MY FIRST AND ENDING LOVE

MY FIRST AND ENDING LOVE
Duka Yang Mendalam


MY FIRST AND ENDING LOVE


PART 7


Pov Nur


7 Tahun yang lalu


Di taman sekolah aku duduk sendiri dan lalu ke dua sahabat dekat Eko mendekatiku mereka memberikan amplop yang berisi surat dari Eko. Setelah membaca surat itu aku pun menangis tersedu sedu karena ku tak percaya dia benar benar pergi menjauh dari kehidupanku, aku menyesal karena telah menyakitinya sungguh ingin rasanya ku ulang dan hentikan waktu agar aku bisa terus bersama dengan dia. Saat aku hampir membuang amplop yang membungkus surat itu tadi aku merasa meemegang sesuatu dan ku koyak habis amplop itu lalu ku menemukan sebuah kalung bertuliskan nama “Eko♡Nur”. Ku ambil kalung itu dan ku buka liontin berbentuk love itu dan ternyata di dalamnya terdapat fotoku yang tersenyum entah kapan foto itu di ambil rasanya aku tak percaya Eko melakukan itu. Lalu ku lirik foto sebelah kanan liontin ada foto Eko yang tersenyum terasa hangat di saat aku melihat foto itu. Aku pun menyimpan liontin dan surat itu sebagai tanda perpisahan dan kenangan sebelum Eko pergi meninggalkanku supaya di saat dia kembali aku bisa menghakimi dia karena meninggalkanku.


Hari hari pun berlalu tak terasa 3 tahun sudaah Eko pergi dan sekarang aku sudah duduk di kelas 3 SMP Negeri ternama di kota kelahiranku waktu itu. Semua ku dapatkan karena beasiswa yang ki dapat karena kercedasanku walaupun tak secerdas Eko. Tapi berkat motivasinya aku pun berusaha dengan gigih ternyata benar aku mampu melampaui teman yang lainnya buktinya waktu ujian aku masuk 5 besar. Hingga suatu pagi aku pamit ke sekolah seperti biasanya menggunakan sepeda butut yang ibu beli ke abang abang tukang besi lalu ibu bawa ke bengkel untuk di perbaiki karena jarak dari rumah ke sekolah sekitar 5 KM, hari itu tak seperti biasanya rasanya berat untukku meninggalkan ibu pergi dan berkerja ke tempat majikkannya yang baru. Singkat cerita setelah aku lulus SD ibu pun pindah kerja ke rumah salah satu konglemerat yang lainnya tapi majikan ibu kali ini orangnya baik sekali dan sama sekali tidak pernah kasar sama ibu mungkin karena beliau pernah di posisi seperti ibu dulu. Setelah ibu pamit pergi kerja yang berjarak kurang lebih 500 meter dari rumah aku pun berangkat ke sekolah juga.


Tapi takdir berkata lain Allah lebih sayang sama ibu. Disaat dia pergi membeli sayur untuk keperluan masak di rumah majikkannya dia tertabrak mobil yang melaju kencang dan menorobos lampu merah sehingga ibu tertabrak dan terpental jauh. Orang orang yang melihat kejadian itu lansung mengamankan pelaku dan menolong ibu membawa ke rumah sakit terdekat. Saat itu aku tidak ada di sana karena sedang di sekolah.


Di Sekolah


Saat jam pelajaran masih berlansung kami di kejutkan oleh majikkan ibu yang mengetuk pintu kelas dan minta izin kepada guru yang mengajar untuk menjemputku.


“ Assalammu’alaikum pak, saya ingin menjemput Nur ada urusan mendadak.” Kata majikkan ibu berbohong karena tak ingin aku kwatir dan histeris.


“ Wa’alaikumsalam pak, silahkan pak. Nur ayo kemaskan barangmu dan ikut bapak ini.” Kata Pak Guru yang sebenarnya telah di SMS Kepala Sekolah dan supaya tidak panjang masalahnya.


Aku pun bergegas memasukkan peralatan tulis dan buku buku ku. Lalu temanku Dian menanyakan aku ingin kemana.


“ Mau kemana Nur..?” Tanya Dian.


“ Aku pun tidak tau, tapi itu majikkan ibu mungkin ada acara kali di rumahnya soalnya aku sering bantu bantu ibu.” Jelasku pada Dian.


“ Ya sudah hati hati ya. Kalau ada masalah seegra beritahu aku.” Kata Dian.


“ Siiap bos.” Candaku sambil memberikan tanda hormat.Aku pun mangikuti majikkan ibu dan masuk ke mobil.


Di Ruang Kelas


“ Innalillahi wa innalillahi ro’jiun, kita turut berduka buat teman kita Nur karena ibunya sedang kritis karena di tabrak orang dengan mobil saat beliau berjalan kaki habis dari pasar.” Kata Pak Guru ke murid murid lain.


“ Innalillahi wa innalillahi ro’jiun.” Jawab mereka serentak.


“ Pak apa boleh saya minta izin pulang untuk menemani Nur.” Kata Dian kepada Pak Guru.


