke arah Banyu, Arsen, dan Rayhan. Ia sekarang  merasa asing jika dekat dengan mereka. Untuk kesekian kalinya ia menghela napasnya lelah. Menutup mata mencoba menenangkan dirinya.


"Nih, air lo."


Andrhea menyambut lemah air mineral itu. Baru saja bibir keringnya menyentuh botol air mineralnya, kuah panas bakso milik Anna tumpah mengenai rok Andrhea.


"ANNA! MATA LO DI MANA SIH?!" bentak Andrhea seraya mengibaskan rok basahnya.


"ANDRHEA!!!" Rayhan juga ikut membentak Andrhea.


"Dia yang mulai duluan, Bang."


"A-aku nggak sengaja, Rhea," ucap Anna berlinang air mata.


Darah Andrhea mendadak naik pitam melihatnya. "Nangis aja terus! Bisanya bikin orang susah. Dasar anak penyakitan." Larva kemarahan Andrhea menyembur habis-habisan tanpa takut atas tatapan tajam milik Rayhan.


Tangan bergetar milik Anna mencoba membersihkan rok kotor Andrhea, tetapi langsung di tepis kasar oleh sang empu. Hingga...


Prangg!!!


Tangan Anna menyenggol mangkok bakso miliknya, hingga terkena percikan kuah bakso yang tersisa. Rayhan meringsek maju, mencengkram kerah seragam Andrhea.


"Berani banget lo ngelakuin itu sama adik gue!" Rayhan menguatkan cengkramannya.


"Kenapa gue harus takut, Bang?" tantang Andrhea. "Gua muak sama sikap polosnya, sok lemah, paling dibenarkan padahal dia sendiri yang salah, maunya menang sendiri. Giliran kaya gini, dia cuma bisa berlagak kaya korban yang paling ditindas."


"Terus lo itu apa? terang-terangan lo anggap sahabat, tapi diam-diam lo bunuh Dimas!!" teriak Rayhan tepat di depan wajah Andrhea.


"Lo itu munafik, Andrhea! Setelah semua orang ninggalin lo. Lo malah dengan murahnya minta Banyu buat suka sama lo lagi. Lo itu nggak ada akhlak *******!!"


Bughh!


Tepat saat Rayhan mengakhiri teriakannya, ada seseorang yang dengan berani memukul rahang Rayhan hingga tubuh itu terplontang-planting.


"Buat lo, abang yang nggak ada akhlak!" ucap orang itu membalikkan ucapan Rayhan.


"Sejak kapan lo peduli sama dia?" tanya Rayhan. "Oh... Jangan-jangan lo udah dipuasin luar dalam sama tuh, anak haram." Rayhan menunjuk Andrhea.


"Kenapa emangnya, Bang? Lo iri mau gue puasin juga." Dengan berani Andrhea mengangkat suaranya, walaupun terdengar sengau akibat menahan tangis.


"Cuih. Lebih baik gue mati, daripada dipuasin sama ******* kaya lo!" Rayhan meludah hampir mengenai wajah Andrhea.


Hingga akhirnya, perkelahian pun tak terelakkan lagi. Semua siswa-siswi menonton heboh tanpa ada yang berani memisahkannya.


Satu pukulan mengenai perut Rayhan, hingga membuatnya terbatuk mengeluarkan darah.  Sedangkan yang memukul mendapatkan pukulan di area pelipis mengakibatkan robekan.


Banyu, Bisma, dan Arsen hanya menatap datar perkelahian itu. Sedangkan, Anna menangis sesegukan. Berbeda dengan Andrhea yang menghela napasnya kasar. Dengan keberanian yang tinggi, Andrhea berdiri di tengah-tengah Rayhan dan orang itu.


Sampai pada akhirnya, satu pukulan dari Rayhan mendarat di wajah Andrhea. Tubuh Andrhea pun bagaikan kapas tertiup angin.  Kepalanya bagian belakangnya terantuk meja kantin sebelum tangannya sendiri melindungi kepalanya.


Bagaikan jantung yang ditarik paksa dari tempatnya, napas Andrhea memendek. Ia sesak napas, terlebih panik yang menyerangnya. Semua orang memekik ngeri, saat melihat Andrhea memuntahkan darah dari mulut dan hidung.


Secepat itu pula, orang yang berkelahi dengan Rayhan berlari menuju Andrhea.


"ANDRHEA!!!"


Kedua kalinya Andrhea memuntahkan darah yang lebih banyak dari sebelumnya.


Sedangkan, Arsen yang terlihat ingin membantu, tertahan atas tarikan dari Anna. Merasa bimbang atas gelengan lemah Anna. Tetapi, ada rasa tak nyaman saat Arsen melihat orang itu kelabakan menghawatirkan Andrhea.


"Rasa apa ini," gumam Arsen.


TBC.


Sorry ya updatenya lama.


Tebak-tebakan yuk!


1). Siapa orang yang nolongin Andrhea?


2). Setelah kejadian itu, bagaimana kelanjutan dari sikap Rayhan pada Andrhea?


3). Kira-kira rasa apa yang Arsen rasain?


Jangan lupa vote, komen, dan share!


Mau lanjut?


Salam manis❤


_Salbiyah_