
Di rumah kosong di tengah hutan
Nur terbangun dari pingsannya, dia merasa tubuhnya tidak bisa di gerakkan, kakinya terikat di setiap kaki kursi yang mengikatnya. Tangannya di ikat ke belakang kursi, sedangkan tubuhnya juga di ikat sehingga Nur benar-benar terikat di kursi itu. Mata dan mulutnya juga di tutup agar tidak bisa melihat dan berteriak.
Di mana aku? Mengapa tubuhku terikat? Aku tidak bisa melihat di mana ini? Dan tak bisa berteriak minta tolong batin Nur.
Aku harus mencari cara agar bisa terbebas dari sini, jangan sampai penculik itu datang batin Nur lagi.
Nur pun berusaha untuk lolos dari ikatan, dia menggerak-gerakan tubuhnya dan menggosokkan talinya ke kursi, walaupun sangat kecil kemungkinan bisa lolos dia terus berusaha. Sampai akhirnya sebuah langkah terdengar.
TAK...TAK...TAK
Suara langkah itu mendekat dan tiba-tiba ‘BRUK’ sebuah pukulan mendarat di dada Nur.
Nur pun kesakitan dan meringis. Ya Allah sakitnya, mengapa orang ini ingin mencelakaiku? Kata Nur di batinnya.
“Setelah sekian lama, ternyata kamu masih saja menggoda orang yang aku suka!!!” Teriak wanita itu sambil menjambak jilbab Nur. Lalu membuka mulut Nur.
“Apa mau kamu? Siapa kamu? Aku tidak mengenalmu sama sekali? Dan laki-laki mana maksudmu aku tidak pernah menggoda siapa pun.” Kata Nur.
“Hahahahahahahahaha, lucu sekali masih tidak mengaku, dasar anak seorang wanita penggoda wajar saja menurut sikap penggodanya.” Hina wanita itu dan langsung mencambuk Nur.
“Aaaaaaahhhhhhhhh!!! Sakit sekali.”
“Sakit??? Ini bukan sekedar sakit tapi ini adalah hukuman buat kamu.”
“Siapa sebenarnya kamu? Aku benar-benar tidak mengenalmu.” Nur menangis kesakitan.
“Lihat baik-baik dan ingat siapa aku.” Dengan kasar wanita itu membuka penutup mata yang mengikat mata Nur.
Nur merasa matanya kabur dan masih berbayang-bayang sekitar 5 menit penglihatannya pun kembali terang. Dia memandang wanita itu cukup lama sekitar 2 menit dia pun ingat siapa wanita itu.
“Vivi!!!” Teriak Nur.
“Iya ini aku, Vivi. Akhirnya kamu ingat juga kan dengan orang yang berhasil kamu keluarkan dari SMP dan kamu penjarakan.” Geram Vivi.
“Apa maksudmu? Aku tidak mengerti.” Nur bingung.
“Masih pura-pura, rasakan ini!!!”
Plak...plak...plak... 3 cambukkan mengenai tubuh Nur.
“Hentikan Vivi, itu sakit sekali.” Mohon Nur.
“Sakit aku akan ceritakan apa yang sakit.”
“Kamu tahu mengapa anak-anak membully-mu waktu SMP, itu semua aku perintahkan dan suruh. Tapi semua berakhir dengan gagal karena temanmu Dian yang berhasil mengungkapnya dan membuat kami semua di keluarkan dari SMP. Kamu tahu gara-gara Dian kami tidak bisa masuk SMP mana pun karena nama kami di masukkan ke daftar siswa hitam.”
“Mengapa kamu begitu kejam, Vivi?” Tanya Nur.
“Kejam, akan aku ceritakan yang lebih kejam. Akulah yang menyebarkan gosip bahwa ibu kamu seorang wanita penggoda karena aku benci sama ibu yang bisa membuat ayahku jatuh cinta. Lalu setelah lulus pun ayah selalu mencari-cari ibu kamu. Dan dia berniat menikahinya.”
“Tapi ibu tidak pernah menghiraukan dan membalas perasaan ayahmu, bahkan dia selalu menghindarinya.”
“Iya karena itu aku benci mengapa ayahku bisa suka sama pembantu, dan kamu harus tahu mengapa ibumu meninggalkan.”
“Apa maksudmu, Vi.”
“Hahahaha, akulah yang merencanakan kecelakaan ibumu. Aku menyuruh seseorang untuk menabraknya dan aku juga yang membuat ibumu sakit-sakitan dan menyuruh Risa untuk memberikan racun di makan siang ibumu sehingga tubuhnya lemah. Tapi rencanaku kabur gagal karena pamanmu yang berkuasa itu dia membuat aku di penjara selama 4 tahun, tapi aku berhasil kabur dari penjara dan ingin membalaskan dendamku.”
“Dasar g*la kamu, dasar psikopat kamu Vivi!!!” Teriak Nur sambil menangis-nangis.
“G*la!!! Ya memang aku g*la dan sekarang giliranmu untukku habisi!!!” Teriaknya.
