
Flashback Masa SMP
Hari pembulian
Seperti biasa setiap pagi Nur berangkat sekolah awal sekali, jam menunjukkan pukul 05.30 pagi. Tapi Nur sudah siap-siap berangkat sekolah karena jarak sekolah dan rumahnya cukup jauh. Tak lupa dia sebelum berangkat sekolah untuk mencium punggung tangan ibunya.
Karena menempuh jarak yang berkilo Nur tiba di sekolah sekitar jam 06.30 pagi. Nur sudah duduk di bangku paling depan berbeda dengan waktu SD yang suka duduk di pojokkan kelas. Sekarang Nur lebih suka duduk baris di depan.
Baru sekitar 5 menit Nur duduk di bangkunya dia pun mendengar keributan di luar kelas. Saat dia keluar betapa terkejutnya Nur melihat sepedanya jadi bahan kejahilan teman sekelasnya. Kedua ban sepedanya di copot dan rantai sepedanya di putuskan lalu di ikatkan kepada kedua ban sepedanya. Lalu batang sepedanya di cat dengan cat bekas yang di coret asal-asalan di sepedanya.
Betapa terkejutnya Nur dan langsung berlari mencoba menghentikan perbuatan teman temannya.
“Hentikan!” Teriak Nur.
“Apa katanya teman-teman dia mau lagi.” Kata salah satu pembully itu.
“Tidak. Jangan ini sepeda pemberian ibuku hasil kerja kerasnya.” Kata Nur memohon.
“Apa istimewa sepeda butut ini, pembantuku juga tidak mau menaikinya. Sudahlah warnanya karatan dan pudar, peot sana sini lagi hahahaha.” Ejek salah satu siswa.
“Oh ya guy. Kita lupa dia kan memang anaknya pembantu, jadi pantaslah naik sepeda butut kayak itu.” Ejek siswa yang lainnya.
“Tahu tidak guy. Kata orang ibunya itu penggoda majikannya sendiri, mana ada majikan selalu ajak pembantu ke mana-mana.” Ejek yang satu lagi.
“Betul itu, mamaku juga bilang ibunya itu wanita penggoda.” Kata mereka lagi.
Nur hanya terdiam mendengar ejekan teman-temannya dan tiba-tiba salah satu dari mereka menyiram Nur dengan cat sisa bercampur air got. Sehingga seluruh baju seragam Nur kotor dan bau.
Setelah kejadian itu berlangsung Dian pun baru datang ke sekolah bersama orang tuanya. Melihat Nur berantakkan Dian pun mendekat.
“Siapa pelakunya?!” Teriak Dian.
“Eh Dian, loh kan anak orang kaya kenapa kamu bela anak pembantu itu.” Kata salah satu siswa.
“Kaya atau miskin di mata Tuhan kita sama saja. Tak ada apa-apanya di bandingkan kuasanya. Baiklah jika tidak ada yang mengakui, biar aku yang menyelidikinya.” Kata Dian.
Sementara itu Nur masih ketakutan dan menangis. Dian langsung membawa Nur ke toilet untuk membersihkan diri dia langsung menelepon papanya untuk menyelidiki siapa pelaku pembulian dan membawakan peralatan mandi serta pakaian untuk Nur.
“Nur, kamu tidak apa-apa, ada yang sakit?” Tanya Dian.
“Mulai sekarang kita akan berteman, supaya aku bisa menjagamu agar tidak terulang lagi masalah ini.” Kata Dian.
“Sekali lagi terima kasih karena menolongku, tapi soal berteman rasanya kita tidak pantas.” Kata Nur merendahkan diri.
“Jangan bicara seperti itu Nur, pokoknya mulai sekarang aku akan jadi teman terbaikmu.” Kata Dian lagi.
Nur hanya terdiam setelah membersihkan diri dan berganti baju Nur pun minta izin pulang. Sementara itu 7 orang yang membully Nur di tangkap dan di bawa ke ruang kepala sekolah. Tentu pada saat pembulian guru-guru belum ada yang datang. Semenjak kejadian itu Nur 1 minggu tidak sekolah di kabarkan sakit. Lalu Dian pun pergi menjenguk Nur.
“Assalamualaikum.” Ucap Dian.
“Waalaikumsalam, iya cari siapa ya nak?” Jawab ibu Nur.
“Maaf tante Nurnya ada? Soalnya sudah 1 minggu dia tidak masuk sekolah.” Kata Dian.
“Ada nak, silakan masuk.” Kata ibu Nur.
“Iya tante.” Kata Dian lagi.
“Sebentar ya tante panggilkan Nur.” Kata ibu Nur.
Beberapa menit kemudian ibu Nur membawa secangkir teh dan menyajikannya ke Dian.
“Maaf nak, Nur nya tidak mau di ganggu saat ini. Semenjak 1 minggu yang lalu tingkah laku Nur sungguh aneh, terkadang dia menangis, sering melamun bahkan pada saat tidur, Nur menjerit berteriak minta tolong dan bilang berhenti.” Jelas Ibu Nur.
“Jadi Nur depresi tante.” Kata Dian lagi.
“Iya bisa di bilang seperti itu.” Kata ibu Nur.
“Baiklah tante besok saya kemari lagi.” Kata Dian.
Sesuai janji Dian keesokan harinya dia membawa pamannya seorang psikiater untuk menyembuhkan Nur dan kurang dari 1 minggu Nur pun kembali sembuh.
Flashback off
Setelah mendengar masa SMP Nur air mata Eko menetes, tak di bayangkannya bagaimana nasib Nur jika tidak ada Dian.