“ Baik pak terima kasih.” Kata Dian lalu berkemas dan pergi meninggalkan kelas.


Lalu Pak Guru dan murid yang lainnya kembali meneruskan pelajaran yang sempat tertunda.


Di dalam perjalanan aku hanya terdiam karena malu selama ini tak pernah naik mobil kemana mana. Sampai akhirnya kami sampai di sebuah rumah sakit umum dan aku merasa heran mengapa aku dibawa kesini. Ingin rasanya aku bertanya tapi aku terlalu malu untuk bertanya dan sampailah kkami di sebuah ruang ICU dan di saat pintu kamar di buka dan betapa terkejut dan hancurnya hatiku berkeping keping melihat orang yang terbaring di sana berbalut perban di kepala, tangan dan kaki. Dan muka penuh dengan lebam lebam belum lagi selang infus sebelah kiri dan selang infus darah sebelah kanan ditambah alat bantu oksigen. Miris rasanya melihat orang yang kita cintai seorang yang melahirkan kita dan yang selalu bersama kita selama ini berada di ranjang itu dengan penub rasa sakit. Ingin rasanya aku menangis hiteris tapi aku harus kuat karena aku tidak ingin mengganggu ibu beristirahat tapi air mataku terus mengalir tak henti henti hingga ku berjalan terus mendekat dan mendekat sampailahku di samping ibu. Tak terasa air mataku menetes dan mengenai tangan ibu. Ibu pun tersadar dari tidurnya dan berkata sebuah rahasia besar kepadaku. Rahasia siapa aku sebenarnya dan asal usul ayah dan ibu.


“ Anakku mendekatlah sayang ibu ingin berbicara.” Kata ibu.


“ Iya ibu.” Kataku sambil ku hapus air mataku agar ibu tidak sedih.


“ Sayang ibu ingin bercerita sebuah rahasia tentang siapa kamu sebenarnya.” Kata ibu sedikit matanya sendu menahan sakit yang dia rasa.


“ Tapi bu, ibu baru sadar jangan banyak ngomong dulu pikirkan kondisi ibu.” Kataku kepada ibu.


“ Tidak sayang, ibu rasa hidup ibu tidak lama lagi.” Kata ibu sambil meneteskan air mata.


“ Tidak bu, ibu harus kuat demi Nur bu. Ibu selalu pengenkan lihat Nur sukses nanti.” Kataku memberikan semangat pada ibu.


“ Iya sayang. Tapi kamu harus tau kalau sebenarnya majikkan ibu itu adalah kakak kandung ibu dia pamanmu. Sebenarnya ayah ibu ataau kakekmu masih hidup dia berada di Jakarta sana. Dulu ayah daan ibu nikah diam diam dan hanya pamanmu yang tau dan mewalikan ibu nikah karena kakek tidak setuju ibu menimah dengan anak saingan bisnisnya atau bisa di panggil anak munsuh bebuyutannya begitu pula ayahmu keluarganya juga menantang hingga kami memutuskan pergi dan lari ke Kalimantan Barat dan menetap di Pontianak ini setelah menikah. Walaupun berkehidupan sederhana tapi kami bahagia apalagi setelah kehadiranmu nak kamulah harta kami yang paking berharga” Jelas ibu.


“ Tapi bu mengapa ibu tak kembali mencari kakek.” Tanyaku.


“ Tidak sayang ibu takut kakekmu masih marah. Dan ibu berharap kamulah yang harus menggantikan ibu menemui kakek pergilah nak carilah kakekmu bawalah gelang giok ini karena ini adalah warisan dari almarhumah nenekmu.” Kata ibu sambil memberikan gelang gioknya padaku.


“ Iya bu, Nur janji akan menemukan kakek.” Kataku berjanji pada ibu.


Setelah itu tiba tiba kondisi ibu drop kembali dan tak lama kemudian sang pencipta menjemput ibu untuk selama lamanya menyusul ayah dan meninggalkan aku sendiri.


“ Maaf kami sudah berusaha Ibu Zara telah tiada.” Kata dokter yang menangani ibu.


“ innalillahi wa innalillahi ro’jiun, iiiiiiiiiibbbbbbbbuuuuuuuu.” Teriakku.


Dian yang baru datang lansung memelukku dan mencoba menenangkanku hingga dia pun ikutan menangis lalu paman mendekatiku dan lansung memelukku hingga ambruk aku di pelukkan paman dan tiba tiba penglihatanku gelap dan aku pun pingsan tak sadarkan diri hingga 2 jam. Dan saat aku sadar aku sudah berada di rumah paman dan proses pengurusan jenazah ibu telah dilakukan hingga saat semua seleaai dan ibu pun di kuburkan di samping kuburan ayah cinta sejati ibu. Lalu paman mendekat sambil membawa sebuah kotak kecil berukuran 30×30 CM.


Kami pun kembali pulang kerumah paman dan meninggalakan rumah terakhir ayah dan ibu. Ibu aku berjanji akan menemukan kakek demi ibu. Lalu ku buka kotak dari paman dan ternyata isinya.


“ Kliiikkk”