“Apa salahku ke kamu Vivi? Mengapa kamu begitu kejam.”
“Salahmu adalah karena Eko mencintaimu bahkan setelah 7 tahun dia masih mencintaimu.”
“Aku tidak pernah mengejar Eko, tapi dia yang selalu mengejarku.”
“Karena itu aku benci kamu, walaupun kamu tolak Eko masih saja dia berusaha mendapatkan hatimu. Dan sekarang kamu harus mendapatkan apa yang aku derita. Rasakanlah ini!!!” Plak...plak...plak.. suara cambukkan mengenai tubuh Nur
Vivi begitu membabi-buta mencambuk Nur hingga akhirnya Nur jatuh pingsan.
Eko tolong aku, aku takut dan sakit kata Nur di batinnya memanggil Eko.
Eko seperti orang g*la mencari Nur dari pagi, dia memerintahkan seluruh pengawal dan mahasiswa di kampus untuk mencari Nur.
Siang hari Tari kembali ke Asrama dan melihat Nur tidak ada di sana, dia pun menelepon Dian dan bertanya apakah Nur sudah ada di Kampus.
“Assalamualaikum Dian, apa Nur sudah sampai di kampus?”
“waalaikumsalam, tidak ada Tari, aku kira dia belum berangkat dan masih di Asrama.”
“Gawat Dian, Nur tidak ada di asrama, aku telepon nomornya juga tidak aktif.” Kata Tari khawatir.
“Apa katamu, baiklah kamu tanya sama anak yang lain di asrama nanti aku tanya anak di kampus.” Dian mencoba tenang.
“Baiklah.” Dian pun mematikan teleponnya, dia pun bertanya ke mana Nur pergi kepada setiap orang di kampus dan bertanya adakah yang melihat dia datang.
“Ada lihat Nur?” tanya Dian.
“Tidak ada itu, dari pagi dia tidak kelihatan.” Jawab mereka semua.
Begitu juga Tari di Asrama tidak menemukan apa-apa bahkan ada yang bilang sejak pukul 8 pagi Nur sudah meninggalkan Asrama.
“Kamu melihat Nur tidak?”
“Sejak pukul 8 pagi dia sudah ke kampus, memang ada apa Tari?”
“Nur menghilang, HP Nur juga tidak aktif.”
“Ya Tuhan, cepat kita semua cari dia.”
Tari pun kembali ke kampus dan mencari Dian.
“Dian, bagaimana ada kabar?” tanya Tari.
“Tidak ada katanya Nur sama sekali tidak datang ke Kampus.” Jawab Dian.
“Di asrama juga tidak ada, bahkan ada bilang dia sudah pergi ke kampus sejak pukul 8 pagi tadi.” Kata Tari.
Dian dan Tari tidak menyadari Eko berada di belakang mereka dan mendengar semuanya.
“Apa!!! Nur hilang.” Teriak Eko.
Dian dan Tari pun melihat ke belakang dan melihat mata Eko yang mengeluarkan api amarah yang siap menerkam mangsanya.
“E-Eko.” Dian dan Tari ketakutan.
Eko lalu menelepon orang untuk memerintahkan semua orang di kampus untuk mencari Nur dan siapa yang menemukannya akan di berikan imbalan uang Rp.10.000.000. Lalu dia menelepon Sabar dan Bagus.
“Bagus kamu di mana segera cari keberadaan Nur, dan Sabar kerahkan seluruh pengawal untuk mencari Nur. Dan jangan lupa kalian berdua jaga Tari dan Dian jangan sampai mereka kenapa-kenapa.”
Eko dan seluruh orang yang di perintahkannya tak kunjung menemukan Nur dan sama sekali tidak ada petunjuk tentang Nur. Bahkan Bagus tidak menemukan apa pun di laptopnya.
“Eko, sepertinya ini penculikan terencana karena semua CCTV kampus mati tepat pukul 08.15 menit dan menyala kembali 5 menit kemudian dan aku perkirakan saat itu Nur di culik dan dibawa menggunakan mobil.” Jelas Bagus.
Ayo Eko berpikir, pasti ada cara kata Eko di batinnya.
“Oh iya liontin itu, Tari dan Dian apa Nur memakai liontin yang aku kasi kemarin malam di saat aku minta maaf dengan Nur.”
“Setelah dari malam itu dia selalu memakainya Eko tak pernah di lepasnya walaupun mandi.” Kata Dian.
“Syukurlah. Minggir gus berikan laptopmu.” Perintah Eko.
“Ada apa Eko?” tanya mereka serentak.
“Kalung itu terpasang GPS dan tak bisa di deteksi menggunakan alat apa pun, aku membelinya untuk jaga-jaga. Dan untuk melacaknya harus menggunakan satelit dan akhirnya ketemu.”
“Kami ingin melihatnya, Eko.”
“Ada yang tahu lokasi ini?” Tanya Eko kepada Tari dan Dian.
“Coba aku lihat, ini adalah rumah tua di hutan terlarang sekitar 2 jam perjalanan ke sana.” Kata Dian.
“Baiklah aku akan ke sana.” Kata Eko.