
Malam Hari Asrama Mahasiswa
“Nur, ayo cepat katanya tadi sore janji mau temani kami makan malam di Restoran yang lagi viral.” Kata Dian.
“Iya Nur, tadi sore kan sudah janji sama kita berdua. Ingat loh janji harus di tepati.” Kata Tari juga.
“Iya-iya aku ikut. Kenapa hari ini kalian berdua bawelnya kelewatan ya?” Tanya Nur kepada kedua sahabatnya.
“Tidak ada apa-apa kok.” Kata Dian.
“Iya. Habisnya dari tadi kamu belum ganti pakaian memang nanti kamu mau pergi ke Restoran bintang lima menggunakan daster beli pasar senin itu kah?” Tanya Tari.
“Iya-iya aku ganti baju ke dalam kamar mandi dulu.” Kata Nur.
“Tunggu Nur ini baju kamu pakai ya. Ini aku sama Dian beli tadi di pasar senin biar kita kompak bajunya.” Kata Tari.
“Iya bawa sini bajunya.” Pinta Nur dan langsung masuk ke kamar mandi.
Tari dan Dian pun kegirangan karena rencana mereka berhasil.
“Berhasil.” Kata Tari langsung tos dengan Dian.
“Iya, ayo kita siap-siap juga.” Kata Dian.
Mereka bertiga pun bersiap siap ingin pergi ke Restoran itu.
Siang Hari tadi.
“Ting” suara pesan masuk di ponsel Dian. Dian pun langsung membuka pesan itu dari nomor tidak di kenal.
“Dian, ini Bagus kamu dan Tari bisa datang ke Restoran Seafood di Blok B, yang lagi terkenal dan viral itu kah?” Tanya Bagus.
“Bisa, ada apa mengapa siang begini padahal baru setengah jam kami pergi.” Kata Dian.
“Eko bilang dia ingin menyusun rencana. Dan harus melibatkan kalian berdua, kalau berhasil nanti kita di gaji masing-masing 1 juta.” Kata Bagus.
“Enak ya gaji-gaji orang. Itu bukan kami cari tapi kebahagiaan Nur yang kami ikan mangkanya kami mau bergabung sama kalian.” Kata Dian.
“Iya-iya datang saja ya. Kami tunggu.” Kata Bagus.
“Iya.” Balas Dian Cuek.
Di Restoran
“Buset ini Dian galaknya kebangetan.” Kata Bagus.
“Hahaha seorang Markus yang di Cap Mr. Playboy se SMP dan SMA akhirnya bertemu dengan cewek super galak.” Ejek Sabar.
“Diam Bar, galau aku ini. Malah kamu ketawai, sedangkan kamu jomblonya awet sejak dulu.” Balas Bagus mengejek Sabar.
“Tidak apa jomblo, sebentar lagi tidak. Aku akan mendapatkan hati Tari.” Kata Sabar.
Eko yang melihat kedua temannya saling mengejek hanya menggeleng kepala dan dia fokus mengatur panggung serta kursi buat acara nanti malam. Tak lama kemudian Tari dan Dian datang menggunakan motor mereka.
“Assalamualaikum.” Salam Tari dan Dian.
“Waalaikumsalam.” Balas Eko, Sabar dan Bagus.
“Cuit bidadari surgaku telah tiba.” Kata Bagus kepada Dian.
“Hahaha mau merayu tapi kena tepok.” Kata Sabar mengejek Bagus.
“Apaan sih loh Bar. Coba kamu goda Tari.” Bisik Bagus.
“Baik, kamu lihat ya.” Kata Sabar.
“Tari kamu tidak apa bedanya kamu dengan bulan.” Tanya Sabar.
“Tidak tahu.” Kata Tari.
“Jadi Bulan itu menyinari kegelapan malam tapi kalau kamu menyinari kegelapan dan kekosongan hatiku.” Kata Sabar ke Tari.
“Apaan kamu Bar, gombal.” Kata Tari sambil senyum-senyum.
“Sabar...Bagus... kalian tahu apa bedanya kalian dengan mesin ATM.” Tanya Eko.
“Tidak tahu Ko.” Kata Sabar.
“Jadi kalau mesin ATM itu untuk mengambil uang tapi kalian berdua itu akan di tarik gajinya alias di potong. Dari tadi gombalan melulu tugas kalian sudah selesai belum.” Kata Eko kepada mereka berdua.
“Kabur.” Kata Bagus dan Sabar serentak.
Setelah Bagus dan Sabar pergi, Eko pun berbicara kepada Dian dan Tari.
“Bagaimana kalian sudah bisa mengajak Nur buat nanti malam?” Tanya Eko.
“Belum Pak Zein.” Kata Tari.
“Jangan formal begitu Tari ini di luar bukan di dalam kelas atau lingkungan kampus, panggil saja Eko khusus orang-orang spesial seperti kalian yang aku anggap saudara.” Kata Eko.
“Baiklah Eko. Tapi kamu jangan kuatir kami sudah menyiapkan rencana buat ajak dia agar mau ikut nanti malam.” Kata Tari lagi.
“Iya Eko yang terpenting jangan sampai kamu sakiti lagi hati saudari kami, dan juga simpan uang 1 juta kamu itu. Kami tidak butuh, yang penting Nur bahagia itu cukup.” Kata Dian.
“Iya itu pasti aku akan selalu membahagiakannya. Tapi dari mana kamu tahu masalah uang 1 juta.” Kata Eko.
“Tadi Bagus kasih tahu.” Jawab Dian.
“Memang itu anak ya. Nanti bukan bonus yang dia dapat tapi potongan 1 juta gajinya. Itu uang 1 juta kan permintaan mereka jika berhasil minta bonus. Begitulah mereka apa-apa minta ongkos.” Kata Eko sambil menggelengkan kepalanya.
“Benar-benar ya si Bagus, hampir saja aku berpikir kamu seperti anak orang kaya lainnya apa pun bisa di dapatkan dengan uang.” Kata Dian lagi.
“Tidak Dian tapi jika buat menyenangkan Nur jangankan 1 juta, 1 Triliun aku pun sanggup demi dia bahkan nyawaku korbankan demi Nur.” Kata Eko.
“Iya-iya kalian berdua kapan selesainya? Jadi Eko mengapa kamu panggil kami kemari?” Tanya Tari.
“Oh iya hampir lupa. Sebentar ya Bagus, Sabar!” Panggil Eko.
Bagus dan Sabar pun mendekati Eko.
“Sekarang kalian ikut kami ke Mall.” Kata Eko.
“Mall?? Buat apa Eko.” Tanya Tari.
“Nanti kalian tahu sendiri. Sekarang panggil menejer restoran ini, suruh dia handle semuanya aku ingin semua perfect sesuai desain yang aku kasih” Kata Eko.
“Baik bos.” Kata Sabar dan langsung menemui menejer restoran, lalu pergi kembali menemui Eko dan yang lainnya.