
“Hukumannya adalah tetaplah menjaga jarak dariku.” Kata Nur.
“Mengapa Nur? Bukankah kamu sudah memaafkanku!” Tanya Eko.
“Iya aku memang memaafkanmu Eko, tapi sekarang semuanya berbeda aku bukan lagi Nur yang dulu, sekarang lihatlah penampilanku sangat berbeda dari yang lain, itu semua aku lakukan untuk menjaga kehormatanku dan menjalankan kewajibanku sebagai Muslimah sejati.” Jelas Nur.
“Baiklah aku mengerti Nur, tapi bolehkah kita berteman?” Tanya Eko.
“Tentu, siapa pun boleh menjalin teman.” Kata Nur.
“Dan bolehkah aku meminta satu hal lagi?” Tanya Eko.
“Apa itu Eko? Jika itu tidak melanggar syariat Islam aku tidak masalah.” Kata Nur.
“Tidak, aku hanya ingin memanggilmu dengan sebutan adik, apakah boleh adik Nur?” Tanya Eko.
“Tentu boleh, kalau seperti itu aku akan memanggilmu abang Eko.” Kata Nur sambil tersenyum pada Eko.
“Deg...deg...deg” detak jantung Eko berdetak kencang, Eko menatap ke arah Nur dan ingin rasanya dia menyentuh wajah manis kekasih kecil yang di rindukannya tapi dia sadar bahwa sekarang mereka bukan anak-anak lagi tapi sudah menjadi pria dan wanita dewasa.
“Abang, ada apa kenapa kamu melamun?” Tanya Nur karena dia melihat Eko dari tadi diam.
“Tidak apa-apa hanya saja memikirkan sesuatu hal yang tidak pasti.” Kata Eko berbohong.
“Ya sudahlah, di mana yang lainnya kenapa belum juga menemui kita.” Kata Nur mencari teman-temannya yang lain.
“Sebentar lagi, mereka akan bergabung makan malam sama kita.” Kata Eko.
Tak berapa lama kemudian Dian, Tari, Bagus dan Sabar datang menghampiri.
“Ciye mas bro, akhirnya bersatu.” Kata Sabar menggoda Eko.
“Apaan sih loh Bar, kami hanya teman biasa saja.” Kata Eko.
“Sudahlah bro, tidak perlu di jelaskan dan malu-malu kita berdua pasti mendukung, iyakan Gus.” Kata Sabar lagi.
“Sudah Bar, bicaranya aku mau makan.” Kata Bagus mengalihkan pembicaraan karena curiga akan raut wajah Eko yang kelihatan sedih.
“Ada apa dengan Eko seharusnya dia gembira, tapi dari sorotan matanya kelihatan dia sedih.” Kata Bagus bertanya-tanya bergumam dalam hati.
Mereka berenam pun menduduki meja yang sudah di pesan dan di siapkan dari tadi oleh para pelayan restoran. Memang malam ini hanya mereka yang makan di sana karena restoran tersebut telah di sewa Eko untuk acara ini.
“Seharusnya hari ini, hari yang spesial buatku tapi lagi-lagi aku di tolak oleh Nur.” Kata Eko berbicara di dalam batinnya, sambil memandang ke arah Nur.
Nur terdiam dan melirik ke arah Eko yang dari tadi terdiam.
“Maafkan aku Eko, aku tidak bisa mengorbankan kepercayaan Islam demi sebuah perasaan cinta.” Kata Nur di dalam batinnya sampai menunduk ke bawah. Dian melihat Nur menunduk dan merasa curiga.
“Tidak apa-apa hanya saja aku berpikir, kalian berdua punya utang penjelasan padaku!” Kata Nur menekan Dian.
“Buuuurrrr, uhuk...uhuk...uhuk...!” Suara Tari tersedak.
Dian pun mencoba membantu Tari mengeluarkan makanan yang menyangkut. Dian memukul-mukul pundak Tari dan seketika “Cuss” sepotong daging kerang meluncur keluar dari mulut Tari dan daging itu mengenai Sabar yang asyik makan dengan makanannya. Spontan semuanya tertawa karena tepat sekali wajah Sabar yang kena.
“Tari, kamu dendam lama ya sama aku?” Tanya Sabar sambil mengelap wajahnya.
“Maaf Bar, benar-benar tidak sengaja.” Kata Tari.
“Nasib baik kamu perempuan, jika tidak kamu sudah aku habisi.” Kata Sabar menekan Tari.
“Memang kenapa kalau aku perempuan, aku juga bisa bela diri.” Kata Tari melawan ucapan Sabar.
“Kamu ya!” Kata Sabar marah.
“Sudahlah Bar, lupakan saja.” Kata Bagus mencoba menenangkan.
“Iya Bagus, benar Tari tidak baik saling bermusuhan.” Kata Dian ke Tari.
Eko dan Nur hanya tersenyum menyaksikan tingkah ke dua teman mereka masing-masing. Jam pun berlalu tidak terasa hampir tengah malam mereka berada di tempat itu. Akhirnya setelah mengobrol dan makan-makan mereka pun pulang.
“Ayo naik, kami akan mengantar kalian.” Kata Bagus.
“Tidak usah repot-repot, asrama dekat kok dari sini.” Kata Dian mencoba menolak.
Nur, Dian dan Tari hanya terdiam sampai akhirnya Eko berbicara.
“Ayolah naik dek, tidak baik anak gadis berjalan kaki di tengah malam.” Kata Eko.
Nur pun berpikir sejenak dan menyetujui permintaan Eko.
“Baiklah, ayo teman-teman kita pulang.” Kata Nur.
Sesampai di asrama Nur, Dian dan Tari pun turun dari mobil.
“Terima kasih untuk semuanya bang, aku harap kamu tidak kecewa dengan keputusanku.” Kata Nur kepada Eko sebelum dia masuk ke dalam asrama.
“Tidak, tidak akan kamu tenang saja.” Jawab Eko.
“Nur kita lihat saja, aku pastikan akan mendapatkanmu seutuhnya, jiwa dan ragamu adalah milikku.” Kata Eko dalam batinnya.
Ke Esokkan Paginya