
Dian menghela nafas dalam, lalu dia melanjutkan ceritanya.
“Kamu tahu Eko, apa yang lebih menyakitkan lagi setelah Nur berhasil menghadapi traumanya dia berubah jadi wanita yang pendiam. Dan hanya aku satu-satunya teman yang di milikinya, sampai hari paling menyedihkan itu tiba. Ibu Nur mengalami kecelakaan dan meninggal dunia, kau tahu bagaimana kondisinya saat itu dia mengurung diri di kamar selama 2 hari hanya keluar makan itu pun hanya satu sendok bahkan bisa di bilang Nur tidak menyentuh makanannya sampai akhirnya kondisinya drop dan harus di rawat di rumah sakit selama 3 hari.” Kata Dian menceritakan semuanya ke Eko.
“Nur sebenarnya apa saja yang tidak aku ketahui selama ini, berapa banyak penderitaanmu yang kau pendam dan rasakan selama ini?” Tanya Eko dalam batinnya.
“Setelah masa sulit itu berlangsung, Nur mencoba bangkit hingga pada masa SMA.” Kata Dian.
Flashback Masa SMA
Tahun ajaran baru di mulai, Nur memulai hari dengan senyuman. Hari ini hari pertama kali dia masuk SMA. Semua biasa saja seperti hari kemarin, tidak ada yang istimewa bagi Nur. Hari pun di laluinya dengan aman tanpa terkendali lagi. Walau pun dia hidup sendiri tapi dia punya cara untuk bertahan hidup. Untuk bertahan hidup Nur menjual kue ke sekolah dan jika saat jam pelajaran di mulai dia akan menitipkan jualannya di kantin sekolah.
Hari-hari pun tak terasa berlalu walaupun selama hampir 3 tahun Nur sering di ejek dengan sebutan gadis gorengan tapi dia tidak peduli demi mengejar impiannya dan pada akhirnya sebentar lagi Nur akan ujian sekolah tapi ada yang membuat dia sedih karena sampai sekarang dia belum bisa membayar SPP-nya. Bahkan telah menunggak selama setengah tahun.
“Kepada siapa aku minta tolong, jika sama paman nanti paman dan bibi bertengkar lagi, apa lagi masalah semester kemarin paman secara diam-diam tanpa memberitahu bibi untuk membayarkan uang SPP-ku.” Kata Nur di dalam batinnya.
Lalu Nur melihat sebuah restoran mencari pegawai kerja paruh waktu Nur pun melamar di sana dan di terima. Pagi hingga siang dia sekolah, dan sore hingga malam hari dia bekerja begitulah hingga akhirnya 1 bulan Nur bekerja di restoran dan uangnya bisa buat bayar SPP seluruhnya dan juga bisa buat dia tabung.
Hari ujian pun berlangsung semua mengerjakan soal ujian masing-masing. Nur sangat fokus mengerjakan ujiannya dia berharap bisa ke Jakarta agar dia bisa mencari tahu tentang kakeknya. Sampai akhirnya hari ujian pun selesai.
Dan 2 minggu kemudian semua hasilnya keluar dan ternyata Nur mendapatkan rangking pertama. Dia begitu senang sedangkan kedua temannya Tari rangking ke 2 sedangkan Dian rangking ke 3.
Karena mendapatkan rangking mereka bertiga mendapatkan beasiswa untuk kuliah di UBI. Walaupun Dian berasal dari keluarga kaya dia tidak pernah menunjukkan kuasa orang tuanya apa lagi kedua orang tua Dian selalu sibuk dengan urusan masing-masing. Sedangkan Tari dia anak paling bungsu dan di manjakan orang tuanya. Tari ingin terbiasa mandiri dan tak ingin terus di manja mereka berdua mendapatkan pelajaran dari Nur untuk selalu mandiri tanpa membebani orang lain.
Flashback off
Setelah mendengar semua cerita Dian dan Tari, Eko hanya terdiam sampai akhirnya dia pun berbicara.
“Memang benar aku salah, aku yang pergi tanpa memberi kabar dan aku kembali untuk meminta harapan. Sekarang aku sadar pada dasarnya memang kami tak bisa bersama.” Kata Eko berputus asa.
“Tidak Eko bukan seperti itu maksud kami cobalah untuk bersabar saat ini, biarkan Nur sendiri menenangkan hatinya. Mungkin dia masih syok.” Kata Dian.
“Baiklah. Tapi aku boleh minta tolong sama kalian untuk minta maaf kepada Nur nanti malam.” Pinta Eko.
“Tentu kami akan membantu agar kalian bersama kembali.” Kata Tari lagi.
Saat mereka asyik mengobrol datanglah Bagus dan Sabar.
“Bos apa kamu melupakan kami berdua?” Tanya Sabar.
“Iya bos. Dari tadi sibuk dengan cewek-cewek cantik ini. Kenalkanlah bos sama kita berdua.” Kata Bagus sambil melirik Dian.
“Betul itu bos, siapa tahu jodoh.” Kata Sabar menimpali ucapan Bagus.
“Apa lihat-lihat!” Kata Dian kepada Bagus.
“Jodoh mana mungkin kenal juga tidak.” Kata Tari lagi. Tari dan Dian pun meninggalkan mereka bertiga.
Sepeninggal Tari dan Dian, Bagus berbicara kepada Sabar.
“Bar kamu lihat Dian tidak, lihat aslinya lebih cantik dari foto tapi galaknya kebangetan baru lirik sedikit sudah di sambar petirnya.” Kata Bagus.
“Iya Gus, si Tari cantik juga ya. Serasa adem hati lihat wajahnya. Gus bagaimana kalau kita taruhan siapa yang paling dulu mendapatkan hati mereka dia akan di traktir makan enak sampai 1 minggu di restoran bintang lima.” Kata Sabar.
“Ok siapa takut, apa lagi aku ingin sekali menjinakkan singa betina kayak Dian.” Kata Bagus menyetujui ide Sabar.
“Sudah sampai kapan kalian ingin mengobrol di sini kita harus pulang mempersiapkan acara nanti malam.” Kata Eko.
Malam Harinya