MY FIRST AND ENDING LOVE

MY FIRST AND ENDING LOVE
Penyelamatan Nur 1


Eko yang sudah mengetahui keberadaan Nur ingin bergegas menyelamatkannya karena dia sangat khawatir dengan keadaan Nur. Tapi dia di cegah oleh Sabar dan mengingatkan Eko jangan buru-buru.


“Eko tunggu, jangan gegabah kita tidak tahu siapa yang kita hadapi.” Sabar menghalangi.


“Minggir Bar, Nur sendiri di sana aku merasa dia membutuhkanku.” Eko berusaha untuk pergi.


‘Bug’ sebuah tinju dari Sabar mengenai wajah Eko.


“Apa-apaan kamu Bar, kenapa kamu memukulku, itu sakit Bar!!!”


“Aku ingin kamu sadar, bahwa Nur butuh bantuanmu bukan butuh kecerobohanmu!!!” Teriak Sabar.


“Tapi tidak begitu juga caranya!” Teriak Eko juga.


Sabar dan Eko pun berkelahi mereka saling dorong, Bagus pun berusaha melerai mereka berdua namun gagal. Sementara itu Dian hanya terdiam dan berpikir mencari cara tidak menghiraukan mereka berdua.


Tari yang semula diam akhirnya berbicara dan menyuruh mereka berhenti.


“Eko, Sabar cukup.” Kata Tari dengan lembut. Eko dan Sabar tidak menghiraukan ucapan Tari.


“Eko, Sabar hentikan!” Teriak Tari sedikit nyaring, namun tak kunjung di dengarkan.


“Eko, Sabar berhenti jika tidak kalian akan tahu akibatnya!” Teriak Tari mengancam mereka berdua. Namun mereka tidak kunjung berhenti berkelahi.


Hingga akhirnya Tari mendekati mereka berdua dan.....


PLAK....PLAK....


Tari menampar Eko dan Sabar lalu menjewer telinga mereka berdua. Dan berteriak di dekat telinga mereka.


“Kalian berdua bisa berhenti tidak!!! Jika tidak bisa membantu lebih baik kalian pergi dan tidur saja atau pulang bersembunyi di bawah kasur sana!!!” Teriak Tari dan tak melepaskan jeweran tangannya di telinga Eko dan Sabar.


Eko dan Sabar hanya terdiam dan mengangguk setelah itu Tari melepaskan tangannya. Sedangkan Bagus dan Dian hanya saling pandang dan berbicara berbisik karena takut Tari mengamuk.


“4 tahun berteman dengan Tari, baru kali ini aku melihat dia marah dan mengamuk seperti singa.” Dian berbisik kepada Bagus.


“Iyakah Yang, kalau seperti itu Sabar harus hati-hati jangan sampai membangunkan singa tidur lagi.” Kata Bagus sambil sedikit terkekeh, tapi sayangnya kedengaran oleh Tari.


“Apa Gus!!! Ada yang lucu mau kena juga kamu??” Tari mengepalkan tangannya ke depan Bagus.


“Tidak-tidak, aku hanya bercanda dengan Dian, iyakan Yang.” Colek Bagus.


“Gus, yang sopan jangan sentuh aku. Eh tunggu dulu tadi kamu panggil aku apa? Yang katamu!!” Dian melotot ke arah Bagus.


“Gawat.” Bagus menjauhi Dian yang siap-siap memukulnya.


Mereka pun mulai rencana, dan setelah 10 menit akhirnya rencana mereka berhasil di susun dengan rapi.


“Baiklah, sekarang aku akan ke rumah tua itu terlebih dahulu setelah 10 menit aku berangkat kalian langsung berangkat juga, bersama pengawal yang lainnya.” Perintah Eko.


“Baik Eko, kamu hati-hati dan tolong jangan sampai gegabah dan membuat salah satu dari kalian terluka.” Kata Tari.


Eko pun melajukan mobilnya ke tempat di mana Nur di sekap, sementara itu di saat Eko baru saja meninggalkan markas mereka, Sabar terdiam dan Bagus mendekatinya dan berbisik.


“Bar, Tari cantikkan.” Goda Bagus.


“Iya Gus cantik, tapi menakutkan di saat dia marah Gus, masih terasa tamparan dan jewerannya Gus.” Sabar memegang pipi dan telinganya.


“Tapi kamu sukakan.” Goda Bagus lagi.


“Iya Gus, Eh tunggu dulu Gus, dari tadi kamu goda aku ya, s*al kamu Gus.”


Bagus berlari dan meninggalkan Sabar dan Sabar mengejarnya. Sementara itu Dian dan Tari terdiam sampai akhirnya tak terasa 7 menit berlalu Eko berangkat.


“Bagus, Sabar berhenti!!!” Teriak Tari, spontan mereka berhenti dan Bagus ketakutan jika di harus bernasib sama dengan dua temannya tadi. Sedangkan Sabar memegang pipi dan telinga yang jadi korban Tari marah.


“Baik, Tari ayo kita bersiap-siap dan masuk ke dalam mobil.” Kata Bagus.


“Aku akan segera menghubungi anak buahku untuk menyusul kita dari belakang.” Timpal Sabar pula.


Mereka pun mengejar mobil Eko, sementara itu Eko berkendara dengan sangat lajunya menggunakan mobil sportnya.


“Nur tunggu aku, bertahanlah aku akan menolongmu, tunggulah kedatangan aku sayang.” Monolog Eko.


Sementara itu Nur pingsan setelah di pukul dan di cambuk habis-habisan oleh Vivi.


“Dasar lemah.” Ejek Vivi melihat Nur pingsan.


“Penjaga terus awasi dia sampai nanti malam pestanya di mulai.” Perintah Vivi.


“Baik nona muda, tentu saja kami akan menjaga santapan kami nanti dengan baik.” Kata orang itu.


“Baguslah, ingat jangan berbuat sebelum aku perintah, aku ingin merekam pesta itu nantinya, hahahahhaha.” Tawa jahat Vivi.


Setelah beberapa jam perjalanan akhirnya Eko sampai di hutan itu, karena tidak ingin di ketahui kehadirannya dia memarkirkan mobilnya sekitar 500 meter dari rumah tua itu. Eko pun berlari dengan hati-hati supaya tidak ada yang melihatnya datang.


Dan setelah 15 menit akhirnya Eko sampai di depan rumah tua itu. Namun tiba-tiba dia mendengar teriakkan Nur.


“Tolong....tolong...tolong!!!” Suara Nur berteriak.