
POV Nur
Kemarin malam setelah pulang dari restoran
Memang terasa mimpi buatku di saat Eko mempersiapkan sesuatu hal yang sangat romantis, tapi aku bukan hanya terpesona dalam keromantisannya tapi juga terpesona akan ketampanan Eko. Tapi aku masih ingat akan prinsipku dulu untuk tidak pacaran sampai nikah.
Setelah berlalu jam yang menegangkan itu, kami pun pulang ke Asrama dan di hantar oleh Eko beserta kedua temannya. Aku pun teringat ada yang harus kedua temanku jelaskan.
“Hm apakah ada yang mau menjelaskan apa yang terjadi tadi?” Tanyaku kepada kedua temanku itu.
“Eh anu Nur anu kami hanya ingin membantu kamu saja?” Kata Tari tergagap-gagap.
“Iya Nur, kami hanya berniat membantumu saja supaya kamu bisa memaafkan Eko dan bisa kembali bersamanya, bukankah selama 7 tahun kamu sangat menginginkan dia kembali.” Dian menjelaskan kepadaku akan apa maksud mereka.
“Iya sih Yan, tapi aku tidak bisa menerima dia begitu saja, kamu tahu sendiri aku sudah punya komitmen tidak ingin pacaran sebelum menikah.” Jawabku ke mereka.
“Baiklah Nur jika itu mau kamu. Kami hanya bisa mendoakan yang terbaik.” Kata Dian sedikit kecewa padaku.
“Iya Nur. Kami minta maaf ya.” Kata Tari mencairkan ketegangan ini
Setelah perdebatan itu kami pun memutuskan tertidur supaya esok bisa bangun pagi-pagi karena ada mata kuliah baru yang wajib di ikuti seluruh mahasiswa Fakultas Ekonomi. POV NUR BERAKHIR
POV EKO
Aku kira apa yang aku persiapkan untuk membuat Nur terkesan ternyata aku salah. Dia bukan tipe cewek yang mudah terkesan dengan hal romantis. Walaupun di awalnya dia tampak bingung dan senang tapi setelah melihatku keluar raut wajahnya berubah jadi antara senang dan tidak senang.
Setelah mengantarkan Nur dan teman-temannya pulang, aku pun meminta Bagus melajukan kendaraan ke sebuah kafe.
“Aaaaaaaahhhhhhhhh!!!” Teriakku kesal sambil mengusap wajahku.
“Loh kenapa Ko?” Tanya Bagus.
“Aku boleh tanya tidak Gus?” Tanyaku balik.
“Apa aku kurang ganteng Gus?” Tanyaku kepada Bagus.
“Byuuuurrrrrr” Sabar yang mendengar aku bertanya langsung menyemburkan air yang sedang di minumnya.
“Hahahahahaha seorang Eko yang tampannya sejagat, pintarnya mengalahi semua orang Jenius di dunia, dan di juluki Presiden Direktur Termuda di Indonesia. Merasa tidak percaya diri.” Sabar mengejek dan menertawakanku.
“Plak” Bagus menjentik jidat Sabar.
“Kamu bukannya menghibur Eko, malah mengejek dia.” Kata Bagus kesal.
“Maafkan aku Ko, aku keceplosan.” Kata Sabar.
“Iya sudahlah jangan bahas lagi, kasi saran aku saja bagaimana mendapatkan hati Nur.” Aku meminta mereka berdua berpikir.
“Aku ada ide, bagaimana kalau kamu mendekati Nur secara perlahan-lahan siapa tahu dia luluh dan mau menerima kamu.” Saran Bagus. Memang Bagus yang bisa di andalkan dia selalu bisa mengerti situasiku.
“Benar juga kamu Gus, besok akan aku coba.” Kataku dengan penuh semangat.
“Besok.” Kata Sabar dan Bagus serentak.
“Iya besok, oh iya aku lupa bilang besok kalian akan kuliah dan ingat besok jam 9 pagi ada kelasku.” Kataku menggoda mereka.
“Kamu tega Ko, kenapa kami harus kuliah sih. Bosan tahu!” Protes Sabar.
“Aku tidak peduli sampai ketemu besok, aku ada kejutan buat Nur dan kedua temannya. Oh ya Bar jangan lupa hubungi Rika untuk masuk kelas juga.” Perintahku kepada mereka.
“Baiklah Ko, sekarang kita pulang yuk sudah larut.” Kata Bagus.
“Iya.” Kataku.
Kami pun pulang ke rumah masing-masing. Aku tidak sabar memberi Nur kejutan. POV Eko selesai.