
MY FIRST AND ENDING LOVE
PART 14
Pov Eko di Belakang Panggung Seminar
“Nanti jika ada pertanyaan yang berhubungan dengan masalah asmaraku itu tugasmu Gus buat tunjukkan foto kalung liontin ini ke layar monitor panggung. Sedangkan kamu Sabar kamu harus atur supaya Nur duduk tepat di hadapanku. Dan kamu Rika kamu harus duduk di belakang Nur untuk berjaga jaga.” Jelasku kepada Bagus, Sabar dan Rika.
“Baik bos.” Jawab mereka serentak.
Aku pun menaiki panggung dan mulai seminar sampai akhirnya selesai dan masuk sesi pertanyaan. Benar dugaanku pasti ada pertanyaan itu di saat aku menjelaskan dan menceritakan masa lalu kami aku melirik ke arah Nur dan ku lihat dia menunduk diam tanpa bicara sedikitpun padahal kedua temannya sedang asik berbicara apalagi si Tari sungguh histeris melihatku. Dan kulihat Nur sedang diam saja lalu ku beri kode Bagus buat menampilkan foto liontin itu dan betapa terkejutnya Nur melihat liontin itu dia langsung menatapku dan aku pun mantap dia kembali. Mata kami saling bertatapan lagi. Lalu dia langsung menunduk lagi sambil matanya berkaca kaca. Sampailah di pertanyaan khusus orang terakhir aku pun menunjuk Nur.
Pov Nur
Dari berangkat kampus hati ku sudah gelisah hingga sampai seminar pun di mulai. Betapa terkejutnya diriku ternyata orang yang berseminar itu mirip dengan seseorang rasanya. Aku pun mengingat ingat di mana aku bertemu dan aku ingat aku pernah melihat orang itu mirip dengan foto yang ada di dalam kotak almarhumah ibu berikan kepadaku. Tapi siapa dia apa hubungan mereka?
Lalu dia memperkenalkan diri namanya George Zeinko Putra Edward. Namanya bukan Eko Saputra batinku. Aku pun terdiam sampai Dian menegurku dan si Tari jangan ditanya dia fokus sama wajah tampan Pak Zein dari pada dengar seminarnya.
Sesi pertanyaan pun di mulai awal pertanyaan kami semua takjub akan kepintaran dan kerja keras Pak Zein mendapatkan semua gelarnya. Tapi di saat pertanyaan ke dua.
Aku terkejut mendengar Pak Zein bercerita jika dia pergi ke New York 7 tahun yang lalu sama dengan Eko 7 tahun yang lalu pergi meninggalkanku. Bahkan cerita Pak Zein hampir sama dengan kisah kami.
Sementara itu Tari berbicara kepadaku.
“Wah so sweet yaa Nur andaikan aku di perlakukan seperti itu.” Kata Tari.
Dian yang berada di samping Tari langsung menjintak kepala Tari.
“Aaawww sakit tahu Dian.” Kata Tari sambil mengelus kepalanya.
Dan pada saat Pak Zein memperlihatkan kalung liontin itu berbentuk hati dan terukir dua nama yang di sensornya karena alasan privasi.
“Nur lihat itu kalung mirip sama kalung yang kamu pakai.” Kata Dian.
“Iya Dian kamu benar.” Kata Tari lagi.
Aku hanya terdiam memandangi foto liontin di hadapanku. Dan tanpa sadar Pak Zein juga menatapku dan mataku saling bertatapan dengan matanya. Langsungku memandang ke arah lain dan sedikit aku toleh ke arah Pak Zein dia tersenyum kepadaku. Mimpikah aku dia tersenyum saya persis seperti senyum Eko waktu dulu kepadaku.
Aku terus melamun bersama pikiranku yang terus bergejolak penuh dengan pertanyaan dan seribu rasa penasaran. Dan di saat aku melamun tiba-tiba memukul pundakku dan berkata.
“Nur kamu di panggil Pak Zein.” Kata Dian.
“Iya iya.” Kataku
“Deg deg deg.” Jantungku berdegup kencang. Pov berakhir.
“Silahkan mahasiswi nomor 9 untuk bertanya.” Kata MC.
“Baiklah saya akan bertanya untuk Pak Zein, mengapa Pak Zein meninggalkan orang yang bapak sayang jika bapak mencintainya seharusnya bapak ada selalu di sampingnya. Jika benar kamu mencintainya mengapa kamu berjanji padanya hanya pergi dua purnama.” Tanya Nur.
“Dua purnama itu hanya kiasan untuk dia karena saya tahu jika saya jujur dia pasti akan sedih. Mengapa saya meninggalkan dia itu karena ada masa kita harus menuruti kata orang tua apa lagi setelah orang tua kita berpisah. Tunggu dulu saya tidak pernah bicara kepada siapa pun bahwa saya pernah berjanji kepada gadis itu bahwa dua purnama saya akan meninggalkannya. Bagaimana kamu bisa tahu?” Kata Eko balik bertanya ingin memancing Nur.
Tiba tiba Nur berdiri dan minta maaf.
“Maaf saya harus pergi.” Kata Nur sambil pergi meninggalkan ruang seminar. Tanpa Nur sadari air matanya mengalir membasahi pipinya.