
“Tolong....tolong...tolong!!!” Suara Nur berteriak.
5 menit sebelum Eko sampai, Vivi masuk kembali ke dalam kamar penyekapan Nur bersama 10 orang laki-laki berkisaran umur 30-50 tahun.
“Byur” Vivi menyiram tubuh Nur yang masih pingsan dengan seember air hingga lekukkan tubuhnya terlihat walaupun di balut gamis longgar dan jilbab panjang.
“Bangun!!! Dasar penggoda.” Teriak Vivi dan ‘Plak’ Vivi menampar Nur.
“Lihat aku akan memberikan kamu hadiah besar, hahahaha.” Tawa Vivi sambil menunjuk para laki-laki itu.
“Jangan Vi, kamu jangan seperti ini.” Tangis Nur.
“Terlambat!!! Semuanya silakan nikmati makanannya, hahahhaha.” Tawa Vivi sambil memegang sebuah Kamera di tangannya yang siap merekam sebuah kejadian.
10 orang laki-laki itu melibat Nur seperti binatang buas yang siap menerkam mangsa empuk, nikmat dan segarnya. Nur ketakutan dan berharap di dalam ada orang yang datang menolongnya walaupun itu mustahil dia pun berteriak.
“Tolong...tolong...tolong...” Teriak Nur ketakutan.
Eko yang mendengar teriakkan Nur bergegas masuk ke dalam rumah dan mendobrak pintu depan rumah tua itu lalu berlari menuju sumber suara itu yaitu sebuah kamar. Eko pun menendang pintu dan melihat seorang laki-laki menjambak jilbab Nur hingga rambut Nur terurai dan jilbabnya terlepas.
Eko yang melihat hal itu langsung memukul orang itu dengan membabi buta, dan spontan teman-temannya yang lain ikut membantu. Sementara itu Nur yang masih syok dan tubuhnya lemah kembali jatuh pingsan. Melihat Nur yang pingsan Eko semangkin terbakar api amarah dan dia memukul para lelaki itu dengan sangat brutal, hampir 5 menit mereka berkelahi datanglah Sabar dan Bagus beserta para pengawalnya.
“Habisi mereka semua jangan kasi ampun.” Perintah Sabar.
Melihat bala bantuan untuk Nur semangkin ramai Vivi pun berusaha untuk menghabisi Nur dengan mengambil pisau dan ingin di tusukkannya ke tubuh Nur.
Nur yang sadar kembali terkejut melihat Vivi yang ingin menyerangnya, namun tiba-tiba Eko menghalanginya menggunakan lengannya hingga tertusuk oleh pisau Vivi. Vivi yang melihat Eko terkena pisaunya mulai syok tapi karena terlanjur sakit hati dia ingin menghabisi mereka berdua.
“Iya akulah pelakunya, dan jika aku tidak bisa memilikimu maka kalian berdua harus mati biar pun aku mati di sini.” Ucap Vivi.
“Dor” sebuah tembakkan di keluarkan oleh seorang polisi dan mengenai dada Vivi. Vivi pun akhirnya tersungkur ke lantai dan seketika nyawanya menghilang.
Bagus dan Sabar mendekati Eko, sedangkan Tari dan Dian mendekati Nur.
“Eko, tanganmu berdarah.” Kata Bagus.
“Ini tidak penting, sekarang yang penting adalah keselamatan Nur.”
“Nur, ayo bangun kami ada di sini.” Tangis Tari dan Dian.
Eko mendekati Nur dan menggendongnya membawa keluar.
“Eko, tapi Nur..” ucap Dian terputus oleh Eko.
“Saat ini keselamatannya lebih penting.” Tangkas Eko.
Mereka hanya terdiam melihat Eko yang tangannya berlumur darah masih ingin menggendong Nur dengan tangannya sendiri.
Eko terus menggendong Nur tanpa menghiraukan darah dan rasa sakitnya sendiri. Di dalam pikirannya hanya nyawa Nur yang berarti.
"Nur bertahanlah aku akan menyelamatkan nyawamu, jangan takut aku di sini." Kata Eko sambil menggendong Nur.
Sementara itu, 10 orang laki-laki di siksa oleh Sabar dan Bagus, mereka menyuruh pengawal untuk mematahkan kaki mereka satu per satu, dan laki-laki yang tadi menjambak Nur di siksa hingga lumpuh.